JANGAN TAKUT

Senin, 31 Desember 2012

Bacaan: Wahyu 1:9-20

1:9. Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus.

1:10 Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala,

1:11 katanya: “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.”

1:12 Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas.

1:13 Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.

1:14 Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api.

1:15 Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah.

1:16 Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik.

1:17 Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir,

1:18 dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.

1:19 Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.

1:20 Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.”

JANGAN TAKUT

Menurut Anda, bagaimanakah sosok Allah itu? Sebagian orang mungkin membayangkan sosok seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis. Salah satu teman saya pernah bermimpi buruk karena takut dibuang Allah ke neraka. Sebagian lagi mungkin membayangkan sosok yang simpatik dan bersuara lembut. Seperti gambar Yesus yang sering kita lihat. Tersenyum memangku anak-anak, berbelas kasih pada orang sakit. Mungkin Anda ingin memeluk-Nya begitu berjumpa.

Yohanes bisa memberitahu kita bagaimana rasanya bertemu Yesus sebagai Allah dalam kemuliaan-Nya. Jangankan memberi hormat atau memeluk. Tungkai kakinya mendadak lemas untuk menopang tubuhnya. Ia tersungkur seperti orang mati. Wajah Yesus bagai matahari, mata bagai nyala api, suara bagai desau air bah, tangan memegang bintang, dan mulut mengeluarkan pedang (ayat 14-16). Menggentarkan orang paling berani sekalipun! Namun, dengarlah apa kata-Nya: “Jangan takut!” Pernyataan tentang diri-Nya menjamin bahwa semua ada dalam kendali-Nya (ayat 17-18).

Jangan takut! Allah yang dahsyat itu tidak ingin kita merasa takut pada-Nya. Dia ingin kita berlari mendekat, bukan menjauh dari-Nya. Justru karena Dia dahsyat, Dia ingin kita memercayakan hidup kepada-Nya. Seseorang pernah menghitung bahwa ada 365 kali kata “jangan takut” diulangi dalam Alkitab. Jangan takut menghadapi tiap-tiap hari sepanjang tahun yang terbentang di depan! Jangan takut datang kepada Allah! Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika Anda memercayakan hidup pada Allah, apakah yang masih Anda takutkan? –ELS

JANGAN TAKUT!

 SEGALA SESUATU DALAM KENDALI ALLAH!

Dikutip : www.sabda.org

OBITUARI

Minggu, 30 Desember 2012

Bacaan: 2 Petrus 3:1-13

3:1. Saudara-saudara yang kekasih, ini sudah surat yang kedua, yang kutulis kepadamu. Di dalam kedua surat itu aku berusaha menghidupkan pengertian yang murni oleh peringatan-peringatan,

3:2 supaya kamu mengingat akan perkataan yang dahulu telah diucapkan oleh nabi-nabi kudus dan mengingat akan perintah Tuhan dan Juruselamat yang telah disampaikan oleh rasul-rasulmu kepadamu.

3:3. Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.

3:4 Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.”

3:5 Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air,

3:6 dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah.

3:7 Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik.

3:8. Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.

3:9. Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

3:10 Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.

3:11. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup

3:12 yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya.

3:13 Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.

OBITUARI

Sebuah koran pernah keliru memuat obituari Alfred Nobel, selagi ia masih hidup. Yang meninggal sebenarnya adalah adik laki-laki Alfred. Namun, melalui kekeliruan itu, Alfred jadi melihat bagaimana orang lain menilai hidupnya, yaitu sebagai orang yang menjadi kaya dengan memungkinkan terjadinya pembunuhan massal. Memang, bahan-bahan peledak temuan Alfred telah dibeli pemerintah untuk produksi senjata. Terguncang dengan obituari itu, Alfred lalu memutuskan untuk memakai kekayaannya guna memberi penghargaan terhadap upaya-upaya kemanusiaan, termasuk yang kita kenal sebagai Nobel Perdamaian.

Bayangkan jika seperti Alfred, kita mendapat kesempatan untuk membaca obituari kita. Bagaimana jika obituari itu dituliskan dari sudut pandang surga? Orang bisa saja tidak mengenal kita dengan cukup dekat untuk bisa menilai kita, tetapi tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan! Rasul Petrus mengingatkan agar para pengikut Kristus tidak hidup seenaknya sebagaimana orang-orang yang tidak percaya pada hari penghakiman (ayat 3-9). Tuhan tidak lalai akan janji-Nya dan jelas Dia juga takkan lalai memperhatikan setiap detail kehidupan kita!

Selama kita masih hidup di dunia, kita masih diberi kesempatan untuk menyunting obituari kita. Akankah kita menginvestasikan hidup kita dalam hal-hal yang bernilai kekal? Ataukah kita mencurahkan seluruh hidup dalam ambisi pribadi, hidup yang tidak bertanggung jawab, atau kewajiban agama yang kosong? Jelang akhir tahun, mari mohon hikmat Tuhan agar kita dapat membedakan apa yang akan binasa bersama dunia dan apa yang dihargai Tuhan dalam kekekalan. –ELS

HARI TUHAN CEPAT ATAU LAMBAT PASTI TIBA.

 BAGAIMANA KITA MEMPERSIAPKAN DIRI MENGHADAPINYA?

Dikutip : www.sabda.org

BERKAT DARI KRITIK

Sabtu, 29 Desember 2012

Bacaan: Amsal 15:29-33

15:29. TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.

15:30. Mata yang bersinar-sinar menyukakan hati, dan kabar yang baik menyegarkan tulang.

15:31. Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak.

15:32. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi.

15:33. Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.

 

BERKAT DARI KRITIK

Meskipun saya senang belajar dari masukan orang lain, pada praktiknya tidak selalu mudah mencerna dan menerimanya. Suatu kali pemimpin saya mengembalikan sejumlah naskah yang sudah saya tulis dengan susah payah disertai komentar yang intinya mengatakan bahwa naskah-naskah itu harus dirombak ulang. Spontan saya protes dan berusaha membela pendapat saya. Lucunya, ketika pikiran sudah lebih tenang, dan saya membaca ulang komentar-komentar yang diberikan, saya menemukan banyak konsep saya yang memang keliru. Sambil memperbaikinya saya bersyukur. Kritik membangun mencegah saya melakukan kesalahan yang memalukan, sekaligus membuka wawasan dan mengasah ketajaman berpikir saya.

Alkitab memperingatkan kita untuk memiliki sikap yang terbuka untuk diajar. Teguran-teguran yang dimaksudkan untuk membangun haruslah didengarkan (ayat 31). Bukan didengarkan sambil lalu, tetapi diterima dengan pikiran terbuka. Teguran yang membangun itu disamakan dengan didikan, pengajaran yang memberikan akal budi (ayat 32). Rugi besar jika kita mengabaikannya, kita sedang membuang kesempatan untuk maju. Sikap yang mau diajar adalah cerminan kerendahan hati. Jika seseorang tidak cukup rendah hati untuk menerima masukan sesama, mungkinkah ia bisa sepenuh hati mendengarkan didikan Tuhan?

Acap kali pelayanan terhambat dan hubungan dalam tubuh Kristus bermasalah karena kita menolak untuk saling mendengarkan. Kita tidak mau belajar dari orang lain yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Adakah noda keangkuhan hati yang mungkin perlu kita bersihkan hari ini agar kita dapat dengan jernih melihat masukan-masukan yang penuh berkat di sekitar kita? –ELS

TEGURAN YANG TULUS IBARAT PISAU OPERASI.

 DITUJUKAN UNTUK MEMPERBAIKI, BUKAN UNTUK MENYAKITI.

Dikutip : www.sabda.org

KOK BUKAN SAYA?

Jumat, 28 Desember 2012

Bacaan: Matius 20:1-16

20:1. “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.

20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.

20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.

20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.

20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?

20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.

20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.

20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.

20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,

20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.

20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?

20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.

20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

KOK BUKAN SAYA?

Semasa kuliah, saya “laris” diminta menangani acara anak dari berbagai gereja. Sempat tebersit rasa tak rela saat adik-adik kelas bermunculan dan menerima lebih banyak undangan melayani, terutama di tempat-tempat yang baru. Sebenarnya jika diundang, saya akan punya banyak dilema, karena saya sedang sibuk dengan tugas akhir. Namun, entah mengapa, saat itu iri hati tetap muncul meski hanya sesaat.

Perumpamaan Yesus tentang para pekerja di kebun anggur sangat telak menegur sikap iri hati (ayat 15). Para pekerja lama marah karena keberuntungan yang dinikmati oleh para pekerja baru (ayat 11). Mereka tak lagi puas dengan apa yang sudah diterima dan tadinya dianggap cukup (ayat 13). Sebelum perumpamaan ini diberikan, Petrus mempertanyakan upah bagi para pengikut Yesus. Pertanyaan ini muncul setelah ia mendengar Yesus menjanjikan harta di surga bagi orang lain (lihat 19:21, 27). Ketika Yesus berbicara tentang takhta kepada Petrus, muncul pertanyaan baru apakah murid tertentu bisa memiliki posisi tertentu (lihat 19:28, 20:21). Mungkinkah perumpamaan ini diberikan Yesus untuk menangkis potensi iri hati di hati para murid?

Pelayanan bisa rusak apabila iri hati melanda sesama anggota tubuh Kristus. Biasanya kita tidak iri pada orang yang jauh di atas kita atau yang berbeda bidang, tetapi justru pada rekan yang dekat dan kemampuannya mirip dengan kita. Kita perlu mengingatkan diri kita bahwa Allah berdaulat dalam memberikan kemampuan dan berkat-Nya. Ketika kita cemburu, kita sedang menuduh Allah berlaku tidak adil. Dan itu jelas bukan perilaku warga kerajaan Allah! –ITA

PERHATIKANLAH APA YANG DIBERIKAN ALLAH PADA KITA,

 BUKAN APA YANG DIBERIKAN-NYA PADA ORANG LAIN.

Dikutip : www.sabda.org

PANGGILAN YESUS

Kamis, 27 Desember 2012

Bacaan: Matius 24:1-14

24:1. Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah.

24:2 Ia berkata kepada mereka: “Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

24:3 Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?”

24:4. Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!

24:5 Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.

24:6 Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya.

24:7 Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.

24:8 Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.

24:9 Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku,

24:10 dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci.

24:11 Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang.

24:12 Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.

24:13 Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

24:14 Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”

PANGGILAN YESUS

Bagaimana Anda akan menanggapi panggilan untuk mengajar di desa terpencil selama setahun penuh, tanpa listrik dan sinyal telepon seluler? Seruan gerakan Indonesia Mengajar ini jelas bukan panggilan yang menggiurkan. Banyak yang tersentak melihat kesediaan 1.383 sarjana terbaik dari berbagai perguruan tinggi. Mereka siap menghadapi tahun yang sulit karena mereka memercayai visi gerakan ini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagaimana Anda akan menanggapi panggilan yang lebih radikal lagi dari Yesus? Secara ringkas panggilan itu berbunyi: kamu akan menderita karena mengikut Aku. Penderitaan yang disebutkan-Nya tidak hanya setahun, tetapi sampai kesudahan zaman (ayat 8, 13). Kapankah itu? Hingga Injil diberitakan kepada semua suku bangsa (ayat 14). Apakah kita juga tersentak melihat lembaran sejarah sarat dengan orang-orang yang bersedia menerima panggilan ini? Mereka memberikan hidup bagi tersampaikannya Injil kepada generasi kita hari ini. Langkah yang tak mungkin diambil tanpa memercayai ada kehidupan setelah kematian, dan bahwa Yesus Kristus, Pribadi yang memberikan panggilan itu, benar adalah Sang Mesias yang memberikan upah pada kesudahan zaman (ayat 13, bandingkan Wahyu 22:11-22).

Panggilan Yesus bukanlah panggilan untuk hidup mudah. Kita diminta mengikuti jejak-Nya di tengah dunia yang makin durhaka kepada Tuhan. Ketika patah semangat dan tawar hati dalam mengikut Dia, ingatlah kembali siapa Yesus dan mengapa kita memercayai janji-janji-Nya. Dengan mengarahkan pandangan kepada-Nya, kita akan dapat bertahan hingga kesudahan tiba. –HAN

PANGGILAN YESUS KITA SAMBUT BUKAN KARENA MUDAH

 TETAPI KARENA KITA TAHU SIAPA DIA YANG MEMANGGIL KITA.

Dikutip : www.sabda.org

KEPALA DAN TUBUH

Rabu, 26 Desember 2012

Bacaan: Kolose 1:15-23

1:15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,

1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.

1:17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.

1:18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.

1:19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,

1:20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

1:21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,

1:22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.

1:23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

 

KEPALA DAN TUBUH

Dalam sejarah kerajaan Tiongkok, hukuman pancung merupakan pilihan terbanyak dalam melaksanakan hukuman mati. Memisahkan kepala dari tubuh membuat proses kematian cepat dan pasti. Hanya dalam sulap atau film kartun kita bisa menyaksikan kepala terpisah dari tubuh tanpa harus mati.

Dalam menggambarkan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya, rasul Paulus menggunakan analogi kepala dan tubuh ini. Kristus adalah kepala, jemaat adalah tubuh-Nya (ayat 18). Mengapa? Karena Kristus adalah gambaran dari Allah sendiri (ayat 15). Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia (ayat 16). Segala kepenuhan Allah ada di dalam Dia (ayat 19). Itu artinya, apa yang ada dalam Pribadi Allah, juga dinyatakan dalam Pribadi Yesus Kristus. Untuk dapat hidup berkenan pada Allah, tepatlah jika jemaat meneladani Kristus. Lebih dari itu, Kristuslah yang memungkinkan manusia bisa diperdamaikan dengan Allah (ayat 21-22). Tanpa Kristus, tidak ada orang yang berkenan kepada Allah. Itulah alasan Dia disebut Kepala –oleh karena keutamaan-Nya. Sebagai Kepala, Kristus berhak memimpin dan mengarahkan jemaat-Nya.

Bagaimanakah selama ini kita menempatkan Kristus dalam kehidupan pribadi maupun berjemaat? Ketika kita lebih mementingkan aktivitas rohani daripada membangun karakter sesuai firman Tuhan, Kristus sedang tidak diutamakan. Ketika pengharapan Injil digantikan oleh pengharapan atas kekuatan sendiri, Kristus telah digeser dari tempat-Nya. Tanpa kepala, tubuh mati. Tanpa Kristus, tidaklah mungkin komunitas orang percaya dapat tetap hidup berkenan kepada Allah. Apakah Kristus adalah “Kepala” dalam kehidupan Anda? –JAP

JIKA TUBUH TIDAK LAGI TAAT PADA KEPALA,

 KEMUNGKINAN TUBUH SUDAH TERLEPAS DARI KEPALA.

Dikutip : www.sabda.org

NAMANYA YESUS

Selasa, 25 Desember 2012

Bacaan: Lukas 2:21-24

2:21. Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,

2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”,

2:24 dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

NAMANYA YESUS

Seorang pria bertanya kepada pendetanya, “Apa yang harus saya lakukan agar masuk surga?” Jawaban sang pendeta mengejutkannya, “Anda sudah terlambat. Tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk bisa masuk surga.” Dengan gelisah ia bertanya, “Apa maksud Anda, Pak Pendeta? Tidakkah ada sesuatu yang bisa saya lakukan?” Pendeta itu menjawab, “Apa yang harus dilakukan untuk masuk surga telah dikerjakan untuk Anda oleh Yesus, dua ribu tahun silam. Yang perlu Anda lakukan sekarang hanyalah menerima apa yang telah Dia kerjakan bagi Anda. Tidak ada yang bisa Anda tambahkan lagi.”

Nama Yesus berarti “Allah menyelamatkan”. Dan sesuai nama yang diberikan sebelum kelahiran-Nya (lihat Matius 1:21), Dia memang datang ke dalam dunia sebagai jalan keselamatan yang disediakan Allah sendiri. Yesus tidak datang untuk merintis sebuah agama atau membangun sebuah tradisi. Dia datang untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Dia juga disebut Kristus (lihat ayat 11), yang berarti Sang Mesias, Yang Diurapi. Dia disebut Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita (Matius 1:23).

Yang terbaik dari Natal adalah Yesus. Sia-sialah segala perayaan tanpa kehadiran-Nya. Melalui kelahiran Yesus, kita mendengar Allah berkata: “Anakku, tidak ada yang dapat kau lakukan untuk membereskan masalahmu. Sebab itu, Aku sendiri yang akan menolongmu. Aku datang untuk menggantikan rasa frustrasimu dengan kedamaian, kesalahan-kesalahanmu dengan pengampunan, kegelisahanmu dengan pengharapan yang pasti. Maukah engkau memercayai-Ku sepenuhnya?” Bagaimana kita meresponi kasih karunia-Nya ini? –JOE

TIDAK ADA USAHA YANG DAPAT MEMBAWA KITA KEPADA ALLAH.

 YANG DAPAT KITA LAKUKAN ADALAH MENERIMA ANUGERAH-NYA.

Dikutip : www.sabda.org