SELAGI MASIH HIDUP

Jumat, 30 April 2010

Bacaan : Ayub 14:7-12

14:7. Karena bagi pohon masih ada harapan: apabila ditebang, ia bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh.

14:8 Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu,

14:9 maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai.

14:10 Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia?

14:11 Seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering,

14:12 demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya.

SELAGI MASIH HIDUP

Sodikin hanya bisa menangis tersedu-sedu mengiringi penurunan peti jenazah ayahnya ke liang kubur. Satu hal yang sangat ia sesali, selama ayahnya hidup ia kurang sekali memperhatikannya. Bahkan untuk sekadar menemaninya ngobrol atau main catur, jarang sekali ia lakukan. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusannya sendiri. Tiga bulan lalu ia baru mengetahui ayahnya menderita sakit berat hingga dirawat di rumah sakit sampai meninggalnya. Sekarang, apa yang bisa ia lakukan untuk “menebus” kesalahannya? Tidak ada. Ayahnya sudah terbujur kaku. Tidak ada kesempatan kedua.

Ya, kematian selalu berarti berakhirnya sebuah kesempatan. Sebuah titik. Manusia, seperti yang digambarkan dalam bacaan Alkitab hari ini, berbeda dengan pohon. Kalau sebuah pohon ditebang, ia punya kesempatan untuk bertunas lagi (ayat 7). Pun, apabila pohon itu akarnya menjadi tua dan tunggulnya mati, pada saatnya ia bisa bersemi lagi (ayat 8). Akan tetapi manusia, begitu ia tiba pada kematiannya, maka selesailah sudah hari-harinya di dunia ini (ayat 10). Tamat. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan terhadapnya.

Apa maknanya bagi kita? Salah satunya adalah: betapa pentingnya kita menghargai, membahagiakan, dan mencurahkan kasih sayang kepada orang-orang terdekat-entah kakek dan nenek kita, atau ayah dan ibu kita, atau siapa pun-selama mereka masih hidup. Jangan menunda- nunda. Sebab kalau mereka sudah terbujur kaku di dalam peti jenazah, tidak ada yang bisa kita lakukan. Menangis sejadi-jadinya pun tiada berguna, tidak mengembalikan kesempatan yang telah berlalu. Hanya meninggalkan sebuah sesal –AYA

BAHAGIAKANLAH ORANG-ORANG YANG KITA CINTAI

SELAMA MEREKA MASIH HIDUP

Sumber : www.sabda.org

Iklan