BUAH KETEKUNAN

Sabtu, 31 Juli 2010

Bacaan : Ibrani 12:1-3

12:1. Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

12:3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

BUAH KETEKUNAN

Saat berangkat dari rumah pagi-pagi, saya melihat siput itu di bawah pohon, merayap ke atas perlahan. Sejenak saya memperhatikan. “Kapan nyampainya?” begitu pikiran yang tebersit di benak saya. Ya, siput itu merayap begitu perlahan. Mungkin semilimeter setiap langkah. Padahal pohon itu juga tidak mulus; penuh gurat kulit pohon yang pecah, ada benjolan bekas dahan patah, juga lekukan entah bekas apa. Namun, siput itu terus merayap, pelan tetapi pasti.

Siangnya, sekembali ke rumah, saya melihat siput itu sudah berada di dahan atas. Untuk melihatnya, saya harus mendongakkan kepala. Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa, mengingat begitu perlahannya siput itu merayap dan begitu banyaknya “tantangan” yang harus ia lalui. Itulah buah ketekunan.

Sayangnya dalam lingkup pelayanan dan hidup beriman, ketekunan itu tampaknya sudah semakin langka, digantikan “mentalitas cepat bosan”; mudah menyerah, tidak tahan uji. Dalam pelayanan, sedikit saja mendapat kritikan terus ngambek; sedikit saja menghadapi kekecewaan terus ingin mundur. Dalam hidup beriman, sedikit saja dihantam kesulitan, terus mengomel-ngomel; protes kepada Tuhan; tidak mau lagi ke gereja. Akibatnya, kita pun jadi tidak maju-maju; iman kita tidak bertumbuh.

Maka, marilah kita mendasari pelayanan dan hidup beriman kita dengan mata yang tertuju hanya kepada Kristus. Sebab, Dialah sumber insipirasi dan teladan ketekunan yang terbaik (ayat 3). Dan hanya dengan demikian ketekunan kita dapat terus dibangkitkan, sehingga kita pun tidak akan cepat berputus asa atau menjadi lemah –AYA

BUAH KETEKUNAN ITU SELALU LEBIH MANIS

Sumber : www.sabda.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: