PASIR PANTAI

Jumat, 16 Juli 2010

Bacaan : 2 Timotius 4:1-5

4:1. Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya:

4:2 Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya.

4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

4:5 Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

PASIR PANTAI

Sepasang suami istri senang mengoleksi pasir pantai dari berbagai tempat yang mereka kunjungi. Pasir pantai itu dikemas dalam botol-botol kecil dan ditaruh di ruang tamu. Pada beberapa kesempatan, botol-botol pasir itu menarik perhatian tamu yang berkunjung. Dan atas setiap pertanyaan para tamu, mereka menjawab: “Tuhan yang mencipta kita adalah Tuhan yang kreatif. Anda bisa membandingkan pasir pantai dari berbagai tempat, dan menemukan keunikan jenis-jenis pasir tersebut. Dari situ, apa yang bisa Anda kenali dari pribadi Tuhan?” Ya, bermula dari botol-botol pasir, mereka beroleh jalan untuk menceritakan kasih Tuhan.

Timotius adalah murid Paulus yang diutus memimpin jemaat Efesus yang mayoritas penduduknya orang Yunani. Ini bukan tugas ringan. Tradisi Yunani saat itu begitu kuat pengaruhnya; membuat orang-orang tak lagi dapat menerima ajaran sehat. Mereka lebih memilih “mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (ayat 3). Injil tak menarik lagi, dongeng justru tampak lebih baik (ayat 4). Biarpun demikian, Paulus tak ragu memercayakan pelayanan itu; bahkan meminta Timotius siap sedia kapan pun kesempatan membagi kebenaran itu datang (ayat 2). Sebab bertahun-tahun Timotius telah belajar dan berlatih melayani bersama Paulus—belajar firman; menginjil; mengajar; memelihara jemaat.

Saat ini, di tengah begitu banyak hal menarik yang ditawarkan dunia, sebetulnya banyak hal juga yang dapat dipakai untuk mewartakan kabar baik. Kuncinya, kita mesti memahami Injil terlebih dulu; serta yang tak kalah penting adalah melatih diri. Sehingga, jika kesempatan itu datang, kita berani dan siap membagikan Injil –SS

MEMBERITAKAN INJIL TAK BOLEH SEKADAR JADI TEKAD

NAMUN MESTI DIIMBANGI DENGAN HATI YANG SELALU SIAP

Sumber : www.sabda.org

sabar
Iklan