Lima Prinsip Dasar (3)

Shalom…salam miracle

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, kali ini saya menyampaikan beberapa (lima) prinsip penting dalam gereja dan merupakan petunjuk penting dalam pengetahuan pertumbuhan gereja, baik bersifat umum yaitu suatu organisasi, maupun gereja dalam arti pribadi umat percaya, kelima prinsip tersebut merupakan pelajaran dari Peter Wagner, yang adalah seorang pemimpin yang berwibawa dalam pertumbuhan gereja dan peperangan rohani, sebagai berikut:

  1. DOA
  2. BERKHOTBAH DAN MENGAJAR
  3. PUJIAN PENYEMBAHAN
  4. PERSEKUTUAN
  5. MISI DAN PENGINJILAN

Yang pertama adalah DOA

Yang kedua adalah BERKHOTBAH DAN MENGAJAR (Minggu lalu)

Yang ketiga adalah PUJIAN DAN PENYEMBAHAN.

Sebagaimana kita percaya bahwa tiap-tiap orang dipanggil untuk berdoa, kita juga percaya harus memuji Tuhan dan menyembah Tuhan. Pujian penyembahan dirancang untuk menarik setiap orang untuk masuk dalam hadirat Tuhan, bukan hanya sekedar menghibur dengan lagu dan syairnya. Dalam dunia hiburan atau pertunjukan, orang mengamati, menikmati dan kemudian bertepuk tangan karena terhibur dalam pertunjukan itu, namun dalam penyembahan, orang hanyut dan aktif di dalam Tuhan dan berpartisipasi. Dalam hal ini amatlah penting untuk peka terhadap aliran/lawatan Roh Kudus, Tim pujian penyembahan (Worship Leader, singer, pemusik, penari, operator LCD) dapat membuat atau memutuskan aliran/lawatan Roh Kudus dengan pemilihan, pembawaan dan penempatan lagu-lagunya dalam kebaktian-kebaktian. Jika lagu-lagu dan gaya-gaya tidak saling membangun, maka setelah ibadah atau dalam Fellowship musik pujian akan didiskusikan, mengoreksi dan mengevaluasinya. Nyanyian Tuhan, pemazmur dan suasana ibadah menempati posisi yang penting di Gereja Bethany. Nyanyian Tuhan adalah nubuat musical dari Tuhan atau sebuah ucapan ilahi yang dikemas dalam sebuah lagu. Nyanyian Tuhan dapat muncul melalui siapapun juga, namun jika pemazmur atau pembaca sajak punya dorongan profetik dengan sebuah lagu, hasilnya sangat menakjubkan. Pemazmur adalah seorang penyanyi yang punya panggilan untuk melayani melalui musik. Tujuan nomor satu dari pemazmur adalah peka terhadap pimpinan Roh Kudus, hingga dapat menciptakan atmosfer bagi beroperasinya karunia-karunia dari Tuhan. Melalui lagu, pemazmur itu memimpin orang atau jemaat ke dalam hadirat-Nya.

Orang tidak dapat berdiri dan memainkan sebuah alat musik atau menyanyi dalam gereja kita hanya karena dia suka melakukannya atau karena memiliki keahlian dan terampil dalam bermain musik ataupun suara yang merdu untuk menyanyi. Mereka harus mengerti bahwa untuk melayani di hadapan sidang jemaat Tuhan, mereka perlu menyerahkan karunia dan talenta mereka hanya bagi tujuan dan pelayanan-Nya, atau untuk kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Mereka harus mendedikasikan diri mereka sepenuhnya untuk Tuhan. Tujuan utama dalam pelayanan pujian dan penyembahan adalah supaya jemaat Tuhan dapat memuji dan menyembah dengan seluruh keberadaan mereka. Pujian yang kita naikkan seharusnya semangat dan ekspresif.

 

Dalam setiap ibadah-ibadah di gereja Bethany GTM, kita merindukan dan menciptakan suasana atau tempat penyembahan yang intim dan mulia dengan Tubuh Kristus secara bersama (korporat), yang dimaksud adalah jemaat dapat masuk bersama-sama dalam hadirat Tuhan, namun tiap-tiap orang memiliki pengalaman yang bersifat pribadi. Untuk mencapai hal itu, maka setiap jemaat harus terlibat dengan aktif. Jemaat Tuhan datang dengan sikap hati yang siap dan penuh harap untuk dilawat Tuhan, sementara pemusik, pemuji dan tim penyembahan harus sensitif untuk memimpin ke arah yang benar dan tepat.

 

Minggu depan kita akan membahas PERSEKUTUAN (bersambung)

Dalam kesempatan ini, saya juga menghimbau seluruh jemaat Tuhan kiranya di bulan April ini semakin iman percaya kita bertumbuh dan berbuah, bulan ini kita akan memperingati pengorbanan Yesus dalam karya penyelamatan umat manusia (PASKAH), bersyukurlah kalau saudara sudah diselamatkan dalam nama Yesus Kristus, untuk itu ikuti dan nikmati berkat Tuhan dalam kegiatan-kegiatan PASKAH di gereja kita.

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien.

 

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Gembala Sidang

Iklan

MAKNA BEKERJA

Kamis, 7 April 2011

Bacaan : 1 Tesalonika 4:7-12

7Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.

8Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.

9Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah.

10Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.

11Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu,

12sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.

MAKNA BEKERJA

Pak Lim, di usianya yang sudah 60-an, bekerja di sebuah hotel bintang lima di Singapura. Tugasnya memastikan puluhan engsel pintu di setiap kamar hotel itu berfungsi baik. Itu harus ia lakukan setiap hari. Padahal ada 600 kamar di situ! Dan, ketika engsel-engsel pintu di kamar ke-600 selesai dicek, ia harus kembali ke kamar pertama! Begitu terus-menerus.

Ketika ditanya, apa yang membuatnya tetap teliti dan tak bosan bekerja, ia mengaku telah menemukan makna di balik pekerjaannya yang tampak menjemukan. Bahwa setiap tamu hotel bintang lima itu pasti seorang kepala keluarga atau pimpinan perusahaan yang memiliki banyak staf. Andai terjadi kebakaran, dan salah satu engsel pintu tak berfungsi hingga tamu terkunci dan tewas di situ, maka kerugiannya sangat besar. Tak hanya bagi hotel, tetapi juga bagi keluarga, perusahaan, dan banyak karyawan yang hidupnya dipengaruhi oleh peran sang tamu. Jadi, Pak Lim tak sekadar bekerja memeriksa engsel, tapi menyelamatkan nyawa para kepala keluarga dan pemimpin perusahaan!

Mari cermati pekerjaan kita. Tak hanya apa yang tampak dari luar, melainkan makna yang mendasarinya hingga pekerjaan itu penting untuk dikerjakan. Orang yang tak mengerti makna pekerjaannya bisa merasa jemu dan sia-sia bekerja (Pengkhotbah 2:11). Akan tetapi, anak-anak Tuhan perlu memahami makna pekerjaannya. Pertama, Tuhan sendiri memanggil kita untuk bekerja-bekerja yang halal, bukan yang cemar (1 Tesalonika 4:7). Kedua, Tuhan mau kita menjadi berkat bagi sesama saudara, melalui pekerjaan kita (ayat 9). Ketiga, Tuhan rindu kita bersaksi bahwa Tuhan memelihara, karena dengan bekerja kita tak bergantung kepada orang lain (ayat 12) –AW

TEMUKAN NILAI KEKAL DALAM PEKERJAAN KITA

AGAR SETIAP PEKERJAAN MENJADI BERMAKNA, TAK PERNAH SIA-SIA

Dikutip dari : www.sabda.org