CHEERLEADER

Senin, 19 Juli 2010

Bacaan : Yesaya 50:4-9

50:4. Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

50:5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.

50:6 Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

50:7 Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.

50:8 Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!

50:9 Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? Sesungguhnya, mereka semua akan memburuk seperti pakaian yang sudah usang; ngengat akan memakan mereka.

CHEERLEADER

Cheerleader atau pemandu sorak adalah sebutan bagi beberapa orang yang bertugas untuk bersorak, menari, bahkan melakukan gerakan akrobatik di pinggir lapangan dalam pertandingan olahraga seperti bola basket, voli, dan sebagainya. Tujuan mereka adalah memandu setiap penonton agar bersorak memberi semangat kepada tim yang didukung. Biasanya anggota pemandu sorak adalah sekelompok wanita yang dilatih menari dengan baik.

Nabi Yesaya menyatakan bahwa dirinya juga seperti seorang cheerleader. Bukan untuk menyemangati tim olahraga, melainkan jiwa-jiwa yang lesu. Yesaya menyatakan bahwa lidah seorang murid Tuhan seharusnya mengeluarkan kata-kata semangat, bukan cemooh. Kata-kata yang membangkitkan semangat jiwa-jiwa yang lesu. Apa yang dikatakan Yesaya ini bukan sekadar teori, melainkan sebuah pengalaman yang ia jalani sendiri tatkala Tuhan menolongnya di tengah kesulitan. Jadi, inti pesan yang disampaikan Yesaya adalah; jika sang Guru—yaitu Allah sendiri—adalah seorang pemberi semangat, demikian juga seharusnya seorang murid Tuhan.

Entah berapa banyak kata-kata yang kita dengar setiap hari, di tengah berbagai aktivitas kita. Dari sekian banyak kata yang kita dengar, barangkali ada kata-kata buruk yang kita terima; cemoohan, ejekan, atau kata-kata yang meruntuhkan semangat. Di tengah dunia yang seperti ini, alangkah sejuknya apabila yang kita dengar adalah suara-suara yang memberi semangat. Tugas siapakah itu? Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa hal itu adalah tugas dari murid Tuhan –RY

PIKIRKAN DAN SAMPAIKAN

HANYA KATA-KATA YANG PENUH MAKNA BAGI SESAMA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

MODAL UTAMA

Sabtu, 17 Juli 2010

Bacaan : Wahyu 3:7-13

3:7. “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.

3:8 Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.

3:9 Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau.

3:10 Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.

3:11 Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

3:12 Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.

3:13 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

MODAL UTAMA

Pdt. Eka Darmaputera dalam salah satu khotbahnya mengatakan, “Modal utama kita sebagai murid Kristus bukan terletak pada jumlah atau pun kekuasaan, melainkan pada ketaatan kita kepada Tuhan. Tidak ada artinya kita memiliki kekuatan secara lahiriah, apabila itu kita raih dengan mengorbankan prinsip-prinsip iman kita.”

Pesan ini sejajar dengan pesan dalam surat kepada Jemaat di Filadelfia. Filadelfia adalah kota termuda di antara ketujuh kota yang disebut dalam kitab Wahyu. Dibangun oleh Raja Attalus II sekitar tahun 150 sebelum Kristus. Konon Attalus membangun kota itu untuk menyatakan rasa cintanya yang begitu besar kepada Eumenes, saudara laki-lakinya. Karenanya diberi nama Filadelfia, yang berasal dari kata Yunani philadelphos, artinya: orang yang mengasihi saudara laki-lakinya.

Secara kuantitas, Jemaat Filadelfia bukanlah jemaat yang besar dan kuat. Akan tetapi, mereka taat kepada Tuhan. “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, ” demikian firman Tuhan. “Namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku” (ayat 8). Karena itu, Tuhan pun akan melindungi mereka dari pencobaan yang akan datang menimpa dunia (ayat 10).

Gereja yang berfokus pada upaya menambah jumlah pengikut, memperkuat pengaruh sosial, ekonomi, dan politik, pasti akan kecewa. Itu dasar yang rapuh. Upaya gereja harus mulai dari ketaatan kepada Tuhan. Begitu juga dalam hidup pribadi. Kekuatan kita sebagai pengikut Kristus bukan terletak pada materi, jabatan, atau kekuasaan, melainkan pada ketaatan kepada Tuhan. Fokus hidup kita haruslah tertuju pada bagaimana kita tetap taat kepada Tuhan –AYA

KITA TIDAK DIPANGGIL UNTUK MENJADI

KAYA ATAU BERHASIL

KITA DIPANGGIL UNTUK TAAT—IBU TERESA

Sumber : www.sabda.org