Menjadi Tenang

4 Juli 2010

Edisi 133 Tahun 3

Pesan Gembala

MENJADI TENANG

Shallom…Salam miracle..

Jemaat Tuhan di gereja Bethany yang diberkati Tuhan, kita semua harus belajar menjadi tenang di hadirat Allah, menjadi tenang bagi orang percaya, dapat dipergunakan untuk menggambarkan suatu waktu ketika orang-orang Kristen mengambil waktu untuk berpikir. Kita mulai dari kitab dalam Perjanjian Lama yaitu kitab Mazmur yang menuliskan kata “SELA” sebanyak tujuh puluh empat (74) kali dan kata yang sama ditulis dalam Habakuk sebanyak tiga (3) kali. Yang dimaksud kata “SELA” adalah suatu perhentian atau peristirahatan dan menjadi tenang, seperti halnya dalam permainan musik, kadang diperlukan suatu sela. Arti yang lain dari sela adalah “berhenti sejenak dan pikirkanlah”, maksudnya adalah kita harus belajar menjadi tenang dihadapan Allah.

Dalam musik sebuah perhentian atau istirahat menekankan akan variasi dan intensitasnya dan membuat menjadi sesuatu yang baru. Ketika Allah memilih untuk menggunakan satu kata sebanyak tujuh puluh (70) kali, itu menjadi sesuatu yang menarik perhatian pembacanya. Kita ketahui bahwa setiap titik dan koma adalah diinspirasi dan mempunyai arti. Maka jelaslah setiap kata pun dihembusi oleh nafas Allah. I Tesalonika 4:11 menyatakan “Belajarlah tenang”. Terjemahan lain berbunyi “Berkonsentrasilah untuk menjadi tenang”. Allah sedang berkata bahwa kita harus belajar menjadi tenang. Disiplin menghasilkan ketenangan. Yesaya 30:15 berkata “Di dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”. Banyak dari kita perlu mengenal diri kita sendiri namun kita takut sendirian. Perlu bantuan siaran radio atau televisi untuk menemani tidur, dan sedikit sekali yang mengambil waktu untuk mendengar suara Tuhan. Sekarang ini masyarakat yag tinggal di kota sangat sibuk sehingga kehilangan apa yang dimiliki orang tua leluhur kita.

Mari coba kita menyimak buku-buku bacaan pada jaman sekarang dan kemudian membaca buku bacaan yang ditulis 20 sampai 100 tahun yang lalu. Buku bacaan yang terdahulu memiliki perbendaharaan kata yang hidup kaya akan maksud dan ilustrasi sehingga membuat buku-buku zaman sekarang kurang berbobot. Dengan alasan klise kurangnya waktu untuk berpikir. Allah memberikan dengan murah hati suatu kasadaran kepada kita akan manfaat-manfaat “Belajarlah menjadi tenang”. Ketika kita sendirian bersama Allah maka kita akan mengakui akan keberadaan Dia dan kebaikan-kebaikan-Nya. “Akibat kebenaran adalah ketenangan dan ketenraman untuk selamanya.” Orang-orang benar menginginkan menjadi tenang, jauh dari keramaian dan untuk sementara waktu agar supaya menjadi Kristus. Ada hal yang menarik ketika Daud menulis dan terdapat dalam Mazmur 42. Ketika ia berhenti sejenak dan berpikir dan mengingat waktu-waktu indah tatkala ia memimpin barisan-barisan menuju Bait suci, dan pengalaman lalu dimana kesetiaan Allah terbukti, ia dapat kembali memanggil Allah – batu karangnya – walaupun ia sedang mengalami saat-saat ujian. Dari waktu tenangnya Daud muncul sebagai seorang manusia yang letak hubungannya terhadap pergumulannya adalah benar.

Betapa amannya apabila kita mengalami lebih banyak waktu tenang, menyadari bahwa saat kita muncul dari waktu-waktu itu, roh kita akan diselimuti oleh damai sejahtera dan keyakinan yang menentramkan. Dalam waktu-waktu itu kita dapat mengingat kembali Allah dan diyakinkan akan kehadiran-Nya, kepedulian-Nya dan kasih-Nya. Orang-orang yang merasa tidak aman tidaklah menggunakan waktu tenang dengan baik. Mereka lebih suka tenggelam dalam rasa tidak amannya dan ketakutan-ketakutan mereka. Apapun penyakit seseorang, ambil beberapa menit untuk berpikir, kemudian memikirkan Allah dan kebaikan-Nya, hal ini merupakan obat syaraf yang terbaik yang pernah ada, disertai langkah berikutnya. Menarik sekali kalau Allah berkata kepada umat-Nya bahwa harus menjadwalkan waktu untuk menjadi tenang, agar supaya berhasil dan disertai dengan perenungan yang baik.

Yosua 1:8, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.Banyak umat Tuhan bekerja dengan mati-matian mengejar keberhasilan dan akhirnya kelelahan dengan berbagai strategi yang dipakai untuk meraih keberhasilan. Saya percaya bahwa Allah mempunyai tujuan kepada umatnya dengan menyatakan untuk “menjadi tenang”. Allah adalah tuan kita dan kita ini bukan siapa-siapa. Itu memberi waktu untuk mengenal Allah lebih baik lagi dan beristirahat di dalam Dia. Semakin kita sibuk sebaiknya semakin banyak untuk menjadi tenang bersama Allah.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan

TIDAK BANYAK MELIHAT

Senin, 5 Juli 2010

Bacaan : Filipi 4:10-13

4:10. Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

TIDAK BANYAK MELIHAT

Kawan saya, suami-istri pemilik warung makan sederhana, mengatur keuangan secara menarik. Setiap hari mereka menyisihkan penghasilan ke dalam beberapa kaleng menurut keperluan-keperluan tertentu. Dengan cara itu, mereka berhasil mencicil sepeda motor selama dua tahun, dan kini masih aktif membayar premi asuransi pendidikan untuk kedua anak mereka. Apa kunci mereka dalam berdisiplin mengelola keuangan? “Tidak sering jalan-jalan, ” kata sang istri. Lo, kok? “Kalau sering jalan-jalan, kan banyak yang dilihat. Kalau banyak yang dilihat, banyak juga yang diinginkan, ” jelasnya.

Firman Tuhan secara khusus menyoroti keinginan. Sesuatu yang masih tersimpan di dalam hati; belum terwujud menjadi tindakan—tetapi, mengapa dilarang? Memangnya ada yang salah dengan keinginan? Apakah manusia tidak boleh memiliki keinginan? Tentu tidak. Yang dikedepankan oleh perintah Allah itu ialah pentingnya mengendalikan keinginan. Tidak semua hal perlu diinginkan. Keinginan ada yang patut dan ada yang tidak patut; mesti dipilah dan dipilih mana yang sesuai dengan firman-Nya.

Meskipun masih di dalam hati, keinginan yang tidak terkendali menjadikan kita rentan terhadap pencobaan. Bukannya mengumbar keinginan, Paulus mendorong kita untuk selalu “belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan” (ayat 11). Belajar untuk bersyukur atas apa yang sudah kita miliki; berkat yang sudah disediakan Tuhan. Dengan begitu, kita akan menggunakan berkat tersebut secara efektif. Kita tidak menghambur-hamburkannya untuk keinginan yang sia-sia, tetapi memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermakna –ARS

KEINGINAN YANG TIDAK DIKENDALIKAN

AKAN BERBALIK MENGENDALIKAN KITA

Sumber : www.sabda.org