JANGAN LARUT

Jumat, 9 Juli 2010

Bacaan : 2 Samuel 12:15-23

12:15. Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit.

12:16 Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah.

12:17 Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka.

12:18 Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: “Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!”

12:19 Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: “Sudah matikah anak itu?” Jawab mereka: “Sudah.”

12:20 Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan.

12:21 Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: “Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!”

12:22 Jawabnya: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup.

12:23 Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.”

JANGAN LARUT

Seorang anak kecil menangis keras. “Mengapa kamu menangis?” tanya ibunya. “Uang seribu rupiah yang dikasih Ayah kemarin hilang, ” jawab anak itu. “Ya, sudah, Ibu ganti. Jangan menangis lagi, ya, ” kata sang ibu sambil menyodorkan uang seribu. Anak itu menerima dengan gembira, tetapi sejenak kemudian ia menangis lagi lebih keras. “Lo, mengapa kamu malah menangis lagi?” tanya ibunya pula. “Kalau uang dari Ayah kemarin tidak hilang, saya punya dua ribu rupiah, Bu.”

Itu hanya cerita humor. Namun, sebetulnya sikap si anak itu mencerminkan sikap kita dalam keseharian. Kita kerap lebih berfokus pada apa yang hilang, dan mengabaikan apa yang ada. Kita begitu sedih karena sesuatu yang “diambil” dari kita, sehingga lalu kita lalai untuk mensyukuri sesuatu yang “diberikan” kepada kita. Perhatian kita hanya tertuju pada yang sudah tidak ada.

Daud pun mengalami kehilangan sangat besar. Anaknya dari Batsyeba meninggal dunia. Padahal ia sudah begitu kuat berupaya, memohon belas kasihan Tuhan (ayat 16). Namun, Tuhan berkehendak lain. Patah arangkah Daud? Tidak. Kepada para pegawainya ia berkata “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis … Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi?” (ayat 22, 23). Daud seolah mau berkata. “Anak itu sudah tiada. Aku sangat sedih. Tetapi toh hidup harus tetap berjalan.”

Saat ini kita mungkin tengah mengalami kehilangan besar. Tidak ada salahnya kita bersedih. Yang salah kalau karena begitu larutnya dalam kesedihan, kita lalu lupa pada kehidupan yang masih harus kita jalani –AYA

HIDUP TIDAK SURUT KE BELAKANG

MAKA JALANI DENGAN MENATAP KE DEPAN

Sumber : www.sabda.org

Iklan