PERJAMUAN TANPA KEAKRABAN

Minggu, 31 Oktober 2010

Bacaan : Lukas 24:27-35

24:27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.

24:28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya.

24:29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.” Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

24:30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.

24:31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka.

24:32 Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

24:33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka.

24:34 Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”

24:35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

PERJAMUAN

TANPA KEAKRABAN

Dua orang anggota majelis gereja bertengkar dalam rapat. Benih permusuhan muncul. Ketua majelis prihatin. Seminggu kemudian keduanya diundang makan malam di rumahnya. Suasana santai tercipta saat makan bersama. Masing-masing bisa mencurahkan isi hati. Perjamuan itu menghasilkan keterbukaan. Keduanya jadi saling memahami dan mengampuni. Ternyata “diplomasi makan bersama” sangat ampuh untuk mengakrabkan. Di meja makan, yang satu bisa memandang yang lain sebagai saudara, bukan hanya sebagai pejabat gereja.

Sesudah Yesus bangkit, Dia menemui dua murid-Nya di jalan menuju Emaus, namun Dia malah dianggap “orang asing” (ayat 18). Untuk memperkenalkan diri-Nya, Yesus mula-mula menjelaskan Kitab Suci, sehingga hati kedua murid itu berkobar-kobar (ayat 32). Kemudian, Dia mengadakan Perjamuan Kudus! “Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.” Sama seperti yang Dia buat pada perjamuan terakhir (bandingkan dengan Lukas 22:19). Hasilnya? Perjamuan itu mengakrabkan. Dalam suasana makan bersama, muncul pengenalan pribadi. Mata kedua murid pun terbuka dan mereka mengenal Dia (ayat 31).

Perjamuan Kudus adalah peristiwa luar biasa. Bayangkan, Raja Semesta mau mengundang orang berdosa seperti kita, untuk makan semeja dengan-Nya. Yang jauh menjadi dekat. Dalam perjamuan, roti dan air anggur-lambang tubuh dan darah-Nya-menyatu di tubuh kita. Betapa akrabnya kita dengan Dia! Maka, sambutlah setiap Perjamuan Kudus sebagai momen untuk menjalin keakraban dengan Tuhan, bukan sekadar kebiasaan –JTI

BISA IKUT DALAM PERJAMUAN ADALAH

SEBUAH KEHORMATAN

JANGAN MENGANGGAPNYA

SEKEDAR RITUAL KEAGAMAAN

Sumber : www.sabda.org

Iklan

JAYAGIRI

Sabtu, 30 Oktober 2010

Bacaan : Roma 8:18-25

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.

8:20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya,

8:21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?

8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

JAYAGIRI

Di Lembang, Jawa Barat, ada satu hutan wisata pinus, bernama Jayagiri. Kalau kita menyusuri hutan itu dengan berjalan kaki, maka kita akan sampai ke kawasan gunung Tangkuban Perahu. Dulu semasa tinggal di Bandung, saya pernah beberapa kali pergi ke sana. Di awal perjalanan, rasanya sangat melelahkan. Sebab jalannya menanjak dan belum terlalu banyak pemandangan yang bisa dinikmati. Akan tetapi, jika kita sudah sampai di tengah hutan, perjalanan berubah mengasyikkan. Rasa lelah pun dapat dilupakan karena terobati oleh pemandangan yang indah dan kesegaran udara yang sejuk.

Itu jugalah gambaran perjalanan hidup kristiani. Hidup dalam iman kristiani memang tidak selalu mudah. Terkadang kita harus melewati jalan yang sulit; mungkin berupa kebencian dari orang-orang yang menentang kekristenan, atau aniaya, atau godaan yang bisa menggoyahkan iman. Paulus bahkan menyadari bahwa mempertahankan iman dapat mendatangkan penderitaan. Akan tetapi, penderitaan itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kemuliaan yang disediakan bagi kita kelak. Itulah penghiburannya.

Sebenarnya godaan yang paling besar tatkala kita lelah adalah sikap bersungut-sungut. Dari situ kita akan sangat tergoda untuk berhenti saja mempertahankan iman. Bisa jadi karena kita harus meng-hadapi tekanan dan ungkapan kebencian atas iman kita. Atau, karena penghayatan iman kita disalahmengerti oleh orang lain. Apabila kita sedang mengalami hal-hal demikian, kita harus meneguh-kan hati untuk setia, sebab tidak selamanya kita akan mengalami hal-hal itu. Suatu hari kelak, dunia dan segala perilakunya akan berlalu. Dan bagi yang setia, kemuliaan besar sudah tersedia –RY

JANGAN BERHENTI MEMPERTAHANKAN IMAN ANDA

KARENA MAHKOTA KEMULIAAN MENANTI

DI AKHIR PERJALANAN

Sumber : www.sabda.org

AKIBAT SALAH BERGAUL

Jumat, 29 Oktober 2010

Bacaan : 1 Raja-raja 12:3-11

12:3 Orang menyuruh memanggil dia, lalu datanglah Yerobeam dengan segenap jemaah Israel dan berkata kepada Rehabeam:

12:4 “Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, maka sekarang ringankanlah pekerjaan yang sukar yang dibebankan ayahmu dan tanggungan yang berat yang dipikulkannya kepada kami, supaya kami menjadi hambamu.”

12:5 Tetapi ia menjawab mereka: “Pergilah sampai lusa, kemudian kembalilah kepadaku.” Lalu pergilah rakyat itu.

12:6 Sesudah itu Rehabeam meminta nasihat dari para tua-tua yang selama hidup Salomo mendampingi Salomo, ayahnya, katanya: “Apakah nasihatmu untuk menjawab rakyat itu?”

12:7 Mereka berkata: “Jika hari ini engkau mau menjadi hamba rakyat, mau mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik, maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu.”

12:8 Tetapi ia mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua itu, lalu ia meminta nasihat kepada orang-orang muda yang sebaya dengan dia dan yang mendampinginya,

12:9 katanya kepada mereka: “Apakah nasihatmu, supaya kita dapat menjawab rakyat yang mengatakan kepadaku: Ringankanlah tanggungan yang dipikulkan kepada kami oleh ayahmu?”

12:10 Lalu orang-orang muda yang sebaya dengan dia itu berkata: “Beginilah harus kaukatakan kepada rakyat yang telah berkata kepadamu: Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, tetapi engkau ini, berilah keringanan kepada kami–beginilah harus kaukatakan kepada mereka: Kelingkingku lebih besar dari pada pinggang ayahku!

12:11 Maka sekarang, ayahku telah membebankan kepada kamu tanggungan yang berat, tetapi aku akan menambah tanggungan kamu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi.”

AKIBAT SALAH BERGAUL

Berbagai penelitian mengungkap bahwa pengaruh teman terhadap pengambilan keputusan dan perilaku seseorang sangat besar. Hasil penelitian Profesor Dadang Hawari, misalnya, menyatakan bahwa 81, 3% pengguna narkotika didorong oleh pengaruh teman. Komnas Perlindungan Anak juga mencatat pengaruh teman sebagai salah satu pendorong utama anak-anak terjerumus ke dalam kebiasaan merokok. Di Amerika pernah dilakukan penelitian tentang bagaimana seseorang memutusk-an membeli sebuah barang. Hasilnya, pengaruh teman menduduki urutan nomor dua di bawah iklan.

Besarnya pengaruh teman tak dapat disangkal. Kedekatan dan keakraban dengan seseorang dapat membuat kita percaya bahkan memercayakan diri, kepadanya. Kita bisa lebih mendengar dan menghargai pendapatnya daripada orang lain, bahkan keluarga. Tak jarang keputusan kita ikut diten-tukan oleh teman.

Itulah yang dialami oleh Rehabeam, anak Salomo, cucu Daud. Suatu ketika ia harus berhadapan dengan perkara yang pelik (ayat 4). Pertama-tama ia datang kepada para penasihat, para tua-tua yang pernah menjadi pendamping ayahnya (ayat 6, 7). Namun, ia kemudian mengabaikan nasihat mereka dan memilih untuk mengikuti nasihat dari teman-teman sebayanya (ayat 8). Akibatnya pun sangat fatal: rakyat memberontak terhadap Dinasti Daud.

Siapa teman-teman dekat kita akan turut mengasah pemikiran dan batin kita, bahkan juga membentuk kebiasaan-kebiasaan dan karakter kita. Tidak jarang teman-teman dekat kita itu juga turut memengaruhi keberhasilan dan kegagalan kita, bahagia dan derita kita. Maka, baiklah kita berhati-hati memilih teman-teman dekat –AYA

PILIHLAH DAN JADILAH TEMAN YANG BIJAK

AGAR DARI SETIAP HIDUP DIHASILKAN

BUAH BERKAT YANG BANYAK

Sumber : www.sabda.org

Mendapatkan Damai Sejahtera melalui Rendah Hati

PESAN GEMBALA

24 OKTOBER 2010

EDISI 149 TAHUN 3

Shallom…salam Miracle

Jemaat Tuhan yang diberkati, sering kali kita mendengar ajaran tentang kerendahan hati, dimana setiap orang mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Alkitab memerintahkan agar kita menganggap orang lain lebih utama daripada diri sendiri. Filipi 2:3-4 “Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri.”

 

Orang yang memiliki kerendahan hati tidak mudah tersinggung atau marah. Tetapi tidak demikian dengan orang yang memiliki keakuan yang besar. Percekcokan dan konflik berhenti bila kita memiliki kerendahan hati, Amsal 13:10 “Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasehat mempunyai hikmat.” Kepribadian yang kasar, pemarah, sombong, suka mendominasi, suka menuntut dan keras perlu dikikis. Orang-orang di sekitar kita sebaiknya tidak merasakan roh kita, melainkan mereka harus merasakan Roh Allah yang bekerja melalui kita. Bila orang lebih merasakan roh kita daripada Roh Allah, itu berarti kita membutuhkan kerendahan hati. Dan ini memerlukan banyak penghancuran kekerasan hati. Tidak rendah hati dimiiki oleh orang yang tidak disiplin dan dididik secara benar ketika ia masih kecil. Hanya TUAN-TUAN yang seringkali mudah tersinggung, bukan anak domba-anak domba.

 

Orang yang rendah hati dan memiliki hati yang lembut, tidak pernah tersinggung seperti orang disebutkan dalam Amsal 18:19. Orang menjadi tersinggung karena keakuannya terluka. Kasih karunia telah ditolaknya dan ia telah mengeraskan hatinya serta menjadi pahit hati, Ibrani 4:16 “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan kita pada waktunya.” Bandingkan dengan Ibrani 12:15 “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh AKAR YANG PAHIT yang menimbulkan KERUSUHAN dan MENCEMARKAN BANYAK ORANG.” Orang menjadi tersinggung karena memelihara suatu luka hati dan menjebloskan dirinya sendiri ke dalam suatu lubang yang dalam. Ia tidak dapat disembuhkan, tidak dengan permintaan maaf atau apapun juga, sebelum mengalami jamahan Allah.

 

Hati yang mudah tersinggung yang dibiarkan tidak diobati akan menjadi SANGAT JAHAT. Di hari-hari terakhir banyak orang akan tersinggung, dan ini akan membuat mereka saling membenci dan mengkhianati (Matius 24:10). Apakah kita sadar betapa seriusnya problem kita bila membiarkan hati kita tersinggung?

 

Saya ingin mengulangi hal ini. Orang yang tersinggung itu bukan anak domba, ia adalah seorang Tuan, sombong serta tidak memiliki hati yang remuk. Ia memiliki suatu pendapat yang tinggi tentang dirinya sendiri dan “SOK PENTING”. Ia mempertahankan hak-haknya dan menuntut pembelaan atas dirinya. Salah satu tipuan yang memperdayai seseorang yang tersinggung adalah ia percaya bahwa ia memiliki hak untuk tersinggung, dan bahwa ia dibenarkan untuk marah, dan melukai orang-orang lain. (Ia tidak benar-benar percaya bahwa Allah memakai ketidakadilan untuk meningkatkan kerohanian anak-anak-Nya). Karena itu, hatinya mulai tertipu.

 

Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari lubang yang menyeramkan ini adalah dengan menjadi ANAK DOMBA, menyerahkan hak-hak kita, dan meneladani YESUS KRISTUS yang mempercayakan segala ketidakadilan yang Ia alami kepada Bapa Surgawi-Nya. 1 Petrus 2:21-23 “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu daya tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, Yang menghakimi dengan adil.

 

Neraka dipenuhi dengan orang-orang yang tersinggung, yang menolak kasih karunia Allah ketika mereka disakiti. Mereka meninggal dengan memegang erat kepahitan mereka terhadap Allah dan orang-orang yang tidak mau mereka maafkan. Kini mereka sendiri tersiksa dengan pelanggaran-pelanggaran yang tidak mau mereka maafkan dalam diri orang lain. Akan sangat penting bagi kita anak-anak-Nya untuk senantiasa rendah hati dan menikmati damai sejahtera bersama dengan kasih Tuhan. Allah tinggal bersama mereka yang rendah hati. Sehingga dalam damai sejahtera menjadikan kita bisa mendapatkan kesatuan. Hadirat Tuhan ditolak oleh hati yang keras, tetapi kekerasan tidak dimiliki oleh orang yang rendah hati. Allah menolak orang yang sombong, Ia berjalan bersama orang yang rendah hati karena Ia sendiri pun rendah hati. Dalam hati yang lembut Allah menuliskan hukum-hukum-Nya, tetapi Allah tidak dapat bekerja di hati yang keras. Hati yang keras itu tidak peka dan tidak mampu mendengar suara Roh yang lembut. Allah membimbing orang-orang yang lembut hati.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien.

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

BUDAK

Kamis, 28 Oktober 2010

Bacaan : Lukas 17:7-10

17:7 “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!

17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

17:9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?

17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

BUDAK

Menurut Wikipedia, perbudakan adalah sebuah sistem di mana manusia menjadi hak milik orang lain. Dan sejak mereka dibeli atau ditebus oleh seseorang, maka budak itu tidak lagi punya hak atas dirinya sendiri. Ia harus mengabdi penuh pada tuannya, sama sekali tak boleh menolak jika disuruh bekerja, apalagi meminta upah-yang berupa pujian sekalipun. Bahkan dalam beberapa budaya, para pemilik budak dilegalkan untuk membunuh budak yang hak hidupnya ada di tangan mereka.

Di Alkitab kita juga mengenal istilah “hamba” sebagai ganti kata “budak”. Dan serupa dengan budak, sesungguhnya hidup kita pun sudah “dibeli lunas” oleh Tuhan dengan sangat mahal-tak terbeli oleh harta apa pun-yakni dengan darah-Nya sendiri (1 Petrus 1:19). Itu berarti hidup kita bukan hak kita sendiri lagi (Galatia 2:20), melainkan hak Tuhan sepenuhnya, yang “membeli” kita. Maka, bukan keinginan dan mau kita yang semestinya kita lakukan selagi singgah di bumi ini, melainkan kemauan dan kerinduan Tuhan Yesus, Pemilik hidup kita.

Itu sebabnya, mari kita giat melakukan pekerjaan Tuhan. Kita yang tak punya hak hidup atas diri kita sendiri tak sepatutnya menolak bekerja bagi Dia. Hidup kita-dengan segala talenta yang di-punya-adalah milik Tuhan. Maka, kita harus memakainya untuk memuliakan Dia. Lakukan segala pekerjaan baik dengan setiap talenta kita, sebaik dan semaksimal mungkin. Dan jika kita telah mela-kukannya, tak perlu kita mengharap pujian atau ucapan terima kasih. Sebab semuanya dari Dia, dilakukan oleh pertolongan-Nya, dan bagi kemuliaan-Nya saja (Roma 11:36). Dan, kita hanya “melakukan apa yang seharusnya kita lakukan” –AW

SEBAB HIDUP INI BUKAN HAK KITA LAGI

MAKA SEMUA YANG KITA LAKUKAN

HANYALAH YANG DIA INGINI

Sumber : www.sabda.org

MENANG DALAM PENJARA

Rabu, 27 Oktober 2010

Bacaan : 2 Korintus 4:16-18

4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

MENANG DALAM PENJARA

Dalam buku A Day in the Life of Ivan Denisovich, Alexander Solzhenitsyn mengisahkan Ivan yang mengalami berbagai kengerian dalam kamp tahanan di Soviet. Suatu hari, ketika ia berdoa dengan mata terpejam, seorang tahanan lain memperhatikan dan mengejek, “Doa tidak akan membantumu keluar lebih cepat dari tempat ini.” Setelah membuka matanya, Ivan menjawab, “Aku berdoa bukan untuk keluar dari penjara, tetapi aku berdoa agar dapat melakukan kehendak Allah di dalam penjara.”

Sikap umum orang dalam menghadapi masalah kemungkinan besar mirip dengan sikap tahanan lain itu terhadap penjara: menganggapnya sebagai sesuatu yang sebaiknya ditinggalkan secepat mungkin. Orang melamunkan kehidupan yang bebas dari masalah.

Rasul Paulus juga pernah mengalami pemenjaraan itu hanya sebagian dari penderitaan yang bertubi-tubi menimpanya. Akan tetapi, ia tidak melihat aneka penderitaan itu sebagai rintangan semata. Ia tidak menjadi kecewa karenanya. Ia menganggap penderitaan itu dipakai Tuhan sebagai alat untuk menguatkan kehidupan rohaninya hari demi hari, meneguhkan iman dan pengharapannya akan kekekalan. Apabila dibandingkan dengan upah kekal tersebut, penderitaan itu dapat dipandang sebagai masalah yang dapat dihadapi dan dilampaui.

Kita masing-masing mungkin sedang merasa terpenjara oleh suatu masalah. Dalam keadaan demikian, apakah yang akan kita minta dari Tuhan? Meminta Tuhan membebaskan kita dari masalah itu-habis perkara? Atau, meminta Tuhan agar memakainya untuk menguatkan iman dan pengharapan kita akan kekekalan? –ARS

PENGHARAPAN AKAN KEKEKALAN MERINGANKAN KITA

DALAM MENANGGUNG PENDERITAAN DI DUNIA YANG FANA

Sumber : www.sabda.org

RAKUS

Selasa, 26 Oktober 2010

Bacaan : Bilangan 11:4-6; 31-35

11:4. Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging?

11:5 Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.

11:6 Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.”

11:31. Lalu bertiuplah angin yang dari TUHAN asalnya; dibawanyalah burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas tempat perkemahan dan di sekelilingnya, kira-kira sehari perjalanan jauhnya ke segala penjuru, dan kira-kira dua hasta tingginya dari atas muka bumi.

11:32 Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu–setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer–,kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling tempat perkemahan.

11:33 Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar.

11:34 Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus.

11:35 Dari Kibrot-Taawa berangkatlah bangsa itu ke Hazerot dan mereka tinggal di situ.

RAKUS

Sepasang pengantin merayakan pesta pernikahan mereka di sebuah restoran mewah di Taipei. Sebagai bonus, keduanya boleh minum bir dan wine sepuasnya tanpa biaya tambahan. Mumpung gratis, Wu, si pengantin pria, menenggak minuman keras sebanyak-banyaknya. Sepulang dari pesta, wajahnya mendadak pucat. Segera Wu dilarikan ke rumah sakit. Jantungnya tidak tahan menerima asupan alkohol begitu banyak. Malam itu juga ia meninggal. Pada hari pernikahannya.

Kerakusan berbahaya. Nafsu rakus muncul saat orang merasa berhak memperoleh lebih. Umat Israel telah diberi Tuhan cukup makanan. Setiap pagi mereka menerima mukjizat. Manna tersedia di depan tenda. Tinggal dipungut dan dimasak. Namun, nafsu rakus membuat mereka tidak puas. Mereka menuntut lebih: minta diberi daging. Tuhan murka, lalu menghukum dengan menuruti kemauan mereka. Dikirimnya burung-burung puyuh. Banyak sekali. Setiap orang mengumpulkan minimal 10 homer. Setara dengan 50 ember besar berisi daging puyuh! Setelah diawetkan dengan cara dikeringkan, daging itu malah jadi makanan beracun yang mematikan.

Nafsu rakus muncul bukan cuma dalam soal makan-minum, melainkan juga dalam soal harta, kuasa, seks, pengetahuan, pengaruh, dan lain-lain. Gejalanya: kita merasa tidak puas terhadap berkat Tuhan, lalu menuntut lebih. Lalu segala cara pun kita tempuh. Hati kita berbisik: “Ayo, ambil lebih banyak lagi. Kamu bisa!” Jika nafsu rakus itu akhirnya bisa tersalurkan karena ada kesempatan, jangan buru-buru berkata: “Itu berkat Tuhan!” Bisa jadi itu sebuah hukuman! –JTI

HUKUMAN TUHAN PALING MENGERIKAN

IALAH SAAT DIA MEMBIARKAN

ANDA PUNYA SEMUA YANG ANDA INGINKAN

Sumber : www.sabda.org