Perpuluhan

Shallom…Salam Miracle!

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati, kali ini kita belajar tentang perpuluhan, ada beberapa di antara kita, khususnya mereka yang rindu mengetahui kebenaran Alkitab menanyakan seputar perpuluhan, terlebih materi FA terakhir membicarakan tentang pemberian yang terbaik (termasuk pengembalian perpuluhan), sehingga saya ingin menyampaikan melalui warta jemaat kali ini.

Kebenaran tentang perpuluhan seringkali diabaikan bahkan kurang dimengerti oleh sebagian jemaat Tuhan, maka perlu penjelasan-penjelasan dari Firman Allah sehingga menunjukkan pentingnya kebenaran perpuluhan ini dalam membawa jemaat kepada kedewasaan rohani. Apabila seorang anak Tuhan mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, maka tentang perpuluhan merupakan hal yang mudah untuk dilakukan atau dikerjakan, namun bagi seseorang yang meragukan bahkan tawar hati dan belum memiliki pengajaran tentang perpuluhan, maka untuk mengerjakannya akan menjadi sulit.

Ada beberapa pandangan yang mengatakan bahwa tidak perlu memberikan perpuluhan sebab Tuhan Yesus telah meniadakan hukum Taurat, karena perpuluhan tersebut bagian dari Taurat. Pendapat tersebut kurang benar sebab persepuluhan tidak berasal dari Taurat, melainkan berasal dari Perjanjian Anugrah yang diberikan kepada Abraham yang dilayani oleh Imam Besar Melkisedek, 430 tahun sebelum hukum Taurat (baca Galatia 3 dan Ibrani 7).

Kejadian 14:18-20 “Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang Imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: “Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Lalu Abram memberikan kepadanya <span>sepersepuluh dari semuanya.” Dari sini sangat menarik untuk disimak, sebab sangat erat hubungannya antara perjamuan suci dengan persepuluhan. Perjanjian Abram dengan Imam Melkisedek yang menyatakan kebenaran persepuluhan adalah Perjanjian dan Imamat yang diteguhkan Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru, sehingga persepuluhan adalah hal yang penting bagi kita semua.

Mengapa persepuluhan itu penting? Sebab…

  1. PERSEPULUHAN ADALAH MILIK ALLAH

Bilangan 18:24 “Sebab persembahan persepuluhan yang dipersembahkan orang Israel kepada Tuhan…” Kalau kita tidak memberikan persepuluhan dengan kata lain mengambil milik Tuhan. Maleakhi 3:8 “Bolehkah manusia menipu (dalam bahasa Inggris diartikan: MENCURI) Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata “Dengan bagaimana cara kami meipu Engkau? Mengenai PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN DAN PERSEMBAHAN KHUSUS.” Kalau kita mengasihi Tuhan Yesus, maka tidak mungkin kita menipu atau mencuri dari DIA.

  1. SUPAYA ADA MAKANAN DALAM RUMAH TUHAN

    Malekahi 3:10 “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu…” kata “MAKANAN DI RUMAHKU” mempunyai arti:

    a. Supaya ada makanan jasmani untuk para pekerja Tuhan/hamba Tuhan, sehingga hamba-hamba Tuhan lebih memfokuskan diri dalam menggali Firman Allah, berdoa, dan erat hubungannya dengan Allah, sehingga pesan-pesan dari Tuhan lebih peka dan tajam disampaikan kepada jemaat untuk membangunkan, memelihara, memperbaiki, bahkan menegor umat Tuhan, sehingga membawa Tuhan semakin berkenan kepada-Nya.

    b. Supaya ada makanan rohani untuk jemaat yang dilayani oleh hamba Tuhan.

  2. SUPAYA UMAT TUHAN DIBERKATI

    Maleakhi 3:10 … dan ujilah Aku, Firman Tuhan semesta alam apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Bahkan setelah membawa persepuluhan dinyatakan dalam 2 Tawarikh 31:10 “…Sejak persembahan khusus mulai dibawa ke rumah Tuhan, kami telah makan sekenyang-kenyangnya, namun sisanya masih banyak. Sebab Tuhan telah memberkati umat-Nya…” Inilah janji Tuhan kepada kita semua, bahwa setiap orang yang setia dengan persepuluhan pasti diberkati, bandingkan dengan prinsip dalam Lukas 6:38 “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan dan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu.” Jadi Tuhan tidak akan berhutang kepada seorangpun.

  3. SUPAYA GEREJA DAPAT DISEMPURNAKAN

    Ibrani 7 menyatakan bahwa member persepuluhan merupakan bagian peraturan Melkisedek yang membawa gereja umat Tuhan menuju kesempurnaan. Memberi persepuluhan juga akan memperkenan hati Allah (Amsal 3:9).

(…BERSAMBUNG…)

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

PINJAMAN

Kamis, 30 September 2010

Bacaan : 1 Korintus 15:1-11

15:1. Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri.

15:2 Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu–kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya.

15:3 Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,

15:4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;

15:5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya.

15:6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.

15:7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.

15:8 Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.

15:9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.

15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

15:11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

PINJAMAN

Dalam puisinya I Lend This Child To You, Edgar A. Guest menyampaikan sebuah pesan indah. Berikut adalah petikannya: Aku akan pinjamkan bagimu untuk sesaat/Seorang anak milik-Ku, kata-Nya/Untuk kaucintai semasa ia hidup/Dan untuk ditangisi saat ia meninggal/Mungkin selama enam atau tujuh tahun/Atau dua puluh dua atau tiga/Tapi maukah kau-sampai Aku memanggilnya pulang-menjaganya untuk-Ku?/Maukah engkau memberikan padanya seluruh kasihmu?/Tanpa berpikir pekerjaan itu akan sia-sia/Atau membenci-Ku saat Aku datang memanggil-untuk mengambilnya kembali?

Sebuah puisi yang mencelikkan mata para orangtua. Ketika dunia mengatakan bahwa apa-apa yang ada di hidup kita adalah milik kita sendiri, puisi ini mengembalikan kita pada realita. Bahwa segala sesuatu yang selama ini kita anggap milik kita, sesungguhnya hanya pinjaman dari Tuhan. Termasuk anak-anak yang dipercayakan pada kita. Mereka milik Tuhan, dan suatu saat harus dikembalikan pada pemilik-Nya. Maka, bagaimanakah sikap bertanggung jawab dari seorang yang “hanya dipinjami”?

Karena anak adalah “pinjaman Tuhan” yang bernilai kekal, maka kita harus menyampaikan Injil kepadanya-seperti yang terurai dalam bacaan hari ini. Agar ia sungguh-sungguh mengenal dan memercayai Kristus, Pribadi yang akan “mengambilnya kembali” dan memintanya mempertanggungjawabkan hidupnya. Dan tidak ada kata “nanti” atau “besok” untuk melakukannya. Sebab kita tak tahu kapan Tuhan hendak memintanya kembali. Doakan, bimbing, dan dampingi anak kita untuk menjadikan Kristus Raja di hidupnya! –AW

KETIKA TUHAN MEMINJAMKAN ANAK-ANAK DI HIDUP KITA

DIA HANYA MINTA KITA MENUNJUKKAN

JALAN PULANG YANG BENAR

Sumber : www.sabda.org

RON ARTEST

Rabu, 29 September 2010

Bacaan : Kisah Para Rasul 9:1-19, 26-31

9:1. Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,

9:2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.

9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”

9:5 Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

9:6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.”

9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.

9:8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

9:9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

9:10. Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: “Ananias!” Jawabnya: “Ini aku, Tuhan!”

9:11 Firman Tuhan: “Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa,

9:12 dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.”

9:13 Jawab Ananias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.

9:14 Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”

9:15 Tetapi firman Tuhan kepadanya: “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.

9:16 Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.”

9:17 Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”

9:18 Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.

9:19 Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. (9-19b) Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.

9:26 Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid.

9:27 Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus.

9:28 Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan.

9:29 Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia.

9:30 Akan tetapi setelah hal itu diketahui oleh saudara-saudara anggota jemaat, mereka membawa dia ke Kaisarea dan dari situ membantu dia ke Tarsus.

9:31 Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.

RON ARTEST

Ron Artest dulunya dikenal sebagai atlet NBA (Liga Bola Basket Amerika Serikat) yang meski berbakat, tetapi sangat temperamental dan kontroversial. Citra ini terbentuk terutama karena perkelahiannya dengan penonton dalam sebuah pertandingan pada 2004. Pada awal musim pertandingan 2009/2010, ia bergabung dengan tim juara bertahan, Los Angeles Lakers. Pada waktu itu, ia mengaku sudah berubah. Sayang, banyak orang meragukannya. Namun, lewat pertandingan demi pertandingan, ia membuktikan janjinya. Hingga akhirnya ia malah berjasa besar membantu timnya menjadi juara liga.

Perjalanan hidup Paulus juga mirip dengan pengalaman Ron Artest. Ia dulunya adalah seorang musuh Kristus dan penganiaya jemaat. Singkat kata, masa lalunya begitu kelam. Namun oleh anugerah-Nya, Tuhan memanggilnya untuk bertobat melalui peristiwa di perjalanan ke Damsyik. Hanya saja, karena reputasi masa lalunya yang buruk, murid-murid yang lain sulit memercayai kalau Paulus sudah sungguh-sungguh berubah. Namun, kecurigaan ini tidak membuat Paulus undur. Ia terus berusaha meyakinkan mereka dengan bukti-bukti di hidupnya, bahwa ia sudah sungguh-sungguh berubah.

Salah satu tantangan dalam membuka lembaran hidup yang baru memang adalah kecurigaan dari orang-orang di sekitar kita, bahwa kita sudah sungguh-sungguh berubah. Akan tetapi, seperti yang dilakukan oleh Ron Artest dan Paulus, jangan kita undur karenanya. Sebaliknya, buktikanlah dengan menjalani hidup kita yang baru secara konsisten. Maka suatu hari kelak mereka akan percaya dan menerima kita sepenuhnya –ALS

ORANG YANG SUNGGUH BERTOBAT

PASTI AKAN MENUNJUKKAN

PERUBAHAN HIDUP YANG KONSISTEN

Sumber : www.sabda.org

BIASA BERBOHONG

Selasa, 28 September 2010

Bacaan : Yohanes 1:19-28

1:19. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?”

1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.”

1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!”

1:22 Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?”

1:23 Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”

1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.

1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?”

1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,

1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.”

1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

BIASA BERBOHONG

Profesor Bella DePaulo pernah mengadakan penelitian tentang kebohongan. Selama seminggu, ratusan orang diminta mencatat berapa kali mereka berbohong, kepada siapa saja, dan apa alasannya. Hasilnya mengejutkan. Tingkat kebohongan yang mereka lakukan rata-rata empat puluh persen. Alasan utama berbohong adalah untuk menjaga citra diri. Supaya di hadapan orang lain, mereka tampak lebih baik daripada kenyataan yang ada.

Orang yang bisa menerima diri tidak akan merasa perlu berbohong. Yohanes Pembaptis pernah tampil sebagai tokoh spiritual yang sangat berkharisma. Beberapa pejabat tinggi agama Yahudi datang kepadanya dan bertanya, “Siapakah engkau?” Ini kesempatan emas bagi Yohanes untuk berbohong dan membesarkan diri sendiri. Namun, dengan jujur ia menjawab: “Aku bukan Mesias.” Ketika disetarakan dengan Nabi Elia-nabi yang dianggap paling hebat, ia pun berkata, “Bukan.” Bahkan, ia menolak ketika dijuluki sebagai “nabi yang akan datang”. Dengan rendah hati, Yohanes berkata bahwa dirinya hanyalah “suara”. Corong. Seorang pelayan yang sedang mempersiapkan kedatangan Yesus, Mesias yang sesungguhnya.

Apakah Anda masih sering berbohong? Akar masalahnya bisa jadi karena Anda tidak bisa menerima diri apa adanya. Dan Anda ingin terlihat hebat di mata orang. Padahal, hidup dalam kebohongan itu sangat melelahkan. Penuh beban, karena Anda harus terus mengenakan topeng. Lebih baik belajar jujur seperti yang dilakukan oleh Yohanes. Niscaya Anda akan merasa bebas lepas; dan bersukacita menjadi diri sendiri –JTI

KEBOHONGAN MENJERAT DAN MELELAHKAN JIWA

KEJUJURAN MEMBEBASKAN DAN MENYEGARKAN JIWA

Sumber : www.sabda.org

BERBUAT KEBAIKAN

Senin, 27 September 2010

Bacaan : Keluaran 1:13-20

1:13 Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja,

1:14 dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.

1:15. Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya:

1:16 “Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup.”

1:17 Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu hidup.

1:18 Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka: “Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?”

1:19 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: “Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat: sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.”

1:20 Maka Allah berbuat baik kepada bidan-bidan itu; bertambah banyaklah bangsa itu dan sangat berlipat ganda.

BERBUAT KEBAIKAN

Suatu pagi seorang pemuda sedang berjalan di pinggir pantai. Ia melihat begitu banyak bintang laut yang terdampar di sana. Tak jauh dari situ ada seorang kakek yang sedang memunguti bintang laut dan melemparkannya kembali ke laut. Si pemuda mendekatinya dan bertanya, “Untuk apa Kakek melakukannya?” Kakek itu menjelaskan, bahwa semua bintang laut itu akan mati kalau terus-menerus kena cahaya matahari. “Pantai ini begitu luas, ada ribuan bintang laut yang terdampar. Tidakkah usaha Kakek ini akan percuma saja?” tanya pemuda itu lagi. Sambil mengambil satu bintang laut kakek itu berkata, “Tetapi pasti tidak akan percuma untuk yang satu ini.”

Perbuatan baik, sekecil apa pun, tidak akan sia-sia. Kalaupun itu tidak mengubah seluruh keadaan, setidaknya bisa mengubah sebagian kecil dari keadaan. Seperti yang dilakukan oleh Sifra dan Pua, dua bidan yang secara diam-diam menyelamatkan bayi laki-laki orang Israel dari kekejaman Raja Mesir. Tindakan mereka memang tidak berpengaruh apa-apa terhadap keseluruhan nasib bangsa Israel-bangsa itu tetap menjadi budak di tanah Mesir. Akan tetapi, bagi para orangtua yang bayinya mereka selamatkan, pengaruhnya tentu besar sekali.

Oleh karena itu, marilah kita tidak jemu-jemu berbuat kebaikan; di mana pun dan dalam bentuk apa pun-entah dengan cara berbagi rezeki untuk sesama di sekitar kita, menolong orang lain yang membutuhkan, atau kebaikan apa saja. Jangan berpikir bahwa tindakan-tindakan semacam itu seperti membuang air ke lautan luas. Sebab, masing-masing pasti ada gunanya. Setidaknya bagi orang yang menerima kebaikan itu –AYA

TIDAK PERNAH ADA KEBAIKAN YANG SIA-SIA

SEBAB TUHAN AKAN MENERUSKANNYA PADA

ORANG YANG TEPAT

Sumber : www.sabda.org

SECUKUPNYA SAJA

Sabtu, 25 September 2010

Bacaan : Keluaran 16:11-20

16:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

16:12 “Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.”

16:13. Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu.

16:14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.

16:15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.

16:16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.”

16:17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit.

16:18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.

16:19 Musa berkata kepada mereka: “Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi.”

16:20 Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka.

SECUKUPNYA SAJA

Mahatma Gandhi pernah berkata: “Dunia ini senantiasa dapat mencukupi kebutuhan setiap orang, tetapi tak akan bisa mencukupi keserakahan setiap orang.” Inilah peringatan Gandhi kepada rakyatnya supaya mereka mencukupkan diri sesuai kemampuan mereka dan tidak serakah.

Demikian pula yang terjadi dengan umat Israel dalam bacaan hari ini. Setelah satu setengah bulan dalam pengembaraan, tentu bekal makanan yang mereka bawa telah habis. Mereka kelaparan. Dalam situasi itu mereka bersungut-sungut kepada Musa (16:3). Sebagai jawaban atas keinginan mereka, Tuhan mengirim roti dari langit (ayat 4), dan juga burung puyuh (ayat 13). Namun, Tuhan bukanlah Allah yang memanjakan umat. Ketika roti manna diturunkan, Tuhan tetap menjadi Allah yang mendidik umat bagaimana mesti hidup di hadapan-Nya, yakni dengan berpesan: agar tiap-tiap orang memungut menurut keperluannya, agar tidak ada pihak yang kelebihan atau kekurangan. Hidup sesuai dengan keperluan, disebut sebagai hidup yang ugahari (hidup dengan rasa cukup). Pas, itu saja! Ini pun adalah pelajaran rohani. Tujuannya adalah agar tercipta keseimbangan yang adil bagi semua orang, suatu hal yang sering dirusak oleh nafsu serakah yang menguasai orang yang selalu merasa kurang.

Demikianlah pula ajaran Allah bagi umat Israel, pun bagi kita hari ini. Yakni dengan hidup diiringi dengan perasaan cukup; membebaskan diri dari sikap serakah. Serta, tetap menaruh kepercayaan pada Tuhan yang mengerti segala kebutuhan dan memelihara hidup kita –DKL

HIDUP DENGAN RASA CUKUP

MENOLONG KITA UNTUK SELALU PEDULI JUGA BERSYUKUR

Sumber : www.sabda.org

TERUS BERENANG

Jumat, 24 September 2010

Bacaan : Hakim-hakim 8:4-12

8:4. Ketika Gideon sampai ke sungai Yordan, menyeberanglah ia dan ketiga ratus orang yang bersama-sama dengan dia, meskipun masih lelah, namun mengejar juga.

8:5 Dan berkatalah ia kepada orang-orang Sukot: “Tolong berikan beberapa roti untuk rakyat yang mengikuti aku ini, sebab mereka telah lelah, dan aku sedang mengejar Zebah dan Salmuna, raja-raja Midian.”

8:6 Tetapi jawab para pemuka di Sukot itu: “Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada tentaramu?”

8:7 Lalu kata Gideon: “Kalau begitu, apabila TUHAN menyerahkan Zebah dan Salmuna ke dalam tanganku, aku akan menggaruk tubuhmu dengan duri padang gurun dan onak.”

8:8 Maka berjalanlah ia dari sana ke Pnuel, dan berkata demikian juga kepada orang-orang Pnuel, tetapi orang-orang inipun menjawabnya seperti orang-orang Sukot.

8:9 Lalu berkatalah ia juga kepada orang-orang Pnuel: “Apabila aku kembali dengan selamat, maka aku akan merobohkan menara ini.”

8:10 Sementara itu Zebah dan Salmuna ada di Karkor bersama-sama dengan tentara mereka, kira-kira lima belas ribu orang banyaknya, yakni semua orang yang masih tinggal hidup dari seluruh tentara orang-orang dari sebelah timur; banyaknya yang tewas ada seratus dua puluh ribu orang yang bersenjatakan pedang.

8:11 Gideon maju melalui jalan orang-orang yang diam di dalam kemah di sebelah timur Nobah dan Yogbeha, lalu memukul kalah tentara itu, ketika tentara itu menyangka dirinya aman.

8:12 Zebah dan Salmuna melarikan diri, tetapi Gideon mengejar mereka dan menawan kedua raja Midian itu, yakni Zebah dan Salmuna, sedang seluruh tentara itu diceraiberaikannya.

TERUS BERENANG

Dalam film animasi Finding Nemo, Marlin dibantu Dory mencari anaknya yang ditangkap penyelam, dengan berbekal masker selam bertulisan alamat si penyelam sebagai petunjuk. Namun, akibat serangan hiu dan meledaknya ladang ranjau, masker itu hilang ke palung laut. Marlin patah semangat. Dory menyemangatinya sambil bernyanyi riang, “Kala hidup ini mengecewakanmu, kau tahu apa yang perlu kaulakukan? Terus saja berenang, terus saja berenang, berenang, berenang, berenang. Apa yang akan kita laku-kan? Kita berenang, berenang.” Berkat Dory yang pantang menyerah, mereka berhasil menemukan masker itu dan melanjutkan pencarian.

Gideon diangkat Tuhan menjadi hakim untuk memimpin bangsa Israel melawan bangsa Midian. Dengan cara ajaib, Tuhan menyertai pasukan Israel mengalami kemenangan. Namun, kemenangan itu belum tuntas, masih ada raja Midian lain yang mesti ditaklukkan. Mereka bisa saja berleha-leha merayakan kemenangan awal ini, apalagi pasukan sudah kelelahan. Namun, Gideon memilih menyelesaikan pertempuran. Mun-cullah frasa menarik ini: bahwa mereka “masih lelah, namun mengejar juga” (ayat 4). Kalau mereka berhenti, bisa jadi musuh mengerahkan kekuatan yang tersisa dan berbalik menghantam mereka. Gideon pun melanjutkan pertempuran sampai merebut kemenangan penuh.

Keadaan sulit dapat menyurutkan langkah kita dalam menyelesaikan tugas. Mungkin kita perlu rehat dulu ketika lelah, tetapi jangan menyerah. Kita tak akan pernah mengecap sukses jika berhenti di tengah jalan. Diperlukan kegigihan, kesediaan untuk “terus bere-nang” agar dapat mengatasi tantangan dan mencapai tujuan –ARS

KEADAAN SULIT BUKAN UNTUK MEMBUAT

KITA ANGKAT TANGAN

MELAINKAN UNTUK MENINGKATKAN

KEKUATAN DAN DAYA TAHAN

Sumber : www.sabda.org