PENGARUH LINGKUNGAN

Jumat, 2 Juli 2010

Bacaan : 1 Raja-raja 11:1-13; Kisah Para Rasul 2:37-40

11:1. Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,

11:2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta.

11:3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN.

2:37. Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”

2:38 Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.

2:39 Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”

2:40 Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”

PENGARUH LINGKUNGAN

Perjalanan hidup Salomo dan Petrus sangat bertolak belakang. Salomo ketika muda terkenal bijaksana. Pernah suatu kali Tuhan menawarkan, “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” Salomo tidak meminta kekayaan ataupun kekuasaan, seperti umumnya didambakan manusia, ia malah meminta hikmat supaya bisa memimpin bangsanya dengan adil (1 Raja-raja 3:4-9).

Petrus sebaliknya. Ia seorang yang impulsif; spontan; meledak-ledak; kerap bertindak atas dasar emosi sesaat. Dalam banyak kesempatan ia selalu “tampil di depan”. Ketika Tuhan Yesus hendak ditangkap, ia spontan menghunus pedang dan memotong telinga salah seorang hamba Imam Besar (Yohanes 18:10, 11). Dan, ketika akhirnya Yesus ditangkap, ia pula yang mengikuti-Nya, walau dari jauh. Sampai terjadi penyangkalannya itu (Lukas 22:54-62).

Namun kemudian, keadaan justru terbalik. Salomo jatuh ke dalam penyembahan berhala, sedangkan Petrus menjelma menjadi salah satu tokoh penting dalam gereja perdana.

Begitulah, manusia pada dasarnya adalah makhluk pembelajar. Karenanya ia tidak statis atau mandek, tetapi berubah. Bisa berubah ke arah positif, bisa juga berubah ke arah negatif. Tergantung banyak hal. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah lingkungan. Sebagai raja, Salomo hidup dalam kemewahan. Ia mempunyai tujuh ratus istri dan tiga ratus gundik. Dikatakan, “Istri-istrinyalah yang mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain” (ayat 4). Sedangkan Petrus, pergaulan dan kedekatannya dengan Yesus serta komunitas para murid telah memberinya perubahan positif –AYA

LINGKUNGAN YANG SEHAT AKAN MENJADI

TANAH YANG SUBUR BAGI JIWA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

KEBETULAN

Kamis, 1 Juli 2010

Bacaan : Kisah Para Rasul 9:38-43, 10:30-32

9:38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: “Segeralah datang ke tempat kami.”

9:39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup.

9:40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk.

9:41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup.

9:42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan.

9:43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit.

10:30 Jawab Kornelius: “Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan

10:31 dan ia berkata: Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan di hadapan-Nya.

10:32 Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus; ia sedang menumpang di rumah Simon, seorang penyamak kulit, yang tinggal di tepi laut.

KEBETULAN

Seorang kenalan menceritakan pengalamannya mencari rumah kontrakan. Sudah berminggu-minggu mencari, ia belum juga mendapatkannya. Padahal kebutuhan itu mendesak dan sudah menjadi prioritas doanya. Suatu saat, seorang kawan meminta bantuannya mengantarkan barang ke sebuah alamat. Ketika mengantar barang ke alamat yang dituju, ia melihat tanda “DIKONTRAKKAN” pada rumah di sebelah rumah tersebut. Begitulah ceritanya ia mengontrak rumah yang dihuninya sekarang. Sebuah kebetulan?

Bahasa Inggris menyebut “kebetulan” sebagai “coincidence”. Kata ini berasal dari dua kata: “co” (kerja sama) dan “incidence” (kejadian). Jadi, kurang lebih berarti ada dua atau lebih kejadian yang “bekerja sama” demi mencapai sebuah tujuan. Dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya “kebetulan”. Lida, Yope, dan Kaisarea letaknya berdekatan. Di masing-masing kota itu ada kejadian yang melibatkan Petrus. Kejadian-kejadian itu berurutan hingga sampai ke tujuan yang Tuhan rencanakan, yaitu pertemuan Petrus dengan Kornelius. Pertemuan itu adalah persiapan bagi pekabaran Injil kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi, oleh Paulus. Jadi, dalam pengaturan Tuhan, kejadian demi kejadian itu bekerja sama menggenapi rencana-Nya.

Tuhan adalah Perencana Agung. Setiap kejadian, baik atau buruk, ada dalam kendali-Nya. Semua bisa dipakai untuk melayani rencana-Nya yang mulia. Sebenarnya arti “kebetulan” bukan kejadian-kejadian yang tanpa sengaja bertemu, melainkan justru dengan sengaja dipertemukan agar “bekerja sama” demi melayani tujuan lebih besar yang Tuhan kehendaki. Demikian hendaknya kita memandang segala kejadian sehari-hari dengan iman –PAD

APA YANG KITA KIRA SEBAGAI

“KEBETULAN” TAK BERSENGAJA

ADALAH PENGATURAN TUHAN YANG BERSENGAJA

Sumber : www.sabda.org