HIDUP KITA TERBATAS

Selasa, 22 Mei 2012

Bacaan : Mazmur 90:1-17

90:1. Doa Musa, abdi Allah. Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.

90:2 Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.

90:3 Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”

90:4 Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.

90:5 Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh,

90:6 di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.

 

90:7. Sungguh, kami habis lenyap karena murka-Mu, dan karena kehangatan amarah-Mu kami terkejut.

90:8 Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu.

90:9 Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh.

90:10 Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.

90:11 Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu?

 

90:12. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

90:13 Kembalilah, ya TUHAN–berapa lama lagi? –dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

90:14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.

90:15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.

90:16 Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka.

90:17 Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.

 

HIDUP KITA TERBATAS

Dalam buku One Month To Live, Kerry dan Chris Shook menulis bahwa apabila waktu hidup kita di bumi ini hanya tinggal satu bulan lagi, kita tentu akan menghabiskan hari-hari secara berbeda serta dengan cara-cara yang unik. Para penulis buku tersebut juga percaya bahwa kita akan mengalami kehidupan yang lebih memuaskan, yang dapat meninggalkan sebuah warisan bagi kekekalan.

Kesadaran mengenai waktu hidup yang singkat dapat memberi perubahan pada bagaimana kita menjalani kehidupan. Namun, siapakah yang tahu masa hidup manusia selain Allah Dia yang ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya (ayat 2)? Di hadapan Allah, manusia hanyalah debu; kehidupan manusia seperti suatu giliran jaga malam (ayat 4), seperti mimpi (ayat 5), seperti rumput yang pagi berkembang dan sore lisut-layu (ayat 6). Apakah yang dapat dikerjakan selama masa tujuh puluh tahun serta “bonus” sepuluh tahun yang mungkin kita jalani jika isinya, kata pemazmur, hanyalah tahun-tahun kesukaran dan penderitaan (ayat 10)? Dalam keadaan seperti itu, pemazmur memohon Tuhan mengajarnya menghitung hari (ayat 12). Dengan begitu, manusia tahu betapa singkatnya kehidupan ini; dan menjadi bijaksana dalam menjalaninya. Pemazmur juga memohon pada Tuhan yang kekal, kasih setia yang mengenyangkannya di waktu pagi dan sukacita yang mengimbangi hari-hari kesusahan.

Membandingkan kesementaraan manusia dengan kekekalan Tuhan serta ketidaktahuan kita akan akhir kehidupan semestinya membuat kita memercayakan diri kepada Yang Maha Tahu. Dengan kesadaran itu, mari jalani hidup ini dengan bijaksana demi meninggalkan warisan berharga bagi sesama dan memegahkan nama-Nya. –WIS

KESADARAN BAHWA WAKTU KITA SANGAT TERBATAS

HENDAKNYA MENJADIKAN KITA ARIF DALAM PEMANFAATANNYA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan