MEMBAWA DARAH

Jumat, 21 Mei 2010

Bacaan : 1 Petrus 1:17-21

1:17 Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.

1:18 Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,

1:19 melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

1:20 Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.

1:21 Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.

MEMBAWA DARAH

Pengurus pendonoran darah ternyata cukup rumit. Ketika istri saya memerlukan transfusi darah, empat teman menyediakan diri menjadi donor. Yang pertama batal karena sedang sakit gigi. Yang kedua tidak lolos karena berat badan tidak cukup. Yang lain harus mengisi dulu sederet riwayat kesehatan, baru golongan darahnya dicocokkan. Setelah darah diambil di PMI, dilakukan uji laboratorium untuk memastikan darah dalam kondisi sehat. Sampai di rumah sakit, darah masih diuji silang sebelum ditransfusikan. Semua itu demi kebaikan dan keamanan si penerima. Ketika membawa dua kantong darah dari PMI ke rumah sakit, saya berkata kepada teman yang memboncengkan saya, “Kawan, kita ini membawa kehidupan.”

Pengalaman itu menolong saya semakin menghargai nilai darah Kristus. Yesus Kristus sungguh-sungguh telah mencurahkan darah-Nya di Golgota. Darah-Nya itu sangat mahal, tidak mungkin dibeli dengan emas atau perak. Darah-Nya tak bernoda dan tak bercacat, tak tercemar oleh kuman, bakteri, atau virus, tetapi malah mendatangkan penebusan dan penyelamatan. Syukurlah, darah yang tak terukur harganya itu tersedia bagi semua orang berdosa dan cocok bagi setiap orang yang menerima-Nya oleh iman. Dan, darah-Nya itu mendatangkan kehidupan baru, kehidupan yang diwarnai oleh kekudusan dan takut akan Tuhan.

Sebagai salah satu bentuk ungkapan rasa syukur, jika tubuh Anda dalam kondisi bugar, kenapa tidak mendatangi PMI terdekat dan mengajukan diri sebagai donor sukarela? Atau, jika karena alasan tertentu Anda tak bisa menjadi donor, mungkin Anda bisa menjadi penghubung dari orang-orang yang membutuhkan darah. –ARS

DI SALIB ALLAH MEMBUNGKUS HATI-NYA DALAM DAGING DAN DARAH

DAN MEMBIARKAN-NYA DIPAKU BAGI PENEBUSAN KITA –E. Stanley Jones

Sumber : www.sabda.org

Iklan