MEMILIKI YESUS

Jumat, 16 April 2010

Bacaan : 1 Yohanes 5:1-12

5:1. Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya.

5:2 Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.

5:3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,

5:4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

5:5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

5:6. Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.

5:7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.

5:8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.

5:9 Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.

5:10. Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.

5:11 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya.

5:12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.

MEMILIKI YESUS

Ketika kecil, kita cenderung sangat posesif. Sulit bagi kita untuk berbagi. Kita terganggu kalau mainan kita dipinjam teman dalam waktu cukup lama, apalagi kalau sampai dibawa pulang. Bagi seorang anak, memiliki berarti menguasai dan memonopoli secara absolut.

Surat Yohanes menyatakan bahwa Allah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, dan hidup itu berada di dalam Anak-Nya, Yesus Kristus. “Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup” (ayat 12). Apakah itu berarti, seperti pemaknaan anak kecil, kita menguasai dan memonopoli Yesus Kristus? Bukan! Yohanes justru ingin menekankan pentingnya umat percaya untuk hidup dalam respons yang tepat terhadap rahmat Allah (1 Yohanes 4:8, 11). Maksudnya, rahmat Allah perlu disambut oleh iman dan sikap hidup beriman dari pihak kita. Gayung pun bersambut, ketika kita merespons rahmat Allah yang mendatangi kita di dalam Yesus.

Tidak semua orang yang mengaku percaya terhitung sebagai mereka yang memiliki Yesus. Yesus bukan barang yang bisa kita kuasai dan kita monopoli. Memiliki Yesus berarti beriman di dalam dan hidup menurut teladan Yesus Kristus. Memiliki Yesus bukan hanya soal memiliki ajaran yang benar, melainkan soal menjalankan tindakan yang benar, sesuai dengan iman (ayat 2).

Anda mau membuktikan bahwa Anda memiliki Yesus? Bukan seperti anak kecil yang ingin menguasai dan memonopoli mainan miliknya, kita yang sungguh-sungguh memiliki Yesus malah tergerak untuk membagikan kasih Yesus kepada sesama melalui tindakan nyata. Dan kita tidak akan merasa berat menjalankan perintah-Nya –DKLKASIH

ALLAH TIDAK DAPAT DIMILIKI SECARA EKSKLUSIF

MELAINKAN MERENGKUH ORANG LAIN UNTUK TURUT MENGECAPNYA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

BUKIT YANG ASRI

Sabtu, 21 Maret 2009

Bacaan : Kejadian 2:8-17

9118hb

Di dekat rumah saya ada sebuah bukit. Suatu pagi saya menyempatkan diri berjalan-jalan mengitari bukit tersebut. Suasananya terasa asri dengan suara burung-burung dan berbagai jenis serangga. Di tambah lagi dengan sinar mentari yang menerobos dedaunan dan udara sejuk berbau rumput. Sungguh indah!

Alam ini memang diciptakan indah dan memukau (ayat 10-14). Selain itu, alam juga menyediakan segala kebutuhan kita (ayat 9,16). Namun, itu semua diciptakan bukan hanya untuk dikagumi dan dinikmati, melainkan juga untuk kita kelola dan pelihara (ayat 15).

Hanya saja, kalau mau jujur, kita sudah gagal menjalankan tanggung jawab ini. Di bukit yang saya ceritakan di atas, banyak sampah berceceran di sana sini. Di berbagai tempat juga kita lihat bagaimana sungai, laut, tanah, dan udara sudah tercemari oleh berbagai macam bahan beracun. Belakangan ini juga ramai dibahas mengenai isu perubahan iklim yang diduga berkaitan erat dengan gas buang yang dilepas ke atmosfer.

Kita perlu bertobat dan kembali melaksanakan tanggung jawab sebagai pengelola dan pemelihara alam ini. Kita harus belajar dan mengajari anak-anak kita untuk membuang sampah hanya pada tempatnya. Para pengusaha harus memastikan bahwa bahan-bahan yang mereka buang sudah diproses, sehingga aman bagi lingkungan. Aparat pemerintah perlu membuat dan menegakkan regulasi yang mampu mengatur pengelolaan lingkungan dengan baik. Dan ini semua harus dilakukan segera, sebelum segalanya terlambat; sebelum kerusakan alam yang terjadi sudah terlalu parah untuk bisa diperbaiki -ALS

ALAM DICIPTAKAN BUKAN HANYA UNTUK DIKAGUMI DAN DINIKMATI
TETAPI JUGA UNTUK DIKELOLA DAN DIPELIHARA
 

 

Sumber : http://www.sabda.org

 

 

 

Takut Salah

Senin, 3 November 2008

Bacaan : 1Yohanes 2:28-3:10

2:28. Maka sekarang, anak-anakku, tinggallah di dalam Kristus, supaya apabila Ia menyatakan diri-Nya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya.

 

2:29 Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.

 

3:1. Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

 

3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

 

3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

 

3:4. Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.

 

3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.

 

3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.

 

3:7 Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;

 

3:8 barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.

 

3:9 Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.

 

3:10 Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.

 

 

Takut Salah

“Ada adegan di mana aku takut salah. Aku takut ngabisin can (gulungan film-red) apalagi kita pakai tiga kamera. Jadi, aku akting sambil mikirin harga can.” Begitu salah satu kesan Artika Sari Devi tentang pengalamannya berperan sebagai Siti dalam film Garin Nugroho, Opera Jawa. Kesadaran bahwa aktingnya tengah direkam, dan film perekamnya berharga mahal, mendorong Tika untuk tampil secara berhati-hati. Takut salah.

Seluruh hidup kita sebenarnya juga tengah “direkam”. Seperti pemain film yang akan mempertanggungjawabkan kinerjanya pada sutradara, produser, dan penonton, kelak kita juga harus mempertanggungjawabkan seluruh hidup kita di hadapan Sang Pencipta. “Film” yang dipakai untuk merekam hidup kita juga sangat mahal karena kita ditebus “bukan dengan barang yang fana … melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus” (1Petrus 1:18,19).

Di hadapan takhta pengadilan Allah, kita harus mempertanggungjawabkan seluruh aspek kehidupan kita: sikap, motivasi, pikiran, ucapan, dan tindakan. Kita harus mempertanggungjawabkan baik perkara-perkara yang kelihatan maupun perkara-perkara yang tersembunyi. Semuanya akan dihakimi menurut tolok ukur kebenaran dan keadilan-Nya.

Seberapa jauh kesadaran ini berpengaruh pada cara kita menjalani hidup ini? Apakah kita tampil secara sembrono dan meremehkan darah penebusan Kristus? Ataukah kita menjalaninya dengan luapan rasa syukur karena telah ditebus dan diizinkan untuk turut mengambil bagian dalam drama kehidupan yang mulia ini?

Kamera siap? Action! -ARS

HIDUP BERTANGGUNG JAWAB ADALAH UNGKAPAN SYUKUR  DAN PERNGHORMATAN ATAS ANUGERAH serta KEMURAHAN ALLAH