MENUAI APA YANG DITABURKAN

Pesan Gembala

18 Juli 2010


Shalom..salam miracle
Setiap hari ketika bangun pagi, saya melatih diri sejak beberapa waktu yang lalu, untuk melihat bahwa hari itu adalah hari yang spesial, sehingga menciptakan suatu gairah untuk menjalaninya dengan Tuhan. Sering terpikirkan di pagi hari dan mengharapkan apa yang Allah akan kerjakan dalam hidup saya, keluarga dan Gereja. Jika hari itu ada sesuatu yang akan dikerjakan di luar kegiatan rutin di rumah saya, maka saya akan mendukungnya dan mengerjakan sesuatu dengan semangat, bahkan bisa merubah jadwal kegiatan keseharian yang lain. Jika ada kegiatan atau pertemuan dengan para pekerja Tuhan di Gereja Bethany GTM, maka saya akan mengucap syukur kepada Allah terlebih dahulu untuk hamba-hamba Tuhan yang menjadi rekan sekerja bagi Allah, sebab para pekerja atau hamba Tuhan dikirim Allah yang terbaik. Kelihatannya sedikit sentimental, tetapi itulah yang sebenarnya.

Saya percaya bahwa Allah ingin kita hidup dalam kehendak-Nya. Sudah dinyatakan bahwa Allah tidak menginginkan seorangpun mengalami ketidakbaikan bahkan binasa. Jika seseorang telah lahir baru, ia sudah melakukan Firman Allah dengan cara mentaati apa yang telah difirmankan-Nya. Saya percaya di semua area kehidupan, kita menuai apa yag kita tabur.

Alah telah mempercayakan kita dengan hanya satu kehidupan. Pada umur kita sekarang, kita tidak boleh membuang-buang waktu sedikitpun. Kita sebaiknya mempunyai mimpi-mimpi dan rencana-rencana bagi hari esok. Namun hari ini merupakan FOKUS kehidupan kita. Sebaiknya kita tidak pernah ingin berada di posisi menoleh ke belakang dan memikirkan “apa seandainya jika…? Jadi sekarang merupakan hal yang sangat penting. Apabila kita menyiapkan hati untuk menabur benih-benih buah Roh, maka kita akan menuai tuaian yang besar. Galatia 6:7-9, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab siapa yang menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi siapa yang menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita berjemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah”. Apa yang ingin kita tuai besok, taburlah hari ini. Apa yang saudara temukan dan ingini bagi iri saudara sendiri, mulailah dengan memberikan hal itu. Jika saudara memerlukan inspirasi, mulailah dengan memberi inspirasi kepada orang lain. Jika saudara memerlukan perhatian orang lain, maka mulailah dengan memberikan perhatian kepada orang lain. Jika saudara memerlukan kasih, mulailah dengan memberi kasih kepada orang lain. Sering ketika saya mempersiapkan diri untuk berkhotbah atau sedang berbicara di mimbar baik di Gereja sendiri maupun Gereja lain, saya berkata kepada diri sendiri “Siapakah yang paling perlu mendengarkan omongan atau perkataan saya? Jawabannya adalah saya sendiri dan baru kemudian orang lain juga. Setiap kita memerlukan dua hal yaitu KASIH dan KEBAHAGIAAN. Taburlah kasih dan kebahagiaan, maka kita akan menuainya. Taburlah maka kita akan menuai, dan tempat terbaik untuk melakukannya adalah dengan mencari seseorang atau lainnya yang memerlukan Tuhan. Karena itulah tempat yag cocok dan subur untuk ditaburi sehingga akan menghasilkan. Taburlah benih-benih dari kasih Kristus dan sukacita serta perhatikanlah, kasih dan sukacita akan kembali kepada diri sendiri. Menabur dan menuai mempunyai sisi yang lain apabila diartikan dengan tidak baik. Jika saudara menabur pertengkaran, sikap menghakimi, mencari-cari kesalahan dan ketidakpercayaan, maka saudara akan menuai hal yang sama dengan porsi yang lebih besar. Pernyataan Tuhan Yesus ini kelihatannya keras, sebab Dia berkata “Janganlah kamu menghakimi, karena engkaupun akan dihakimi”.

Menabur merupakan salah satu kehendak Allah yang penting dalam kehidupan kita. Menabur yang berkenan di hadapan Allah itulah tindakan yang dikehendaki-Nya.

Roma 12:1-2 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Kita harus menanggapi apa yang Allah lakukan dan kasih-Nya kepada kita, maka dengan tekun kita seharusnya melayani Dia. Dalam perintahnya kepada jemaat di Roma, Paulus mendorong mereka untuk melayani dengan tekun “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Dia” (Roma 12:11). Dengan kasih Allah kita melayani Dia dengan sepenuh hati, dengan ketaatan tanpa kompromi. Dalam semua yang kita lakukan, perhatian kita bukan pada penghormatan, kemakmuran atau kemasyuran, tetapi untuk menyenangkan Allah dan berkenan di hadapan-Nya. Yesus adalah teladan kita dalam ketekunan dan semangat. Setelah Dia menyucikan bait Allah dari mereka yang mengejar uang, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis:”Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” (Yohanes 2:17). Seperti Yesus, kita harus dikuasai oleh keinginan untuk melayani Tuhan kita.
Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien

Gembala Sidang,
Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan

BELAJAR MELEPASKAN

Rabu, 21 Juli 2010

Bacaan : Kejadian 19:12-29

19:12. Lalu kedua orang itu berkata kepada Lot: “Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, bawalah mereka keluar dari tempat ini,

19:13 sebab kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya.”

19:14 Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya: “Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab TUHAN akan memusnahkan kota ini.” Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja.

19:15. Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: “Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini.”

19:16 Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana.

19:17 Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.”

19:18 Kata Lot kepada mereka: “Janganlah kiranya demikian, tuanku.

19:19 Sungguhlah hambamu ini telah dikaruniai belas kasihan di hadapanmu, dan tuanku telah berbuat kemurahan besar kepadaku dengan memelihara hidupku, tetapi jika aku harus lari ke pegunungan, pastilah aku akan tersusul oleh bencana itu, sehingga matilah aku.

19:20 Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara.”

19:21 Sahut malaikat itu kepadanya: “Baiklah, dalam hal inipun permintaanmu akan kuterima dengan baik; yakni kota yang telah kau sebut itu tidak akan kutunggangbalikkan.

19:22 Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana.” Itulah sebabnya nama kota itu disebut Zoar.

19:23 Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar.

19:24. Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit;

19:25 dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah.

19:26. Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.

19:27. Ketika Abraham pagi-pagi pergi ke tempat ia berdiri di hadapan TUHAN itu,

19:28 dan memandang ke arah Sodom dan Gomora serta ke seluruh tanah Lembah Yordan, maka dilihatnyalah asap dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan.

19:29 Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu.

BELAJAR MELEPASKAN

Walaupun tidak selalu setuju dengan produknya, saya tertarik pada beberapa ide iklan di televisi. Salah satunya adalah iklan yang menceritakan seorang lelaki yang diberhentikan dari pekerjaannya sebagai pegawai. Dengan sedih ia membereskan semua barangnya yang penuh kenangan, lalu kembali ke rumahnya. Saat membereskan beberapa barang, ia justru menemukan ide untuk membangun bengkel. Dari seorang pegawai yang diberhentikan, ia menjadi seorang pengusaha yang membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Sodom dan Gomora terletak di lembah Yordan yang berlimpah air, sehingga Lot memilihnya ketika akan berpisah dengan Abram. Namun, karena kejahatan penduduk kota tersebut, Sodom dan Gomora hendak dimusnahkan. Meski demikian, Tuhan memberi kesempatan kepada Lot untuk menyelamatkan diri dengan berlari ke Zoar. Sayangnya, istri Lot tak menuruti petunjuk malaikat Tuhan. Ia menoleh ke belakang seakan-akan ia tidak rela meninggalkan kota tempat tinggalnya yang nyaman tersebut. Dan ia pun menjadi tiang garam.

Hal-hal pada masa lalu kita mungkin sudah nyaman dan menyenangkan bagi kita. Akan tetapi, sebagaimana kehidupan Lot, ada kalanya Allah melihat sesuatu yang takkan berakibat baik apabila kita terus ada di tempat atau situasi yang sama. Dan, mempertahankan semuanya hanya akan membuat kita terhambat dan tidak akan maju. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk memiliki hati pasrah bersandar kepada Tuhan; kemudian menata hati, bersiap menyambut hal-hal baru yang mungkin akan hadir. Dia jauh lebih tahu mana yang paling penting dan berharga dari hidup kita –SL

ALLAH SELALU BEKERJA UNTUK KEBAIKAN

BAHKAN KETIKA TAMPAKNYA SAYA HARUS KEHILANGAN

Sumber : www.sabda.org