MENGAPA ATAU SIAPA

Rabu, 5 Oktober 2011

Bacaan : Kejadian 3:9-14 

3:9. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”

3:10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

3:11. Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”

3:12 Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

3:14. Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.

MENGAPA ATAU SIAPA

Ketika sesuatu berjalan tak seperti yang diharapkan, semuanya menjadi salah, atau terjadi kegagalan, maka kecenderungan alami manusia adalah mencari seseorang yang bisa disalahkan. Bahkan sejak dari Taman Eden. Ketika dosa terjadi, Adam menyalahkan Hawa. Hawa menyalahkan ular. Apabila seseorang gagal menyelesaikan pekerjaan sesuai batas waktu yang ditetapkan, apa yang biasanya ia lakukan? Secara refleks ia akan menudingkan jarinya ke orang lain. Atau, kalau tidak ada orang lain, ia akan menudingkan jarinya pada situasi di luar kekuasaannya.

Kita akan lebih cepat berkembang apabila tak punya kebiasaan melimpahkan kesalahan ke orang lain. Ketika Anda gagal, pikirkan mengapa Anda gagal, bukan siapa yang salah. Pandang situasi dengan objektif supaya lain kali kita bisa lebih baik. Bob Biehl menganjurkan daftar pertanyaan untuk membantu menganalisis kegagalan: 1. Pelajaran apa yang saya petik?; 2. Apakah saya berterima kasih atas pengalaman ini?; 3. Siapa lagi yang telah gagal seperti ini sebelumnya, dan bagaimana orang itu bisa menolong saya?; 4. Apakah saya gagal karena seseorang, karena situasi, atau karena diri sendiri?; 5. Apa saya benar-benar gagal, atau saya mengejar standar yang terlalu tinggi?

Orang yang menyalahkan orang lain atas kegagalan mereka takkan pernah mengatasinya. Untuk mencapai potensi dan karakter yang diinginkan Allah, kita harus terus memperbaiki diri. Kita tak dapat melakukannya jika tidak mengambil tanggung jawab atas perbuatan kita dan belajar dari kesalahan. Bukankah Allah tak pernah menolak mengampuni saat kita bersalah? Mengapa kita tidak berani mengaku dengan jujur? –PK

SAAT ANDA BERBUAT KESALAHAN DAN GAGAL

TANYAKAN MENGAPA, BUKAN SIAPA

Dikutip : www.sabda.org


Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: