PERSEKUTUAN

Shalom…salam miracle

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, kali ini saya menyampaikan beberapa (lima) prinsip penting dalam gereja dan merupakan petunjuk penting dalam pengetahuan pertumbuhan gereja, baik bersifat umum yaitu suatu organisasi, maupun gereja dalam arti pribadi umat percaya, kelima prinsip tersebut merupakan pelajaran dari Peter Wagner, yang adalah seorang pemimpin yang berwibawa dalam pertumbuhan gereja dan peperangan rohani, sebagai berikut:

  1. DOA
  2. BERKHOTBAH DAN MENGAJAR
  3. PUJIAN PENYEMBAHAN
  4. PERSEKUTUAN
  5. MISI DAN PENGINJILAN

Bagian ke empat adalah PERSEKUTUAN

Saya PERCAYA BAHWA Tuhan memiliki sifat sosial, Tuhan suka bersekutu dengan kita, umat-Nya. Pada dasarnya kita semua juga memiliki sifat seperti itu, sebab kita diciptakan serupa dan segambar Allah. Kita rindu senantiasa bersekutu dengan Tuhan, juga memiliki keinginan untuk bersekutu dengan sesama manusia.

Dalam gereja persekutuan yang indah dapat membantu untuk menutup “pintu yang terbuka”, maksudnya gereja bukan hanya sekedar tempat persinggahan sementara dari jemaat, namun ada sesuatu yang menarik sehingga senantiasa rindu untuk bersekutu. Jika seseorang ke gereja hanya duduk dan menerima, tanpa pernah membangun hubungan dengan para pekerja dan jemaat Tuhan yang lain, maka mereka tidak akan sanggup menanamkan akar atau dapat bertahan di gereja tersebut. Mereka akhirnya hanya akan berkelana dari satu gereja ke gereja yang lain, bahkan meninggalkan gereja.

Persekutuan adalah sebuah aspek penting dari kehidupan gereja. Meskipun begitu, saya percaya persekutuan itu tidaklah harus berupa hubungan rohani yang dalam. Sangatlah penting untuk mengadakan kegiatan-kegiatan santai yang ringan dan menghibur, seperti olahraga bersama, wisata bersama, yang pada intinya suatu kegiatan yang mendukung adanya rasa kekeluargaan. Dalam Kisah Rasul, orang-orang yang percaya Yesus Kristus, mereka bersekutu dan saling menjamu setiap orang dari rumah ke rumah. Segala sesuatu memiliki tempatnya tersendiri. Kehidupan bersama Tuhan lebih dari sekedar berurusan dengan mimbar, kegiatan-kegiatan rohani atau kebaktian-kebaktian gereja. Bila dibutuhkan tempat untuk memperoleh dorongan semangat dan koreksi, persekutuan yang benar dapat menyediakannya. Bila telah tiba waktunya untuk bersenang-senang dan melakukan kegiatan-kegiatan, gereja harus menghasilkan orang yang dapat menyenangkan.

Bagian yang kelima adalah PENGINJILAN DAN MISI.

Seringkali kita menerima ajaran bahwa tiap-tiap orang adalah seorang penginjil dan misionaris. Jemaat secara terus menerus diajar bahwa dunia ini adalah milik Tuhan dan bahwa mereka bebas untuk menjadi duta besar-Nya kemanapun ia pergi. Amanat agung tidak mengatakan “Pergilah kamu supaya dipanggil untuk berdiri di Mimbar”, tetapi Amanat Agung berkata “Pergilah kamu.” Dalam Matius 28:19-20 bukanlah ayat Alkitab yang dapat saudara ambil atau tinggalkan, itu merupakan amanat terakhir yang diberikan Yesus pada gereja-Nya. Jadi amatlah penting bagi umat untuk mengarahkan sebagian dari uang dan waktunya untuk pelayanan misi. Kita semua menjadi senang dengan penuaian jiwa-jiwa pada akhir zaman ini. Tetapi sebelum gereja mengerti bagaimana untuk pergi ke seluruh dunia, maka ia tidak akan mengerti bagaimana menuainya. Setiap orang percaya dipanggil untuk pergi ke dalam dunia dan memenuhi kebutuhan manusia melalui Kristus. Jika jemaat tidak diajarkan bagaimana untuk pergi, mereka tidak akan memahami bagaimana menuai komunitas mereka, bangsa-bangsa atau dunia bagi Yesus Kristus.

Tuhan Yesus memberkati…amien.

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Gembala Sidang

Iklan

KESEMPATAN GAGAL

Selasa, 19 April 2011

Bacaan : Kisah Para Rasul 15:36-40

36Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: “Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, di mana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka.”

37Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus;

38tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka.

39Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus.

40Tetapi Paulus memilih Silas, dan sesudah diserahkan oleh saudara-saudara itu kepada kasih karunia Tuhan

KESEMPATAN GAGAL

Dalam bukunya Growing Kids God’s Way, Gary dan Anne Marie Ezzo mengatakan bahwa orangtua kerap tak memberi kebebasan kepada anak untuk mengalami kegagalan. Umumnya orang tua begitu suka akan kemenangan, hingga agak kehilangan perspektif dan tak bisa menghargai pelajaran yang dapat dipetik dari kegagalan. Maka anak lebih memperjuangkan bagaimana caranya ia tidak gagal dan mengecewakan orangtua, walau untuk itu ia kemudian takut pada tantangan.

Barnabas adalah sosok gembala yang memperhatikan orang-orang yang dibimbingnya. Suatu kali seorang muda bernama Markus menjadi murid bimbingnya. Sayang, Markus ini pernah gagal menjalankan tugasnya ia meninggalkan rombongan misi Paulus hingga mereka kekurangan orang di Pamfilia. Ini membuat Paulus kecewa (ayat 38). Tak heran, ketika Paulus hendak mengadakan perjalanan misi kembali, ia menolak permintaan Barnabas untuk mengajak Markus lagi. Namun Barnabas tetap memperjuangkan Markus hingga ia berpisah dengan Paulus (ayat 39). Oleh kegigihan Barnabas yang tidak menyerah membimbing pribadi yang pernah gagal, Markus menjadi pelayan Tuhan yang berharga.

Ketika orang-orang dekat kita keluarga, sahabat, rekan kerja mengalami kegagalan; gagal memenuhi harapan, gagal menepati janji, gagal mengambil keputusan yang benar, tak ada gunanya kita menunjukkan kekecewaan. Sebaliknya, yang perlu kita lakukan adalah menjadi pendukung yang tetap ada bagi mereka dan tak menyerah mendampingi. Tetap memberinya kesempatan dan kepercayaan baru. Tetap mendukungnya saat ia belajar tentang arti perjuangan, kerendahan hati, serta penyerahan diri kepada Tuhan –AW

SETIAP MOMEN KEGAGALAN SESUNGGUHNYA BISA MENJADI PINTU

UNTUK SESEORANG MEMASUKI BABAK KEDEWASAAN YANG BARU

Dikutip dari : www.sabda.org