MEMAHAT MARMER CARRARA

Jumat, 26 April 2013

Bacaan   : Yesaya 48:1-11

48:1. Dengarlah firman ini, hai kaum keturunan Yakub, yang menyebutkan dirinya dengan nama Israel dan yang adalah keturunan Yehuda, yang bersumpah demi nama TUHAN dan mengakui Allah Israel–tetapi bukan dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati–

48:2 bahkan mereka menyebutkan dirinya menurut kota kudus dan mereka bertopang kepada Allah Israel, TUHAN semesta alam nama-Nya;

48:3 firman TUHAN: “Hal-hal yang terjadi di masa yang lampau telah Kuberitahukan dari sejak dahulu, Aku telah mengucapkannya dan telah mengabarkannya. Kemudian dengan sekonyong-konyong Aku melaksanakannya juga dan semuanya itu sudah menjadi kenyataan.

48:4 Oleh karena Aku tahu, bahwa engkau tegar tengkuk, keras kepala dan berkepala batu,

48:5 maka Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya.

48:6 Engkau telah mendengar semuanya itu dan sekarang engkau harus melihatnya; tidakkah kamu sendiri mau mengakuinya? Aku mengabarkan kepadamu hal-hal yang baru dari sejak sekarang, dan hal-hal yang tersimpan yang belum kauketahui.

48:7 Baru sekarang hal-hal itu diciptakan dan bukan dari sejak dahulu, dan sebelumnya engkau tidak mendengarnya, supaya jangan engkau berkata: Memang aku telah mengetahuinya!

48:8 Engkau tidak mendengarnya ataupun mengetahuinya, juga telingamu tidak terbuka dari sejak dahulu; tetapi Aku telah mengetahui, bahwa engkau berbuat khianat sekeji-kejinya, dan bahwa orang menyebutkan engkau: pemberontak sejak dari kandungan.

 

48:9. Oleh karena nama-Ku Aku menahan amarah-Ku dan oleh karena kemasyhuran-Ku Aku mengasihani engkau, sehingga Aku tidak melenyapkan engkau.

48:10 Sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan.

48:11 Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!”

 

MEMAHAT MARMER CARRARA

Sebongkah marmer Carrara raksasa teronggok di depan teras gereja selama hampir 100 tahun. Di sana-sini terdapat carut-marut bekas pahatan para pematung sebelumnya, yang menyerah karena kerasnya marmer itu. Tak ada yang sanggup menaklukkannya. Sampai suatu hari, seorang anak muda 26 tahun jatuh cinta padanya. Ia memahatnya sampai menjadi salah satu patung terindah di dunia. Sekarang, adikarya itu dikenal sebagai “David”. Pematungnya tidak lain Michelangelo.

Ada yang lebih keras dari marmer Carrara, yaitu hati bangsa Israel. Allah begitu geram sampai menjuluki mereka tegar tengkuk dan keras kepala (ay. 4). Mereka telah mengalami banyak kebesaran dan kasih Allah, tetapi mereka mengabaikan Dia dengan menyembah berhala (ay. 5-8). Apa yang dilakukan-Nya terhadap kekerasan hati mereka?

Pertama, Dia mengasihani mereka. Dia tidak membinasakan mereka walaupun mereka patut menerimanya (ay. 9). Kedua, Dia tidak tinggal diam. Dia mengubah mereka melalui aneka pendisiplinan (ay. 10). Bila marmer Carrara hanya bisa ditaklukkan oleh Michelangelo, hati manusia hanya bisa ditaklukkan oleh Allah. Dialah Spesialis hati yang keras!

Kekerasan hati manusia bukanlah jalan buntu bagi Allah. Mungkin Anda sedang mendoakan seseorang yang keras hati. Kalau begitu, Anda berdoa pada Pribadi yang tepat. Atau, mungkin Andalah orang yang keras hati itu. Kalau begitu, Allah belum menyerah pada Anda. Jika perlu, Dia akan mendisiplinkan Anda, supaya Anda kembali kepada-Nya. –JIM

ALLAH LEBIH GIGIH DALAM MENGASIHI KITA YANG KERAS KEPALA

 TIDAK MENGASIHI DIA.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Iklan

KISAH NAMA

Kamis, 25 April 2013

Bacaan   : Filemon 1

1:1. Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami

1:2 dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu:

1:3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

1:4 Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku,

1:5 karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus.

1:6 Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus.

1:7 Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku.

1:8. Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan,

1:9 tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,

1:10 mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus

1:11 –dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.

1:12 Dia kusuruh kembali kepadamu–dia, yaitu buah hatiku–.

1:13 Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil,

1:14 tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.

1:15 Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya,

1:16 bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.

1:17 Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.

1:18 Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku–

1:19 aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya–agar jangan kukatakan: “Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!” –karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.

1:20 Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburkanlah hatiku di dalam Kristus!

1:21 Dengan percaya kepada ketaatanmu, kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih dari pada permintaanku ini akan kaulakukan.

1:22 Dalam pada itu bersedialah juga memberi tumpangan kepadaku, karena aku harap oleh doamu aku akan dikembalikan kepadamu.

1:23 Salam kepadamu dari Epafras, temanku sepenjara karena Kristus Yesus,

1:24 dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku.

1:25 Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kamu!

KISAH NAMA

Nama adalah doa! Demikian kata orangtua. Dalam suratnya kepada Filemon, Paulus juga memaknai nama secara menggelitik.

Nama Onesimus berarti “berguna”. Ia menjadi tak berguna ketika lari dari tuannya, Filemon (ay. 1). Setelah bertemu dengan Paulus di penjara, ia berubah menjadi orang yang “berguna” (ay. 10). Paulus malah menyebutnya “saudara yang kekasih”, yang “sangat berguna” (ay. 11). Dalam bahasa aslinya, Paulus menggunakan permainan kata untuk menegaskan arti nama Onesimus: “dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku” (ay. 11). Paulus juga menyebutnya: “buah hatiku” (ay. 12). Paulus meminta pada Filemon (namanya berarti: yang mengasihi), agar bersedia menerima kembali Onesimus “bukan lagi sebagai hamba, melainkan… sebagai saudara yang kekasih” (ay. 16). Paulus menjamin dan mau mengganti semua kerugian yang dialami Filemon karena tindakan Onesimus.

Karya Kristus telah mempertobatkan Paulus (semula bernama Saulus), Filemon, dan kini Onesimus. Siapa pun nama kita, pertobatan membuat kita menjadi berguna! Tak ada ukuran tentang seberapa indah suatu nama; yang penting adalah seberapa besar kita berguna bagi sesama. Di dalam Tuhan, kita berguna ketika kita “menghibur hati seseorang di dalam Kristus” (ay. 20). Sudahkah kehadiran kita menghiburkan hati sesama? Atau malah sebaliknya, kehadiran kita membuat mereka berduka? Mari kita menjadi orang yang berguna oleh anugerah Kristus, yang memanggil kita dalam karya-Nya! –CHA

OLEH ANUGERAH DAN KARYA KESELAMATAN KRISTUS

 AKU DIUBAH MENJADI ORANG YANG BERGUNA BAGI ALLAH DAN SESAMA.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

MELAYANI DENGAN RENDAH HATI

Rabu, 24 April 2013

Bacaan   : Lukas 14:7-14

14:7. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

14:8 “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,

14:9 supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.

14:10 Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain.

14:11 Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

14:12 Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.

14:13 Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.

14:14 Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

 

MELAYANI DENGAN RENDAH HATI

Biasanya orang sangat senang menerima penghargaan karena itu menunjukkan kemampuan dan kelebihannya. Namun, penghargaan juga bisa membuat orang menjadi tinggi hati. Dalam bacaan kita, Yesus mengajarkan bagaimana menjadi tamu dan tuan rumah yang seharusnya.

Dalam perumpamaan pertama, Yesus memperingatkan bahwa penghargaan bukanlah suatu ambisi yang kita kejar, melainkan suatu anugerah. Jangan bersikap merasa layak untuk mendapatkan tempat terhormat, bisa jadi sikap itu malah berbalik mempermalukan diri sendiri, terlebih jika kita berhadapan dengan orang yang memang lebih pantas mendapatkannya. Kalau memang layak, kita pasti akan mendapatkan penghargaan. Rendah hati bukan sikap tidak menghargai diri sendiri, melainkan tahu bagaimana menempatkan diri. Jika menjadi tuan rumah suatu perjamuan, menurut Yesus, yang perlu kita undang bukanlah orang kaya dan terkenal, sahabat atau kerabat. Sebaliknya, kita mengundang orang yang tidak bisa membalas pemberian kita, mereka yang layak menerima belas kasih kita. Hendaknya kita menunjukkan sikap tidak membeda-bedakan kelas atau status sosial. Sikap rendah hati dan keramahtamahan semacam itu mendatangkan berkat Tuhan.

Jadi, daripada ingin dihormati orang banyak, lebih baik kita memikirkan siapakah yang seharusnya kita layani. Dalam Kerajaan Allah, ketika melayani orang lain yang paling ‘hina’, kita telah melayani Tuhan kita, Yesus Kristus. Melayani dengan rendah hati akan memancarkan kemuliaan Tuhan. –ENO

DARIPADA BERJUANG KERAS UNTUK MENDAPATKAN PENGHARGAAN,

 LEBIH BAIK MEMUSATKAN PERHATIAN UNTUK MELAYANI ORANG LAIN.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

MAKNA SEBUAH PEKERJAAN

Selasa, 23 April 2013

Bacaan   : Kolose 3:18-25

3:18. Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.

3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

3:20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.

3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

3:22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

3:24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

3:25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.

 

MAKNA SEBUAH PEKERJAAN

Ketika saya mulai mengikuti program pascasarjana, dosen pembimbing memberikan suatu nasihat. Ia mengatakan, meskipun dirinya menjadi sponsor atas proyek penelitian yang saya kerjakan, saya harus memandang dan menganggap proyek itu sebagai proyek pribadi saya. Saya harus berpikir bahwa saya bukan sedang mengabdi kepadanya, melainkan kepada masyarakat dan masa depan saya sendiri. Pemikiran ini, menurutnya, penting untuk mendorong saya bekerja dengan bersungguh-sungguh.

Keseriusan kita dalam mengerjakan sesuatu seringkali memang ditentukan oleh makna yang kita berikan pada pekerjaan tersebut. Konsep inilah yang melatarbelakangi nasihat Paulus kepada jemaat di Kolose dalam nas hari ini. Secara khusus, Paulus memberikan penjelasan mengenai pekerjaan para hamba. Ia menasihati mereka untuk memaknai pekerjaan mereka sebagai pelayanan kepada Tuhan yang pasti akan dibalas-Nya dengan upah surgawi. Paulus percaya bahwa dengan pemaknaan ini, mereka akan mampu mengerjakan pekerjaan mereka dengan berintegritas dan tulus hati.

Pemaknaan semacam itu bukan hanya berlaku bagi para hamba, namun juga bagi kita semua dalam mengerjakan tugas apa pun. Tugas harian kita sebagai pekerja, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya kadang terasa melelahkan, bahkan menyebalkan. Ada kalanya kita melakukannya dengan malas-malasan. Akan tetapi, kalau kita memaknainya sebagai pelayanan yang berharga di mata Tuhan, niscaya kita akan terdorong untuk terus berusaha mengerjakannya dengan sebaik mungkin –ALS

MEMAKNAI TUGAS SEBAGAI PELAYANAN KEPADA TUHAN

MENGGUGAH KITA UNTUK MERAIH KEUNGGULAN.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

MAKNA SEBUAH PEKERJAAN

Selasa, 23 April 2013

Bacaan   : Kolose 3:18-25

3:18. Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.

3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

3:20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.

3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

3:22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

3:24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

3:25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.

 

MAKNA SEBUAH PEKERJAAN

Ketika saya mulai mengikuti program pascasarjana, dosen pembimbing memberikan suatu nasihat. Ia mengatakan, meskipun dirinya menjadi sponsor atas proyek penelitian yang saya kerjakan, saya harus memandang dan menganggap proyek itu sebagai proyek pribadi saya. Saya harus berpikir bahwa saya bukan sedang mengabdi kepadanya, melainkan kepada masyarakat dan masa depan saya sendiri. Pemikiran ini, menurutnya, penting untuk mendorong saya bekerja dengan bersungguh-sungguh.

Keseriusan kita dalam mengerjakan sesuatu seringkali memang ditentukan oleh makna yang kita berikan pada pekerjaan tersebut. Konsep inilah yang melatarbelakangi nasihat Paulus kepada jemaat di Kolose dalam nas hari ini. Secara khusus, Paulus memberikan penjelasan mengenai pekerjaan para hamba. Ia menasihati mereka untuk memaknai pekerjaan mereka sebagai pelayanan kepada Tuhan yang pasti akan dibalas-Nya dengan upah surgawi. Paulus percaya bahwa dengan pemaknaan ini, mereka akan mampu mengerjakan pekerjaan mereka dengan berintegritas dan tulus hati.

Pemaknaan semacam itu bukan hanya berlaku bagi para hamba, namun juga bagi kita semua dalam mengerjakan tugas apa pun. Tugas harian kita sebagai pekerja, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya kadang terasa melelahkan, bahkan menyebalkan. Ada kalanya kita melakukannya dengan malas-malasan. Akan tetapi, kalau kita memaknainya sebagai pelayanan yang berharga di mata Tuhan, niscaya kita akan terdorong untuk terus berusaha mengerjakannya dengan sebaik mungkin –ALS

MEMAKNAI TUGAS SEBAGAI PELAYANAN KEPADA TUHAN

MENGGUGAH KITA UNTUK MERAIH KEUNGGULAN.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

IBU YANG IRI

Minggu, 21 April 2013

Bacaan   : 1 Raja-raja 3:16-28

3:16. Pada waktu itu masuklah dua orang perempuan sundal menghadap raja, lalu mereka berdiri di depannya.

3:17 Kata perempuan yang satu: “Ya tuanku! aku dan perempuan ini diam dalam satu rumah, dan aku melahirkan anak, pada waktu dia ada di rumah itu.

3:18 Kemudian pada hari ketiga sesudah aku, perempuan inipun melahirkan anak; kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah.

3:19 Pada waktu malam anak perempuan ini mati, karena ia menidurinya.

3:20 Pada waktu tengah malam ia bangun, lalu mengambil anakku dari sampingku; sementara hambamu ini tidur, dibaringkannya anakku itu di pangkuannya, sedang anaknya yang mati itu dibaringkannya di pangkuanku.

3:21 Ketika aku bangun pada waktu pagi untuk menyusui anakku, tampaklah anak itu sudah mati, tetapi ketika aku mengamat-amati dia pada waktu pagi itu, tampaklah bukan dia anak yang kulahirkan.”

3:22 Kata perempuan yang lain itu: “Bukan! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati.” Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: “Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.” Begitulah mereka bertengkar di depan raja.

3:23 Lalu berkatalah raja: “Yang seorang berkata: Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati. Yang lain berkata: Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.”

3:24 Sesudah itu raja berkata: “Ambilkan aku pedang,” lalu dibawalah pedang ke depan raja.

3:25 Kata raja: “Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain.”

3:26 Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: “Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia.” Tetapi yang lain itu berkata: “Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!”

3:27 Tetapi raja menjawab, katanya: “Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya.”

3:28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

 

IBU YANG IRI

Pernahkah Anda merasa kurang beruntung dari orang lain? Anda sepertinya terus ditimpa kesusahan, sedangkan teman-teman Anda tampak bahagia, makmur, dan mapan? Lalu, adakah ketidakpuasan itu membangkitkan sikap permusuhan dalam hati Anda? Anda menjadi tidak suka pada orang-orang di sekeliling Anda? Atau, lebih parah lagi, Anda ingin merampas kebahagiaan orang yang lebih beruntung itu?

Rasa tidak suka melihat orang lain lebih beruntung adalah kecenderungan manusia berdosa. Salomo mengenalinya melalui hikmat yang Tuhan karuniakan kepadanya ketika ia menghadapi dua orang ibu yang memperebutkan anak. Oleh hikmat itu, ia dapat mengambil keputusan yang tepat. Mula-mula dengan cerdik ia menawarkan solusi yang tak terduga, yaitu hendak membagi si bayi menjadi dua. Artinya, bayi itu akan mati juga. Ternyata, ibu yang anaknya meninggal merasa senang. Rupanya ia menginginkan temannya juga sengsara seperti dirinya. Melihat reaksi tersebut, Salomo segera mengetahui siapakah ibu sejati dari bayi tersebut.

Ketika melihat orang lain lebih beruntung, patutlah kita berhati-hati. Waspadailah pikiran dan reaksi kita. Periksalah, apakah rencana kita masih selaras dengan kehendak Tuhan. Atau, jangan-jangan apa yang hendak kita lakukan sebenarnya berlawanan dengan kehendak-Nya. Tuhan mengetahui secara persis pikiran dan rencana kita. Bila ada pikiran yang tidak patut dan rencana yang kurang baik, mintalah belas kasihan dari-Nya untuk mengubah sikap kita. –HEM

KETIKA KITA MERASA PUAS DENGAN KEBAIKAN TUHAN,

 KITA TIDAK AKAN IRI SAAT MELIHAT KEBERUNTUNGAN ORANG LAIN.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

MENOLAK FIRMAN TUHAN

Sabtu, 20 April 2013

Bacaan   : Yeremia 36:20-32

36:20. Kemudian pergilah mereka menghadap raja di pelataran, sesudah mereka menyimpan gulungan itu di kamar panitera Elisama. Mereka memberitahukan segala perkataan ini kepada raja.

36:21 Raja menyuruh Yehudi mengambil gulungan itu, lalu ia mengambilnya dari kamar panitera Elisama itu. Yehudi membacakannya kepada raja dan semua pemuka yang berdiri dekat raja.

36:22 Waktu itu adalah bulan yang kesembilan dan raja sedang duduk di balai musim dingin, sementara di depannya api menyala di perapian.

36:23 Setiap kali apabila Yehudi selesai membacakan tiga empat lajur, maka raja mengoyak-ngoyaknya dengan pisau raut, lalu dilemparkan ke dalam api yang di perapian itu, sampai seluruh gulungan itu habis dimakan api yang di perapian itu.

36:24 Baik raja maupun para pegawainya, yang mendengarkan segala perkataan ini, seorangpun tidak terkejut dan tidak mengoyakkan pakaiannya.

36:25 Elnatan, Delaya dan Gemarya memang mendesak kepada raja, supaya jangan membakar gulungan itu, tetapi raja tidak mendengarkan mereka.

36:26 Bahkan raja memerintahkan pangeran Yerahmeel, Seraya bin Azriel dan Selemya bin Abdeel untuk menangkap juru tulis Barukh dan nabi Yeremia, tetapi TUHAN menyembunyikan mereka.

36:27 Sesudah raja membakar gulungan berisi perkataan-perkataan yang dituliskan oleh Barukh langsung dari mulut Yeremia itu, maka datanglah firman TUHAN kepada Yeremia, bunyinya:

36:28 “Ambil pulalah gulungan lain, tuliskanlah di dalamnya segala perkataan yang semula ada di dalam gulungan yang pertama yang dibakar oleh Yoyakim, raja Yehuda.

36:29 Mengenai Yoyakim, raja Yehuda, haruslah kaukatakan: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membakar gulungan ini dengan berkata: Mengapakah engkau menulis di dalamnya, bahwa raja Babel pasti akan datang untuk memusnahkan negeri ini dan untuk melenyapkan dari dalamnya manusia dan hewan?

36:30 Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang Yoyakim, raja Yehuda: Ia tidak akan mempunyai keturunan yang akan duduk di atas takhta Daud, dan mayatnya akan tercampak, sehingga kena panas di waktu siang dan kena dingin di waktu malam.

36:31 Aku akan menghukum dia, keturunannya dan hamba-hambanya karena kesalahan mereka; Aku akan mendatangkan atas mereka, atas segala penduduk Yerusalem dan atas orang Yehuda segenap malapetaka yang Kuancamkan kepada mereka, yang mereka tidak mau mendengarnya.”

36:32 Maka Yeremia mengambil gulungan lain dan memberikannya kepada juru tulis Barukh bin Neria yang menuliskan di dalamnya langsung dari mulut Yeremia segala perkataan yang ada di dalam kitab yang telah dibakar Yoyakim, raja Yehuda dalam api itu. Lagipula masih ditambahi dengan banyak perkataan seperti itu.

 

MENOLAK FIRMAN TUHAN

Pemberitaan firman Allah pasti berdampak, entah pertobatan entah perlawanan. Bacaan hari ini, beserta dengan ayat-ayat sebelumnya, salah satu contohnya. Pembacaan firman Tuhan sebanyak tiga kali menghasilkan tanggapan yang berbeda-beda. Setelah pembacaan yang pertama (Yer 36:8-10), Barukh diminta membacakan ulang firman Tuhan itu di hadapan para pemuka negara (ay. 11-15). Pembacaan kedua membuat hati para pemuka menjadi gentar dan mereka merasa bahwa raja harus mendengar firman ini (ay. 16-19). Namun, sayang sekali, pembacaan yang ketiga di hadapan Raja Yoyakim menghasilkan penolakan. Kesempatan bertobat yang disediakan Allah ditolak mentah-mentah. Raja bahkan membakar gulungan yang berisi firman Tuhan tersebut serta memerintahkan penangkapan Yeremia dan Barukh.

Namun, pemberitaan firman Tuhan tidak pernah sia-sia. Firman dari gulungan kitab yang sudah disobek dan dibakar itu ditulis ulang. Ini menunjukkan bahwa firman Tuhan tidak bisa dimusnahkan manusia. Selain itu, nubuat penghukuman dalam firman Tuhan itu akan tergenapi. Hukuman itu berupa penghapusan keturunan Yoyakim dari takhta Daud dan berbagai malapetaka yang akan menimpa dirinya, keturunannya, para pengikutnya, dan umat Yehuda yang menolak untuk bertobat.

Bagaimanakah respon kita terhadap firman Tuhan? Apakah kita menyambut firman itu dan memberi diri kita untuk dididik dalam kebenaran? Ataukah kita mengabaikannya? Respon kita menentukan pertumbuhan iman kita. –ENO

MENANGGAPI FIRMAN TUHAN DENGAN BENAR

 ADALAH DASAR DARI PERTUMBUHAN IMAN.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.