TUNTUTAN

Senin, 31 januari 2011

Bacaan : Lukas 12:47,48

47Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.

48Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”

TUNTUTAN

Saya memiliki seorang teman yang menjadi kepala sekolah. Ia adalah orang yang sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Gaji guru dan karyawan beberapa kali dinaikkan agar standar hidup mereka membaik. Namun, di sisi lain ia pun menuntut agar semua karyawan dapat memberikan yang terbaik untuk sekolah tersebut. Ia tidak segan-segan untuk marah dan menegur karyawan yang malas dan tidak melakukan hal yang seharusnya.

Dalam bacaan hari ini, Tuhan Yesus berbicara tentang tuntutan; siapa yang diberi banyak akan dituntut banyak pula. Itu sudah hukumnya. Tuhan tidak akan pernah memberikan sesuatu kepada manusia, apabila hal itu akan mereka sia-siakan. Dia akan menuntut pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang diberikan kepada kita. Ini bukan berarti Tuhan tidak rela memberikannya kepada kita, melainkan Dia ingin agar semua yang ada pada kita dapat dipakai secara maksimal sesuai dengan tujuan yang Allah kehendaki. Dan, tentunya Allah tidak akan sembarangan memberikan sesuatu kepada manusia. Allah tidak akan memberi cangkul kepada pemain sepak bola, atau gergaji kepada tukang masak. Allah tetap akan memberikan bola kepada pemain sepak bola dan gergaji kepada tukang kayu. Selanjutnya, Allah akan menuntut agar bola dan gergaji itu digunakan secara maksimal oleh masing-masing pribadi tersebut.

Seberapa besar kita menyadari segala pemberian Tuhan dan seberapa besar kita memahami tuntutan-Nya? Bagaimana dengan waktu, kepintaran, talenta atau bakat, bahkan harta yang Tuhan berikan kepada kita? Apakah kita sudah menggunakannya sesuai tuntutan Allah? –RY

INGATLAH BAHWA KETIKA SUATU BERKAT DIBERIKAN

BERARTI ADA MANDAT DI DALAMNYA YANG MESTI KITA KERJAKAN

Sumber : www.sabda.org

 

Iklan

ALLAH YANG MAHAKUDUS

Minggu, 30 Januari 2011

Bacaan : Keluaran 20:18-21

18Seluruh bangsa itu menyaksikan guruh mengguntur, kilat sabung-menyabung, sangkakala berbunyi dan gunung berasap. Maka bangsa itu takut dan gemetar dan mereka berdiri jauh-jauh.

19Mereka berkata kepada Musa: “Engkaulah berbicara dengan kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara dengan kami, nanti kami mati.”

20Tetapi Musa berkata kepada bangsa itu: “Janganlah takut, sebab Allah telah datang dengan maksud untuk mencoba kamu dan dengan maksud supaya takut akan Dia ada padamu, agar kamu jangan berbuat dosa.”

21Adapun bangsa itu berdiri jauh-jauh, tetapi Musa pergi mendekati embun yang kelam di mana Allah ada.

ALLAH YANG MAHAKUDUS

Bayangkan Anda sedang mengikuti sebuah ibadah. Sayangnya, dua jemaat yang duduk di depan Anda asyik berbisik-bisik. Sementara itu, jemaat lain yang duduk di belakang Anda sesekali tertawa cekikikan bersama teman di sebelahnya. Dan, ketika doa syafaat sedang dipanjatkan, sebuah telepon genggam berdering membuyarkan kekhusyukan ibadah yang sedang berlangsung.

Kini, coba kita beralih membayangkan suasana yang sama sekali berbeda, seperti yang diceritakan oleh apa yang kita baca hari ini. Saat itu segenap bangsa Israel sedang berkumpul untuk menghadap Tuhan. Dan, di hadapan-Nya, mereka semua gentar menyaksikan kekudusan dan kemuliaan-Nya. Begitu gentarnya mereka sampai-sampai mereka meminta Musa agar mewakili mereka. Dapat dipastikan saat itu tak seorang pun berani berbicara sendiri satu sama lain dan mengabaikan Allah.

Allah yang disaksikan bangsa Israel itu sesungguhnya sama dengan Allah yang kita hampiri setiap Minggu dalam ibadah di gereja. Dia adalah Allah Yang Mahakudus. Benar, karya Kristus memungkinkan kita untuk menghampiri Dia dengan penuh keberanian saat ini (Ibrani 4:16). Akan tetapi, itu bukan berarti kita kemudian tidak perlu menghormati-Nya, dan boleh mengabaikan-Nya dengan tidak sungguh-sungguh berkonsentrasi selama ibadah. Ibadah adalah pertemuan kita dengan Allah sendiri Yang Mahakudus. Itu sebabnya kita harus senantiasa mengarahkan seluruh hati, pikiran, dan perhatian hanya kepada-Nya saat menyanyikan lagu pujian, mendengarkan firman Tuhan, dan mengikuti seluruh rangkaian ibadah yang kita hadiri –ALS

SEBAB ALLAH YANG KITA SEMBAH MAHAKUDUS

KIRANYA TUBUH DAN HATI KITA PUN SEDIA BERSUJUD

Sumber : www.sabda.org

RASAKAN BEDANYA!

Sabtu, 29 Januari 2011

Bacaan : Kejadian 29:18-20

18Yakub cinta kepada Rahel, sebab itu ia berkata: “Aku mau bekerja padamu tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel, anakmu yang lebih muda itu.”

19Sahut Laban: “Lebih baiklah ia kuberikan kepadamu dari pada kepada orang lain; maka tinggallah padaku.”

20Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.

RASAKAN BEDANYA!

Anak lelaki kurus itu berjalan sambil menggendong adiknya yang lumpuh di punggungnya. Melihatnya, seseorang berkomentar prihatin, “Kasihan kau, Nak. Bebanmu pasti berat.” Lalu terdengar jawaban spontan, “Pak, ia bukan beban, ia saudaraku”. Itulah ilustrasi di balik lirik lagu pop balada karangan Bobby Scott dan Bob Russel, He Ain’t Heavy, He’s My Brother. Satu perbuatan yang dipandang beban oleh seseorang, nyatanya tidak bagi yang lain. Tergantung alasan ia melakukannya. Jika ia melakukannya karena rasa cinta, pasti akan berbeda.

Hati Yakub sedang digetarkan oleh cinta yang besar kepada Rahel. Demi cintanya, ia bersedia mengabdi kepada Laban tujuh tahun penuh, sebelum meminang Rahel. Jadi, ia tidak asal bekerja. Ia tidak bekerja keras demi harta. Namun, demi dan karena cinta. Ia bekerja dengan hati penuh cinta. Itulah yang memberinya tekad, semangat, kekuatan, ketekunan. Lalu apa hasilnya? “Tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel” (ayat 20). Sangat berbeda, bukan?

Apakah kekuatan terbesar di hidup ini? Jawabnya: cinta yang bersumber dari Tuhan. Banyak hal yang tampak menjengkelkan, melelahkan, dihindari orang, dapat dilakukan dengan setia oleh pelakunya. Mengapa? Karena cinta membuat mereka punya cara pandang lain. Merawat luka berbau, seperti dilakukan para misionaris “Cinta Kasih” yang dipimpin Ibu Teresa. Merawat suami yang sakit. Mendampingi anak belajar meski lelah. Mengantar nenek berobat rutin. Memasak untuk orang banyak di gereja. Semua akan terasa berbeda jika dilakukan karena dan dengan cinta –PAD

COBALAH MELAKUKAN SESUATU KARENA DAN DENGAN CINTA

LALU, RASAKAN BEDANYA

Sumber : www.sabda.org

MAKAM TERBUKA

Jumat, 28 Januari 2011

Bacaan : Pengkhotbah 11:9-12:8

9Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!

10Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan.

1Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!”,

2sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap, dan awan-awan datang kembali sesudah hujan,

3pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar, dan orang-orang kuat membungkuk, dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya, dan yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur,

4dan pintu-pintu di tepi jalan tertutup, dan bunyi penggilingan menjadi lemah, dan suara menjadi seperti kicauan burung, dan semua penyanyi perempuan tunduk,

5juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan, pohon badam berbunga, belalang menyeret dirinya dengan susah payah dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi–karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal dan peratap-peratap berkeliaran di jalan,

6sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur,

7dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya. 8Kesia-siaan atas kesia-siaan, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia.

MAKAM TERBUKA

Eugene Peterson, pendeta dan penerjemah Alkitab, menceritakan pengalamannya berkunjung ke biara Benediktin Kristus di Gurun. Ketika hendak makan siang, mereka melewati kompleks pemakaman. Anehnya, di situ ada satu makam yang terbuka. Eugene menanyakan siapa anggota biara yang baru saja meninggal. “Tidak ada, ” jawab orang yang mengantarnya. “Makam itu disiapkan untuk siapa saja yang meninggal berikutnya.” Begitulah, tiga kali sehari, setiap kali mereka berjalan menuju ruang makan, anggota biara itu diingatkan akan perkara yang lebih sering kita tepiskan: kematian. Salah satu dari mereka mungkin akan menjadi yang berikutnya.

Budaya dunia cenderung menepiskan kematian. Banyak dongeng tentang batu bertuah yang dapat membuat orang awet muda atau hidup abadi. Di dunia modern, aneka produk anti penuaan juga menjamur. Kita diiming-imingi ilusi untuk menikmati kehidupan ini selama mungkin dan dalam kondisi tubuh sebugar mungkin. Firman Tuhan, sebaliknya, sangat realistis.

Pengkhotbah mendorong kaum muda untuk menikmati kemudaannya, tetapi sekaligus menyodorkan fakta akan kematian kepada mereka. Kematian bisa menjemput kapan saja. Tanpa memandang umur kita. Tanpa memandang kondisi tubuh kita. Tanpa kita duga-duga.

Pengkhotbah pun menawarkan resep hidup yang jitu: “Ingatlah akan Penciptamu.” Ingatlah bahwa hidup ini hanya “barang pinjaman”. Perlakukanlah secara bijaksana. Dan, karena kita tidak pernah tahu kapan masa pinjam itu habis, perlakukanlah setiap hari seolah-olah itu hari yang terakhir. Bagaimana kiranya kita akan menjalani hari terakhir kita? –ARS

BAYANG-BAYANG KEMATIAN JUSTRU DAPAT MENYADARKAN KITA

AKAN BETAPA BERHARGANYA KEHIDUPAN INI

Sumber : www.sabda.org

Kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan

Shalom…salam miracle

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati…

Kehidupan kita sekarang, kiranya dapat dipertanggungjawabkan pada waktu “pengadilan” kelak. Kalau kita ingin kehidupan kita sesuai dengan firman Tuhan dan berkenan di hadapan Allah, maka kita harus bersedia diatur oleh Tuhan, tetapi kehidupan yang bagaimanakah yang dikehendaki Tuhan sekarang ini?

 

1. Kehidupan yang selalu ingat akan pencipta kita

Ada sebuah motto yang mengatakan “Kecil dimanja, muda dengan foya-foya, tua kaya raya, mati masuk sorga” kelihatannya sangat baik motto demikian, tetapi mari kita perhatikan banyak yang mengisi kehidupan ini dengan serba bebas dan seenaknya sendiri.

 

Pengkhotbah 11:9 menyatakan “…tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan.” Pengkhotbah mendorong kita semua agar menikmati kehidupan saat ini dan menuruti segala keinginan hati. Namun setiap perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di pengadilan Allah. Dari hal itu maka apabila kehidupan kita dihabiskan dengan kesenangan belaka bahkan hura-hura, pasti akan berakhir dengan penyesalan, jadi bagaimana? Apakah harus menjadi pendiam dan kuper.

 

Allah menghendaki kehidupan kita sedemikian produktif untuk diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Pengkhotbah mengingatkan “Ingatlah penciptamu pada masa mudamu.” Dari sejak masa muda Firman Allah sudah mengingatkan. Tuhan menginginkan kita sebagai anak-anak-Nya yang potensial, produktif akan hal-hal positif.

 

Dalam perjanjian lama diceritakan bahwa Raja Yosia naik tahta pada umur 8 tahun dan pada umur 16 tahun (masih sangat muda) dia mencari Tuhan serta kebenaran-Nya. Karena dia telah mengenal kebenaran Allah, maka dia menghancurkan berhala-hala. Sekarang dalam kehidupan kita berhala-hala bisa dalam bentuk: egois, hawa nafsu duniawi, dan segala sesuatu yang dapat menjadi penghalang pada saat kita mencari dan melakukan kehendak Allah. Maka penghalang- penghalang itu HARUS dihancurkan.

 

2. Menjadi teladan I Timotius 4:12

Jadilah teladan dalam hidup kita sehari-hari. Teladan dalam perkataan yang benar, teladan dalam tingkah laku,       teladan dalam kasih, teladan dalam kesetiaan dan teladan dalam kesucian. Mari kita melihat contoh yang berikut yaitu

tentang Elisa dan Gehazi.

 

Kedua orang ini mempunyai persamaan:

– Persamaan latar belakang karna Elisa dan Gehazi sama-sama orang awam yang terpanggil untuk melayani nabi Allah.

– Persamaan pernah dibimbing oleh seorang yang dipakai Allah secara luar biasa. Elisa dibimbing Elia, Gehazi dibimbing Elisa (I Raja19:16, II Raja 4:12).

– Persamaan menyaksikan mujizat demi mujizat yang Allah nyatakan melalui nabi yang mereka layani.

 

NAMUN… mereka mempunyai perbedaan dalam akhir kisah mereka…perbedaannya adalah:

– Elisa menjadi orang yang dipercaya Allah untuk mengadakan tanda-tanda mujizat, sedangkan Gehazi tidak pernah mengadakan tanda-tanda mujizat.

– Elisa berhati lurus, sedangkan Gehazi berhati bengkok.

– Elisa adalah orang yang berkenan dihati Allah, sedangkan Gehazi tidak….

 

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Karena Gehazi tidak berketetapan untuk setia menjaga hati dan motivasinya.

 

Maka Elisa menjadi teladan bagi umat Tuhan

    Pertama, Setia menjaga panggilan hidupnya.

    Ketika Tuhan memanggil Elisa menjadi pelayan Elia, ia setia menjaga panggilan itu. Elisa setia mengiringi Elia pergi ke Betel, ke Yerikho, bahkan menyeberangi sungai Yordan dan tinggal naik ke sorga. Sehingga dengan kesetiaan itu maka Elisa mendapat dua bagian roh Elia (II Raj 2:9). Sedangkan Gehazi gagal mempertahankan panggilan itu.

    Kedua, memiliki karakter yang baik

    Sejak Elia melemparkan jubahnya kepada Elisa sampai diangkat menjadi abdi Allah, Alkitab tidak pernah menceritakan satupun kecacatan karakter Elisa, sehingga mendukung suksesnya pelayanan Elisa. Sedangkan Gehazi dipenuhi dengan kebohongan dan pengkianatan, sehingga menjadi penghancur kariernya.

    Ketiga, mau mengasah keterampilan dan kemampuan diri (skill)

    Sehingga Elisa menjadi manusia yang unggul, senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus. Sedangkan Gehazi memiliki karakter yang serakah.

 

Ketika Tuhan memanggil Elisa menjadi pelayan Elia, ia setia menjaga panggilan itu. Elisa setia mengiringi Elia pergi ke Betel, ke Yerikho, bahkan menyeberangi sungai Yordan dan tinggal naik ke sorga. Sehingga dengan kesetiaan itu maka Elisa mendapat dua bagian roh Elia (II Raj 2:9). Sedangkan Gehazi gagal mempertahankan panggilan itu.

 

3. Melayani Tuhan

Dengan melayani Tuhan semaksimal mungkin, hari-hari kita terisi dengan aktivitas yang menyenangkan hati Tuhan. Dengan melayani Tuhan maka jebakan untuk terseret arus duniawi dapat kita hindari. Sebab dengan melayani Tuhan maka akan bermental kuat dan hidup sesuai dengan kehendak Allah.

 

TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA…

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Tetap Beriman, Berharap dan Memiliki Kasih

Pokok pembahasan kali ini yaitu me-review (meninjau) kembali mengenai janji Tuhan yang diberikan kepada umat-Nya mengenai perlindungan-Nya dalam segala hal. Untuk itu, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan:

  • Pertama: Iman (Ayat 1-2)

    Kita melihat bahwa raja Daud menulis dalam pasal 91 ini karena ia memperhatikan kehidupan Musa, bahkan mulai dari kehidupan Abraham, Ishak dan Yakub. Tatkala bangsa Israel dipimpin oleh Musa untuk keluar dari tanah Mesir. Daud meneliti bagaimana Allah melindungi bangsa Israel. Dan perlindungan ini berawal dari Abraham, Ishak dan Yakub. Dimana Allah berjanji kepada Abraham disertai dengan sumpah, termasuk kepada kita yang merupakan keturunan Abraham secara rohani. Oleh karena itu, perlindungan Allah sangat mutlak bagi umat pilihan-Nya. Dan Daud memiliki bukti bahwa Allah sungguh melindungi dia, sehingga Daud menulis Mazmur 91 ini.

 

 

Kesaksian

Selama 65 tahun Tuhan telah melindungi saya, bahkan saya tidak pernah masuk rumah sakit walaupun satu hari. Tetapi satu kali saya masuk rumah sakit, dan Tuhan segera memulihkan. Mungkin diantara kita ada yang menjadi Kristen baru satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun atau bahkan lebih, maka kita perlu teliti bagaimana Allah memelihara kita.

Kitab Mazmur 91:1-2 ini merupakan bukti perlindungan Allah, dan Daud percaya akan hal itu. Mazmur 91 ditulis 1010 tahun sebelum masehi. Kita percaya bahwa Firman Allah tidak pernah berubah selama-lamanya, sebab janji Tuhan adalah ya dan amin. Kalau raja Daud saat itu dilindungi oleh Allah karena beriman dan percaya. Maka Allah memberikan perlindungan juga kepada kita asalkan kita memiliki iman, karena iman adalah dasar kehidupan kita, seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Oleh karena itu janganlah kita menjadi lemah dan menjadi takut dalam menjalani hidup, sebab segala sesuatu yang kita harapkan telah terbukti walaupun kita belum melihat. Kadang-kadang ada janji Allah yang belum kita lihat atau kita alami, maka dengan imanlah kita akan melihat pertolongan Allah.

 

 

  • Kedua: Harap (Ayat 3-11)

    Saudara, kita tidak tahu berapa tahun lagi kita hidup dalam dunia ini, mungkin satu tahun lagi, lima tahun lagi atau sepuluh tahun lagi, kita tidak tahu. Tetapi dalam kurun waktu yang masih ada ini biarlah kita sungguh-sungguh berharap kepada Tuhan, sebab Tuhan akan melindungi kita.

    Oleh karena itu kita tidak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.

    Saudara, perlindungan ini akan menjadi nyata dalam kehidupan kita, seperti halnya Allah membuktikan perlindunganNya terhadap Daud yang berharap kepadaNya. Perlu kita perhatikan bahwa pada bagian kedua ini terdapat kata-kata “akan”, yang mana kata-kata “akan” ini menunjukkan suatu pertanyaan dari Tuhan yang akan menjadi suatu kenyataan dalam kehidupan orang-orang percaya yang memiliki suatu pengharapan. Pengharapan adalah akar kata sesuatu yang belum terjadi, untuk itu hidup kita harus penuh dengan pengharapan. Kalau kita melihat perjalanan hidup Abraham maka kita akan melihat adanya suatu nilai hidup yang dimuati dengan pengharapan. Saat itu Allah ingin melihat seberapa besar pengharapan Abraham terhadap Tuhan sampai pada akhirnya. Abraham mendapatkan apa yang telah dijanjikanNya (Ibrani 11:17 & 20). Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita masih punya pengharapan kepada Tuhan? Apabila kita tetap berharap, maka pengharapan itu merupakan sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, sebab sauh itu dilabuhkan sampai ke belakang tabir. Yang mana belakang tabir adalah ruang maha suci, yang merupakan gambaran kehadiran Tuhan. Dan apabila kita telah melabuhkan pengharapan kita hanya pada Tuhan maka segala sesuatu tidak ada yang mustahil.

     

  • Ketiga: Kasih (Ayat 14-16)

    Ayat ini merupakan ungkapan hati Allah yang menyatakan bahwa Daud sungguh mengasihiNya. Hal ini dapat ditemukan pada kalimat: “Hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku…” Jadi walaupun kita mengalami keadaan yang buruk sekalipun, kita tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan, sebab Allah kita adalah Allah yang setia. Dia tidak pernah lalai akan segala janjiNya, seperti yang tertulis dalam II Petrus 3:9 “Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”. Mungkin saat ini fisik kita lemah dan semakin merosot, tetapi biarlah batin kita semakin dekat dan mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, sebab hanya Dialah yang layak kita kasihi lebih dari segala-galanya. Amin.

 

 

Gembala Senior BETHANY

Pdt. Prof. DR. Abraham Alex T. Ph. D

HATI YANG BERBELAS KASIH

Kamis, 27 Januari 2011

Bacaan : Ester 4:7-16

7dan Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta berapa banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman akan ditimbang untuk perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi.

8Juga salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka itu, diserahkannya kepada Hatah, supaya diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Lagipula Hatah disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon karunianya dan untuk membela bangsanya di hadapan baginda.

9Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester.

10Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai:

11″Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja.”

12Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai,

13maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi.

14Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”

15Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai:

16″Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

HATI YANG BERBELAS KASIH

Pada 26 Oktober 2010, Gunung Merapi di Yogyakarta kembali bergolak. Banyak orang di lereng Merapi berupaya menyelamatkan diri. Namun, satu keluarga tak dapat mengungsi karena terjebak di rumah mereka. Pada malam mencekam itu, seorang pemuda bernama Pandu Bani Nugraha mendengar berita itu. Ia segera mengupayakan evakuasi bersama dua rekannya. Sayang, debu vulkanik yang begitu tebal menutup jalan menghentikan niat dua rekannya. Akhirnya, hanya Pandu yang tetap bertekad naik untuk melakukan evakuasi. Pandu hanya memiliki satu keinginan: agar semua anggota keluarga itu dapat diselamatkan, tanpa memperhatikan keselamatan dirinya.

Posisi Pandu saat itu serupa dengan yang dialami Ester. Haman, yang diberi kedudukan tinggi oleh Raja Ahasyweros, ingin membunuh semua orang Yahudi. Ester, yang juga seorang Yahudi dan telah diangkat sebagai ratu, menjadi satu-satunya harapan yang bisa menyelamatkan bangsa Yahudi. Namun, itu berarti ia harus berani menanggung risiko berat, sebab tak seorang pun diizinkan berbicara kepada raja apabila raja tidak memanggil. Risikonya adalah hukuman mati. Dan, Ester sungguh-sungguh mengambil risiko itu. Dengan dukungan dari seluruh bangsa Yahudi yang berpuasa dan berdoa baginya.

Pengalaman Pandu dan Ester ini mengajak kita untuk punya hati yang berbelas kasih kepada sesama. Tak banyak orang yang terpanggil untuk melayani sesama dengan sepenuh hati, dengan menyingkirkan egoisme diri. Adakah orang yang membutuhkan uluran tangan dan kepedulian Anda saat ini? Ambillah bagian untuk melakukan sesuatu –GP

IZINKAN TUHAN MENYENTUH HATI ANDA DENGAN KASIH BAGI SESAMA

Sumber : www.sabda.org