Memberikan Hati

Shallom… Salam Miracle.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, firman Allah dalam Matius 22:37 mengatakan,”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu.”

 

Ketika Tuhan memberikan penawaran kepada Salomo untuk menyampaikan permintaan, Salomo tidak meminta harta kekayaan tetapi meminta hikmat. Tuhan mengabulkan permintaan itu, dan karena permintaan itu sangat baik, harta dan kekayaan pun diberikan-Nya. Hikmat menyangkut pertimbangan akal budi dan ketetapan hati. Hal tersebut merupakan sentral dari hidup manusia. Salomo memiliki hati yang bijak, dan sebagai akibatnya ia memiliki segalanya.

 

Memberi hati berarti memberi semuanya untuk Tuhan. Dia menghendaki hati kita, bukan sebagian tetapi semuanya. Kebanyakan kita mudah untuk mengatakan,”Hatiku milik Tuhan” tanpa mengerti apa tuntutan di balik pernyataan tersebut. Sesungguhnya jika kita rela menyerahkan hati kita kepada Tuhan, berarti kita juga menyerahkan keseluruhan harta, kejayaan, kedudukan atau apapun milik kita.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan… Hukum Allah ini nampaknya tidak mungkin kita lakukan, ketidakmungkinan itu terjadi dikarenakan kebanyakan kita salah mengerti maksud penyerahan semua milik kita kepada Tuhan. Ketika kita menyerahkan segenap hati kita kepada Allah, sesungguhnya tidak satupun dari kita yang berkurang. Allah tidak mengambil kedudukan kita untuk membuat-Nya memiliki jabatan, Allah tidak mengambil ketenaran kita supaya Dia menjadi terkenal. Allah sudah memiliki semuanya itu dan jauh lebih banyak dari yang kita miliki.

 

Yang Ia kehendaki adalah kita dapat memusatkan seluruh hidup kita untuk mempermuliakan Allah. Bukan sebagian kehidupan kita yang berurusan dengan gereja dan pelayanan, tetapi semuanya. Termasuk dalam lingkup keluarga, pekerjaan maupun masyarakat. Allah tidak menghendaki pemisahan antara hal yang rohani ataupun sekuler. Ia menghendaki segenap hati kita.

 

Pikiran dan tindakan sebagai ukuran hati, dalam pengertian kita bukanlah benda yang bewarna merah ataupun jantung yang berdebar-debar. Hati bukanlah benda. Hati adalah pusat kehendak, dimana hasrat dan rasa dibangun. Oleh karena itu, ketika kita menyerahkan hati kita kepada Allah, ukuran yang dapat kita kontrol adalah pikiran dan tindakan kita. Bagaimana dengan pikiran anda? Tidak ada seorangpun yang tahu apa yang kita pikirkan. Itu adalah area yang paling pribadi dan tersembunyi. Hanya kita dan Tuhan yang tahu, kita tetap dapat berpikir pada saat beraktivitas, apalagi saat merenung.

 

Pikiran itu bisa baik ataupun tidak baik. Dan Allah menghendaki bagian yang baik. Jika kita menyerahkan hati kita, kita menyerahkan pikiran kita. Inilah yang dihendaki Tuhan ”semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

 

Allah telah memakai banyak orang dalam Alkitab untuk menjadi teladan dari setiap tindakan kita. Orang yang bijak akan belajar dari kesalahan orang lain sehingga ia tidak mengambil tindakan serupa yang membahayakan dirinya. Sebaliknya akan memilih teladan yang baik, supaya kita melakukan kehendak Allah dan menikmati damai sejahtera. Demikian juga kita bertindak atas harta dan kedudukan kita yang duniawi, untuk maksud-maksud Allah bagi manusia.

 

 

Tuhan Yesus memberkati

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Iklan