Mengenali Musuh

Pesan Gembala

11 April 2010

Edisi 122 tahun 3

Mengenali Musuh

Shallom… Salam Miracle.

Jemaat Tuhan di gereja Bethany yang diberkati, Rasul Paulus mengatakan dalam Efesus 6:12 demikian “Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di dunia.” Sedangkan rasul Paulus mengatakan dalam 1 Petrus 5:8 demikian: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.

Sebagai orang percaya Tuhan, pasti kita tidak mencari musuh, tetapi selalu menghadapi oposisi. Hal ini disebabkan karema terang tidak dapat bersatu dengan gelap. Bila kita berada dalam terang akan menghadapi oposisi dari kegelapan, dan tidak bisa dalam zona netral atau di tengah-tengah antara terang dan kegelapan. Mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, kita berada dalam medan peperangan. Dalam medan perang jika kita tidak menang kita menjadi pihak yang kalah. Mari kita perhatikan beberapa sikap/ pandangan orang percaya terhadap musuh.

PERTAMA, beranggapan bahwa musuh tidak ada dan peperangan rohani dalam kehidupan tidak pernah ada.

KEDUA, berangapan bahwa tidak perlu tahu musuh, yang penting bersandar pada Allah.

KETIGA, sangat tahu keberadaan musuh dan tanpa sadar lebih banyak membicarakan dan memikirkan musuh yang akhirnya membuatnya menjadi takut. Atau musuh menjadi BERHALA. Seharusnya orang percaya lebih banyak membicarakan Allah yang jauh lebih besar dan lebih dahsyat daripada membicarakan musuh. Semakin kita memposisikan Allah lebih sedikit daripada musuh, maka semakin mengalami ketakutan dan akhirnya kalah sebelum bertanding.

Rasul Paulus sudah mengingatkan bahwa “…sadar dan berjaga-jagalah…” dengan kesadaran itu Firman Tuhan mendorong dan menguatkan kita, kesadaran dalam mengerti dan mengetahui musuh kita tidak bermaksud untuk membuat kita takut, tetapi membuat kita berjaga-jaga dan menggunakan segenap senjata Allah dalam menghadapinya.

Iblis mempunyai banyak cara dan strategi (Pdt. Pondsius Takaliung, YPII, 1984), berikut daftar pekerjaan Iblis:

  1. Memperdayakan manusia dengan memutarbalikkan firman Allah (2 Korintus 11:3; Kejadan 3:1-5).
  2. Bertengkar dengan malaikat Mikhael tentang mayat Musa (Yudas 1:9).
  3. Mengelilingi dan menjelajahi bumi (Ayub 1:7).
  4. Mendatangkan orang-orang jahat, api dari langit, menggerakkan orang jahat, mendatangan angin ribut (Ayub 1:12-19).
  5. Mendatangkan penyakit yang keras (Ayub 2:6-7).
  6. Mencobai orang beriman (Matius 4:2).
  7. Merampas Firman Allah yang ditaburkan (Matius 13:19).
  8. Menaburkan orang jahat dimana-mana (Matius 13:38-39).
  9. Membelokkan seseorang dari jalan Tuhan (Matius 16:23).

10. Mendatangkan gangguan pada Tubuh (Lukas 22:31)

11. Masuk dalam hati manusia (Lukas 22:3)

12. Menampi murid Tuhan (Lukas 22:31).

13. Merasuk manusia (Yohanes 13:27).

14. Menguasai manusia untuk berdusta (Kisah 5:3).

15. Membinasakan tubuh manusia (I Korintus 5:5).

16. Menggoda suami istri (I Korintus 7:5).

17. Mencari keuntungan dalam kesedihan orang percaya (II Korintus 2:11).

18. Menyamar sebagai malaikat terang (II Korintus 11:14).

19. Mencegah maksud baik dari hamba Tuhan (I Tesalonika 2:18).

20. Berbuat baik, mujizat-mujizat palsu (II Tesalonika 2:9).

21. Menyesatkan janda-janda (I Timotius 5:15).

22. Menciptkan gereja sendiri (Wahtu 2:9).

23. Melemparkan orang beriman ke dalam penjara (Wahyu 2:10).

24. Menyesatkan dan mendakwa orang beriman (Wahyu 12:9-10).

25. Menggelapkan hati manusia untuk melihat kemuliaan Injil Kristus (II Korintus 4:4).

26. Berkuasa atas maut (Ibrani 2:14).

Oleh sebab itu seperti tertulis dalam I Petrus 5:9-11 menyatakan demikian: “Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa saudara-saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, mengeuhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Ialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Tuhan Yesus memberkati kita semua….

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan

TANGGA PIANO

Kamis, 22 April 2010

Bacaan : Nehemia 8:3-13

8:3 (8-4) Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.

8:4 (8-5) Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam.

8:5 (8-6) Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.

8:6 (8-7) Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!”, sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah.

8:7 (8-8) Juga Yesua, Bani, Serebya, Yamin, Akub, Sabetai, Hodia, Maaseya, Kelita, Azarya, Yozabad, Hanan, Pelaya, yang adalah orang-orang Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya.

8:8 (8-9) Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.

8:9. (8-10) Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!”, karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.

8:10 (8-11) Lalu berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”

8:11 (8-12) Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu supaya diam dengan kata-kata: “Tenanglah! Hari ini adalah kudus. Jangan kamu bersusah hati!”

8:12 (8-13) Maka pergilah semua orang itu untuk makan dan minum, untuk membagi-bagi makanan dan berpesta ria, karena mereka mengerti segala firman yang diberitahukan kepada mereka.

8:13. (8-14) Pada hari yang kedua kepala-kepala kaum keluarga seluruh bangsa, juga para imam dan orang-orang Lewi berkumpul pada Ezra, ahli hukum Taurat itu, untuk menelaah kalimat-kalimat Taurat itu.

TANGGA PIANO

Di sebuah mal di Stockholm, seperti di mal-mal lain, orang lebih suka naik eskalator daripada tangga biasa. Pemilik mal lalu menjajal ide unik. Mereka memodifikasi sebuah tangga di mal itu menjadi seperti deretan bilah piano. Apabila orang menginjak anak tangga demi anak tangga, muncullah bunyi seperti jika bilah piano ditekan. Hasilnya? Orang jadi lebih tertarik untuk naik melalui tangga piano itu dan menikmati musiknya daripada menggunakan eskalator. Rupanya, kegembiraan bisa mengubah hal yang melelahkan jadi menggairahkan untuk dilakukan.

Bangsa Israel menangis ketika menyimak pembacaan hukum Taurat, insaf akan pelanggaran mereka. Namun, Nehemia malah mendorong mereka agar mulai bersukacita. Apakah Nehemia bermaksud mengatakan bahwa mereka tidak perlu bertobat? Tentu saja tidak. Hari itu-hari pertama bulan baru-hari yang kudus, dan patut didedikasikan untuk bersukacita di hadapan Tuhan. Mereka tidak perlu larut dalam kesedihan, dan justru perlu menerima sukacita Tuhan yang akan menguatkan mereka. Matthew Henry menulis, “Dukacita karena dosa seharusnya tidak menghambat kita untuk bersukacita di dalam Allah, tetapi malah membawa dan mempersiapkan kita untuk mengalaminya.”

Orang kristiani cenderung terkesan serius dan “muram”. Agak aneh sebetulnya. Sebagai umat yang memiliki Penebus, kita mestinya menjadi orang yang paling penuh sukacita, bukan? Kita mudah tertawa atau tersenyum, dan berkarya secara antusias, penuh rasa syukur. Sukacita itu akan menguatkan kita secara pribadi dan menular kepada sesama di sekeliling kita –ARS

SUKACITA SELARAS DENGAN KEKUDUSAN

ORANG YANG KUDUS SUNGGUH-SUNGGUH BERSUKACITA

Sumber : www.sabda.org