MENJARING ANGIN

Senin, 25 Februari 2013

Bacaan: Kejadian 11:1-9

11:1. Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.

11:2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.

11:3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.

11:4 Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”

11:5. Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu,

11:6 dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

11:7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.”

11:8 Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu.

11:9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.

MENJARING ANGIN

Bisakah menjaring angin? Para ilmuwan dari Delft Technical University mencoba menjaring angin untuk menghasilkan tenaga listrik. Mereka memanfaatkan layang-layang dengan luas permukaan 10 meter persegi untuk mengubah angin menjadi energi listrik. Sejak tahun 2008 mereka sudah mencoba untuk membuat model yang pas.

Daya cipta manusia memang mengagumkan. Menara Babel, misalnya, kerap dijadikan simbol keangkuhan, kekuasaan duniawi, dan perlawanan terhadap kuasa Tuhan. Namun, menara ini juga simbol dari kecerdasan akal budi yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Dalam terjemahan FAYH dikatakan, “Lihatlah! Jika sekarang ini, pada waktu mereka baru mulai memanfaatkan persatuan bahasa dan bangsa, mereka sudah sanggup menyelesaikan semua ini, bayangkan apa yang akan dilakukan mereka kemudian hari. Segala apa pun dapat mereka capai!” Allah sendiri mengakui potensi besar dalam diri manusia.

Kebenaran ini seharusnya menggelitik setiap orang percaya, mendorong kita mengembangkan keunggulan di bidang masing-masing untuk menyatakan kehebatan Tuhan. Kuncinya: kita perlu bergandeng tangan dan saling mendorong dalam mengembangkan potensi. Setiap orang perlu bekerja dengan rajin dan tekun untuk menghasilkan karya yang sebaik-baiknya. Bersama-sama sebagai jemaat kita dapat menyumbangkan solusi bagi persoalan praktis kehidupan sehari-hari. Dan, melalui karya tersebut, kiranya kita dapat memperkenalkan kepada orang banyak Tuhan yang menyertai kita dan memberi kita kreativitas. –MRT

ALLAH KITA ALLAH YANG MAHABESAR DAN MAHAKREATIF,

 MARI KITA BERKARYA UNTUK MENYATAKAN KEAGUNGAN-NYA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

DIANGGAP BAIK

Senin, 23 Mei 2011

Bacaan : Yeremia 24

24:1. Lihatlah, TUHAN memperlihatkan kepadaku dua keranjang buah ara berdiri di hadapan bait TUHAN. Hal itu terjadi sesudah Nebukadnezar, raja Babel, mengangkut ke dalam pembuangan Yekhonya bin Yoyakim, raja Yehuda, beserta para pemuka Yehuda, tukang dan pandai besi dari Yerusalem dan membawa mereka ke Babel.

24:2 Keranjang yang satu berisi buah ara yang sangat baik seperti buah ara bungaran, tetapi keranjang yang lain berisi buah ara yang jelek, yang tak dapat dimakan karena jeleknya.

24:3 Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Maka jawabku: “Buah ara! Buah ara yang baik itu sangat baik, dan buah ara yang jelek, yang tak dapat dimakan karena jeleknya.”

24:4 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya:

24:5 “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Sama seperti buah ara yang baik ini, demikianlah Aku akan memperhatikan untuk kebaikannya orang-orang Yehuda yang Kubawa dari tempat ini ke dalam pembuangan, ke negeri orang-orang Kasdim.

24:6 Maka Aku akan mengarahkan mata-Ku kepada mereka untuk kebaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke negeri ini. Aku akan membangun mereka, bukan meruntuhkannya; Aku akan menanam, bukan mencabutnya.

24:7 Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN. Mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku ini akan menjadi Allah mereka, sebab mereka akan bertobat kepada-Ku dengan segenap hatinya.

24:8 Tetapi seperti buah ara yang jelek itu, yang tak dapat dimakan karena jeleknya–sungguh, beginilah firman TUHAN–demikianlah Aku akan memperlakukan Zedekia, raja Yehuda, beserta para pemukanya, dan sisa-sisa penduduk Yerusalem yang masih tinggal di negeri ini dan orang-orang yang menetap di negeri Mesir.

24:9 Aku akan membuat mereka menjadi kengerian bagi segala kerajaan di bumi, menjadi aib dan perumpamaan, menjadi sindiran dan kutuk di segala tempat ke mana Aku menceraiberaikan mereka.

24:10 Dan Aku akan mengirimkan perang, kelaparan dan penyakit sampar ke antara mereka, sampai mereka habis dilenyapkan dari atas tanah yang telah Kuberikan kepada mereka dan kepada nenek moyang mereka.”

 

DIANGGAP BAIK

Penelitian selama 25 tahun di Universitas Tel Aviv mendapati bahwa kinerja seseorang sangat dipengaruhi oleh pengharapan orang lain atas kinerjanya. Dalam satu percobaan, manajer sebuah kantor cabang bank dibagi dua. Kelompok A diberi tahu bahwa karyawan mereka luar biasa; kelompok B tidak diberi tahu apa-apa tentang potensi karyawan mereka. Sebenarnya potensi kedua kelompok karyawan itu sama. Nyatanya, manajer kelompok A membuahkan hasil yang lebih bagus, baik dari laba maupun kesuksesan ekonomis secara menyeluruh. Hal serupa ditemukan juga di sekolah, kalangan militer, dan berbagai badan sosial lain.

Pengharapan yang baik mengandung daya ubah yang luar biasa. Prinsip itu bersumber dari Allah sendiri, seperti yang dapat kita pelajari ketika Dia “mengubah” bangsa Israel yang dibuang ke Babel. Pertama, Dia “menganggap” mereka seperti buah ara yang bagus (ayat 5). Mereka tidak baik, tetapi Dia menganggap mereka baik dan memperlakukan mereka dengan baik (bandingkan dengan Roma 4:5). Sesudah itu, Dia “memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku” (ayat 7). Dia mengubahkan hati mereka sehingga mereka menjadi umat Allah yang sungguh-sungguh. Bukankah itu anugerah pembenaran dan kelahiran kembali?

Lalu, bagaimana menerapkannya secara horisontal? Kita ingin anak, murid, karyawan, dan tetangga kita semua baik, tetapi bisa jadi mereka menjengkelkan. Maukah kita lebih dulu mengasihi mereka, mengharapkan yang terbaik dari mereka (1 Korintus 13:5), menganggap mereka baik, dan memperlakukan mereka dengan baik? –ARS

HAL-HAL YANG TIDAK INDAH PERLU DIKASIHI

SUNGGUH-SUNGGUH

SEBELUM BERUBAH INDAH DAN MENAWAN HATI

G.K. CHESTERTON

Dikutip : www.sabda.org

MISKOMUNIKASI

Rabu, 14 April 2010

Bacaan : Kejadian 11:1-9

11:1. Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.

11:2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.

11:3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik.” Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.

11:4 Juga kata mereka: “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”

11:5. Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu,

11:6 dan Ia berfirman: “Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.

11:7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing.”

11:8 Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu.

11:9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.

MISKOMUNIKASI

Kini orang makin sering berkomunikasi lewat SMS, e-mail, atau chatting. Media komunikasi canggih ini memungkinkan kita menyampaikan pesan dengan cepat dan murah. Namun, para pakar mengingatkan: alat komunikasi berbasis teks ini sering menimbulkan miskomunikasi! Mengapa? Karena penerima pesan tidak bisa melihat ekspresi wajah maupun suara pengirim. Lagipula, karena dituntut menjawab dengan cepat, orang cenderung ceroboh memilih kata. Alhasil, pesan berupa teks sangat mudah disalahartikan dan memicu konflik.

Teknologi diciptakan untuk memudahkan hidup, tetapi jika tidak dipakai secara bijak, teknologi bisa merusak. Kisah Menara Babel dimulai dengan ditemukannya teknologi pembuatan batu bata. Teknologi ini memungkinkan orang membangun kota dan menara yang tinggi. Muncullah rencana ambisius: menyatukan tempat tinggal seluruh manusia. Penguasaan teknologi membuat manusia begitu percaya diri, hingga tak lagi bertanya apakah rencana itu selaras dengan maksud Tuhan. Akibatnya Tuhan murka dan rencana mereka pun dibubarkan. Manusia yang tadinya diharapkan bersatu malah menjadi tercerai-berai.

Sudahkah Anda bijak memakai teknologi komunikasi? Saat ingin menyampaikan pesan penting atau mengungkapkan rasa marah, sedih, dan lain-lain, hindarilah pemakaian SMS atau e-mail. Lebih baik bertemu langsung atau menelepon. Sebaliknya, jika Anda menerima pesan e-mail atau SMS yang tidak enak dibaca, jangan buru-buru marah. Telepon atau temuilah si pengirim pesan. Tanyakan dulu apa maksudnya. Jangan percaya pada tiap perkataan, sebab bisa saja kita salah menafsirkan! –JTI

BIJAK BERKOMUNIKASI ADALAH BAGIAN

DARI GAYA HIDUP ORANG BERIMAN

Sumber : www.sabda.org