SENSOR ANAK

Jumat, 23 Juli 2010

Bacaan : Mazmur 119:33-40

119:33. Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir.

119:34 Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati.

119:35. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.

119:36 Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba.

119:37. Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!

119:38. Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu.

119:39. Lalukanlah celaku yang menggetarkan aku, karena hukum-hukum-Mu adalah baik.

119:40. Sesungguhnya aku rindu kepada titah-titah-Mu, hidupkanlah aku dengan keadilan-Mu!


SENSOR ANAK

Sebagai bos perusahaan software terbesar di dunia, ternyata Bill Gates tidak membebaskan anak-anaknya menghabiskan waktu di depan komputer tanpa kenal batas. Gates dan istrinya, Melinda, sepakat membatasi putri mereka yang baru berusia sepuluh tahun, untuk bermain game komputer maksimal 45 menit setiap hari, dan enam puluh menit saja pada akhir pekan. Waktu lainnya di depan komputer semata adalah untuk mengerjakan tugas sekolah. Selain itu, dengan bantuan perangkat lunak khusus, Gates tetap mengawasi situs apa saja yang dijelajahi si anak via internet setiap hari.

Teknologi sangat cepat berubah. Dan anak-anak sekarang sangat mudah menerima dan menjadi akrab dengannya. Padahal, ia dapat menawan anak-anak kita sedemikian rupa, tanpa mudah kita kendalikan. Lalu bagaimana kita sebagai orangtua dapat “mengawalnya”? Satu hal yang penting ia miliki ialah kesukaan akan firman Allah (ayat 35). Agar firman itu menjadi standar kelakuannya, pilihannya, keputusannya. Firman itu akan memberinya hikmat. Firman itu akan mengajar dan memperingatkannya, ketika ia hendak terbujuk untuk berjalan menyimpang (ayat 36, 37). Firman itu menolongnya menyensor segala sesuatu yang hendak masuk ke dalam pikiran dan dirinya (ayat 9).

Sebagai orangtua, kita perlu mengajak anak menyukai firman Tuhan sejak dini. Salah satunya dengan meneladankan kesetiaan membaca Alkitab. Kita tak tahu seperti apa kemajuan teknologi yang kelak dihadapi anak-anak kita. Namun hikmat Allah melalui firman-Nya dapat selalu menjawab setiap pergumulan anak-anak kita, walaupun kita tak di sisi mereka –AW

ANAK TAK PERLU DIHINDARKAN DARI MAJUNYA TEKNOLOGI

IA HANYA PERLU PERISAI FIRMAN TUHAN YANG MELINDUNGI

Sumber : www.sabda.org

Iklan

MEMILIH UNTUK SEDERHANA

Kamis, 22 Juli 2010

Bacaan : Yakobus 5:1-6

5:1. Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!

5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!

5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.

5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.

5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.

5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.

MEMILIH UNTUK SEDERHANA

Wal-Mart memang tidak ada di Indonesia, tetapi ada kisah menarik dari bisnis ritel ini. Dalam skala global, Wal-Mart menempati urutan teratas jaringan ritel. Bahkan, buku 100 Great Business Ideas mencatat bahwa hasil penjualan satu hari di Wal-Mart lebih besar dari Pendapatan Domestik Bruto dari 36 negara. Namun di balik cerita sukses tersebut, ada cerita menarik. Sam Walton, pemimpin jaringan Wal-Mart, justru terkenal karena penampilannya yang sederhana dan hobinya yang dinilai eksentrik: minum kopi di belakang toko seperti karyawan biasa. Sam Walton tidak sendiri. Ingvar Kamprad, miliarder pemilik IKEA (peritel terbesar perabot untuk rumah) tidak pernah memakai jas, selalu terbang dengan tiket kelas ekonomi, mengendarai Volvo yang umurnya sudah sepuluh tahun dan tidak ragu menaiki kendaraan umum.

Orang-orang kaya kerap digambarkan sebagai sosok yang tak disukai di dalam Alkitab. Apakah orang kristiani tidak boleh kaya? Pangkal persoalannya bukan di sini. Perikop hari ini menekankan bahwa hal yang tidak disukai Tuhan dari “orang kaya” adalah apabila ia berfokus mengumpulkan harta duniawi (ayat 3), mencurangi orang lain demi materi (ayat 4), dan bergaya hidup hedonis (ayat 5).

Disadari atau tidak, kita kerap menempatkan kesederhanaan dalam posisi yang berbanding lurus dengan kemiskinan; karena itu kita ingin menghindarinya. Namun, prinsip ini jelas tidak berlaku bagi Sam Walton atau Ingvar Kamprad. Juga terlebih bagi Kristus sendiri, yang meneladankan hidup penuh kesederhanaan. Maka, kita belajar bahwa sikap sederhana justru menunjukkan kekayaan batin seseorang –OLV

BERGAYA HIDUP SEDERHANA TAK ADA RUGINYA

MALAH MENOLONG KITA TAK EGOIS DAN

BERBAGI DENGAN SESAMA

Sumber : www.sabda.org

MENUAI APA YANG DITABURKAN

Pesan Gembala

18 Juli 2010


Shalom..salam miracle
Setiap hari ketika bangun pagi, saya melatih diri sejak beberapa waktu yang lalu, untuk melihat bahwa hari itu adalah hari yang spesial, sehingga menciptakan suatu gairah untuk menjalaninya dengan Tuhan. Sering terpikirkan di pagi hari dan mengharapkan apa yang Allah akan kerjakan dalam hidup saya, keluarga dan Gereja. Jika hari itu ada sesuatu yang akan dikerjakan di luar kegiatan rutin di rumah saya, maka saya akan mendukungnya dan mengerjakan sesuatu dengan semangat, bahkan bisa merubah jadwal kegiatan keseharian yang lain. Jika ada kegiatan atau pertemuan dengan para pekerja Tuhan di Gereja Bethany GTM, maka saya akan mengucap syukur kepada Allah terlebih dahulu untuk hamba-hamba Tuhan yang menjadi rekan sekerja bagi Allah, sebab para pekerja atau hamba Tuhan dikirim Allah yang terbaik. Kelihatannya sedikit sentimental, tetapi itulah yang sebenarnya.

Saya percaya bahwa Allah ingin kita hidup dalam kehendak-Nya. Sudah dinyatakan bahwa Allah tidak menginginkan seorangpun mengalami ketidakbaikan bahkan binasa. Jika seseorang telah lahir baru, ia sudah melakukan Firman Allah dengan cara mentaati apa yang telah difirmankan-Nya. Saya percaya di semua area kehidupan, kita menuai apa yag kita tabur.

Alah telah mempercayakan kita dengan hanya satu kehidupan. Pada umur kita sekarang, kita tidak boleh membuang-buang waktu sedikitpun. Kita sebaiknya mempunyai mimpi-mimpi dan rencana-rencana bagi hari esok. Namun hari ini merupakan FOKUS kehidupan kita. Sebaiknya kita tidak pernah ingin berada di posisi menoleh ke belakang dan memikirkan “apa seandainya jika…? Jadi sekarang merupakan hal yang sangat penting. Apabila kita menyiapkan hati untuk menabur benih-benih buah Roh, maka kita akan menuai tuaian yang besar. Galatia 6:7-9, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab siapa yang menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi siapa yang menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita berjemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah”. Apa yang ingin kita tuai besok, taburlah hari ini. Apa yang saudara temukan dan ingini bagi iri saudara sendiri, mulailah dengan memberikan hal itu. Jika saudara memerlukan inspirasi, mulailah dengan memberi inspirasi kepada orang lain. Jika saudara memerlukan perhatian orang lain, maka mulailah dengan memberikan perhatian kepada orang lain. Jika saudara memerlukan kasih, mulailah dengan memberi kasih kepada orang lain. Sering ketika saya mempersiapkan diri untuk berkhotbah atau sedang berbicara di mimbar baik di Gereja sendiri maupun Gereja lain, saya berkata kepada diri sendiri “Siapakah yang paling perlu mendengarkan omongan atau perkataan saya? Jawabannya adalah saya sendiri dan baru kemudian orang lain juga. Setiap kita memerlukan dua hal yaitu KASIH dan KEBAHAGIAAN. Taburlah kasih dan kebahagiaan, maka kita akan menuainya. Taburlah maka kita akan menuai, dan tempat terbaik untuk melakukannya adalah dengan mencari seseorang atau lainnya yang memerlukan Tuhan. Karena itulah tempat yag cocok dan subur untuk ditaburi sehingga akan menghasilkan. Taburlah benih-benih dari kasih Kristus dan sukacita serta perhatikanlah, kasih dan sukacita akan kembali kepada diri sendiri. Menabur dan menuai mempunyai sisi yang lain apabila diartikan dengan tidak baik. Jika saudara menabur pertengkaran, sikap menghakimi, mencari-cari kesalahan dan ketidakpercayaan, maka saudara akan menuai hal yang sama dengan porsi yang lebih besar. Pernyataan Tuhan Yesus ini kelihatannya keras, sebab Dia berkata “Janganlah kamu menghakimi, karena engkaupun akan dihakimi”.

Menabur merupakan salah satu kehendak Allah yang penting dalam kehidupan kita. Menabur yang berkenan di hadapan Allah itulah tindakan yang dikehendaki-Nya.

Roma 12:1-2 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Kita harus menanggapi apa yang Allah lakukan dan kasih-Nya kepada kita, maka dengan tekun kita seharusnya melayani Dia. Dalam perintahnya kepada jemaat di Roma, Paulus mendorong mereka untuk melayani dengan tekun “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Dia” (Roma 12:11). Dengan kasih Allah kita melayani Dia dengan sepenuh hati, dengan ketaatan tanpa kompromi. Dalam semua yang kita lakukan, perhatian kita bukan pada penghormatan, kemakmuran atau kemasyuran, tetapi untuk menyenangkan Allah dan berkenan di hadapan-Nya. Yesus adalah teladan kita dalam ketekunan dan semangat. Setelah Dia menyucikan bait Allah dari mereka yang mengejar uang, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis:”Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” (Yohanes 2:17). Seperti Yesus, kita harus dikuasai oleh keinginan untuk melayani Tuhan kita.
Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien

Gembala Sidang,
Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

BELAJAR MELEPASKAN

Rabu, 21 Juli 2010

Bacaan : Kejadian 19:12-29

19:12. Lalu kedua orang itu berkata kepada Lot: “Siapakah kaummu yang ada di sini lagi? Menantu atau anakmu laki-laki, anakmu perempuan, atau siapa saja kaummu di kota ini, bawalah mereka keluar dari tempat ini,

19:13 sebab kami akan memusnahkan tempat ini, karena banyak keluh kesah orang tentang kota ini di hadapan TUHAN; sebab itulah TUHAN mengutus kami untuk memusnahkannya.”

19:14 Keluarlah Lot, lalu berbicara dengan kedua bakal menantunya, yang akan kawin dengan kedua anaknya perempuan, katanya: “Bangunlah, keluarlah dari tempat ini, sebab TUHAN akan memusnahkan kota ini.” Tetapi ia dipandang oleh kedua bakal menantunya itu sebagai orang yang berolok-olok saja.

19:15. Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: “Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini.”

19:16 Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana.

19:17 Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: “Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.”

19:18 Kata Lot kepada mereka: “Janganlah kiranya demikian, tuanku.

19:19 Sungguhlah hambamu ini telah dikaruniai belas kasihan di hadapanmu, dan tuanku telah berbuat kemurahan besar kepadaku dengan memelihara hidupku, tetapi jika aku harus lari ke pegunungan, pastilah aku akan tersusul oleh bencana itu, sehingga matilah aku.

19:20 Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara.”

19:21 Sahut malaikat itu kepadanya: “Baiklah, dalam hal inipun permintaanmu akan kuterima dengan baik; yakni kota yang telah kau sebut itu tidak akan kutunggangbalikkan.

19:22 Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana.” Itulah sebabnya nama kota itu disebut Zoar.

19:23 Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar.

19:24. Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit;

19:25 dan ditunggangbalikkan-Nyalah kota-kota itu dan Lembah Yordan dan semua penduduk kota-kota serta tumbuh-tumbuhan di tanah.

19:26. Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.

19:27. Ketika Abraham pagi-pagi pergi ke tempat ia berdiri di hadapan TUHAN itu,

19:28 dan memandang ke arah Sodom dan Gomora serta ke seluruh tanah Lembah Yordan, maka dilihatnyalah asap dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan.

19:29 Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu.

BELAJAR MELEPASKAN

Walaupun tidak selalu setuju dengan produknya, saya tertarik pada beberapa ide iklan di televisi. Salah satunya adalah iklan yang menceritakan seorang lelaki yang diberhentikan dari pekerjaannya sebagai pegawai. Dengan sedih ia membereskan semua barangnya yang penuh kenangan, lalu kembali ke rumahnya. Saat membereskan beberapa barang, ia justru menemukan ide untuk membangun bengkel. Dari seorang pegawai yang diberhentikan, ia menjadi seorang pengusaha yang membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Sodom dan Gomora terletak di lembah Yordan yang berlimpah air, sehingga Lot memilihnya ketika akan berpisah dengan Abram. Namun, karena kejahatan penduduk kota tersebut, Sodom dan Gomora hendak dimusnahkan. Meski demikian, Tuhan memberi kesempatan kepada Lot untuk menyelamatkan diri dengan berlari ke Zoar. Sayangnya, istri Lot tak menuruti petunjuk malaikat Tuhan. Ia menoleh ke belakang seakan-akan ia tidak rela meninggalkan kota tempat tinggalnya yang nyaman tersebut. Dan ia pun menjadi tiang garam.

Hal-hal pada masa lalu kita mungkin sudah nyaman dan menyenangkan bagi kita. Akan tetapi, sebagaimana kehidupan Lot, ada kalanya Allah melihat sesuatu yang takkan berakibat baik apabila kita terus ada di tempat atau situasi yang sama. Dan, mempertahankan semuanya hanya akan membuat kita terhambat dan tidak akan maju. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk memiliki hati pasrah bersandar kepada Tuhan; kemudian menata hati, bersiap menyambut hal-hal baru yang mungkin akan hadir. Dia jauh lebih tahu mana yang paling penting dan berharga dari hidup kita –SL

ALLAH SELALU BEKERJA UNTUK KEBAIKAN

BAHKAN KETIKA TAMPAKNYA SAYA HARUS KEHILANGAN

Sumber : www.sabda.org

MENCARI ATAU MENJADI?

Selasa, 20 Juli 2010

Bacaan : Amsal 19:4-7

19:4. Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya.

19:5. Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar.

19:6. Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan, setiap orang bersahabat dengan si pemberi.

19:7 Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi.

MENCARI ATAU MENJADI?

Ada gula ada semut”, begitu bunyi pepatah lama yang kebenarannya tetap berlaku. Banyak orang akan berkumpul di sekeliling orang kaya. Berlagak sebagai kawan, tentu saja demi mendapat cipratan rezeki. Namun, kenyataan membuktikan bahwa mereka sebenarnya bukan teman, melainkan benalu; bukan sahabat, melainkan penjilat. Sikap mereka akan berubah drastis seiring keadaan yang berubah. Habis manis sepah dibuang.

Kenyataan di atas kerap dialami oleh orang yang tadinya kaya, kemudian jatuh miskin. Yang semula tebu, tetapi akhirnya tinggal jadi ampas. Maka, semua yang tadinya teman tiba-tiba saja menghilang. Namun, tidak berarti si kaya pun tidak merasakan “pahit”-nya kebenaran ini. Penulis Amsal adalah salah satu contohnya. Ia adalah si kaya yang sadar bahwa yang ada padanya bukan kawan. Yang berkerumun di sekelilingnya tak lebih daripada para penjilat. Padahal yang ia butuhkan adalah teman. Orang kaya pun punya kesusahan dan kesukaran. Mereka butuh solidaritas seorang sahabat sejati. Sedangkan “persahabatan” palsu menghadirkan kesepian dan kemuakan tersendiri bagi si kaya.

Semua orang perlu teman yang setia di segala waktu. Entah ia kaya atau miskin. Tidak ada manusia yang suka diperalat pada saat ia kaya, lalu dengan begitu saja dicampakkan pada saat ia miskin. Kenyataannya memang sulit mencari seorang sahabat, baik bagi si miskin maupun si kaya. Oleh sebab itu, siapa pun Anda, janganlah terpaku hanya “mencari” sahabat; justru sebaliknya “jadilah” sahabat bagi yang membutuhkan. Sama seperti Yesus tatkala hadir di dunia ini –PAD

DARIPADA MENCARI SAHABAT KE MANAMANA

LEBIH BAIK MENJADI KAWAN DI MANAMANA

Sumber : www.sabda.org

CHEERLEADER

Senin, 19 Juli 2010

Bacaan : Yesaya 50:4-9

50:4. Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

50:5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.

50:6 Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

50:7 Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.

50:8 Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!

50:9 Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? Sesungguhnya, mereka semua akan memburuk seperti pakaian yang sudah usang; ngengat akan memakan mereka.

CHEERLEADER

Cheerleader atau pemandu sorak adalah sebutan bagi beberapa orang yang bertugas untuk bersorak, menari, bahkan melakukan gerakan akrobatik di pinggir lapangan dalam pertandingan olahraga seperti bola basket, voli, dan sebagainya. Tujuan mereka adalah memandu setiap penonton agar bersorak memberi semangat kepada tim yang didukung. Biasanya anggota pemandu sorak adalah sekelompok wanita yang dilatih menari dengan baik.

Nabi Yesaya menyatakan bahwa dirinya juga seperti seorang cheerleader. Bukan untuk menyemangati tim olahraga, melainkan jiwa-jiwa yang lesu. Yesaya menyatakan bahwa lidah seorang murid Tuhan seharusnya mengeluarkan kata-kata semangat, bukan cemooh. Kata-kata yang membangkitkan semangat jiwa-jiwa yang lesu. Apa yang dikatakan Yesaya ini bukan sekadar teori, melainkan sebuah pengalaman yang ia jalani sendiri tatkala Tuhan menolongnya di tengah kesulitan. Jadi, inti pesan yang disampaikan Yesaya adalah; jika sang Guru—yaitu Allah sendiri—adalah seorang pemberi semangat, demikian juga seharusnya seorang murid Tuhan.

Entah berapa banyak kata-kata yang kita dengar setiap hari, di tengah berbagai aktivitas kita. Dari sekian banyak kata yang kita dengar, barangkali ada kata-kata buruk yang kita terima; cemoohan, ejekan, atau kata-kata yang meruntuhkan semangat. Di tengah dunia yang seperti ini, alangkah sejuknya apabila yang kita dengar adalah suara-suara yang memberi semangat. Tugas siapakah itu? Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa hal itu adalah tugas dari murid Tuhan –RY

PIKIRKAN DAN SAMPAIKAN

HANYA KATA-KATA YANG PENUH MAKNA BAGI SESAMA

Sumber : www.sabda.org

MODAL UTAMA

Sabtu, 17 Juli 2010

Bacaan : Wahyu 3:7-13

3:7. “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.

3:8 Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.

3:9 Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau.

3:10 Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.

3:11 Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

3:12 Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.

3:13 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

MODAL UTAMA

Pdt. Eka Darmaputera dalam salah satu khotbahnya mengatakan, “Modal utama kita sebagai murid Kristus bukan terletak pada jumlah atau pun kekuasaan, melainkan pada ketaatan kita kepada Tuhan. Tidak ada artinya kita memiliki kekuatan secara lahiriah, apabila itu kita raih dengan mengorbankan prinsip-prinsip iman kita.”

Pesan ini sejajar dengan pesan dalam surat kepada Jemaat di Filadelfia. Filadelfia adalah kota termuda di antara ketujuh kota yang disebut dalam kitab Wahyu. Dibangun oleh Raja Attalus II sekitar tahun 150 sebelum Kristus. Konon Attalus membangun kota itu untuk menyatakan rasa cintanya yang begitu besar kepada Eumenes, saudara laki-lakinya. Karenanya diberi nama Filadelfia, yang berasal dari kata Yunani philadelphos, artinya: orang yang mengasihi saudara laki-lakinya.

Secara kuantitas, Jemaat Filadelfia bukanlah jemaat yang besar dan kuat. Akan tetapi, mereka taat kepada Tuhan. “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, ” demikian firman Tuhan. “Namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku” (ayat 8). Karena itu, Tuhan pun akan melindungi mereka dari pencobaan yang akan datang menimpa dunia (ayat 10).

Gereja yang berfokus pada upaya menambah jumlah pengikut, memperkuat pengaruh sosial, ekonomi, dan politik, pasti akan kecewa. Itu dasar yang rapuh. Upaya gereja harus mulai dari ketaatan kepada Tuhan. Begitu juga dalam hidup pribadi. Kekuatan kita sebagai pengikut Kristus bukan terletak pada materi, jabatan, atau kekuasaan, melainkan pada ketaatan kepada Tuhan. Fokus hidup kita haruslah tertuju pada bagaimana kita tetap taat kepada Tuhan –AYA

KITA TIDAK DIPANGGIL UNTUK MENJADI

KAYA ATAU BERHASIL

KITA DIPANGGIL UNTUK TAAT—IBU TERESA

Sumber : www.sabda.org