Ketika Dunia Berbalik Menyerang Kita

Bacaan: Lukas 22:47-53

Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?– Lukas 22:48

Ini tidak adil. Ini sangat tidak manusiawi. Bahkan sangat tidak masuk akal dilakukan oleh manusia-manusia yang berakal budi. Bukankah Yesus tidak pernah melakukan yang buruk? Sedikitpun tidak. Ia selalu berbuat baik. Ia selalu memberi pertolongan, bahkan ketika saatNya belum tiba pun, Ia tetap menyelamatkan muka keluarga mempelai di Kana. Ia tidak pernah menggosipkan orang lain, apalagi memfitnahnya. PerkataanNya manis, lembut dan menyegarkan siapa saja yang letih. Ia tidak pernah meminta atau menuntut lebih, Ia selalu memberi. Ia tidak pernah menjadi batu sandungan, Ia menjadi berkat. Ia membuat mujijat dan memberikannya kepada mereka yang butuh mujijat. Tak terhitung lagi kaki lumpuh yang bisa berjalan, atau mata buta yang celik, si bisu yang akhirnya berujar, atau si tuli yang sekarang bisa enjoy dengar musik easy listening.

Yesus buat semuanya itu. Tapi apa yang Ia dapat? Pengkhianatan. Olokan. Cercaan. Tatapan sinis. Bahkan paduan suara yang sedemikian kompak, “Salibkan Dia!” Bisa jadi yang berteriak lantang adalah mereka yang pernah mengecap kebaikanNya atau bahkan yang mengalami sendiri mujijatNya. Dua belas murid yang Ia andalkan juga tiba-tiba melempem. Nyalinya ciut dan memilih menyelamatkan diri masing-masing. Meski semula mereka gembar-gembor bahwa nyawa pun akan dipertaruhkan demi guruNya. Pengkhianatan. Bukan hanya Yudas saja, tapi sebenarnya semua murid mengkhianati Dia, karena membiarkan Dia sendirian menanggung semuanya itu.

Yesus dikhianati oleh orang-orang yang selama tiga tahun terakhir ini selalu bersamaNya. Yesus disalibkan oleh orang-orang yang pernah ditolongNya. Mungkin saja mereka yang memaki Yesus adalah mereka juga yang pernah dibuatnya bicara dari kebisuan. Yesus mengalami semuanya itu, tapi Ia tetap teguh. KasihNya tidak tergoncang. Pengkhianatan tak mampu mengubah kasihNya. Meski dunia berbalik melawanNya, Ia tetap mengampuni. Teladan hidup yang luar biasa.

Bagaimana jika dunia berbalik melawan kita? Bagaimana jika orang yang pernah kita tolong memberikan ciuman Yudas? Marilah kita belajar dari Yesus. Hidup yang dikuasai kasih. Memang berat. Daging kita berontak. Logika kita tidak bisa menerima. Bagaimana mungkin mengasihi mereka yang berbalik melawan kita. Tapi itulah kasih. Kasih bukanlah kasih kalau tidak bisa mengasihi musuh kita.

Apakah kita tetap mengasihi mereka yang berbalik melawan kita?

(Kwik)

» Artikel Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit

Iklan

Penyakit Menunda

penyakit_menunda

Bacaan: Amsal 13:1-25

Harapan yang tertunda menyedihkan hati …– Amsal 13:12

Kerjakanlah apa yang bisa Anda kerjakan hari ini! Jika tidak, Anda akan membayar mahal di kemudian hari. Terlalu berlebihankah? Saya rasa tidak, sebab seringkali saya harus membayar dengan mahal akibat dari penundaan yang pernah saya lakukan. Saya lebih mudah jadi stress ketika melihat setumpuk pekerjaan yang tidak ada hentinya. Saya makin frustasi ketika waktu terus bergulir mendekati dead-line yang sudah ditentukan. Waktu-waktu itulah saya berubah jadi mahkluk yang sangat sensitif. Jangan coba macam-macam dengan saya. Sedikit kata gurauan bisa berarti ucapan serius di telinga saya.

Pekerjaan yang saya lakukan pun tak ubahnya dengan kegiatan rodi yang sangat menyiksa. Saya kehilangan taste dari setiap pekerjaan yang saya lakukan. Saya sama sekali tidak bisa menikmati pekerjaan di saat terburu-buru seperti itu. Itu semua bermula dari sebuah penundaan yang saya lakukan.

Kadangkala kita juga melakukan hal yang sama, melakukan penundaan demi penundaan dengan sebuah pemikiran, “ Aku toh bisa mengerjakan keesokan harinya.” Tanpa kita tahu bahwa hari esok sudah memiliki kesibukannya sendiri. Bagi banyak orang hal ini mungkin dianggap sangat sepele, tapi bukankah kadangkala kita kehilangan kesempatan-kesempatan berharga itu berlalu begitu saja hanya karena kita menunda untuk segera melakukannya?

Jangan pernah menunda apa yang bisa kita kerjakan pada hari ini. Ini adalah salah satu prinsip kesuksesan yang sangat penting. Biasakanlah diri untuk selalu menunda-nunda, maka kesuksesan yang kita impikan juga akan tertunda. Napoleon Hill, seorang motivator berkata, “Yang berarti bukan apa yang akan Anda kerjakan melainkan apa yang sedang Anda kerjakan sekarang.” Banyak orang gagal meraih kesuksesan karena penyakit suatu hari. Mereka harusnya bisa meraih kesuksesan pada hari ini, tetapi mereka memilih untuk menundanya dan berkata akan melakukannya pada suatu hari. Apa yang bisa kita kerjakan pada hari ini adalah anugerah Tuhan yang harus kita responi dengan cepat. Jika kita menunda untuk melakukannya, ada kalanya itu berarti kita secara tidak sengaja menolak berkat dan keberhasilan yang diberikan oleh Tuhan bagi kita pada hari ini. Jadi, jangan biasakan untuk melakukan penundaan dan terjangkit dengan penyakit suatu hari.

Jangan pernah menunda apa yang bisa kita kerjakan pada hari ini.

(Kwik)

Sumber : www.renungan-spirit.com

Kepingan Kecil

Bacaan: I Samuel 17:34

Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam… – I Samuel 17:1-58

kepingan_kecil

Hidup merupakan akumulasi. Kesuksesan besar yang kita capai hari ini tidak terjadi tiba-tiba, melainkan akumulasi dari kesuksesan-kesuksesan kecil yang berhasil kita capai. Demikian juga kegagalan besar yang terjadi biasanya tidak terjadi dengan tiba-tiba, karena kegagalan besar juga merupakan akumulasi dari kegagalan-kegagalan kecil yang tidak pernah kita sadari atau kita abaikan begitu saja.

Keberhasilan Daud menjadi raja Israel juga tidak terjadi dengan tiba-tiba. Semuanya melalui kejadian-kejadian kecil yang terakumulasi. Dia harus setia menggembalakan beberapa dombanya sebelum ia bisa menggembalakan bangsa yang besar. Dia harus mengalahkan singa dan beruang dulu sebelum bisa mengalahkan Goliat.

Dulu berat badan saya hanya berkisar di angka 60-an kg, namun sekarang berat badan saya sudah 75 kg. Pertambahan berat badan sebanyak 15 kg itu tidak terjadi dengan tiba-tiba. Jika saya bangun tidur dengan berat badan bertambah 15 kg tentu saja akan shock dan cepat-cepat pergi ke rumah sakit. Namun berbeda jika pertambahan berat badan itu terjadi secara perlahan dan bertahap, saya hampir tidak pernah menyadari bahwa berat badan saya sudah melebihi berat badan ideal. Saya baru sadar setelah melihat kenyataan bahwa pakaian saya sudah tidak muat lagi.

Kesuksesan maupun kegagalan dalam hidup sangat mirip dengan illustrasi tersebut. Semuanya berasal dari hal-hal kecil yang terus terakumulasi. Jangan pernah abaikan hal-hal kecil. Jika kita mengabaikan kerikil kecil kita akan tersandung batu besar, jika kita mengabaikan batu besar kita akan tersandung batu raksasa. Demikian juga jika kita unggul di dalam hal kecil, kita akan lebih mudah untuk bisa unggul di hal yang lebih besar dan seterusnya. Seandainya kita sangat sadar bahwa hidup merupakan akumulasi, kita akan menghargai kepingan-kepingan kecil dalam perjalanan hidup kita, karena dari kepingan-kepingan kecil itulah terbentuk gambar besar hidup kita yang sebenarnya.

Hidup merupakan akumulasi, setiap kepingan-kepingan kecil dalam hidup sangatlah berharga.

(Kwik)

Atur Waktu

atur_waktu

Bacaan: Efesus 5:15-17

dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.– Efesus 5:16

Jangan selalu berpikir bahwa orang sukses adalah orang yang super sibuk hingga sampai kekurangan waktu. Orang sukses adalah mereka yang bisa mengatur waktu dengan bijak hingga ia merasa 24 jam dalam sehari adalah waktu yang sangat cukup untuk menikmati pekerjaan, keluarga, hobi, dan hubungan dengan Tuhan. Jika dengan 24 jam sehari kita masih merasa kurang waktu, itu memberi indikasi bahwa kita belum bisa mengatur waktu kita dengan bijak. Pengelolaan waktu yang bijak sangat penting untuk memaksimalkan pekerjaan kita sehari-hari. Berikut ini ada tujuh teknik yang bisa membantu Anda mengelola waktu dengan lebih bijak.

Satu, buatlah skala prioritas. Susunlah skala prioritas yang tepat, yaitu dengan mendahulukan lebih dulu pekerjaan yang penting dan mendesak, kemudian pekerjaan yang mendesak meski tidak begitu penting, dilanjutkan dengan pekerjaan yang penting dan tidak mendesak. Prioritas terakhir adalah pekerjaan yang tidak penting dan juga tidak mendesak.

Dua, kelompokkanlah aktivitas-aktivitas yang berkaitan untuk menghemat waktu. Cara ini sangat efektif agar kita tidak boros waktu atau membuang waktu dengan percuma.

Ketiga, bagilah pekerjaan besar menjadi tugas-tugas kecil, ini akan membuat pekerjaan kita terlihat lebih mudah untuk diselesaikan.

Keempat, buatlah dead-line untuk setiap pekerjaan kita. Dengan cara ini kita akan selalu terpacu untuk lebih mendisplin diri menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu.

Kelima, jangan mengerjakan beberapa tugas sekaligus, sebaliknya kerjakanlah satu per satu. Ini akan membuat kita kebih konsentrasi, waktu pun bisa lebih dihemat.

Keenam, selesaikanlah pekerjaan kita sampai tuntas. Jika tidak tuntas, suatu saat kita pasti akan meluangkan waktu yang lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai tersebut.

Ketujuh, lakukanlah sekarang dan jangan menundanya. Jika kita menundanya, kita tetap saja harus menyelesaikan pekerjaan tersebut, plus bunga penundaannya! Akibatnya, waktu kita akan lebih boros lagi. Jadi, bijak-bijaklah mengatur waktu.

Bukan masalah waktu 24 jam sehari yang kurang, tapi cara mengelola waktu yang kurang bijak.

(Kwik)

Janji Kelimpahan

janji_kelimpahan

Pialaku penuh melimpah. Mazmur 23:5

Ini lebih dari yang biasa. Ini melampaui standar rata-rata. Benar-benar ada garis perbedaan yang jelas. Bukan hanya hidup dalam kecukupan, tapi juga hidup
dalam segala kelimpahan. Bukan hanya biasa-biasa saja, tapi sungguh hal-hal yang luar biasa.

Janji kelimpahan adalah bagian dari kehidupan orang percaya. Piala kita tidak hanya dibuat penuh, tapi juga melimpah. Piala kita meluber keluar. Kita selalu
memiliki lebih dari cukup untuk membagikan sesuatu kepada orang lain karena apa yang kita miliki sudah terlalu penuh.

Bukankah sejujurnya kehidupan yang berkelimpahan merupakan keinginan banyak orang, termasuk kita juga? Memiliki kemerdekaan secara finansial dan tidak
diperbudak oleh uang sungguh menyenangkan. Memiliki keluarga yang harmonis dan hidup dalam kasih sungguh anugerah luar biasa. Sukses dalam pekerjaan dan
menjadi berkat bagi banyak orang adalah hal yang membahagiakan. Mengikut, melayani Tuhan dan memaksimalkan hidup adalah kesempatan terindah.

Sebenarnya itulah kelimpahan dalam arti yang lebih luas. Tidak hanya diberkati secara finansial saja, tapi juga kebutuhan kita secara emosi dan spiritual juga
terpenuhi dengan melimpah.

Anda mendambakan kehidupan yang seperti itu? Saya sangat mendambakannya, bahkan saya sedang menikmatinya. Bagaimana dengan Anda? Rugi besar kalau kita tidak hidup dalam kelimpahan sementara Gembala kita sudah berjanji akan membuat piala kita penuh dengan minyak, bahkan sampai melimpah-limpah. Alami terobosan baru dalam kehidupan Anda dan selamat berkelimpahan!

Pause

Bacaan: Pengkhotbah 3:1-15

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.– Pengkhotbah 3:1

pause

Kita hidup di tengah jaman yang rentan terhadap stres. The National Center for Health Statistic melaporkan bahwa hampir satu juta orang setahun meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh stres yang tidak tertangani. Dari sebuah hasil polling disimpulkan bahwa 86% orang Amerika mengaku mengalami stres kronis. Jika di negara yang sudah maju seperti Amerika saja mengalami tingkat stres yang sedemikian tinggi, bagaimana di negara kita yang kondisi ekonominya tengah terpuruk dan yang tak henti-hentinya di rundung bencana? Atau jangan-jangan kita malah sudah kebal terhadap stres karena sudah terbiasa dengan tekanan hidup?

Tingkat stres makin tinggi. Kebutuhan hidup semakin banyak. Tagihan-tagihan menuntut dilunasi. Belum lagi melihat kenyataan bahwa kita hidup di dunia yang serba cepat dan tampaknya kita tidak menemukan tombol stop atau bahkan pause dalam remote control hidup kita. Kesibukan yang luar biasa di dalam pekerjaan kita turut andil dalam menciptakan ruang stres bagi hidup kita. Wayne Muller berkata dengan nada menyindir, “Tidak punya waktu untuk teman-teman dan keluarga, tidak punya waktu untuk menikmati matahari terbenam, memenuhi kewajiban-kewajiban kita tanpa punya waktu sedetikpun untuk menarik napas, ini telah menjadi model dari kehidupan yang sukses.”

Menurut penelitian, balita rata-rata tertawa sekitar 200 kali per hari. Tetapi begitu si bayi menjadi dewasa, tawanya merosot drastis menjadi hanya 6 kali per hari. Barangkali untuk menghindari dari kehidupan yang penuh dengan stres kita perlu belajar dari anak kecil. Anak kecil tidak pernah tergesa-gesa di dalam hidup dan selalu punya waktu untuk menikmati kehidupan yang sebenarnya. Apakah Anda sedang stres hari ini? Saya sarankan untuk memperlambat hidup Anda, kalau perlu milikilah waktu untuk memencet tombol pause dalam remote control hidup Anda, hingga Anda bisa beristirahat barang sejenak dan mulai menikmati kembali hal-hal yang sudah lama tidak Anda lakukan. Bersantailah! Hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja.

Kita tidak perlu stres seandainya memiliki tombol stop atau pause dalam remote control hidup kita.

(Kwik)

» Artikel Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit

Persiapan

Bacaan: Lukas 14:28-35

raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan,– Lukas 14:31

persiapan

Keberhasilan atau kegagalan seseorang di meja kerja sebenarnya bisa diprediksi dengan melihat sejauh mana persiapan atau perencanaan yang dilakukan. Jika tak ada persiapan yang bagus dan rencana yang matang, maka bisa dipastikan bahwa langkah berikutnya akan menjadi sulit untuk dijalani dan akhirnya akan macet di tengah jalan, gagal mencapai tujuan yang diinginkan!

Tanpa persiapan dan perencanaan yang matang adalah sama seperti seorang climber yang tak mempersiapkan dengan baik pendakian gunung yang akan dilakukannya. Tak mempelajari dulu keadaan geografis gunung yang akan didaki, sehingga tak tahu bagaimana cuacanya, berapa derajat suhu kedinginannya, dan berapa tinggi tanjakannya. Lebih parah lagi, jika ia tak mempersiapkan bekal yang cukup dan alat-alat pendakian yang komplit serta memadai. Dijamin, pendaki yang gagal dalam persiapan ini sedang mempersiapkan kegagalan dalam pendakiannya.

Mount Everest telah memakan korban begitu banyak. Para pendaki yang mencoba menaklukkannya tapi tak punya cukup persiapan akan mati di sana. Pendaki pertama yang berhasil menaklukan Mount Everest adalah Tenzing Norgay pada tahun 1953. Tahukah Anda kunci kesuksesan Norgay? Persiapan yang matang! Ia mempersiapkan selama 18 tahun! Selama kurun waktu itu ia terus mempelajari seluk beluk Mount Everest dengan begitu detail, sambil latihan mendaki di gunung tertinggi di dunia itu step by step. Keberhasilan dalam perencanaan inilah yang akhirnya membuat ia mampu menaklukkan Mount Everest.

Persiapan dan perencanaan tak bisa dipandang sebelah mata. Di saat Anda sukses dalam melakukan persiapan dan perencanaan, sebenarnya Anda sudah memenangkan separuh pertandingan. Sisanya tergantung bagaimana Anda melakukan segala sesuatu yang sudah dipersiapkan itu dengan baik.

Kegagalan untuk mempersiapkan adalah mempersiapkan kegagalan.


Dikutip dari  www.renungan-spirit.com
(Kwik)