KURBAN YANG HARUM

Selasa, 5 Februari 2013

Bacaan: Kejadian 8:18-22

8:18 Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya.

8:19 Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu.

 

8:20. Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.

8:21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.

8:22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”

 

KURBAN YANG HARUM

Sebelum air bah terjadi, Allah memerintahkan Nuh untuk membangun bahtera. Ia beserta keluarganya juga harus menyertakan masing-masing tujuh pasang dari binatang yang tidak haram untuk diselamatkan. Ketika air bah surut, ia keluar dan mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah. Nah, pernahkah Anda berpikir berapa banyak hewan yang dipersembahkan Nuh?

Setelah Nuh keluar dari bahtera, ia mempersembahkan “beberapa” dari segala binatang dan burung yang tidak haram (ay. 20). Misalkan jumlah binatang yang tidak haram sebanyak 500 jenis–menurut perkiraan, bahtera Nuh dapat menampung 3.000 jenis binatang. Nah, misalkan dari tiap jenis dikurbankan 4 ekor saja, maka Nuh mengurbankan 2.000 ekor binatang. Dikerjakan hanya oleh delapan orang, berapa lama waktu yang dibutuhkan? Berapa banyak kayu yang harus disiapkan? Dan, dari mana Nuh mendapatkan ilham kurbannya harus “beberapa”? Saya percaya jumlah itu muncul dari dorongan Roh Tuhan. Tentu saja, yang utama bukan masalah jumlah itu sendiri, melainkan ungkapan syukur Nuh yang meluap atas penyelamatan Tuhan dan kehidupan baru yang dikaruniakan-Nya.

Allah menganggapnya sebagai kurban yang harum dan meresponinya secara spesial (ay. 21-22). Kurban yang tidak hanya berdampak bagi hidup Nuh, tetapi memberkati seisi bumi. Bagaimana kita mempersembahkan kurban yang harum? Ketika kita, sebagai ungkapan syukur atas keselamatan dan pemeliharaan Allah, berkarya sebaik mungkin bagi kemuliaan-Nya dan menjadi berkat bagi lingkungan kita. –MRT

KEINDAHAN DI BUMI INI DIBANGUN DARI KURBAN YANG HARUM

 PERSEMBAHAN HATI ORANG-ORANG YANG BERSYUKUR

Dikutip : www.sabda.org

 

Iklan

WAKTU TUNGGU

Jumat, 14 Januari 2011

Bacaan : Kejadian 8:1-18

1Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun.

2Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan berhentilah hujan lebat dari langit,

3dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah seratus lima puluh hari.

4Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat.

5Sampai bulan yang kesepuluh makin berkuranglah air itu; dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal satu bulan itu, tampaklah puncak-puncak gunung.

6Sesudah lewat empat puluh hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu.

7Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi.

8Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi.

9Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air; lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera.

10Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu dari bahtera; 11menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi.

12Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya.

13Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering.

14Dalam bulan kedua, pada hari yang kedua puluh tujuh bulan itu, bumi telah kering.

15Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh:

16″Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu;

17segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.”

18Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya.

WAKTU TUNGGU

Menunggu itu menjemukan, tetapi terkadang tak terhindarkan. Kita harus menunggu saat berada dalam antrean, di halte, stasiun kereta, maupun bandara. Waktu tunggu kerap kali dipandang sebagai waktu luang yang tidak berguna, sehingga orang berusaha “menghabiskan waktu” itu dengan tidur, berjalan ke sana kemari, memainkan handphone, atau melamun. Padahal jika waktu yang ada itu diisi, kita dapat melakukan banyak hal yang tidak dapat kita lakukan di tengah rutinitas dan kesibukan hidup.

Ketika Nuh dan seluruh keluarga masuk ke dalam bahtera, mereka harus menunggu selama ratusan hari sampai air bah di muka bumi surut. Setelah memastikan bahwa bumi benar-benar kering dan ada perintah dari Tuhan, baru mereka berani keluar. Berbulan-bulan hidup terkurung dalam bahtera pasti terasa sangat menjemukan jika dipandang hanya sebagai waktu tunggu yang harus dihabiskan. Sebaliknya, masa hidup dalam bahtera bisa juga dipandang sebagai momen berharga yang tak terulang. Waktu itu bisa diisi dengan banyak hal baru mempererat hubungan dalam keluarga Nuh, belajar mengenal aneka satwa lebih dekat serta merawatnya, juga merenung tentang makna dan visi hidup: apa maksud Tuhan menyelamatkan Nuh sekeluarga?

Banyak hal kreatif dapat kita lakukan untuk mengisi waktu tunggu. Membaca buku, merenungkan firman Tuhan, mendoakan sahabat, mengirim email, atau menelepon orang yang butuh dukungan semangat, dan lain-lain. Alihkan setiap aktivitas menunggu yang kita jumpai agar menjadi kesempatan untuk berkarya dan berbagi berkat –JTI

TUHAN MEMBERI WAKTU TUNGGU BUKAN UNTUK DIHABISKAN

MELAINKAN UNTUK DIISI DAN DIMANFAATKAN

Sumber : www.sabda.org

ANJING MENGGONGGONG

Rabu, 22 Juli 2009

Bacaan : Kejadian 6:9-22

6:9 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

6:10 Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet.

 

6:11. Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.

6:12 Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.

 

6:13. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.

6:14 Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam.

6:15 Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.

6:16 Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.

6:17 Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa.

6:18 Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.

6:19 Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa.

6:20 Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya.

6:21 Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.”

 

6:22. Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.

 

ANJING MENGGONGGONG

“Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.” Pepatah lama ini tepat untuk menggambarkan upaya tidak kenal lelah dari Chaerudin atau Bang Idin. Cita-citanya untuk menghijaukan bantaran Kali Pesanggrahan di Jakarta Selatan awalnya mendapat tentangan, kecaman, dan cemoohan. Ia dianggap gila merancang ide mustahil itu. Maklum pada 1980, bantaran Kali Pesanggrahan benar-benar kumuh dan tidak terurus; sampah bergunung-gunung teronggok, berdampingan dengan tembok tinggi para juragan tanah. Namun, itu dulu. Kini kalau Anda melewati Pondok Cabe Udik sampai Pondok Pinang, sejauh mata memandang pepohonan hijau terlihat menyegarkan mata.

Hasil jerih lelah Bang Idin selama lebih dari lima belas tahun berbuah hasil. Di jalur sepanjang 30 km, seluas 35 hektar, sekarang telah ditanami lebih dari 60 ribu spesies tanaman. Sungguh sebuah perjuangan keras dan tidak mudah. Atas jerih lelahnya itu, Bang Idin menerima penghargaan di bidang lingkungan dari pemerintah.

Hal yang sama dialami oleh Nuh. Tidak ada hujan, tidak ada angin, Allah memerintahkannya membuat bahtera raksasa. Nuh taat. Walaupun bisa jadi ia harus menerima cemoohan dan hinaan orang-orang di sekitarnya. Usaha Nuh tidak sia-sia. Berkat bahteranya, ia dan keluarganya, serta binatang-binatang, selamat dari amukan air bah.

Ada saatnya kita harus melakukan sesuatu yang, mungkin bagi banyak orang, “bodoh”. Kita dicemooh dan diolok-olok. Jangan undur. Jalan terus, sepanjang kita meyakininya dengan sepenuh hati dan menjalankannya dengan tulus. Bukankah mereka yang tertawa belakangan adalah pemenang yang sesungguhnya? -AYA

EJEKAN DAN CEMOOHAN

JANGAN MENYURUTKAN LANGKAH KITA

Sumber : www.sabda.org

DI BELAKANG ALLAH

Jumat, 15 Mei 2009

Bacaan : Kejadian 8:1-18

8:1. Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin menghembus melalui bumi, sehingga air itu turun.

8:2 Ditutuplah mata-mata air samudera raya serta tingkap-tingkap di langit dan berhentilah hujan lebat dari langit,

8:3 dan makin surutlah air itu dari muka bumi. Demikianlah berkurang air itu sesudah seratus lima puluh hari.

8:4. Dalam bulan yang ketujuh, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, terkandaslah bahtera itu pada pegunungan Ararat.

8:5 Sampai bulan yang kesepuluh makin berkuranglah air itu; dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal satu bulan itu, tampaklah puncak-puncak gunung.

8:6. Sesudah lewat empat puluh hari, maka Nuh membuka tingkap yang dibuatnya pada bahtera itu.

8:7 Lalu ia melepaskan seekor burung gagak; dan burung itu terbang pulang pergi, sampai air itu menjadi kering dari atas bumi.

8:8 Kemudian dilepaskannya seekor burung merpati untuk melihat, apakah air itu telah berkurang dari muka bumi.

8:9 Tetapi burung merpati itu tidak mendapat tempat tumpuan kakinya dan pulanglah ia kembali mendapatkan Nuh ke dalam bahtera itu, karena di seluruh bumi masih ada air; lalu Nuh mengulurkan tangannya, ditangkapnya burung itu dan dibawanya masuk ke dalam bahtera.

8:10 Ia menunggu tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya pula burung merpati itu dari bahtera;

8:11 menjelang waktu senja pulanglah burung merpati itu mendapatkan Nuh, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar. Dari situlah diketahui Nuh, bahwa air itu telah berkurang dari atas bumi.

8:12 Selanjutnya ditunggunya pula tujuh hari lagi, kemudian dilepaskannya burung merpati itu, tetapi burung itu tidak kembali lagi kepadanya.

8:13. Dalam tahun keenam ratus satu, dalam bulan pertama, pada tanggal satu bulan itu, sudahlah kering air itu dari atas bumi; kemudian Nuh membuka tutup bahtera itu dan melihat-lihat; ternyatalah muka bumi sudah mulai kering.

8:14 Dalam bulan kedua, pada hari yang kedua puluh tujuh bulan itu, bumi telah kering.

8:15. Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh:

8:16 “Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu;

8:17 segala binatang yang bersama-sama dengan engkau, segala yang hidup: burung-burung, hewan dan segala binatang melata yang merayap di bumi, suruhlah keluar bersama-sama dengan engkau, supaya semuanya itu berkeriapan di bumi serta berkembang biak dan bertambah banyak di bumi.”

8:18 Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya.

DI BELAKANG ALLAH

Pernahkah Anda menyadari bahwa air bah pada zaman Nuh itu melingkupi bumi selama lima bulan penuh? Betapa lamanya! Hujan sehari semalam saja sudah menimbulkan banjir dan banyak kesulitan. Apalagi jika sampai lima bulan, kehidupan di dunia ini pasti binasa. Belum lagi jika kita membayangkan mereka yang ada dalam bahtera (manusia dan berjenis-jenis binatang) mengalami krisis “rindu tanah”.

Dalam situasi begitu, lega rasanya membaca kalimat, “Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin mengembus melalui bumi, sehingga air itu turun” (ayat 1). Allah menghukum, tetapi Dia juga mengingat makhluk yang akan menjadi cikal bakal permulaan kehidupan dunia. Karena itu Allah mulai menyurutkan air bah dalam proses yang cukup panjang dan alami. Bukan serta merta air surut! Allah menghargai proses alam. Angin bertiup, hujan berhenti, air makin surut selama 3 bulan. Pada bulan ke-7, bahtera kandas di pegunungan, pada bulan ke-10, puncak-puncak gunung tampak. Empat puluh hari setelahnya, Nuh melepas burung gagak dan merpati untuk mencari tahu apakah air telah kering. Nuh sabar menunggu dan terus mencoba memahami keadaan. Sikapnya yang telaten dan tertata, layak diteladani. Sampai akhirnya, bumi benar-benar kering. Namun, Nuh tidak langsung turun. Ia menunggu sabda Allah (ayat 16), baru ia keluar bersama keluarganya dan binatang-binatang.

Mari belajar dari ketaatan Nuh mengelola hari-hari, membaca tanda-tanda “zaman”, dan terus berusaha, sambil tetap berjalan di belakang Allah — tidak mendahului-Nya –DKL

JANGAN PERNAH MELANGKAH

MELEBIHI LANGKAH ALLAH

Sumber : http://www.sabda.org

Harimau Jawa

Sabtu, 15 November 2008

Bacaan : Kejadian 6:13-22

6:13. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.

 

6:14 Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam.

 

6:15 Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.

 

6:16 Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.

 

6:17 Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa.

 

6:18 Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.

 

6:19 Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa.

 

6:20 Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya.

 

6:21 Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.”

 

6:22. Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.

 

Harimau Jawa

MAM 03191Harimau Jawa adalah salah satu dari sekian spesies harimau yang pernah hidup di Pulau Jawa. Namun sayang, pada tahun 1980-an spesies ini dikabarkan telah punah. Para ahli lingkungan menduga kepunahan binatang ini disebabkan oleh aktivitas manusia yang terus mendesak habitat mereka. Kini, daftar binatang yang punah atau terancam punah semakin panjang. Di antaranya harimau Sumatra, badak Jawa, jalak Bali, orang utan, dan banyak lagi.

Hari ini kita membaca tentang bagaimana Allah marah kepada ciptaan-Nya dan bermaksud mengakhiri hidup segala makhluk (ayat 13); yakni dengan mendatangkan air bah (ayat 17). Walaupun demikian, di tengah maksud itu pun Allah ingat untuk melakukan penyelamatan: Dia memilih Nuh serta keluarganya untuk diselamatkan. Dia juga ingat untuk menyelamatkan binatang-binatang, masing-masing sepasang. Apa yang Dia sebut “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31) terus ingin Dia lestarikan.

Sebagaimana yang Allah lakukan, demikian pula kita. Kita mesti sungguh-sungguh bertindak menyikapi krisis lingkungan hidup yang tengah terjadi, khususnya dalam hal kepunahan berbagai jenis makhluk hidup. Kita mesti turut menjaga kelestarian alam; antara lain dengan tidak merusak cagar alam, tidak memburu binatang-binatang langka, tidak membeli barang-barang-seperti obat-obatan, makanan, pakaian, dan sebagainya-yang terbuat dari bagian tubuh binatang langka, atau mendukung organisasi pelestarian lingkungan. Biarlah kita selalu berusaha mengembalikan asrinya alam yang sejak mulanya Allah ciptakan dengan “sungguh amat baik” -ALS