SUSAHNYA LANGKAH AWAL

Minggu, 24 Juli 2011

Bacaan : Mazmur 37:23-27

37:23 TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;

37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

37:25 Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;

37:26 tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.

37:27 Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya;

 

SUSAHNYA LANGKAH AWAL

Sari bingung apakah Anton benar-benar jodoh yang tepat buat dirinya. Padahal waktu pernikahan tinggal dua bulan lagi. Ia tahu bahwa ia mencintai Anton; demikian juga sebaliknya. Namun, ada pertanyaan yang selalu berkecamuk dalam dirinya: “Apakah Anton orang yang tepat?” Ada ketakutan untuk melangkah lebih jauh. Itulah susahnya mengambil langkah awal. Banyak orang yang takut dan ragu-ragu justru pada saat mengambil langkah pertama.

Di sepanjang hidup, kita memang selalu diperhadapkan dengan keputusan-keputusan yang harus diambil. Biasanya, sebelum mengambil keputusan kita diperhadapkan dengan keraguan, ketakutan, atau kekhawatiran, apakah keputusan yang kita ambil itu tepat. Namun, yang dikatakan firman Tuhan hari ini luar biasa. Coba renungkan kalimat “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang”. Ini berarti bahwa di dalam Tuhan sesungguhnya kita akan mendapatkan langkah-langkah yang pasti, walau terkadang kita tidak tahu apa yang akan kita alami esok hari. Ini adalah janji Tuhan.

Namun, harus dicermati juga bahwa janji ini mengandung syarat, yaitu “bagi orang yang berkenan kepada-Nya”. Artinya, apabila kita memang ingin mendapat bimbingan Tuhan dalam mengambil keputusan maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah hidup berkenan di hadapan-Nya. Allah telah menyatakan setiap kehendak-Nya melalui firman Tuhan. Dan, dengan kita mendengar serta taat pada firman-Nya, kita tengah dipimpin untuk menjalani hidup yang berkenan. Di dalam Dia, kita mendapat tuntunan yang terbaik, yang memuliakan nama-Nya –RY

MILIKILAH HIDUP YANG DIPERKENAN TUHAN

MAKA DIA AKAN MENETAPKAN LANGKAH-LANGKAH ANDA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

SEDAPAT-DAPATNYA

Selasa, 14 September 2010

Bacaan : Roma 12:9-21

12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.

12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!

12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

SEDAPAT-DAPATNYA

Tidak ada manusia yang sempurna, siapa pun orang tersebut. Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu ia akan jatuh juga. Di atas bintang masih ada langit. Semua prestasi yang dicapai manusia, pasti ada batasnya. Daya jangkau manusia selalu terbatas. Selalu saja masih di bawah standar “kesempurnaan”.

Paulus sadar akan hal itu. Itulah sebabnya tatkala ia memberi nasihat kepada jemaat, ia tidak menuntut kesempurnaan. Ia tidak menunjuk kepada anjuran yang muluk-muluk. “Janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana” (ayat 16). Bahkan, dalam hal menerapkan kebaikan pun, kita harus tetap realistis. Melakukannya sebisa mungkin, sejauh yang dapat kita upayakan. Oleh karena itu, ia menambahkan kalimat “sedapat-dapatnya”.

Di ruang praktik seorang dokter kenalan saya, terpasang tulisan di dinding yang menjadi prinsipnya dalam bekerja. Bunyinya begini:

Sedapat-dapatnya lakukanlah semua yang baik Sedapat-dapatnya dengan segala macam cara dan upaya Sedapat-dapatnya di segala waktu yang ada Sedapat-dapatnya kepada siapa saja yang kamu temui Sedapat-dapatnya selama mungkin kamu bisa melakukannya

Saya rasa ia benar. Begitulah semangat yang seharusnya merasuki orang kristiani. Tak terlalu muluk hingga tak terlaksana apa-apa, tetapi tidak juga menjadi malas. Melakukan kehendak Tuhan dengan tekad “sedapat-dapatnya”. Tak lebih dan tak kurang dari itu –PAD

MARI KITA AKUI KETIDAKSEMPURNAAN KITA

SAMBIL BERTEKAD MENJANGKAU

SEDAPAT MUNGKIN YANG KITA BISA

Sumber : www.sabda.org

MELAYANI TUHAN

PESAN GEMBALA

02 MEI 2010

EDISI 124 TAHUN 3

MELAYANI TUHAN

Shallom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati…Kali ini kita membahasa tentang melayani Tuhan, semua pelayanan yang kita kerjakan seharusnya tertuju kepada Allah. Dalam melayani Allah, kita mengenal siapa Allah dan apa hubungan kita dengan Dia. Sejarah mencatat bahwa ketaatan seorang bawahan atau hamba yang dengan senang dan sukarela memberikan kesetiaan, dedikasi, dan bahkan nyawanya bagi atasannya atau tuannya.

Dalam zaman Raja Alexander Agung terjadi peperangan yang sangat hebat di Sungai Granicus. Dalam peperangan tersebut Alexander Agung memimpin pasukannya, dan terjadilah peristiwa yang luar biasa ketika Raja Alexander Agung terdesak dan dalam bahaya, maka sahabatnya yang bernama Clitus, menyelamatkan nyawanya. Sahabatnya itu dengan kerelaan menyelamatkan teman sekaligus Rajanya.

Alfonso de Albuquerque sangat berdedikasi dan tetap setia kepada raja Emanuel dari Portugal, walaupun raja itu seringkali mengabaikan dia.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama dikisahkan tentang kesetiaan Daud yang melayani raja Saul, walaupun Saul dikuasai dengan iri hati dan berusaha untuk membunuh Daud berulang kali, namun Daud tetap setia dan menghormati Saul. Apabila contoh-contoh tersebut di atas dengan jelas dan berani dapat dengan setia menyerahkan diri mereka untuk melayani raja, bukankah kita harus lebih lagi melayani Allah kita yang penuh dengan kemuliaan?

Raja yang kita layani tidak lain adalah pencipta alam semesta. Dia berdaulat terhadap semua peristiwa, segala makhluk, dan manusia. Dia yang membentuk kita, mengasihi kita, dan menyelamatkan kita. Raja kita adalah Raja yang mulia, penuh hikmat, penuh kasih karunia dan kemurahan, baik, tidak berubah dan penuh kuasa.

Dalam Wahyu dikatakan demikian: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Jika manusia mau melayani raja-raa seperti Alexander Agung, yang membiarkan egonya mendorong membunuh temannya yang telah menyelamatkan nyawanya; raja Emanuel yang mengkhianati hambanya yang setia ke dalam tangan musuhnya, apa seharusnya tanggapan kita terhadap Tuhan dan Raja?

Kita harus melayani Tuhan dengan setia..!! Dalam pencobaan di Padang Gurun, Yesus menanggapi setan dengan kata-kata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:8). Dalam ketidakmengertian kita, kita memberikan hidup kita kepada pekerjaan, sambutan meriah, pengaruh, atau kepada keberuntungan. Ambisi pribadi telah merampas waktu kita dan menyakiti hati kita. Kita pikir kita dapat bermain-main dengan materialisme dan menaruh Allah di temapt yang telah kita bangun untuk Dia, tetapi itu tidak benar.

Yesus menjelaskan dengan berkata: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13). Bodoh kalau kita mencoba membagi perhatian kita antara materialisme dan Bapa.

Allah kita adalah Allah yang cemburu, bukan cemburu yang emosional melainkan cemburu yang ditandai dengan semangat untuk melindungi suatu hubungan kasih. Betapa beruntungnya kita bahwa Allah yang cemburu meneguhkan hubungan kasih kita dengan Dia. Jika kita tidak memilikinya, maka hubungan akan berada dalam bahaya. Untuk kemuliaan-Nyalah dan untuk kebaikan kita sehingga dalam kekuatan-Nya kita mempunyai jaminan kasih-Nya.

Kita harus menanggapi apa yang Allah lakukan dan kasih-Nya kepada kita dengan tekun melayani Dia. Dalam perintahnya kepada jemaat di Roma, Paulus mendorong mereka untuk melayani dengan tekun: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Dia.” (Roma 12:11). Dengan kasih Allah dan dengan dikasihi Allah, kita melayani Dia dengan sepenuh hati, dengan ketaatan tanpa kompromi. Dalam semua yang kita lakukan, perhatian kita bukan pada penghormatan, kemakmuran atau kemasyuran, tetapi untuk menyenangkan Allah saja.

Yesus adalah teladan kita dalam ketekunan dan semangat. Setelah Dia menyucikan bait Allah dari mereka yang mengejar uang, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yohanes 2:17). Seperti Yesus, kita harus dikuasai oleh keinginan untuk melayani Tuhan kita.

Bagi kita semua, baik dalam mimbar, sekolah minggu, Y4C, dan kelompok FA, harus berusaha mengenal Allah lebih sungguh dan untuk membantu orang lain memperluas pengetahuan orang lain untuk mengenal Allah. Para pelayan yang melayani membagi kehidupannya dengan Allah dalam Doa. Sehingga mampu mendorong orang lain untuk melayani Dia dengan Kasih. Sehingga perlu menjaga kehidupan dari dosa dan segala hal yang dapat menghilangkan hubungan dengan Allah, ketika orang lain jatuh dalam dosa, maka melalui pelayanan kita dapat membawa orang itu untuk bertobat dan mengakuinya di hadapan Allah. Pelayanan kepada Allah meluapkan pelayanan kepada manusia. Jemaat yang dikasihi Tuhan…Kiranya kita semua semakin dapat melayani Allah kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

JANGAN MARAH!

Rabu, 12 Mei 2010

Bacaan : Mazmur 37:1-20

37:1. Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang;

37:2 sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau.

37:3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,

37:4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

37:5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.

37:7. Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.

37:8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

37:9 Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri.

37:10 Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi.

37:11 Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.

37:12 Orang fasik merencanakan kejahatan terhadap orang benar dan menggertakkan giginya terhadap dia;

37:13 Tuhan menertawakan orang fasik itu, sebab Ia melihat bahwa harinya sudah dekat.

37:14 Orang-orang fasik menghunus pedang dan melentur busur mereka untuk merobohkan orang-orang sengsara dan orang-orang miskin, untuk membunuh orang-orang yang hidup jujur;

37:15 tetapi pedang mereka akan menikam dada mereka sendiri, dan busur mereka akan dipatahkan.

37:16 Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik;

37:17 sebab lengan orang-orang fasik dipatahkan, tetapi TUHAN menopang orang-orang benar.

37:18 TUHAN mengetahui hari-hari orang yang saleh, dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya;

37:19 mereka tidak akan mendapat malu pada waktu kecelakaan, dan mereka akan menjadi kenyang pada hari-hari kelaparan.

37:20 Sesungguhnya, orang-orang fasik akan binasa; musuh TUHAN seperti keindahan padang rumput: mereka habis lenyap, habis lenyap bagaikan asap.

JANGAN MARAH!

Pernahkah Anda melihat anak nelayan memancing kepiting? Mereka mengikatkan tali di sebatang bambu. Ujungnya diikatkan pada batu kecil. Lalu bambu itu diayun ke arah kepiting yang diincar, dan disentak-sentakkan agar kepiting itu marah. Begitu si kepiting marah, ia akan mencengkeram batu kecil itu dengan kuat dan terjeratlah ia karena kemarahannya!

Karena adanya akibat serupa dengan gambaran di atas, itulah sebabnya amarah anak Tuhan tidak boleh terpancing melihat orang jahat. Tiga kali pemazmur menasihati para pembacanya agar jangan marah kepada orang yang berbuat jahat (ayat 1, 7, 8). Alasannya, itu hanya akan membawa kita pada kejahatan. Emosi tinggi bisa membuat kita berbuat sesuatu yang berakibat buruk. Misalnya karena ingin melampiaskan kemarahan, kita justru menyakiti orang lain_fisik atau perasaan. Bahkan, sekalipun kemarahan itu beralasan! Anak Tuhan bisa menjadi marah atau iri hati terhadap orang jahat, yang bebas berbuat jahat, tetapi seolah-olah hidup mereka tetap aman dan terlindungi dari murka Allah. Seakan-akan Allah tidak adil. Sepertinya Dia membiarkan saja jika orang benar lebih kerap bermasalah dibanding orang jahat. Benarkah?

Jika kita harus menyaksikan kefasikan merajalela dan anak Tuhan tak bisa berbuat apa-apa, kita harus meneguhkan hati untuk tidak marah. Ya, marah kepada orang fasik hanya membuat kita masuk ke dalam pancingan mereka. Dan kemarahan yang tak terkendali justru akan menjerat pelakunya ke dalam dosa. Ingat saja kata pemazmur. Orang fasik takkan bertahan lama dalam keberdosaan, kejahatan mereka akan terbongkar. Tuhan selalu adil. Dia tidak menutup mata atas kefasikan. –ENO

KEBERUNTUNGAN ORANG FASIK HANYA SEMENTAR

KEBERUNTUNGAN ORANG BENAR SUNGGUH TAK TERKIRA

Sumber : www.sabda.org

MELAYANI TUHAN

PESAN GEMBALA

02 MEI 2010

EDISI 124 TAHUN 3

MELAYANI TUHAN

Shallom…Salam miracle…

Jemaat Tuhan di Gereja Bethany yang diberkati…Kali ini kita membahasa tentang melayani Tuhan, semua pelayanan yang kita kerjakan seharusnya tertuju kepada Allah. Dalam melayani Allah, kita mengenal siapa Allah dan apa hubungan kita dengan Dia. Sejarah mencatat bahwa ketaatan seorang bawahan atau hamba yang dengan senang dan sukarela memberikan kesetiaan, dedikasi, dan bahkan nyawanya bagi atasannya atau tuannya.

Dalam zaman Raja Alexander Agung terjadi peperangan yang sangat hebat di Sungai Granicus. Dalam peperangan tersebut Alexander Agung memimpin pasukannya, dan terjadilah peristiwa yang luar biasa ketika Raja Alexander Agung terdesak dan dalam bahaya, maka sahabatnya yang bernama Clitus, menyelamatkan nyawanya. Sahabatnya itu dengan kerelaan menyelamatkan teman sekaligus Rajanya.

Alfonso de Albuquerque sangat berdedikasi dan tetap setia kepada raja Emanuel dari Portugal, walaupun raja itu seringkali mengabaikan dia.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama dikisahkan tentang kesetiaan Daud yang melayani raja Saul, walaupun Saul dikuasai dengan iri hati dan berusaha untuk membunuh Daud berulang kali, namun Daud tetap setia dan menghormati Saul. Apabila contoh-contoh tersebut di atas dengan jelas dan berani dapat dengan setia menyerahkan diri mereka untuk melayani raja, bukankah kita harus lebih lagi melayani Allah kita yang penuh dengan kemuliaan?

Raja yang kita layani tidak lain adalah pencipta alam semesta. Dia berdaulat terhadap semua peristiwa, segala makhluk, dan manusia. Dia yang membentuk kita, mengasihi kita, dan menyelamatkan kita. Raja kita adalah Raja yang mulia, penuh hikmat, penuh kasih karunia dan kemurahan, baik, tidak berubah dan penuh kuasa.

Dalam Wahyu dikatakan demikian: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” Jika manusia mau melayani raja-raa seperti Alexander Agung, yang membiarkan egonya mendorong membunuh temannya yang telah menyelamatkan nyawanya; raja Emanuel yang mengkhianati hambanya yang setia ke dalam tangan musuhnya, apa seharusnya tanggapan kita terhadap Tuhan dan Raja?

Kita harus melayani Tuhan dengan setia..!! Dalam pencobaan di Padang Gurun, Yesus menanggapi setan dengan kata-kata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Lukas 4:8). Dalam ketidakmengertian kita, kita memberikan hidup kita kepada pekerjaan, sambutan meriah, pengaruh, atau kepada keberuntungan. Ambisi pribadi telah merampas waktu kita dan menyakiti hati kita. Kita pikir kita dapat bermain-main dengan materialisme dan menaruh Allah di temapt yang telah kita bangun untuk Dia, tetapi itu tidak benar.

Yesus menjelaskan dengan berkata: “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13). Bodoh kalau kita mencoba membagi perhatian kita antara materialisme dan Bapa.

Allah kita adalah Allah yang cemburu, bukan cemburu yang emosional melainkan cemburu yang ditandai dengan semangat untuk melindungi suatu hubungan kasih. Betapa beruntungnya kita bahwa Allah yang cemburu meneguhkan hubungan kasih kita dengan Dia. Jika kita tidak memilikinya, maka hubungan akan berada dalam bahaya. Untuk kemuliaan-Nyalah dan untuk kebaikan kita sehingga dalam kekuatan-Nya kita mempunyai jaminan kasih-Nya.

Kita harus menanggapi apa yang Allah lakukan dan kasih-Nya kepada kita dengan tekun melayani Dia. Dalam perintahnya kepada jemaat di Roma, Paulus mendorong mereka untuk melayani dengan tekun: “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Dia.” (Roma 12:11). Dengan kasih Allah dan dengan dikasihi Allah, kita melayani Dia dengan sepenuh hati, dengan ketaatan tanpa kompromi. Dalam semua yang kita lakukan, perhatian kita bukan pada penghormatan, kemakmuran atau kemasyuran, tetapi untuk menyenangkan Allah saja.

Yesus adalah teladan kita dalam ketekunan dan semangat. Setelah Dia menyucikan bait Allah dari mereka yang mengejar uang, “Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yohanes 2:17). Seperti Yesus, kita harus dikuasai oleh keinginan untuk melayani Tuhan kita.

Bagi kita semua, baik dalam mimbar, sekolah minggu, Y4C, dan kelompok FA, harus berusaha mengenal Allah lebih sungguh dan untuk membantu orang lain memperluas pengetahuan orang lain untuk mengenal Allah. Para pelayan yang melayani membagi kehidupannya dengan Allah dalam Doa. Sehingga mampu mendorong orang lain untuk melayani Dia dengan Kasih. Sehingga perlu menjaga kehidupan dari dosa dan segala hal yang dapat menghilangkan hubungan dengan Allah, ketika orang lain jatuh dalam dosa, maka melalui pelayanan kita dapat membawa orang itu untuk bertobat dan mengakuinya di hadapan Allah. Pelayanan kepada Allah meluapkan pelayanan kepada manusia. Jemaat yang dikasihi Tuhan…Kiranya kita semua semakin dapat melayani Allah kita.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…Amien.

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

CANTIK

Jumat, 26 Maret 2010

Bacaan : Amsal 31:10-31

31:10. Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.

31:11 Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan.

31:12 Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.

31:13 Ia mencari bulu domba dan rami, dan senang bekerja dengan tangannya.

31:14 Ia serupa kapal-kapal saudagar, dari jauh ia mendatangkan makanannya.

31:15 Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan.

31:16 Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya.

31:17 Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya.

31:18 Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam.

31:19 Tangannya ditaruhnya pada jentera, jari-jarinya memegang pemintal.

31:20 Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin.

31:21 Ia tidak takut kepada salju untuk seisi rumahnya, karena seluruh isi rumahnya berpakaian rangkap.

31:22 Ia membuat bagi dirinya permadani, lenan halus dan kain ungu pakaiannya.

31:23 Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.

31:24 Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang.

31:25 Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.

31:26 Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.

31:27 Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.

31:28 Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia:

31:29 Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.

31:30 Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.

31:31 Berilah kepadanya bagian dari hasil tangannya, biarlah perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang!

CANTIK

Maria Hartiningsih, wartawan harian Kompas, menulis, “Kalau ingin mata yang indah, carilah kebaikan dalam diri setiap orang; kalau ingin bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata yang bijaksana; kalau ingin tubuh yang semampai, berjalanlah dengan ilmu pengetahuan; dan kalau ingin tubuh yang langsing, berbagilah makanan dengan orang yang miskin.”

Wataklah yang membuat cantik, bukan sekadar penampilan fisik. Kebijaksanaan wanita yang digambarkan dalam amsal ini terlihat dari perilakunya terhadap suami, anak, pekerjaan, dan rumahnya. Rambut yang indah, mata yang cantik, bibir yang menarik ataupun tubuh yang menawan tidak disinggung sama sekali. Akan tetapi, yang ditekankan adalah bahwa karena perbuatannyalah seorang wanita bijak layak dipuji (ayat 31), sama sekali bukan rupa dan keindahan jasmaniahnya. Wanita yang bijak ini pandai mengatur rumahnya, terampil dalam kerjanya, dan tenang menghadapi masa depannya. Ia “cantik” karena kepribadian dan kebajikannya yang luhur.

Keindahan wanita luhur dalam amsal ini seperti menggugat iklan dan promosi kecantikan yang sungguh memborbardir imajinasi kita akan kecantikan. Sampo, sabun, kosmetik, suplemen, perawatan wajah dan kulit, bahkan sampai operasi plastik; sebagian besar berisi ilusi akan kecantikan. Mampu mengubah permukaan wajah, namun mengabaikan keindahan batiniah. Cantik seperti itu akan sia-sia jika tidak disertai kebaikan, keramahan, dan budi pekerti. Jadilah cantik di dalam watak Anda, sebab kecantikan kulit akhirnya akan sirna ditelan masa -DBS

CANTIK WAJAH ITU RELATIF DAN SEMENTARA

INDAH WATAK ITU LEBIH KUAT DAN LEBIH KEKAL

Sumber : http://www.sabda.org


SATU

Rabu, 17 Maret 2010

Bacaan : Matius 25:14-30

25:14. “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.

25:15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

25:16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.

25:17 Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.

25:18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

25:19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

25:20 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

25:22 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.

25:23 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

25:24 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.

25:25 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!

25:26 Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

25:27 Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.

25:28 Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.

25:29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

25:30 Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

SATU

Jumlah satu itu sedikit atau banyak? Tergantung satu apa? Satu rupiah sedikit. Satu juta rupiah banyak. Satu menit sebentar. Satu hari lumayan. Satu tahun waktu yang lama. Apalagi satu abad. Satu butir nasi apalah artinya. Satu piring nasi barulah namanya makan. Satu bakul nasi jatah 4 atau 5 orang. Sekali lagi, tergantung satu apa?

Pada masanya, satu talenta bukan jumlah yang sedikit. Bahkan sesungguhnya, sangat besar. Talenta adalah satuan (berat) uang Yunani yang tertinggi nilainya. Dengan satu talenta saja, orang sudah bisa membeli 200 ekor lembu! Masing-masing hamba memang diberi jumlah talenta yang berbeda. Tetapi yang paling sedikit pun tetap berjumlah besar. Jadi, tidak ada alasan untuk memendamnya. Tidak ada alasan untuk berkata “tidak cukup”. Bagaimana kalau masih dipendam juga? Tidak ada penyebab lain lagi, selain kenyataan bahwa ia adalah hamba yang malas! (ayat 26). Ia mengira jumlah satu itu sedikit dan tak ada artinya memiliki hanya satu talenta.

Kita pun sering begitu. Mengira satu itu kecil! Apalah artinya? Padahal tidak. Satu senyuman memulai sebuah persahabatan. Satu nyanyian ikut mencipta suasana romantis. Satu tepukan di pundak mampu memompa semangat. Satu bintang dapat memandu pelaut. Satu hak-suara sanggup mengubah wajah suatu bangsa. Satu langkah menjadi awal sebuah perjalanan panjang. Satu kata mengawali sebuah doa. Satu orang diri Anda berharga di mata-Nya. Satu orang beriman bisa menghantar 10, 100, bahkan 1.000 orang untuk mengenal Tuhan. Satu peran menjadikan sebuah pelayanan lengkap. Jadi, mengapa tidak mulai dari yang satu itu? -PAD

SEMUA ANGKA LAIN BERAWAL DARI ANGKA SATU

SEMUA MIMPI BESAR DIMULAI OLEH SATU TINDAKAN KECIL

Sumber : http://www.sabda.org