POTRET YANG LEBIH BAIK

Senin, 11 Juli 2011

Bacaan : 1 Yohanes 3:1-6

3:1. Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

 

3:4. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.

3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.

3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.

 

POTRET YANG LEBIH BAIK

Suatu saat C.H. Spurgeon menerima buku Andrew Bonar, Commentary on Leviticus. Merasa sangat diberkati, ia mengembalikan buku itu dengan pesan, “Dr. Bonar, tolong cantumkan tanda tangan dan potret Anda di buku ini.” Tak lama kemudian ia menerima lagi buku itu, dilampiri sepucuk surat pendek: “Spurgeon yang baik, ini buku dengan tanda tangan dan potret saya. Andaikan Anda mau menunggu beberapa waktu lagi, Anda akan mendapatkan gambar yang lebih baik saya akan menjadi sama seperti Dia, sebab saya akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya (1 Yohanes 3:2).”

Dr. Bonar mengutip ayat yang menunjukkan tujuan akhir setiap orang percaya, yaitu menjadi serupa dengan Kristus (bandingkan dengan Roma 8:29). Tujuan itu akan tercapai melalui proses pengudusan yang dimulai sejak kita mengenal Kristus dan menerima kehidupan ilahi-Nya. Hari demi hari kita mengalami pembaruan sampai kelak kita bertemu dengan Kristus berhadapan muka dengan muka (1 Korintus 13:12; Filipi 3:21). Apabila kita memahami tujuan akhir tersebut, Rasul Yohanes menjelaskan lebih lanjut, kesadaran itu akan menjadi motivasi kuat bagi kita untuk menjaga kekudusan hidup sepanjang hayat. Kekudusan hidup terpancar bukan hanya ketika kita menolak dosa dan hawa nafsu daging, tetapi terutama ketika kita berkata “ya” terhadap kehendak Tuhan Yesus Kristus. Dengan itu kita mengikuti jejak kekudusan-Nya, menjadi makin serupa dengan Dia.

 

Apakah hari ini kita makin serupa dengan Kristus? Apakah karakter-Nya buah Roh (Galatia 5:22-23) makin kuat terpancar dari kehidupan kita? Apakah “potret” kita makin baik? –ARS

KITA MENJADI MAKIN KUDUS

KETIKA KITA MAKIN SERUPA DENGAN KRISTUS

Dikutip : www.sabda.org