GRATIA MELAHIRKAN GRATITUDE

Jumat, 31 Agustus 2012

Bacaan : 1 Timotius 1:12-17

1:12. Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku–

1:13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.

1:14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.

1:16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.

1:17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.

GRATIA MELAHIRKAN GRATITUDE

Ada sebuah ungkapan: Gratia (anugerah) melahirkan gratitude (syukur). Kesadaran akan anugerah Tuhan dalam kehidupan kita akan menghasilkan limpahan ucapan syukur. Ketika anugerah tidak disadari, kita bisa menganggap banyak hal memang sudah sepatutnya kita terima, dan rasa syukur pun berangsur pudar.

Pernyataan Paulus yang baru saja kita baca menunjukkan kesadarannya yang sangat kuat akan anugerah Tuhan dalam hidupnya. Ia adalah orang yang menyetujui perajaman martir pertama, Stefanus. Lalu, ia mengancam dan menangkapi para pengikut Kristus (lihat Kisah Para Rasul 8:1; 9:1- 2). Ia penghujat dan penganiaya, seorang yang ganas (ayat 13). Namun, Tuhan berkenan menampakkan diri kepadanya, mengubah hidupnya, dan memercayakan pelayanan pemberitaan Injil kepadanya. Paulus tidak sedang membanggakan masa lalunya yang penuh dosa. Ia tengah dipenuhi rasa syukur yang lahir dari limpahnya anugerah Tuhan (ayat 14). Orang boleh memandangnya sebagai seorang rasul besar, pengkhotbah hebat, tetapi ia sadar betul ia hanyalah seorang pendosa besar yang mendapat kasih karunia Tuhan (15-16).

Kita perlu terus mengingatkan diri bahwa kesempatan melayani Tuhan adalah kasih karunia, bukan sesuatu yang bisa kita lakukan karena kita lebih baik atau lebih mampu dari orang lain. Kita bahkan tidak bisa menyebut pelayanan sebagai balas budi atas anugerah-Nya, sebab kemurahan Tuhan tidak dapat kita tukar atau ganti dengan ragam kebaikan kita. Biarlah anugerah Tuhan sekali lagi melahirkan syukur di hati kita, dan menggerakkan kita untuk melayani-Nya. –ULS

KEMBALIKAN SYUKUR DI HATI

DENGAN MENGINGAT KASIH KARUNIA TUHAN.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

PENGHARGAAN

Kamis, 30 Agustus 2012

Bacaan : Lukas 17:7-10

17:7 “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!

17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

17:9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?

17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

PENGHARGAAN

Cukup sering saya merasa gagal ketika menyelesaikan suatu tugas. Perasaan kecewa dan menyalahkan diri semakin kuat bila tugas yang saya kerjakan itu dilihat oleh banyak orang. Selidik punya selidik, perasaan gagal itu ternyata terkait dengan tanggapan orang lain. Ketika hasil kerja saya tampaknya kurang dihargai, saya merasa kecewa. Saya berharap pujian, tetapi justru kritiklah yang lebih banyak saya terima.

Keinginan mendapatkan penghargaan merupakan salah satu penghalang kita melayani Allah. Itu sebabnya Yesus mengingatkan murid-murid-Nya dengan mengutip tata krama seorang hamba terhadap tuannya sebagaimana kebiasaan pada zaman itu. Ketika melakukan tugas, kita bukanlah tuan yang berhak menerima pujian. Sebaliknya, kita adalah hamba. Bahkan, bukan hanya pujian yang tidak layak kita terima, sekadar ucapan terima kasih pun tidak boleh kita harapkan. Apakah dengan demikian Allah adalah Tuan yang kejam? Sama sekali tidak. Karena Yesus, Allah yang menjadi manusia itu memberikan teladan bagi kita. Yesus menggenapkan seluruh tugas yang dibebankan Allah, yaitu sampai mati di atas kayu salib dalam kehinaan tiada tara.

Apakah Anda merasa lesu melayani Tuhan? Anda bermaksud meninggalkan tugas pelayanan yang Tuhan percayakan? Atau Anda tidak ingin melayani karena merasa pelayanan itu tidak ada gunanya? Bila keinginan itu muncul, cobalah selidiki, apakah hal itu terkait oleh tiadanya penghargaan atau pujian yang Anda terima. Lalu, pandanglah Kristus yang telah meninggalkan teladan dengan hidup sebagai hamba, sekalipun Dia adalah Tuan kita. –HEM

BERSYUKURLAH KEPADA KRISTUS YANG TELAH MELAYANI KITA.

BANGKITKAN KEMBALI SEMANGAT PELAYANAN DENGAN MENELADANI-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

JAWABAN DOA

Rabu, 29 Agustus 2012

Bacaan : Ezra 7:28b-8:20

(7-28b) Maka aku menguatkan hatiku, karena tangan TUHAN, Allahku, melindungi aku dan aku menghimpunkan dari antara orang Israel beberapa pemimpin untuk berangkat pulang bersama-sama aku.

8:1. Inilah kepala-kepala kaum keluarga dan silsilah orang-orang yang berangkat pulang bersama-sama aku dari Babel pada zaman pemerintahan raja Artahsasta:

8:2 dari bani Pinehas: Gersom; dari bani Itamar: Daniel; dari bani Daud: Hatus

8:3 bin Sekhanya; dari bani Paros: Zakharia, dan bersama-sama dia seratus lima puluh orang laki-laki tercatat di dalam silsilah;

8:4 dari bani Pahat-Moab: Elyoenai bin Zerahya, dan bersama-sama dia dua ratus orang laki-laki;

8:5 dari bani Zatu: Sekhanya bin Yahaziel, dan bersama-sama dia tiga ratus orang laki-laki;

8:6 dan dari bani Adin: Ebed bin Yonatan, dan bersama-sama dia lima puluh orang laki-laki;

8:7 dari bani Elam: Yesaya bin Atalya, dan bersama-sama dia tujuh puluh orang laki-laki;

8:8 dan dari bani Sefaca: Zebaja bin Mikhael, dan bersama-sama dia delapan puluh orang laki-laki;

8:9 dan dari bani Yoab: Obaja bin Yehiel, dan bersama-sama dia dua ratus delapan belas orang laki-laki;

8:10 dan dari bani Bani: Selomit bin Yosifya, dan bersama-sama dia seratus enam puluh orang laki-laki;

8:11 dan dari bani Bebai: Zakharia bin Bebai, dan bersama-sama dia dua puluh delapan orang laki-laki;

8:12 dan dari bani Azgad: Yohanan bin Hakatan, dan bersama-sama dia seratus sepuluh orang laki-laki;

8:13 dan dari bani Adonikam: yang datang kemudian, dan inilah nama mereka: Elifelet, Yehiel dan Semaya, dan bersama-sama mereka enam puluh orang laki-laki;

8:14 dan dari bani Bigwai: Utai dan Zabud dan bersama-sama dia tujuh puluh orang laki-laki.

8:15 Aku menghimpunkan mereka dekat sungai yang mengalir ke Ahawa dan di sana kami berkemah tiga hari lamanya. Ketika kuselidiki mereka, ternyata ada orang-orang Israel awam dan imam-imam, tetapi tidak kudapati di antara mereka orang-orang dari bani Lewi.

8:16 Sebab itu aku mengirim Eliezer, Ariel, Semaya, Elnatan, Yarib, Elnatan, Natan, Zakharia, Mesulam, yakni kepala-kepala kaum keluarga, dan Yoyarib dan Elnatan, yakni pengajar-pengajar,

8:17 dengan suatu pesan untuk Ido, kepala setempat di Kasifya. Aku menaruh perkataan-perkataan ke dalam mulut mereka untuk dikatakan kepada Ido dan saudara-saudaranya, para budak di bait Allah di Kasifya itu, supaya mereka mendatangkan kepada kami orang-orang yang harus menyelenggarakan kebaktian di rumah Allah kami.

8:18 Kemudian karena tangan murah Allah kami itu melindungi kami, didatangkanlah oleh mereka kepada kami orang-orang yang berakal budi dari bani Mahli bin Lewi bin Israel, yakni Serebya dengan anak-anak dan saudara-saudaranya, delapan belas orang;

8:19 dan Hasabya beserta Yesaya, dari bani Merari, dan saudara-saudaranya dan anak-anak mereka, dua puluh orang;

8:20 dan dari para budak di bait Allah, yang diberikan Daud dan para pembesar untuk membantu pekerjaan orang-orang Lewi, dua ratus dua puluh orang, yang masing-masing ditunjuk dengan disebut namanya.

 

JAWABAN DOA

Jemaat gereja kami cukup banyak. Namun, seperti masalah klise berbagai gereja, yang mau dan mampu melayani sangat terbatas. Kami sungguh berdoa pada Tuhan agar ada tambahan orang untuk mengisi kekosongan yang ada. Ketika satu per satu tenaga pelayan diberikan, kami menyapa mereka dengan berkata, “Terima kasih telah menjadi jawaban Tuhan atas doa kami.”

Masalah kekurangan pekerja sudah dialami sejak zaman Ezra. Pada zaman Raja Artahsasta, Ezra diperkenankan pulang ke Yerusalem untuk membangun kembali ibadah di Bait Allah. Sayang, di antara sekian banyak orang yang pulang bersamanya, ia tidak mendapati orang-orang Lewi untuk penyelenggaraan kebaktian (ayat 15). Ezra tidak mengambil jalan pintas mengganti peran khusus bani Lewi yang sudah ditetapkan Tuhan. Ia membagikan kebutuhan spesifik itu kepada saudara-saudara di Kasifya. Mendengar visi Ezra menyelenggarakan kembali kebaktian di Bait Allah dan apa yang dibutuhkan untuk mewujudkannya, mereka pun berespons. Ezra mengenali “tangan murah Allah” dalam semua proses itu.

Ketika mengalami kekurangan pekerja dalam pelayanan, seberapa jauh kita melibatkan Allah? Bisa jadi kita frustrasi dan mengambil langkah yang keliru: mungkin memborong pelayanan sendiri atau menurunkan standar pelayanan demi kebutuhan mendesak. Ingatlah bahwa pelayanan adalah milik Allah, Dialah yang menetapkan bagian tiap-tiap anggota dalam pembangunan tubuh-Nya. Mintalah Dia mengirim para pekerja menurut cara- Nya. Informasikan kebutuhan pelayanan secara spesifik pada sesama anggota tubuh Kristus. Dan, ketika kebutuhan terpenuhi, bersyukurlah atas tangan murah Allah yang menjawab doa kita. –SCL

TUHAN MEMILIKI ORANG YANG TEPAT UNTUK PEKERJAAN-NYA.

MINTALAH PEKERJA PADA-NYA DAN NANTIKANLAH JAWABAN-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

TERANG BAGI NEGERI

Selasa, 28 Agustus 2012

Bacaan : Matius 5:13-16

5:13. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

 

TERANG BAGI NEGERI

Kedua anak perempuan teman saya punya cita-cita istimewa. Yang sulung ingin menjadi hakim. Yang bungsu ingin menjadi jaksa. Mereka ingin menjadi para penegak kebenaran dan pembela yang lemah. Saya bertanya bagaimana mereka bisa punya cita-cita semulia itu. Dengan mimik serius layaknya orang dewasa salah satu menjawab, “Aku belajar dari Alkitab, Tuhan sangat menentang ketidakadilan dan kejahatan. Namun, itulah yang banyak terjadi sekarang.” Tiap mengingat mereka saya terharu. Kedua anak itu rindu menjadi terang di tempat yang dianggap banyak orang kotor, penuh kegelapan.

Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa untuk memenuhi fungsinya, terang harus berada di tempat yang tepat, yaitu di tempat yang bisa dilihat orang (ayat 16). Bukankah “dilihat orang” itu terkesan sombong? Dalam konteks ini tidak, karena tujuannya adalah orang dibawa memuji Tuhan, bukan kebaikan manusia. Berada di tempat yang tepat dimaksudkan agar fungsi terang itu maksimal (ayat 15). Di manakah terang paling berfungsi jika bukan di tempat yang gelap? Kapan orang membutuhkan cahaya untuk melihat kota di atas gunung atau beraktivitas di dalam rumah? Bukankah pada saat gelap meliputi?

Kerap kali pelita orang kristiani “tersembunyi” selama hari kerja, karena yang dianggap pelayanan hanyalah aktivitas hari Minggu di gereja. Padahal, dunia yang butuh diterangi itu mencakup semua bidang kehidupan -hukum dan pemerintahan, bisnis dan ekonomi, kesehatan dan pendidikan, media, bahkan seni, dan hiburan. Ketika menjumpai “kegelapan” di negeri ini, biarlah kita tidak putus harapan, tetapi justru bersemangat, karena di sanalah kesempatan yang sesungguhnya menjadi terang dunia. –LAN

DI MANAKAH ANDA DAN SAYA SEHARUSNYA BERADA

AGAR BANYAK ORANG MELIHAT KEBENARAN DAN MEMULIAKAN TUHAN?

Dikutip : www.sabda.org

ORANG ARAB PUN MENDENGARNYA

Senin, 27 Agustus 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 2:1-13

2:1. Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.

2:2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;

2:3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.

2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

 

2:5. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.

2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?

2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:

2:9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,

2:10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,

2:11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.”

2:12 Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?”

2:13 Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

 

ORANG ARAB PUN MENDENGARNYA

Orang Yahudi perantauan, penganut Yahudi (bukan bangsa Yahudi), orang Kreta dan juga orang Arab; merekalah yang mengucapkan kata-kata dalam ayat pilihan ini. Ya, orang Arab juga turut mendengar perbuatan-perbuatan Allah! Kisah Yesus hangat diperbincangkan di Yerusalem saat mereka tengah di sana. Kisah yang menakjubkan sekaligus menghebohkan. Yesus mati disalib belum berselang lama.

Kini mereka mendengar lanjutan kisah itu. Yesus sudah bangkit. Murid-murid berkata bahwa mereka telah menerima Roh Kudus yang memberi mereka kesanggupan berbicara seperti itu. Publik seketika melihat perbedaan besar. Tak tersirat sedikit pun ketakutan atau keraguan pada murid-murid itu. Petrus si penyangkal. Juga Yohanes yang kabur terbirit-birit sewaktu Yesus ditangkap. Kini mereka, bersama murid-murid Yesus lainnya berbicara dalam bahasa yang dimengerti semua orang yang hadir. Orang Kreta mendengar kesaksian murid-murid itu dalam bahasa mereka. Orang Arab juga mendengarnya dalam bahasa Arab hingga mereka mengerti kisah Yesus itu secara jelas. Kira-kira tiga ribu orang memercayai kebenaran kisah itu sesudahnya (ayat 41).

Hari ini, berita yang sama masih perlu diperdengarkan dengan jelas. Yesus telah menyediakan jalan keselamatan agar manusia yang berdosa dapat kembali hidup memuliakan Allah. Adakah kendala bahasa yang menghalangi kita menyampaikannya? Mohon Roh Kudus menolong kita. Sebagian orang berkomunikasi dengan bahasa formal, akademis, sebagian lagi bahasa gaul. Bahasa daerah beserta dialeknya banyak juga. Dengan cara apa selama ini kita mempercakapkan perbuatan-perbuatan Allah? –MUN

BICARAKANLAH PERBUATAN-PERBUATAN ALLAH DALAM BAHASA

YANG DIMENGERTI TEMAN BICARA. ALLAH SUNGGUH MENGINGINKANNYA!

Dikutip : www.sabda.org

PERLU DIRANGKUL

Minggu, 26 Agustus 2012

Bacaan : 2 Korintus 2:5-11

2:5. Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya–supaya jangan aku melebih-lebihkan–,hati beberapa orang di antara kamu.

2:6 Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu,

2:7 sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat.

2:8 Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia.

2:9 Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu.

2:10 Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, –seandainya ada yang harus kuampuni–,maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus,

2:11 supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.

 

PERLU DIRANGKUL

Pernahkah Anda melakukan kesalahan? Bagaimana perasaan Anda ketika dalam situasi yang demikian, orang-orang menyerang dan menyalahkan Anda? Ada dua kemungkinan. Anda akan menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, menarik diri agar tidak melakukan kesalahan baru. Atau, Anda akan membela diri, berusaha menunjukkan bahwa Anda bukan satu-satunya yang patut dipersalahkan. Masalah tidak dibereskan secara objektif, hubungan pun terancam rusak.

Merusak hubungan antar sesama anggota tubuh Kristus adalah strategi favorit Iblis. Ia tahu anak-anak Tuhan harus saling melengkapi untuk mengerjakan tujuan-tujuan Tuhan di dunia ini. Paulus sangat menyadarinya. Sebab itu, ia memberi peringatan kepada jemaat di Korintus. Tersirat dari bacaan kita, mereka sedang memiliki masalah dengan salah seorang saudara. Teguran demi teguran diberikan. Tapi orang yang bersalah tidak butuh lebih banyak teguran, melainkan pengampunan dan penghiburan untuk menolongnya kembali ke dalam persekutuan dan memperbaiki sikapnya (ayat 7). Tanpa itu ia akan terus terpuruk dengan rasa bersalah dan tidak ditolong untuk bertumbuh.

“Kasihi dia dengan sungguh-sungguh, ” (ayat 8), adalah nasihat yang juga harus dipraktikkan dalam komunitas kita hari ini. Tuhan rindu kita saling membangun dalam pekerjaan baik yang memuliakan Dia. Sebaliknya, Iblis berusaha membuat kita saling menyakiti, sehingga Tuhan yang kita sembah tidak dihormati orang. Bagaimana kita bersikap satu sama lain? Kesalahan perlu ditegur, tetapi orang yang bersalah perlu dirangkul untuk bangkit kembali. Jangan biarkan Iblis beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya! –MEL

ORANG YANG BERSALAH MEMBUTUHKAN PENGAMPUNAN.

JUGA, DORONGAN UNTUK KEMBALI HIDUP MEMULIAKAN TUHAN.

Dikutip : www.sabda.org

MENGUTAMAKAN PILIHAN TUHAN

Sabtu, 25 Agustus 2012

Bacaan : 1 Tawarikh 28:1-10

28:1. Daud mengumpulkan di Yerusalem segala pembesar Israel, yakni para kepala suku, para pemimpin rombongan orang-orang yang melayani raja, para kepala pasukan seribu dan kepala pasukan seratus, serta para kepala harta benda dan ternak kepunyaan raja dan anak-anaknya; bersama-sama mereka juga para pegawai istana dan para perwira dan semua pahlawan yang gagah perkasa.

28:2 Lalu berdirilah raja Daud dan berkata: “Dengarlah, hai saudara-saudaraku dan bangsaku! Aku bermaksud hendak mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN dan untuk tumpuan kaki Allah kita; juga aku telah membuat persediaan untuk mendirikannya.

28:3 Tetapi Allah telah berfirman kepadaku: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah.

28:4 Namun TUHAN, Allah Israel, telah memilih aku dari antara segenap puakku untuk menjadi raja atas Israel selama-lamanya; sebab Ia telah memilih Yehuda menjadi pemimpin, dan puakku dari antara kaum Yehuda, dan dari antara anak-anak ayahku Ia berkenan kepadaku untuk mengangkat aku sebagai raja atas seluruh Israel.

28:5 Dan dari antara anak-anakku sekalian–sebab banyak anak telah dikaruniakan TUHAN kepadaku–Ia telah memilih anakku Salomo untuk duduk di atas takhta pemerintahan TUHAN atas Israel.

28:6 Ia telah berfirman kepadaku: Salomo, anakmu, dialah yang akan mendirikan rumah-Ku dan pelataran-Ku sebab Aku telah memilih dia menjadi anak-Ku dan Aku akan menjadi bapanya.

28:7 Dan Aku akan mengokohkan kerajaannya sampai selama-lamanya, jika ia bertekun melakukan segala perintah dan peraturan-Ku seperti sekarang ini.

28:8 Maka sekarang, di depan mata seluruh Israel, jemaah TUHAN, dan dengan didengar Allah kita, aku berkata kepadamu: Peliharalah dan tuntutlah segala perintah TUHAN, Allahmu, supaya kamu tetap menduduki negeri yang baik ini dan mewariskannya sampai selama-lamanya kepada anak-anakmu yang kemudian.

28:9 Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya.

28:10 Camkanlah sekarang, sebab TUHAN telah memilih engkau untuk mendirikan sebuah rumah menjadi tempat kudus. Kuatkanlah hatimu dan lakukanlah itu.”

MENGUTAMAKAN PILIHAN TUHAN

Seorang teman pernah menceritakan pergumulannya menjelang lulus kuliah. Ia sangat terbeban untuk mengajar anak-anak, tetapi orangtuanya mengharapkan ia meneruskan usaha keluarga. Jika menolak, ia akan dianggap anak tidak berbakti. Jika menuruti, ia merasa tidak sedang mengerjakan panggilan hidupnya. Apa yang harus ia lakukan? Cerita teman saya mungkin mewakili pergumulan banyak keluarga. Orangtua dan anak punya cita-cita berbeda. Mana yang harus diikuti?

Bagian Alkitab yang kita baca membuat saya kembali merenungkan masalah tersebut. Di depan banyak orang, Daud memberi amanat kepada Salomo untuk menjadi penerus kerajaan sekaligus membangun rumah Tuhan. Apakah ini wujud egoisme Daud untuk meraih cita-citanya yang belum kesampaian? Ayat 5-10 memberitahu kita bahwa Daud memilih Salomo bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi karena mengenali pilihan Tuhan atas anaknya yang satu itu. Ia pun berupaya sebaik mungkin mendukung selagi ia hidup. Tak hanya memberi semangat dan nasihat, Daud menyiapkan rancangan, bahan, dan personil untuk menunjang tugas Salomo.

Alangkah indahnya jika anak-anak dan orangtua bersama mencari dan mengenali apa yang Tuhan ingin mereka kerjakan dalam hidup ini. Anggota keluarga saling mendukung, saling melengkapi. Bukan aktualisasi diri atau cita-cita masa lalu yang jadi fokus, melainkan tujuan Tuhan yang menciptakan tiap orang secara unik. Hari ini, pikirkanlah bagaimana Anda dan sesama anggota keluarga dapat mengenali tujuan Tuhan dalam hidup masing-masing, dan bagaimana Anda dapat saling menolong satu sama lain untuk mewujudkannya. –MEL

ADA PANGGILAN UNIK YANG TUHAN PERSIAPKAN BAGI SETIAP ANAK-NYA.

DIA MAU KITA TEMUKAN ITU DAN HIDUP DI DALAMNYA.

Dikutip : www.sabda.org