SEPUNYAMU

Senin, 17 September 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 3:1-10

3:1. Pada suatu hari menjelang waktu sembahyang, yaitu pukul tiga petang, naiklah Petrus dan Yohanes ke Bait Allah.

3:2 Di situ ada seorang laki-laki, yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung. Tiap-tiap hari orang itu diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, yang bernama Gerbang Indah, untuk meminta sedekah kepada orang yang masuk ke dalam Bait Allah.

3:3 Ketika orang itu melihat, bahwa Petrus dan Yohanes hendak masuk ke Bait Allah, ia meminta sedekah.

3:4 Mereka menatap dia dan Petrus berkata: “Lihatlah kepada kami.”

3:5 Lalu orang itu menatap mereka dengan harapan akan mendapat sesuatu dari mereka.

3:6 Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!”

3:7 Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu.

3:8 Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.

3:9 Seluruh rakyat itu melihat dia berjalan sambil memuji Allah,

3:10 lalu mereka mengenal dia sebagai orang yang biasanya duduk meminta sedekah di Gerbang Indah Bait Allah, sehingga mereka takjub dan tercengang tentang apa yang telah terjadi padanya.

SEPUNYAMU

Kisah Para Rasul merupakan kitab yang menunjukkan bahwa sejarah gereja mula-mula benar-benar terjadi tepat seperti yang Yesus firmankan sebelum Dia terangkat ke sorga: “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, … sampai ke ujung dunia” (Kis. 1:8). Jadi, semua tindakan para rasul dan jemaat waktu itu adalah dalam rangka menjadi saksi Kristus, baik melalui tindakan mujizat maupun tindakan yang tampaknya biasa-biasa saja. Seperti tindakan Rasul Petrus.

Rasul Petrus pasti tidak berbohong ketika ia mengaku tidak membawa uang, dan jelas bahwa uang bukan satu-satunya kebutuhan pengemis lumpuh itu. Yang luar biasa dalam kisah ini bukanlah pada fakta bahwa Petrus memiliki karunia mukjizat, melainkan pada fakta bahwa Petrus memberikan apa yang ia miliki pada saat itu untuk menjamah hidup orang lumpuh tersebut. Tuhan memakai sentuhan Petrus yang disertai iman untuk mendemonstrasikan kuasa- Nya. Orang banyak heran dan takjub (ayat 8-11), dan kesempatan proklamasi Injil pun terbuka lebar (ayat 12-26).

Setiap hari kita berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki beragam kebutuhan. Sebagai anak-anak Tuhan, apa yang dapat kita lakukan? Mari memohon hikmat dan kreativitas untuk membagikan apa yang kita punyai sesuai kebutuhan spesifik orang-orang yang kita jumpai. Apapun perbuatan atau pemberian kita (uang, nasi bungkus, baju layak pakai, pembezukan, mobil jemputan, telinga yang mendengar, kata-kata yang menghibur, sentuhan kasih, keterampilan medis, dll.), ketika dilakukan demi dan bagi Kristus, dapat dipakai Tuhan untuk membawa banyak orang takjub akan Dia dan membuka hati untuk mendengarkan Kabar Baik-Nya. –ICW

TUHAN TIDAK MEMINTA YANG TIDAK KITA PUNYA.

SUDAHKAH KITA MEMBERIKAN YANG KITA PUNYA UNTUK DIPAKAI OLEH-NYA?

Dikutip : www.sabda.org

Iklan