SUKA DI BALIK DUKA

Rabu, 20 Maret 2013

Bacaan: Yohanes 16:16-24 

16:16. “Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.”

16:17 Mendengar itu beberapa dari murid-Nya berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya Ia berkata kepada kita: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa?”

16:18 Maka kata mereka: “Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksud-Nya.”

16:19 Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepada-Nya, lalu Ia berkata kepada mereka: “Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku?

16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

16:21 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.

16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.

 

16:23. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

 

SUKA DI BALIK DUKA

Sewaktu istri saya melahirkan anak sulung kami, ia menanggung kesakitan yang luar biasa, hampir tak tertahankan. “Mau mati rasanya, ” katanya. Anehnya, begitu ia mendengar suara tangis perdana bayinya, rasa sakit bersalin itu seakan-akan lenyap tertelan oleh sukacita yang tak terkatakan. Ia merasa menjadi seorang perempuan yang sempurna karena telah melahirkan seorang bayi.

Ketika mempersiapkan para murid menjelang penyaliban-Nya, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa mereka juga akan mengalami pengalaman dramatis. Mirip dengan pengalaman seorang ibu yang melahirkan: kesakitan disusul dengan sukacita. Murid-murid juga akan menanggung dukacita yang mendalam karena kematian Guru mereka. Namun, dukacita mereka tidak akan berlangsung selamanya. Tuhan mereka tidak akan seterusnya berada di dalam kubur, tetapi akan bangkit dari antara orang mati. Dukacita mereka digantikan oleh sukacita yang mengubahkan hidup secara radikal: dari murid-murid yang ketakutan menjadi pemberita kabar baik yang tak takut pada ancaman hukuman mati. Kematian bukan lagi ancaman bagi mereka karena Tuhan mereka telah mengalahkan dosa dan maut.

Sebagai orang Kristen, kita bukan bersukacita karena segala keinginan kita terpenuhi. Kita bersukacita karena kita telah diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Itulah sukacita yang kekal, sukacita yang tidak dapat dirampas oleh penderitaan atau penganiayaan, dan tidak binasa oleh sengat maut sekalipun. Bersukacitalah! –ENO

DUKACITA YANG MENDALAM TIDAK JARANG
MERUPAKAN PINTU MENUJU SUKACITA TAK TERKIRA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

ORANG ARAB PUN MENDENGARNYA

Senin, 27 Agustus 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 2:1-13

2:1. Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.

2:2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;

2:3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.

2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

 

2:5. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.

2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?

2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:

2:9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,

2:10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,

2:11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.”

2:12 Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?”

2:13 Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

 

ORANG ARAB PUN MENDENGARNYA

Orang Yahudi perantauan, penganut Yahudi (bukan bangsa Yahudi), orang Kreta dan juga orang Arab; merekalah yang mengucapkan kata-kata dalam ayat pilihan ini. Ya, orang Arab juga turut mendengar perbuatan-perbuatan Allah! Kisah Yesus hangat diperbincangkan di Yerusalem saat mereka tengah di sana. Kisah yang menakjubkan sekaligus menghebohkan. Yesus mati disalib belum berselang lama.

Kini mereka mendengar lanjutan kisah itu. Yesus sudah bangkit. Murid-murid berkata bahwa mereka telah menerima Roh Kudus yang memberi mereka kesanggupan berbicara seperti itu. Publik seketika melihat perbedaan besar. Tak tersirat sedikit pun ketakutan atau keraguan pada murid-murid itu. Petrus si penyangkal. Juga Yohanes yang kabur terbirit-birit sewaktu Yesus ditangkap. Kini mereka, bersama murid-murid Yesus lainnya berbicara dalam bahasa yang dimengerti semua orang yang hadir. Orang Kreta mendengar kesaksian murid-murid itu dalam bahasa mereka. Orang Arab juga mendengarnya dalam bahasa Arab hingga mereka mengerti kisah Yesus itu secara jelas. Kira-kira tiga ribu orang memercayai kebenaran kisah itu sesudahnya (ayat 41).

Hari ini, berita yang sama masih perlu diperdengarkan dengan jelas. Yesus telah menyediakan jalan keselamatan agar manusia yang berdosa dapat kembali hidup memuliakan Allah. Adakah kendala bahasa yang menghalangi kita menyampaikannya? Mohon Roh Kudus menolong kita. Sebagian orang berkomunikasi dengan bahasa formal, akademis, sebagian lagi bahasa gaul. Bahasa daerah beserta dialeknya banyak juga. Dengan cara apa selama ini kita mempercakapkan perbuatan-perbuatan Allah? –MUN

BICARAKANLAH PERBUATAN-PERBUATAN ALLAH DALAM BAHASA

YANG DIMENGERTI TEMAN BICARA. ALLAH SUNGGUH MENGINGINKANNYA!

Dikutip : www.sabda.org

BUKAN SOSOK TAK BERDAYA

Minggu, 8 April 2012

Bacaan : Yohanes 10:11-21 

10:11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;

10:12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

10:13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.

10:14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku

10:15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.

10:16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.

10:17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.

10:18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”

 

10:19. Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata:

10:20 “Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?”

10:21 Yang lain berkata: “Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?”

BUKAN SOSOK TAK BERDAYA

Paskah tiba. Horeee … seru banyak anak. Saatnya mendapat telur-telur Paskah. Berbagai gereja mungkin punya ragam tradisi dalam menyambut Paskah. Namun, bagaimana Paskah membuat perbedaan dalam hidup kita?

Bacaan hari ini memuat salah satu pernyataan Yesus yang sangat gamblang tentang diri-Nya. Dia menggambarkan diri sebagai Gembala yang baik, yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (ayat 11). Gambaran ini mungkin membangkitkan keharuan. Kalau Dia sudah begitu mengasihi kita hingga menyerahkan nyawa-Nya, bukankah sudah seharusnya kita balas mengasihi-Nya? Ayat 17-18 membuyarkan konsep ini. Yesus yang mati dan bangkit bukanlah sosok tak berdaya dan memerlukan pertolongan kita. Dia punya kuasa atas nyawa-Nya kalau Dia mati, itu karena Dia memutuskan untuk memberikannya; dan kalau Dia bangkit, itu karena Dia punya kuasa untuk mengambilnya kembali. Para pendengar-Nya tercengang (ayat 19-21). Engkau kerasukan setan dan gila, Yesus! Siapa yang punya kuasa seperti itu? Namun, itulah faktanya. Yesus yang kita rayakan kebangkitan-Nya bisa bangkit karena Dia Tuhan, yang memiliki kuasa atas kehidupan dan kematian.

Dan, bukankah itu seharusnya memberi perbedaan yang besar dalam hari-hari yang kita jalani? Kalau Yesus menggenggam kehidupan dan kematian di tangan-Nya, adakah hal lain yang di luar kendali-Nya? Pasangan yang sulit, penyakit yang berat, masa depan yang tak menentu, hidup setelah kematian. Paskah membuka mata kita kepada Siapa kita harus berpaling. Ya, kepada Yesus, Sang Pemilik hidup-mati kita. –ELS

KEPADA SIAPA DIRI INI SEPENUHNYA KUSERAHKAN

KALAU BUKAN KEPADA PEMEGANG KENDALI KEHIDUPAN DAN KEMATIAN?

Dikutip : www.sabda.org

ROH PENGENALAN AKAN TUHAN

Rabu, 8 Februari 2012

Bacaan : Efesus 1:15-23

1:15. Karena itu, setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,

1:16 akupun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku,

1:17 dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.

1:18 Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,

1:19 dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,

1:20 yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga,

1:21 jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.

1:22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.

1:23 Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

ROH PENGENALAN AKAN TUHAN

Dalam sebuah konferensi Alkitab, Prof. Ludwig Kopfwissen dari Universitas Wissenheim menyampaikan makalah “Doktrin Paulus tentang Pembenaran oleh Iman”. Ia menjelaskan doktrin ini dengan sangat baik. Di akhir kuliahnya, semua pendengar memberikan tepuk tangan yang meriah karena mereka begitu kagum. Namun, sebelum kembali ke tempat duduknya, ia meng ucapkan komentar yang amat mengejutkan, “Tetapi, semuanya hanyalah omong kosong!” Sang pakar Alkitab ternyata bukanlah seorang yang beriman. Bagaimana bisa seseorang yang meneliti dan menguasai firman Tuhan, tetapi tidak percaya pada Tuhan?

Hal ini sangatlah mungkin karena firman Tuhan tak pernah berdiri sendiri untuk menjamah dan mengubah hati orang. Kuasa firman Tuhan berasal dari pekerjaan Roh Kudus dalam hati seseorang. Demikianlah keyakinan Paulus. Sebab itu, ia berdoa supaya Roh Kudus senantiasa menolong orang percaya untuk mengenal Tuhan (ayat 17). Roh Kuduslah yang dapat menerangi hati kita untuk memahami pengharapan, kemuliaan, kuasa, dan karya Bapa melalui Kristus untuk menebus dunia ini (ayat 18-21).

Tanpa Roh Kudus, kita tidak akan mengalami kuasa transformasi dari firman-Nya dalam kehidupan ini. John Owen, teolog dari abad ke-17, memperingatkan kita, “Jika Roh Kudus tidak bekerja bersama firman-Nya maka Alkitab hanyalah kumpulan huruf mati.” Adakah kita senantiasa bergantung pada Roh Kudus saat membaca dan mendengarkan firman-Nya? Berdoalah selalu agar Roh Kudus membuka hati kita setiap kali berhadapan dengan firman-Nya. –JIM

Dalam sekolah kehidupan

Roh Kudus adalah Guru dan Alkitab adalah buku wajibnya

Dikutip : www.sabda.org

ADA SAATNYA MENYERAH

Jumat, 11 November 2011

Bacaan : Yeremia 27 

27:1. Pada permulaan pemerintahan Zedekia, anak Yosia raja Yehuda, datanglah firman ini dari TUHAN kepada Yeremia.

27:2 Beginilah firman TUHAN kepadaku: “Buatlah tali pengikat dan gandar, lalu pasanglah itu pada tengkukmu!

27:3 Kemudian kirimlah pesan kepada raja Edom, kepada raja Moab, kepada raja bani Amon, kepada raja Tirus dan kepada raja Sidon, dengan perantaraan utusan-utusan yang telah datang ke Yerusalem menghadap Zedekia, raja Yehuda.

27:4 Perintahkanlah mereka mengatakan kepada tuan-tuan mereka: Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Beginilah harus kamu katakan kepada tuan-tuanmu:

27:5 Akulah yang menjadikan bumi, manusia dan hewan yang ada di atas muka bumi dengan kekuatan-Ku yang besar dan dengan lengan-Ku yang terentang, dan Aku memberikannya kepada orang yang benar di mata-Ku.

27:6 Dan sekarang, Aku menyerahkan segala negeri ini ke dalam tangan hamba-Ku, yakni Nebukadnezar, raja Babel; juga binatang di padang telah Kuserahkan supaya tunduk kepadanya.

27:7 Segala bangsa akan takluk kepadanya dan kepada anaknya dan kepada cucunya, sampai saatnya juga tiba bagi negerinya sendiri, maka banyak bangsa dan raja-raja yang besar akan menaklukkannya.

27:8 Tetapi bangsa dan kerajaan yang tidak mau takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel, dan yang tidak mau menyerahkan tengkuknya ke bawah kuk raja Babel, maka bangsa itu akan Kuhukum dengan pedang, kelaparan dan penyakit sampar, demikianlah firman TUHAN, sampai mereka Kuserahkan ke dalam tangannya.

27:9 Mengenai kamu, janganlah kamu mendengarkan nabi-nabimu, juru-juru tenungmu, juru-juru mimpimu, tukang-tukang ramalmu dan tukang-tukang sihirmu yang berkata kepadamu: Janganlah kamu mau takluk kepada raja Babel!

27:10 Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu dengan maksud menjauhkan kamu dari atas tanahmu, sehingga kamu Kuceraiberaikan dan menjadi binasa.

27:11 Tetapi bangsa yang mau menaruh tengkuknya ke bawah kuk raja Babel dan yang takluk kepadanya, maka mereka akan Kubiarkan di atas tanahnya, demikianlah firman TUHAN, dan mereka akan mengolahnya dan diam di sana.”

27:12. Kepada Zedekia, raja Yehuda, aku telah berbicara dengan cara yang sama, kataku: “Taruhlah tengkukmu ke bawah kuk raja negeri Babel, takluklah kepadanya dan kepada rakyatnya, maka kamu akan hidup.

27:13 Mengapa engkau beserta rakyatmu harus mati oleh pedang, kelaparan dan penyakit sampar seperti yang difirmankan TUHAN tentang bangsa yang tidak mau takluk kepada raja Babel itu?

27:14 Janganlah dengarkan perkataan nabi-nabi yang berkata kepadamu: Janganlah kamu mau takluk kepada raja Babel! Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu.

27:15 Sebab Aku tidak mengutus mereka, demikianlah firman TUHAN, tetapi mereka bernubuat palsu demi nama-Ku, sehingga kamu Kuceraiberaikan dan menjadi binasa bersama-sama dengan nabi-nabi yang bernubuat kepadamu itu.”

27:16 Juga kepada imam-imam dan kepada seluruh rakyat itu aku berbicara, kataku: “Beginilah firman TUHAN: Janganlah dengarkan perkataan nabi-nabimu yang bernubuat kepadamu: Sesungguhnya, perkakas-perkakas rumah TUHAN tidak berapa lama lagi akan dibawa kembali dari Babel! Sebab mereka bernubuat palsu kepadamu.

27:17 Janganlah kamu mendengarkan mereka, takluklah kepada raja Babel, maka kamu akan hidup. Mengapa kota ini harus menjadi reruntuhan?

27:18 Jika memang mereka itu nabi dan jika ada firman TUHAN pada mereka, baiklah mereka mendesak kepada TUHAN semesta alam, supaya perkakas-perkakas yang masih tinggal dalam rumah TUHAN dan dalam istana raja Yehuda dan di Yerusalem itu jangan diangkut ke Babel.

27:19 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam tentang tiang-tiang, bejana ‘laut’ dan galang, tentang sisa perkakas-perkakas yang masih tinggal di kota ini,

27:20 yang tidak diambil oleh Nebukadnezar, raja Babel, ketika ia mengangkut Yekhonya bin Yoyakim, raja Yehuda, ke dalam pembuangan beserta segala pemuka Yehuda dan Yerusalem, dari Yerusalem ke Babel, —

27:21 sungguh, beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel, tentang perkakas-perkakas yang masih tinggal itu di rumah TUHAN dan di istana raja Yehuda dan di Yerusalem:

27:22 Semuanya akan diangkut ke Babel dan akan tinggal di sana sampai kepada hari Aku memperhatikannya lagi, demikianlah firman TUHAN, lalu membawanya kembali ke tempat ini.”

ADA SAATNYA MENYERAH

Yos memukul tengkuk lelaki itu hingga pingsan. Ia terpaksa melakukannya karena pria itu terus meronta dan menyulitkan saat hendak ditolong dalam proses evakuasi di laut. Ketika ia dibuat tak berdaya, Yos bisa merangkul leher pria itu dan berenang membawanya ke pantai.

Bacaan hari ini secara mencengangkan menceritakan bahwa ada saat untuk menyerah, untuk menaklukkan diri kepada orang yang mungkin bukan sahabat kita, bahkan merupakan musuh yang akan mengambil hak kita. Tentu sepanjang hal itu dikehendaki Tuhan. Gandar kayu di tengkuk Yeremia adalah gambarannya. Yeremia diminta memberi tahu raja-raja tetangga bahwa seluruh negeri telah diserahkan ke tangan Nebukadnezar, raja Babel, dan mereka harus takluk kepadanya agar tidak mati oleh pedang, kelaparan, penyakit. Ini pun berlaku bagi Yehuda yang saat itu diperintah Raja Zedekia. Ini perintah yang sulit dan tak menyenangkan untuk dilakukan, terutama oleh bangsa yang “tegar tengkuk”.

Mungkin ada saat kita bertanya; mengapa Tuhan menaruh kita di posisi tidak berdaya, mengapa Tuhan seolah-olah melukai ego kita dan tidak membiarkan kita bangkit. Belajar dari kisah evakuasi laut yang dilakukan Yos, ada saatnya ketidakberdayaan itu membantu proses kita diselamatkan dari bahaya yang lebih besar. Sayangnya dalam lanjutan bacaan ini, kerajaan Yehuda tidak mau menyerah hingga mereka berakhir di ujung pedang dan pembuangan di Babel.

Kita mungkin diizinkan Tuhan untuk tidak berdaya, tetapi bukan berarti Tuhan juga sedang tanpa daya. Jika kita meyakini segala sesuatu tetap dalam kendali Tuhan, kita bisa belajar menyerah pada kehendak Tuhan tanpa takut dan ragu –SL

TUHAN TIDAK SEDANG TINGGAL DIAM SAAT DIA MEMINTA KITA UNTUK MENYERAH

Dikutip : www.sabda.org

BELENGGU BUKAN MASALAH

Selasa, 18 Oktober 2011

Bacaan : Filemon 

1:1. Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami

1:2 dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu:

1:3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

1:4 Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap kali aku mengingat engkau dalam doaku,

1:5 karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentang imanmu kepada Tuhan Yesus.

1:6 Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus.

1:7 Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku.

1:8. Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan,

1:9 tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,

1:10 mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus

1:11 –dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.

1:12 Dia kusuruh kembali kepadamu–dia, yaitu buah hatiku–.

1:13 Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil,

1:14 tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.

1:15 Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya,

1:16 bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.

1:17 Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.

1:18 Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku–

1:19 aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya–agar jangan kukatakan: “Tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!” –karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.

1:20 Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburkanlah hatiku di dalam Kristus!

1:21 Dengan percaya kepada ketaatanmu, kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih dari pada permintaanku ini akan kaulakukan.

1:22 Dalam pada itu bersedialah juga memberi tumpangan kepadaku, karena aku harap oleh doamu aku akan dikembalikan kepadamu.

1:23 Salam kepadamu dari Epafras, temanku sepenjara karena Kristus Yesus,

1:24 dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku.

1:25 Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kamu!

BELENGGU BUKAN MASALAH

Lie Tjiu Kie berusia 94 tahun. Meski sudah berusia lanjut dan harus duduk di kursi roda, ia terus melayani Tuhan dan menjadi berkat. Setiap hari ia berdoa bagi keluarga dan saudara-saudaranya yang belum percaya. Bahkan ketika ia sakit dan banyak dikunjungi, ia memakai kesempatan itu untuk mengajak saudara-saudaranya yang belum percaya untuk beriman kepada Kristus. Salah satunya, beberapa tahun lalu beliau meminta orangtua saya datang beribadah ke gereja. Hasilnya, orangtua saya sungguh-sungguh mau datang ke gereja untuk kali pertama, tepat ketika saya bernyanyi di paduan suara pada perayaan Natal.

Keadaan lemah dan terpenjara tak membuat Paulus berhenti mengabarkan Injil dan melayani Tuhan. Justru dalam keadaan demikian ia bisa banyak menulis, salah satunya menulis kitab Filemon. Dan melakukan pelayanan yang berarti, khususnya bagi Onesimus. Ya, di kitab ini kita membaca tentang Onesimus budak Filemon yang melarikan diri. Ketika Onesimus bertemu Paulus kemungkinan besar di penjara ia mendengar Injil dari Paulus dan menjadi orang percaya. Dari situ, Paulus menulis surat kepada Filemon agar menerima kembali Onesimus, bukan sebagai budak, melainkan sebagai saudara seiman.

Saat ini mungkin kita merasa terbelenggu dengan keadaan: kelemahan tubuh; usia senja yang membuat kita tak lagi leluasa bergerak; atau kesibukan pekerjaan. Apakah keterbatasan-keterbatasan ini menghalangi kita untuk melayani Tuhan? Atau justru memacu kita untuk bangkit dan kreatif mencari cara, sehingga di tengah kelemahan pun kita tetap dapat bersaksi tentang Tuhan? –VT

SELAGI HAYAT MASIH DIKANDUNG BADAN

MASIH ADA KESEMPATAN MELAYANI TUHAN

Dikutip : www.sabda.org

BANGUN LAGI

Senin, 1 November 2010

Bacaan : Yosua 1:1-9

1:1. Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:

1:2 “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.

1:3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.

1:4 Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.

1:5 Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.

1:6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.

1:7 Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.

1:8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.

1:9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi.”

 

BANGUN LAGI

Bruce adalah raja negeri Skotlandia pada zaman dulu. Enam kali ia gagal memimpin pasukannya melawan Inggris. Mereka selalu kalah dihajar musuh dan terpaksa melarikan diri ke hutan. Sementara bersembunyi di gubuk kosong-menyesali kegagalannya dan berputus asa, ia melihat laba-laba yang merajut sarang. Enam kali berturut-turut serangga itu berusaha sekuat tenaga mengaitkan salah satu ujung benang ke balok kayu di seberang, tetapi selalu gagal. “Kasihan, seharusnya kau menyerah saja!” bisik hati Bruce. Namun, laba-laba itu mencoba lagi dan berhasil! Ini memberinya inspirasi dan semangat baru. “Aku akan bertempur lagi untuk yang ketujuh kalinya!” teriak Bruce. Ia bangun, mengumpulkan dan melatih lagi sisa-sisa pasukannya; mengatur strategi dan menggempur kembali pertahanan musuh, sampai mereka terusir dari tanah airnya.

Semangat juang dan pantang menyerah memang perlu, terlebih di masa kesukaran. Yosua, sepeninggal Musa, mesti memimpin Israel masuk tanah perjanjian. Tuhan memberinya semangat supaya tidak kecut dan tawar hati (Yosua 1:9). Sebab, tawar hati hanya membuat kekuatan berkurang. Seperti nasihat penulis Amsal: “Tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali” (Amsal 24:16).

Salah satu penyebab orang tawar hati adalah kegagalan berulang kali. Namun, banyak tokoh besar dunia punya sederet pengalaman gagalsebelum berhasil tiba di puncak. Sebut saja Abraham Lincoln dan Albert Einstein. Yang pasti, keberhasilan mereka tak akan terpatri di sejarah jika pada kegagalan terakhir mereka tidak mau bangun lagi. Apakah kegagalan sedang menimpa Anda? Jangan tawar hati atau menyerah; bangkit dan berjuanglah lagi! –PAD

TAK SOAL BERAPA KALI ANDA JATUH

YANG PENTING, MASIHKAH ANDA MAU BANGUN KEMBALI?

Sumber : www.sabda.org