MENYEBERANG BERSAMA TUHAN

Jumat, 31 Desember 2010

Bacaan : Ulangan 31:1-8

1Kemudian pergilah Musa, lalu mengatakan segala perkataan ini kepada seluruh orang Israel.

2Berkatalah ia kepada mereka: “Aku sekarang berumur seratus dua puluh tahun; aku tidak dapat giat lagi, dan TUHAN telah berfirman kepadaku: Sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi.

3TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu; Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa itu dari hadapanmu, sehingga engkau dapat memiliki negeri mereka; Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.

4Dan TUHAN akan melakukan terhadap mereka seperti yang dilakukan-Nya terhadap Sihon dan Og, raja-raja orang Amori, yang telah dipunahkan-Nya itu, dan terhadap negeri mereka.

5TUHAN akan menyerahkan mereka kepadamu dan haruslah kamu melakukan kepada mereka tepat seperti perintah yang kusampaikan kepadamu.

6Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

7Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya.

8Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”

 

MENYEBERANG BERSAMA TUHAN

Zebra cross-awalnya berwana biru kuning-diperkenalkan di Inggris pada 1949. Tujuannya untuk membantu orang menyeberang jalan. Namun, karena kecelakaan penyeberang jalan tetap tinggi, di beberapa negara setiap zebra cross yang berada di depan sekolah biasanya ada penjaganya. Mereka biasa disebut School Patrol atau Lollipop Men (karena biasanya membawa sebuah papan berbentuk se-perti permen loli), tugasnya menyeberangkan anak-anak sekolah sampai di seberang jalan.

Empat puluh tahun berlalu sejak bangsa Israel meninggalkan Mesir, berkelana di padang gurun menuju tanah perjanjian. Saat tujuan sudah di depan mata, kegentaran melanda hati mereka. Dapat dipahami, mereka akan memasuki suatu kehidupan baru setelah sebelumnya melalui banyak rintangan. Lagipula Musa, pemimpin mereka sejak dari awal, ternyata tidak akan ikut serta menyeberang ke tanah perjanjian. Namun, Musa tahu kegelisahan mereka, ia membangkitkan semangat mereka dengan mengingatkan, bahwa Tuhan akan menyeberang di depan mereka (ayat 3).

Memasuki tahun baru wajar juga jika ada kegentaran. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok lusa. Apakah langit akan cerah ataukah hujan turun mengguyur? Tetapi satu yang pasti, kita akan menyeberang menuju tahun yang baru dengan Tuhan berjalan di depan kita. Tantangan pasti akan ada, tetapi seperti kata Musa, “Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati” (ayat 8). Selamat menyeberang menuju tahun yang baru! –AYA

SEBERAT APA PUN JALAN DI HADAPAN KITA KELAK

BERSAMA TUHAN KITA AKAN AMAN SAMPAI KE SEBERANG

Sumber : www.sabda.org

TULUS DAN BENAR

Kamis, 30 Desember 2010

Bacaan : Mazmur 7:1-15

1Nyanyian ratapan Daud, yang dinyanyikan untuk TUHAN karena Kush, orang Benyamin itu. (7-2) Ya TUHAN, Allahku, pada-Mu aku berlindung; selamatkanlah aku dari semua orang yang mengejar aku dan lepaskanlah aku,

2(7-3) supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan.

3(7-4) Ya TUHAN, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku,

4(7-5) jika aku melakukan yang jahat terhadap orang yang hidup damai dengan aku, atau merugikan orang yang melawan aku dengan tidak ada alasannya,

5(7-6) maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku, dan menginjak-injak hidupku ke tanah, dan menaruh kemuliaanku ke dalam debu. Sela

6(7-7) Bangkitlah, TUHAN, dalam murka-Mu, berdirilah menghadapi geram orang-orang yang melawan aku, bangunlah untukku, ya Engkau yang telah memerintahkan penghakiman!

7(7-8) Biarlah bangsa-bangsa berkumpul mengelilingi Engkau, dan bertakhtalah di atas mereka di tempat yang tinggi.

8(7-9) TUHAN mengadili bangsa-bangsa. Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas.

9(7-10) Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.

10(7-11) Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati;

11(7-12) Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.

12(7-13) Sungguh, kembali ia mengasah pedangnya, melentur busurnya dan membidik.

13(7-14) Terhadap dirinya ia mempersiapkan senjata-senjata yang mematikan, dan membuat anak panahnya menjadi menyala.

14(7-15) Sesungguhnya, orang itu hamil dengan kejahatan, ia mengandung kelaliman dan melahirkan dusta.

15(7-16) Ia membuat lobang dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya.

TULUS DAN BENAR

Almarhum penyair W.S. Rendra pernah menulis kalimat tajam yang berbunyi, “Kalian boleh saja berjaya dalam kehidupan, namun apakah kalian tidak takut menghadapi kematian kalau batinmu telah sering tak kau hormati”. Sebuah pernyataan yang menempelak kita, orang-orang yang kerap tidak peduli pada hati yang semestinya dijaga tetap bersih-menjalankan nilai-nilai kebenaran dan integritas dalam kehidupan sesehari.

Demikian juga dengan pemazmur. Ia adalah orang yang berusaha hidup benar dan tulus. Ia menjaganya sedemikian rupa, sehingga ia berani diperiksa oleh Tuhan sendiri:” Hakimilah aku, Tuhan, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas” (ayat 9). Ini bukan merupakan bentuk kesombongan rohani. Bagi sang penulis mazmur, ungkapannya itu adalah bentuk keterbukaan sekaligus kesediaannya untuk diselidiki sungguh-sungguh oleh Tuhan. Mengapa ia begitu berani? Sebab ia mengimani Tuhan sebagai Allah yang adil dan dalam keadilan-Nya itulah, Dia akan menguji hati seseorang (ayat 10). Dan, ketika Tuhan tengah menyelidiki hati seseorang, siapa pun tak dapat berdalih macam-macam, beralasan beribu rupa, atau melakukan tipu muslihat. Tidak! Sebagaimana pemazmur, yang mesti kita lakukan adalah menjaga hati tetap tulus dan bertindak benar (ayat 9, 11).

Suatu saat, hidup kita pasti akan berakhir. Akan tetapi, selagi masih ada waktu, biarlah dalam hidup ini kita selalu bekerja dan bertindak dengan ketulusan dan kebenaran-dalam hal apa pun. Supaya jika tiba saatnya kematian kelak menjemput, kita tak takut –DKL

HIDUP TULUS DAN BENAR, BISA DIANGGAP MERUGIKAN

NAMUN SUNGGUH MERUPAKAN SUMBER KETENANGAN

Sumber : www.sabda.org

HANYA

Rabu, 29 Desember 2010

Bacaan : Bilangan 20:7-13

7TUHAN berfirman kepada Musa:

8″Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.”

9Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.

10Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?”

11Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.

12Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

13Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka.

HANYA

Saat sedang menunggu diwawancara untuk melamar pekerjaan, seorang lelaki memungut kertas-kertas berceceran di lantai lalu memasukkannya ke dalam tong sampah; sementara calon-calon yang lain hanya membiarkannya. Hal itu sengaja diperhatikan oleh si pewawancara. Dan ternyata, karena itulah lamarannya diterima. Memang kelihatannya di satu sisi hanya sebuah tindakan sederhana dan di sisi lain hanya sekadar membiarkannya, tetapi dampaknya amat besar. Tak bisa lagi disebut “hanya”.

Memikirkan alasan kenapa Musa tidak diizinkan masuk ke Kanaan, sungguh mengherankan. Hanya karena di Meriba ia memukul bukit batu dengan tongkatnya, padahal Tuhan menyuruhnya berkata-kata pada bukit batu itu supaya memancarkan air? Cuma itukah alasannya? Hanya karena ia tak kuasa menahan emosi yang disulut oleh protes umat yang terus-menerus? Ya, hanya karena itu! Namun, apa yang bagi kita “hanya” itu, bagi Tuhan bermakna serius. Bagi Tuhan, Musa telah bertindak sesuatu yang tidak menghormati kekudusan-Nya di depan mata orang Israel. Sebuah pelajaran mahal dari Tuhan.

Apa yang kita sangka “hanya” ternyata tak boleh disepelekan. Kelihatannya hal remeh atau sederhana. Perkara kecil saja. Namun, belum tentu dampaknya tidak besar. Kemarahan kecil bisa menyulut keributan besar. Keteledoran kecil dapat berakibat kecelakaan fatal. Kemalasan yang serba meremehkan berpotensi menciptakan kegagalan serius. Sebaliknya, sedikit menahan diri bisa mencegah huru-hara. Datang sedikit lebih awal dapat menciptakan ketenangan yang positif. Kerja sedikit lebih keras memberi nilai lebih yang signifikan. Sungguh, semua itu bukan “hanya”! –PAD

SESUATU YANG BESAR KERAP KALI DITENTUKAN

“HANYA” OLEH SEDIKIT TINDAKAN KECIL

Sumber : www.sabda.org

MEMBUKA PINTU KESEMPATAN

Minggu, 26 Desember 2010

Bacaan : 2 Timotius 2:23-26

23Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran,

24sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar

25dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,

26dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

MEMBUKA PINTU KESEMPATAN

Kita sadar ia sudah berdosa karena menikah dengan pasangan yang tidak seiman. Setahun sudah ia meninggalkan gereja, tidak beribadah sama sekali. Pada malam Natal, hatinya rindu untuk kembali mengikuti ibadah Natal. Ia pun pergi ke gereja. Sesampainya di sana, teman-teman yang mengenalnya justru menyambutnya dengan tatapan dingin, curiga, bahkan sinis. “Tumben datang ke gereja, ” sapa seorang rekan dengan nada tak ramah. “Ada konsumsi, sih, ” bisik teman lainnya menyindir. Nita merasa malu dan terpukul. Sejak itu ia tidak mau datang ke gereja lagi.

Dalam hidup bergereja, kita perlu bersabar menghadapi orang yang sedang undur atau melawan kehendak Tuhan. Inilah pesan Paulus kepada Timotius, yang sekaligus juga ditujukan kepada kita. Selama seseorang masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertobat, kita pun perlu menerimanya dengan kasih. Penghakiman yang kita tunjukkan hanya akan menyudutkan, bahkan menghalangi kuasa Tuhan bekerja. Menutup kesempatan baginya. Sebaliknya, keramahan dan kasih yang tulus membuka ruang dan peluang bagi pertobatan.

Adakah orang yang selama ini Anda anggap sesat, terhilang, atau memberontak pada Tuhan? Sudahkah Anda menunjukkan kesabaran dan keramahan? Ataukah, Anda bersikap dingin dan mengha-kimi? Tuhan Yesus sengaja turun ke dunia agar manusia berdosa punya peluang bertobat. Dia membuka pintu kesempatan. Itulah inti berita natal. Pada masa natal ini, tunjukkanlah kesabaran dan keramahan agar pintu-pintu kesempatan terbuka. Natal kita pun akan penuh makna –JTI

PENGHAKIMAN AKAN MENJERAT DAN MELUMPUHKAN

PENERIMAAN AKAN MEMBUKA PINTU KESEMPATAN

Sumber : www.sabda.org

SEJAUH LANGIT DARI BUMI

Sabtu, 25 Desember 2010

Bacaan : Mazmur 103:10-14

10Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, 11tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;

12sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

13Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

14Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

SEJAUH LANGIT DARI BUMI

Sejauh langit dari bumi/begitu besarnya kasih-Mu/penuhi hati kami yang rindu/menyembah-Mu, Yesus/Sejauh langit dari bumi/begitu besarnya kasih-Mu/Kaulah Tuhan, kekuatanku, sukacitaku …”. Sebenarnya sudah kerap saya menyanyikan pujian ini, tetapi suatu kali hati saya sungguh tersentak ketika melantunkannya.

Ya, kasih-Nya kepada kita begitu panjang, begitu lebar, begitu dalam, begitu tinggi. Bahkan, meski jarak dan keberadaan manusia dengan Tuhan begitu jauh dan begitu berbeda, Dia bersedia menembus semuanya itu, bersedia turun begitu rendah, dengan menjelma menjadi manusia yang kecil dan lemah. Sejauh langit dari bumi Dia tempuh, Dia seberangi, demi menyelamatkan seluruh anak-Nya yang tak tahu jalan ke surga, jika bukan Tuhan sendiri yang menghampiri.

Sungguh kasih yang sukar untuk digambarkan. Kasih yang begitu besar hingga menutupi begitu banyaknya kesalahan kita. Kasih-Nya membalas dengan tak setimpal pemberontakan kita (ayat 10). Bahkan, disingkirkan-Nya jauh-jauh pelanggaran kita (ayat 12). Sungguh, kasih-Nya adalah kasih Bapa yang terbaik dari segala bapa yang pernah ada, bagi orang-orang yang takut akan Dia. Benar, bagi “orang-orang yang takut akan Dia” (ayat 11, 13).

Natal merupakan pengingat yang kuat bagi kita, bahwa semua jarak dan penghalang yang memisahkan manusia dengan Allah, telah Kristus lewati dan seberangi demi menjangkau kita. Dia telah lebih dulu menghampiri kita, maka mari hampiri Dia. Dia telah lebih dulu mengasihi kita, karena itu mari kasihi Dia. Dia telah lebih dulu melayani kita, maka mari layani Dia. Selamat Natal! –AW

KASIH TUHAN SUNGGUH TAK MASUK NALAR

SUPAYA HARGA PENEBUSAN JIWA KITA DAPAT TERBAYAR

Sumber : www.sabda.org

GEDHE-GEDHENING SUMBER

Jumat, 24 Desember 2010

Bacaan : Lukas 2:8-20

8Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

9Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.

10Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:

11Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

12Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

13Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:

14″Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

15Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”

16Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

17Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.

18Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.

19Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

20Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

GEDHE-GEDHENING SUMBER

Dalam pandangan orang Jawa, kata “Desember” merupakan akronim dari ungkapan gedhe-gedhening sumber. Artinya, “sumber atau berkat yang dicurahkan secara besar-besaran”. Berkat dalam ungkapan tersebut juga lekat hubungannya dengan hujan. Pada bulan Desember, Indonesia umumnya mengalami musim hujan. Dan, bagi kebanyakan orang, hujan lebat di sepanjang Desember mendatang-kan berkat besar.

Pada setiap Desember, kita pun-sebagai umat kristiani-memaknainya sebagai bulan gedhe-gedhening sumber; sebab penuh dengan berita dan kesukaan besar. Bulan peringatan kelahiran Yesus, yang telah dinubuatkan para nabi ratusan tahun sebelumnya. “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yesaya 7:14).

Dan, nubuat itu menjadi nyata bagi dunia ketika untuk pertama kalinya Lukas menuliskan berkumandangnya kabar itu di antara para gembala di padang. Beberapa sumber mengatakan bahwa para gembala masa itu merupakan kaum miskin dan susah. Kepada mereka, bala malaikat berkata: “… aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10, 11). Mereka pun bergegas ke Betlehem. Dan, semua yang mereka dengar itu benar; sesuai dengan apa yang dikatakan kepada mereka (ayat 20).

Natal merupakan momen berbagi sukacita; kepada siapa saja di sekeliling kita-rekan sekerja, sopir taksi yang kita temui, orang-orang yang terbaring di rumah sakit, anak-anak jalanan, orang-orang tua yang tak punya siapa-siapa. Sudikah Anda berbagi? –SS

NATAL BUKAN MASA PESTA BESAR-BESARAN

NATAL ADALAH MASA BERBAGI SUKACITA BESAR-BESARAN

Sumber : www.sabda.org

KARENA ORGAN RUSAK

Kamis, 23 Desember 2010

Bacaan : Markus 2:1-12

1Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah.

2Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka,

3ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.

4Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.

5Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

6Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya:

7″Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?”

8Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?

9Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan?

10Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” –berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu–:

11″Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”

12Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kita lihat.”

KARENA ORGAN RUSAK

Kabar buruk itu muncul menjelang malam Natal 1818. Joseph Mohr, seorang pendeta Austria, diberi tahu bahwa organ di gerejanya rusak dan perbaikannya memakan waktu lama, sehingga organ itu tidak akan dapat dipakai untuk mengiringi ibadah malam Natal. Ia kebingungan. Natal tanpa iringan musik? Ia pun duduk menggubah lagu yang dapat dinyanyikan oleh paduan suara dengan iringan gitar. Ia menulis tiga bait yang bersahaja, tetapi dengan melodi yang kuat. Malam itu, jemaat di gereja kecil itu menyanyikan “Stille Nacht” (Malam Kudus) untuk pertama kalinya. Karena organ yang rusak, kita mewarisi lagu Natal yang populer sepanjang masa.

Sesungguhnya, masalah tidak akan menghentikan orang yang beriman. Empat pembawa orang lumpuh itu tidak mau menyerah ketika pintu rumah tempat Yesus berada tertutup oleh kerumunan orang. Pada zaman itu, rumah-rumah terbuat dari batu dan mempunyai atap rata dari campuran lumpur dan jerami. Di luar, ada tangga menuju atap. Keempat orang itu membawa temannya ke atap, membongkar atap itu secukupnya, dan menurunkan si lumpuh sampai di depan Yesus. Menyaksikan iman mereka, Yesus memuji mereka dan menyembuhkan orang lumpuh itu. Iman mereka sukses menembus kebuntuan!

Apakah ada rencana Anda yang tertunda? Apakah Anda terpaksa mengubah haluan karena adanya suatu rintangan? Selama tujuan Anda benar, jangan biarkan hambatan menghentikan langkah Anda. Tuhan mungkin sedang mengarahkan Anda untuk menempuh jalur lain, jalur alternatif yang hasilnya akan jauh lebih baik daripada apabila Anda bertahan di jalur yang semula –ARS

HAMBATAN BUKANLAH JALAN BUNTU

MELAINKAN TANTANGAN UNTUK MENGUJI KREATIVITAS

Sumber : www.sabda.org

KASIH IBU

Rabu, 22 Desember 2010

Bacaan : 2 Raja-raja 4:8-37

8Pada suatu hari Elisa pergi ke Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mengundang dia makan. Dan seberapa kali ia dalam perjalanan, singgahlah ia ke sana untuk makan.

9Berkatalah perempuan itu kepada suaminya: “Sesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus.

10Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana.”

11Pada suatu hari datanglah ia ke sana, lalu masuklah ia ke kamar atas itu dan tidur di situ.

12Kemudian berkatalah ia kepada Gehazi, bujangnya: “Panggillah perempuan Sunem itu.” Lalu dipanggilnyalah perempuan itu dan dia berdiri di depan Gehazi.

13Elisa telah berkata kepada Gehazi: “Cobalah katakan kepadanya: Sesungguhnya engkau telah sangat bersusah-susah seperti ini untuk kami. Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Adakah yang dapat kubicarakan tentang engkau kepada raja atau kepala tentara?” Jawab perempuan itu: “Aku ini tinggal di tengah-tengah kaumku!”

14Kemudian berkatalah Elisa: “Apakah yang dapat kuperbuat baginya?” Jawab Gehazi: “Ah, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua.”

15Lalu berkatalah Elisa: “Panggillah dia!” Dan sesudah dipanggilnya, berdirilah perempuan itu di pintu.

16Berkatalah Elisa: “Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan menggendong seorang anak laki-laki.” Tetapi jawab perempuan itu: “Janganlah tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!”

17Mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu seperti itu juga, pada tahun berikutnya, seperti yang dikatakan Elisa kepadanya.

18Setelah anak itu menjadi besar, pada suatu hari keluarlah ia mendapatkan ayahnya, di antara penyabit-penyabit gandum.

19Tiba-tiba menjeritlah ia kepada ayahnya: “Aduh kepalaku, kepalaku!” Lalu kata ayahnya kepada seorang bujang: “Angkatlah dia dan bawa kepada ibunya!”

20Diangkatnyalah dia, dibawanya pulang kepada ibunya. Duduklah dia di pangkuan ibunya sampai tengah hari, tetapi sesudah itu matilah dia.

21Lalu naiklah perempuan itu, dibaringkannyalah dia di atas tempat tidur abdi Allah itu, ditutupnyalah pintu dan pergi, sehingga anak itu saja di dalam kamar.

22Sesudah itu ia memanggil suaminya serta berkata: “Suruh kepadaku salah seorang bujang dengan membawa seekor keledai betina; aku mau pergi dengan segera kepada abdi Allah itu, dan akan terus pulang.”

23Berkatalah suaminya: “Mengapakah pada hari ini engkau hendak pergi kepadanya? Padahal sekarang bukan bulan baru dan bukan hari Sabat.” Jawab perempuan itu: “Jangan kuatir.”

24Dipelanainyalah keledai itu dan berkatalah ia kepada bujangnya: “Tuntunlah dan majulah, jangan tahan-tahan aku dalam perjalananku, kecuali apabila kukatakan kepadamu.”

25Demikianlah perempuan itu berangkat dan pergi kepada abdi Allah di gunung Karmel. Segera sesudah abdi Allah melihat dia dari jauh, berkatalah ia kepada Gehazi, bujangnya: “Lihat, perempuan Sunem itu datang!

26Larilah menyongsongnya dan katakanlah kepadanya: Selamatkah engkau, selamatkah suamimu, selamatkah anak itu?” Jawab perempuan itu: “Selamat!”

27Dan sesudah ia sampai ke gunung itu, dipegangnyalah kaki abdi Allah itu, tetapi Gehazi mendekat hendak mengusir dia. Lalu berkatalah abdi Allah: “Biarkanlah dia, hatinya pedih! TUHAN menyembunyikan hal ini dari padaku, tidak memberitahukannya kepadaku.”

28Lalu berkatalah perempuan itu: “Adakah kuminta seorang anak laki-laki dari pada tuanku? Bukankah telah kukatakan: Jangan aku diberi harapan kosong?”

29Maka berkatalah Elisa kepada Gehazi: “Ikatlah pinggangmu, bawalah tongkatku di tanganmu dan pergilah. Apabila engkau bertemu dengan seseorang, janganlah beri salam kepadanya dan apabila seseorang memberi salam kepadamu, janganlah balas dia, kemudian taruhlah tongkatku ini di atas anak itu.”

30Tetapi berkatalah ibu anak itu: “Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” Lalu bangunlah Elisa dan berjalan mengikuti perempuan itu.

31Adapun Gehazi telah berjalan mendahului mereka dan telah menaruh tongkat di atas anak itu, tetapi tidak ada suara, dan tidak ada tanda hidup. Lalu kembalilah ia menemui Elisa serta memberitahukan kepadanya, katanya: “Anak itu tidak bangun!”

32Dan ketika Elisa masuk ke rumah, ternyata anak itu sudah mati dan terbaring di atas tempat tidurnya.

33Sesudah ia masuk, ditutupnyalah pintu, sehingga ia sendiri dengan anak itu di dalam kamar, kemudian berdoalah ia kepada TUHAN.

34Lalu ia membaringkan dirinya di atas anak itu dengan mulutnya di atas mulut anak itu, dan matanya di atas mata anak itu, serta telapak tangannya di atas telapak tangan anak itu; dan karena ia meniarap di atas anak itu, maka menjadi panaslah badan anak itu.

35Sesudah itu ia berdiri kembali dan berjalan dalam rumah itu sekali ke sana dan sekali ke sini, kemudian meniarap pulalah ia di atas anak itu. Maka bersinlah anak itu sampai tujuh kali, lalu membuka matanya.

36Kemudian Elisa memanggil Gehazi dan berkata: “Panggillah perempuan Sunem itu!” Dipanggilnyalah dia, lalu datanglah ia kepadanya, maka berkatalah Elisa: “Angkatlah anakmu ini!”

37Masuklah perempuan itu, lalu tersungkur di depan kaki Elisa dan sujud menyembah dengan mukanya sampai ke tanah. Kemudian diangkatnyalah anaknya, lalu keluar.

KASIH IBU

Sewaktu kecil, saya sering sakit. Bersyukur, ibu saya selalu sigap merawat. Jika panas tubuh saya tidak turun dalam sehari, Ibu pasti segera membawa saya ke rumah sakit. Tidak mau membuang-buang waktu. Beliau tidak mau saya terlambat mendapat pertolongan medis. Walau sedang repot, atau tidak punya biaya untuk pengobatan di rumah sakit, Ibu tidak putus asa. Apa pun akan ia lakukan demi anak yang ia kasihi. Sampai setelah saya berkeluarga, Ibu masih menjadi orang nomor satu yang datang ke rumah jika mendengar saya sakit.

Seperti wanita di Sunem yang mendapat berkat anak laki-laki setelah lama menanti keturunan. Ketika sang anak semakin besar, si anak tiba-tiba sakit hingga meninggal. Namun demikian, sang ibu tidak menyerah. Bahkan, ketika sang suami mencegahnya menemui Nabi Elisa untuk meminta pertolongan (ayat 23), sang ibu tidak goyah dan tetap pergi (ayat 24). Apa pun akan ia lakukan supaya anaknya hidup. Dengan kegigihan dan iman, sang ibu berhasil mendapatkan pertolongan Nabi Elisa; anaknya kembali hidup.

Terkadang, sebagai anak, kita menyepelekan atau melupakan kasih ibu. Padahal, kasih ibu adalah kehidupan bagi anaknya. Tanpa ibu yang memberi diri untuk mengasuh dan mendidik, kita tidak akan ada seperti saat ini. Kita memang mungkin tak dapat membalas kasih ibu kita, tetapi kita tentu dapat melakukan hal-hal yang menyejukkan hatinya. Lewat perhatian, sapaan, kunjungan, yang tentu melegakan hatinya. Gunakan momen khusus di hari ini untuk mengingat segala jasa Ibu dan menunjukkan penghargaan kita atas segala kasih yang sudah diberikannya selama kita hidup. Dan, jangan tunda lagi! –GP

KASIH IBU TIDAK DAPAT DIBATASI OLEH APA PUN

DAN AKAN SELALU MENGALIR UNTUK ANAK-ANAKNYA HINGGA KAPAN PUN

Sumber : www.sabda.org

KASIH VERSI NATAL

Selasa, 21 Desember 2010

Bacaan : 1 Korintus 13:1-8

1Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

2Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

3Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

4Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

5Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

6Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

7Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

8Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

KASIH VERSI NATAL

Seorang penulis memarafrasekan 1 Korintus 13 untuk menjelang momen Natal, demikian: “Jika saya menghias rumah begitu sempurna, dengan rangkaian lampu dan bola-bola, tetapi tidak menunjukkan kasih, maka saya hanya pendekor ruangan. Jika saya bersusah payah membuat kue Natal, menyiapkan hidangan Natal istimewa, tetapi tidak menunjukkan kasih, maka saya ini sekadar koki yang bekerja keras. Jika saya menyanyi di panti-panti dan memberi sumbangan Natal, tetapi tidak melakukannya dengan kasih, maka itu tak ada gunanya sama sekali.

“Kasih membuat seseorang berhenti memasak, agar ia dapat memeluk anaknya. Kasih mengesampingkan pekerjaan mendekor rumah agar ia dapat mencium suaminya. Kasih tetap sabar, meski seseorang sedang sibuk dan lelah. Kasih tidak cemburu kepada tetangga yang telah menata keramik dan taplak bertema Natal. Kasih tidak menghardik anak-anak agar tidak ribut, tetapi justru mensyukuri keberadaan mereka. Kasih tidak hanya memberi kepada mereka yang dapat membalas, tetapi justru bersukacita memberi kepada mereka yang tak mampu membalas. Kasih menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, menahan segala sesuatu. Kasih tak pernah gagal. Video games akan berlalu, kalung mutiara akan hilang, klub olahraga akan berakhir, tetapi kasih tak berkesudahan.”

Masa Natal adalah puncak kegembiraan, sekaligus puncak kesibukan bagi hampir setiap umat kristiani. Namun, jangan sampai kita kehilangan kasih, agar dengannya kita mampu bersikap benar dan turut menghadirkan damai di bumi –AW

SEMPURNAKAN KEINDAHAN NATAL DENGAN MEMBUBUHKAN KASIH

PADA SETIAP KESIBUKAN DAN PERAYAAN

Sumber : www.sabda.org

AKIBAT DIMABUK KEKUASAAN

Senin, 20 Desember 2010

Bacaan : Matius 2:16-18

16Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

17Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:

18″Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

 

AKIBAT DIMABUK KEKUASAAN

Pada satu sisi, Herodes sebetulnya raja yang baik. Selama hampir empat puluh tahun bertakhta, ia berhasil menciptakan perdamaian dan menjaga ketertiban di Kanaan. Ia jugalah yang membangun Bait Allah di Yerusalem. Pada masa-masa sulit yang melanda negerinya, ia memerintahkan penurunan pajak, sehingga rakyat tertolong. Bahkan, ketika terjadi kelaparan hebat, ia tidak segan-segan menggunakan persediaan emasnya untuk membeli gandum bagi rakyatnya yang kelaparan.

Namun di sisi lain, kalau sudah menyangkut kekuasaan, ia sangat keras dan “berdarah dingin”. Ia tidak ingin orang lain menyaingi, apalagi melebihi kekuasaannya. Demi kekuasaannya, ia tega membunuh istrinya (Mariamne), ibunya (Alexandra), dan tiga anaknya (Antipater, Alexander, dan Aristobulus). Ia seorang paranoid (selalu menaruh takut serta curiga terhadap orang lain). Ketakutan terbesarnya: kehilangan kekuasaan. Karenanya ia akan menghalalkan segala cara untuk mempertahankannya.

Maka, kita bisa membayangkan, betapa gelisahnya Herodes ketika mendengar kabar dari para Majus tentang Raja yang baru lahir di daerah kekuasaannya. Dan, ketika rencana liciknya untuk melenyapkan “Sang Raja” itu kandas, keluarlah perintah mahasadis: pembunuhan anak-anak di bawah usia dua tahun.

Begitulah orang kalau sudah dimabuk kekuasaan; akal sehat tumpul, hati nurani tidak berfungsi. Ini bisa terjadi juga dalam lingkup lebih kecil; di kantor (atasan takut tersaingi bawahan), di gereja (pendeta senior takut tersaingi yuniornya), di rumah (suami takut disaingi istri). Akibatnya, ketidaksejahteraan, pertentangan, perpecahan. Semoga kita dijauhkan dari mabuk kekuasaan –AYA

KEKUASAAN PERLU DIIRINGI DENGAN KERENDAHAN HATI

SEBAB KALAU TIDAK, SALAH-SALAH BISA MENGHANCURKAN DIRI SENDIRI

Sumber : www.sabda.org