KETIKA ASA PUTUS

Sabtu, 9 April 2011

Bacaan : Keluaran 6:1-12

1(5-24) Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: “Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun; sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi, ya dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan mengusir mereka dari negerinya.”

2(6-1) Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Akulah TUHAN.

3(6-2) Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.

4(6-3) Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing,

5(6-4) tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku.

6(6-5) Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat.

7(6-6) Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir.

8(6-7) Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN.”

9(6-8) Lalu Musa mengatakan demikian kepada orang Israel, tetapi mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu.

10(6-9) Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa:

11(6-10) “Pergilah menghadap, katakanlah kepada Firaun, raja Mesir, bahwa ia harus membiarkan orang Israel pergi dari negerinya.”

12(6-11) Tetapi Musa berkata di hadapan TUHAN: “Orang Israel sendiri tidak mendengarkan aku, bagaimanakah mungkin Firaun akan mendengarkan aku, aku seorang yang tidak petah lidahnya!”

KETIKA ASA PUTUS

Obor blarak merupakan sebuah idiom Jawa yang menggambarkan semangat yang mudah menyala, tetapi seketika kemudian surut ke titik nol. Bagai blarak (daun kelapa) yang bila dibakar akan menyala terang, tetapi sebentar kemudian segera mati.

Kedatangan Musa dan Harun di hadapan Firaun, membuat penguasa Mesir itu semakin mempersulit tugas para budak (ayat 6). Tak heran orang Israel marah kepada Musa dan Harun. Akibatnya, mereka “tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu” (ayat 8). Tekanan yang berat membuat orang Israel tak lagi mampu meyakini janji pembebasan dari Tuhan. Musa sendiri sempat dihinggapi rasa putus asa karena respons negatif orang Israel terhadap dirinya (ayat 11). Namun, Tuhan terus menguatkan Musa untuk menjadi agen pembebasan bagi bangsanya, menjadi sarana teguran bagi Firaun, sekaligus mendampingi dan mendidik umat Israel yang mudah putus asa itu (ayat 12). Baik Musa maupun bangsa Israel, tidak diizinkan Tuhan untuk menjadi seperti “obor blarak”.

Tatkala hendak memulai langkah baru, kita kerap berapi-api: bertanya kepada Tuhan, meminta hikmat-Nya, berdoa, berpuasa, dan sebagainya. Namun, bila jawaban tak kunjung datang dan malah kesulitan yang menghadang, kita menjadi kecil hati, patah semangat, dan melupakan Tuhan. Sikap semacam ini perlu kita waspadai. Jangan mudah menyerah kalah pada tantangan. Sesungguhnya Tuhan terus ada untuk memimpin setiap langkah, setiap karya pelayanan kita di rumah tangga, tempat belajar, tempat kerja, lingkungan masyarakat, dan sebagainya –DKL

KETIKA KEPUTUSASAAN MENGHAMPIRI

PANDANGLAH DIA YANG TAK PERNAH MEMBIARKAN KITA SENDIRI

Dikutip dari : www.sabda.org

Iklan