TANDA ABU

Rabu, 13 Februari 2013

Bacaan: Yunus 3

3:1. Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:

3:2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.”

3:3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.

3:4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”

3:5. Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.

3:6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.

3:7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.

3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.

3:9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”

3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

TANDA ABU

Seorang pria Afrika mendatangi kepala sukunya untuk menyerahkan 8 ekor sapi. Ia mengaku bahwa ketika dulu bekerja pada sang kepala suku, ia mencuri 4 sapi. Kini sapi-sapi itu telah beranak hingga menjadi 8 ekor dan ia hendak mengembalikan semuanya. Ketika ia ditanya, siapa yang menangkapnya dan memintanya mengaku, ia menjawab, “Yesus.” Ia berani melakukannya karena ia mendapatkan damai sejati saat Yesus mengampuninya.

Mendengar itu, kepala suku membebaskannya. Namun berhari-hari sesudahnya, ia tak dapat tidur. Pertobatan pria itu terus membayanginya karena ia sendiri pernah melakukan kesalahan yang sama. Namun, ia bingung karena, jika ingin bertobat dan mendapat damai sejati, ia harus mengembalikan 100 ekor sapi!

Ketika Niniwe mendengar peringatan Yunus tentang hukuman Tuhan, mereka percaya dan menanggapinya dengan benar. Dari orang dewasa, anak-anak, bahkan sampai ternak mereka, berpuasa. Raja pun memakai kain kabung dan duduk di atas abu, sebagai tanda penyesalan. Semua memiliki tekad yang sama: memohon ampun dan berbalik dari kejahatan (ay. 8). Dan, oleh belas kasihan-Nya yang tak masuk akal bagi manusia, Niniwe tak jadi dihukum (ay. 10).

Abu adalah tanda perkabungan, penyesalan. Abu menjadi simbol yang mengingatkan janji kita kepada Tuhan untuk mati terhadap dosa masa lalu dan memiliki cara hidup yang baru bersama kebangkitan Kristus. Pasti bukan langkah mudah. Namun, Tuhan menawarkan damai sejati dan kelepasan dari segala beban rasa bersalah ketika kita melakukannya. –AW

PERTOBATAN BERARTI KITA MENGASIHI JURUSELAMAT KITA

 LEBIH DARIPADA KITA MENYAYANGI DOSA KITA -KENT CROCKETT

Dikutip : www.sabda.org

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: