REFORMASI KEDUA

Senin, 26 Maret 2012

Bacaan : 1 Petrus 4:7-11

4:7. Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

4:9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.

4:10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.

4:11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

 

REFORMASI KEDUA

Berapa banyak orang-orang percaya yang “menganggur” di kerajaan Allah? Hasil survei nasional yang dilakukan Gallup di A.S. mendapati bahwa 10% anggota gereja yang aktif melayani secara pribadi, 50% tidak tertarik untuk melayani, dan 40% tertarik untuk melayani, tetapi tidak pernah diminta atau tidak tahu bagaimana. Kira-kira bagaimana hasilnya jika penelitian yang sama juga dilakukan di gereja atau persekutuan kita?

Pesan Alkitab sangat jelas. Alkitab memerintahkan setiap orang untuk melayani (ayat 10). Itu berarti 100% orang percaya, tanpa kecuali. Penggeraknya? Kasih yang sungguh-sungguh (ayat 8). Perlengkapannya? karunia yang sudah diberikan pada setiap orang percaya (ayat 10). Tanggung jawabnya? Memakai dan mengelola karunia yang sudah dianugerahkan Tuhan, baik itu karunia dalam perkataan maupun tindakan praktis (ayat 10-11). Tujuannya akhirnya? Supaya Allah dimuliakan (ayat 11).

Tuhan dimuliakan melalui komunitas orang percaya ketika anggota-anggotanya saling melayani satu sama lain dengan kasih. Namun, dalam praktiknya bukankah di berbagai tempat kita mendapati hanya segelintir orang tertentu yang sibuk melayani dan kebanyakan jemaat sibuk mengkritik sebagai penonton? Elton Trueblood berkata: “Jika reformasi yang pertama telah mengembalikan Firman Allah kepada umat Allah, kita sekarang memerlukan reformasi kedua untuk mengembalikan pekerjaan Allah kepada umat Allah.” Elton benar. Pekerjaan Allah adalah pelayanan dari seluruh orang percaya, bukan hanya orang-orang tertentu. Mari memulai reformasi kedua ini. Dari diri sendiri. Dari komunitas terdekat kita. –JOO

RANCANGAN ALLAH:

PEKERJAAN ALLAH DIKERJAKAN

BAGI KEMULIAAN ALLAH

OLEH SELURUH UMAT ALLAH.

Dikutip : www.sabda.org

 

KOINONIA

Minggu, 12 Februari 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 2:41-47

2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

2:42. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.

2:44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,

2:45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,

2:47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

KOINONIA

Persekutuan merupakan salah satu istilah yang sangat umum dalam kekristenan. Sayang, istilah ini sering dimaknai secara dangkal. Bagi keba nyak-an orang, kata ini sudah berarti sama dengan pertemuan ibadah (“Datang ke persekutuan”) atau suatu perkumpulan rohani (“Menjadi pengurus persekutuan”).

Kata persekutuan dalam kehidupan jemaat mula-mula diterjemahkan dari kata Yunani koinonia (ayat 42), yang secara harfiah berarti “memiliki atau berbagi suatu hal bersama”. Perhatikan bacaan Alkitab kita, dan kita dapat menemukan banyak hal yang dimiliki dan dibagikan secara bersama di antara jemaat mula-mula, baik dalam kehidupan rohani maupun keperluan jasmani. Itulah yang terjadi ketika koinonia berfungsi sepenuhnya. Pertemuan raya di Bait Allah dan perkumpulan di rumah-rumah menjadi penting karena melaluinya jemaat mengalami koinonia (ayat 46). Persekutuan yang berfungsi sepenuhnya memikat hati banyak orang untuk datang dan beroleh selamat (ayat 47).

Sekadar kehadiran atau bahkan kepengurusan pada sebuah persekutuan tidak sama dengan hidup dalam koinonia. Persekutuan yang sejati perlu memiliki koinonia dalam visi, komitmen, dan praktik hidup sehari-hari. Kita hidup dalam zaman di mana ketidakpedulian pada orang lain dan keberpusatan pada diri sendiri mejadi nilai-nilai umum. Adakah dunia menemukan oasis yang memenuhkan dahaga mereka akan koinonia di tengah persekutuan orang percaya? Bagaimana dengan persekutuan di tempat Anda berada? –JOO

Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu

adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi (Yohanes 13:35)

Dikutip : www.sabda.org

DUA JALUR KERETA API

Kamis, 18 Agustus 2011

Bacaan : 1 Tesalonika 5:16-18

5:16. Bersukacitalah senantiasa.

5:17 Tetaplah berdoa.

5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

DUA JALUR KERETA API

Pada masa yang sama, Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life, mengalami dua hal yang bertolak belakang. Ia menuai kesuksesan besar karena bukunya tercetak hingga 15 juta eksemplar. Namun bersamaan dengan itu, hatinya merasa berat karena istrinya, Kay, diserang kanker.

Menyikapi hal bertentangan ini, Rick berkata, “Saya terbiasa berpikir bahwa hidup adalah deretan gunung dan lembah-kita berjalan melalui saat-saat gelap, mencapai puncak gunung, kemudian kembali lagi, begitu terus-menerus. Kini saya tidak percaya itu lagi. Hidup ini lebih seperti dua jalur kereta api yang menyatu di ujung, dan di sepanjang waktu Anda akan menjumpai hal baik dan juga hal buruk. Sebanyak apa pun hal baik yang Anda terima, Anda tetap akan menghadapi hal buruk yang mesti diatasi. Sebaliknya, seburuk apa pun hidup yang Anda jalani, selalu ada hal baik yang dapat disyukuri.”

Menyadari bahwa manusia tak dapat menghindar dari hidup yang berdinamika seperti dua “jalur kereta”, Paulus mengungkap tiga nasihat sederhana tetapi sangat penting untuk selalu dilakukan, da-lam segala keadaaan-baik dan buruk-yakni: bersukacita, berdoa, mengucap syukur. Agar ketika suka datang, manusia tak menjadi takabur. Atau, ketika duka menyapa, manusia tak menjadi habis asa. Sebab, sesungguhnya melalui jalan ini Tuhan menolong manusia untuk selalu melihat hidupnya secara seimbang. Bahwa hidupnya terselenggara bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi selalu ada Tuhan yang berdaulat. Dan, bahwa manusia hidup bukan hanya untuk menikmati dunia, tetapi bahwa ada urusan kekekalan yang harus dipersiapkan sekarang –AW

DUKA DAN BAHAGIA KADANG DATANG BERSAMAAN

AGAR KITA TAK LUPA DIRI DAN LUPA TUHAN

Dikutip : www.sabda.org

DOA BUNTU

Rabu, 29 Juni 2011

Bacaan : Yakobus 4:1-3

4:1. Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?

4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.

4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

 

DOA BUNTU

Tahukah Anda dead letter office (kantor surat buntu)? Sejak 1825 Kantor Pos Amerika Serikat menyediakan kantor surat buntu untuk menampung surat yang tidak dapat dikirimkan. Surat buntu biasanya karena alamat tujuan dan alamat pengirim tidak jelas, seperti surat kepada Sinterklas. Pada 2006 saja jumlah surat buntu mencapai 90 juta. Untuk melindungi privasi konsumen, surat tanpa identitas jelas itu dihancurkan, kecuali lampiran berharganya yang diambil untuk dilelang.

Kalau ada surat buntu, apakah ada doa buntu? Apabila yang dimaksudkan adalah doa-doa yang tidak terjawab, firman Tuhan menjawabnya secara tegas: Ada. Rasul Yakobus menyebutkan salah satu penyebabnya. Kita berdoa, bisa jadi dengan tekun dan bersungguh-sungguh, namun kita salah arah. Bisa salah permintaan, bisa juga salah motivasi. Doa kita egois, hanya berfokus pada kepentingan diri. Kita meminta sesuatu untuk memuaskan kesenangan pribadi. Atau, tanpa meminta petunjuk Allah, kita sudah menyusun rencana tertentu, dan dengan berdoa kita berharap Dia akan menerakan cap persetujuan-Nya tanpa campur tangan lebih jauh. Seperti surat buntu yang dihancurkan, doa buntu berujung pada kesia-siaan.

Doa bukanlah sarana untuk memelintir tangan Allah agar mengikuti apa saja keinginan kita. Sebaliknya, doa adalah kesempatan untuk menyelaraskan langkah kita agar seiring dengan langkah Tuhan. Kita berdoa dengan meneladani Anak Allah di Getsemani, penuh kerelaan untuk merendahkan diri dan berserah, “Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi.” Bagaimana Allah dapat menolak doa yang seperti itu? –ARS

DOA BUKAN UNTUK MENGENDALIKAN KEHENDAK TUHAN

MELAINKAN UNTUK MENGENDALIKAN KEHENDAK KITA

Dikutip : www.sabda.org

SURGA SUNYI SENYAP

Kamis, 19 Mei 2011

Bacaan : Wahyu 8:1-5

8:1. Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya.

8:2 Lalu aku melihat ketujuh malaikat, yang berdiri di hadapan Allah, dan kepada mereka diberikan tujuh sangkakala.

8:3 Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu.

8:4 Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.

8:5 Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi. Maka meledaklah bunyi guruh, disertai halilintar dan gempa bumi.

 

SURGA SUNYI SENYAP

Jika seseorang ingin berbicara dengan Anda saat Anda menonton televisi, apa reaksi Anda? Tergantung. Apakah itu acara kesukaan Anda? Apakah suaranya terdengar? Yang paling menentukan, siapa yang memanggil? Seberapa penting ia bagi Anda? Apakah interupsinya mengganggu, atau justru menarik perhatian Anda? Itu terpulang pada tempat orang itu di hati Anda. Jika ia kekasih, Anda akan mengecilkan suara televisi-bahkan mematikannya, supaya ia mendapat perhatian Anda sepenuhnya.

Wahyu 5 melukiskan bagaimana surga dipenuhi puji-pujian bagi Anak Domba-Yesus Kristus. Penyembahan yang gegap gempita. Bahkan disuarakan seluruh makhluk dengan nyaring-paduan suara surgawi yang indah dan megah. Namun, ada saatnya-seperti tercatat di bacaan kita di pasal 8-surga tiba-tiba menjadi sunyi senyap (ayat 1). Paduan suara surgawi itu mendadak berhenti. Surga menjadi hening. Apa yang terjadi? Ternyata itu saat “dupa harum” (kemenyan) doa semua orang kudus naik ke hadirat Allah (ayat 3, 4). Perhatian surga sedang tertumpah penuh pada doa para kekasih Tuhan. Doa kita semua. Dalam kemuliaan-Nya, Dia mendengar doa kita.

Kadang kita letih dan jemu berdoa, karena tidak yakin apakah Allah mendengar atau peduli pada doa kita. Seberapa penting doa saya dibanding doa para tokoh iman? Mungkin sebaiknya saya minta rohaniwan mendoakan saya. Pasti doa mereka lebih didengar. Tidak! Setiap kita ada di hati-Nya. Anda penting bagi-Nya. Jika Anda berdoa, Dia sangat peduli. Bahkan, surga senyap tatkala bisikan doa Anda terucap. Miliki keyakinan itu ketika berdoa. Dan jangan jemu berdoa! –PAD

BERDOALAH DENGAN KEYAKINAN BAHWA

ANDA MENDUDUKI TEMPAT YANG PENTING DI HATI TUHAN

Dikutip : www.sabda.org

MENGAJARKAN BERULANG-ULANG

Minggu, 24 Oktober 2010

Bacaan : Ulangan 6:4-9

6:4. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

MENGAJARKAN

BERULANG-ULANG

Suatu kali seorang guru Sekolah Minggu menegur Kevin, murid yang dikenal badung dan suka berbuat iseng di kelasnya. “Kevin, tidak boleh begitu! Tuhan Yesus tidak suka kalau Kevin begitu.” De-ngan enteng Kevin menjawab, “Ah biarin, nanti Tuhan Yesusnya saya smack down”. Mendengar pernyataan muridnya tersebut, sang guru mendekat dan menasihatinya.

Memang perlu diakui bahwa anak-anak lebih mudah mengikuti teladan tokoh atau acara tertentu di televisi dibandingkan cerita Alkitab, bahkan Tuhan Yesus sendiri. Mengapa? Karena Tuhan Yesus tidak terlihat, sedangkan televisi lebih nyata. Ini wajar karena salah satu pintu belajar seorang anak adalah penglihatan. Jadi, bagaimana caranya agar anak tersebut dapat belajar tentang Allah secara nyata? Orangtualah jawabannya. Orangtua harus mewujudkan dan menunjukkan contoh penerapan dari pengajaran mengenai Allah, dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah bukunya, Cornelius Plantinga Jr. mengatakan bahwa anak akan belajar mengenai Allah justru waktu ia melihat orangtuanya berdoa, menyebut nama Allah, menghindari dosa, dan memprioritaskan Allah dalam hidupnya.

Kondisi zaman dan kemajuan teknologi memang dapat memberi pengaruh yang positif, tetapi sekaligus mendatangkan peringatan bagi orangtua kristiani. Setiap orangtua harus sungguh-sungguh mencondongkan hati kepada Allah dan hidup takut akan Allah. Supaya pengajaran mengenai Allah dapat ditangkap sepenuhnya oleh anak-anak ketika mereka melihat langsung cara hidup orangtuanya. Itulah artinya mengajarkan tentang Allah secara berulang-ulang kepada anak-anak –RY

ANAK-ANAK AKAN TERTOLONG UNTUK DAPAT MELIHAT TUHAN

KETIKA ORANGTUA MELAKUKAN APA YANG ALKITAB AJARKAN

Sumber : www.sabda.org

MEMERCAYAKAN DIRI

Senin, 26 Juli 2010

Bacaan : Ibrani 11:5,6

11:5 Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.

11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

MEMERCAYAKAN DIRI

Seorang bapak cemas. Pesta pernikahan anaknya akan digelar di alam terbuka beberapa hari lagi. Padahal tiap hari turun hujan. Jika hujan turun saat pesta berlangsung, semua acara bisa berantakan! Seorang teman menawarkan solusi. “Pakailah pawang hujan, ” ujarnya, “Serahkan saja kepadanya, semua pasti beres!” Sebagai orang beriman, sang bapak menolak. Ia merenung: “Daripada memercayakan diri pada pawang, lebih baik aku memercayakan diri kepada Yesus, Raja alam raya.” Ia pun bertelut. Berserah. Hatinya menjadi tenang. Saat pesta berlangsung, cuaca ternyata cerah!

Beriman berarti memercayakan diri kepada Tuhan dan kuasa-Nya. Orang yang beriman harus yakin bahwa Allah ada dan sanggup memberi upah kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari-Nya. Sikap iman seperti ini ditunjukkan oleh Henokh. Kitab Kejadian mencatatnya sebagai orang yang “hidup bergaul dengan Allah” (Kejadian 5:24). Dalam terjemahan lain: “berjalan bersama Allah”. Henokh melangkah sambil berserah. Ia percayakan hidup dan masa depannya kepada Allah, sehingga damai sejahtera mengiringi langkahnya. Akhir hidupnya pun diatur Tuhan begitu indah. Henokh tidak mengalami sakit atau kematian. Allah mengangkatnya.

Hanya dengan memercayakan diri, kita memperoleh ketenangan. Mengapa Anda tidak khawatir menyimpan uang di bank? Karena Anda memercayakan diri pada nama baik bank itu. Mengapa Anda tidak khawatir melepas anak-anak di sekolah? Karena Anda memercayakan mereka kepada para guru. Dengan cara yang sama, percayakanlah diri Anda pada Tuhan! Berjalanlah dengan-Nya, maka hati Anda pun tenang –JTI

KITA BISA MELANGKAH MANTAP

BUKAN KARENA PERCAYA DIRI

MELAINKAN KARENA MEMERCAYAKAN DIRI

Sumber : www.sabda.org

BERSUNGUT-SUNGUT

Selasa, 27 April 2010

Bacaan : Keluaran 17:1-7

17:1. Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu.

17:2 Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?”

17:3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”

17:4 Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!”

17:5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah.

17:6 Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel.

17:7 Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”

BERSUNGUT-SUNGUT

Seorang pengemudi mobil kehilangan karcis parkir di sebuah mal. Akibatnya ia harus membayar denda Rp20.000, 00. Karena jengkel, spontan ia memarahi petugas di loket parkir. “Ini pemerasan!” katanya. “Saya tidak akan ke sini lagi!” Setelah petugas menjelaskan bahwa ia hanya menjalankan ketentuan pihak pengelola, si pengemudi membayar juga. Namun, ia pulang dengan bersungut-sungut!

Kita bersungut-sungut ketika merasa terjebak dalam situasi yang tak dapat diubah. Umat Israel bersungut-sungut ketika mengalami krisis air, saat mengembara di padang gurun. Mereka merasa menjadi korban. Terjebak mengikuti pimpinan Tuhan. Musa pun menjadi sasaran kemarahan, karena ia juru bicara Tuhan. Padahal ia hanya meneruskan “ketentuan pihak pengelola” yakni Tuhan sendiri. Mereka menuduh, “Engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami!” (ayat 3). Jawab Musa, sungut-sungut mereka berarti mencobai Tuhan. Meragukan pimpinan-Nya. Gerutuan mereka tidak dibalas Musa dengan sungut-sungut juga. Alih-alih, Musa berseru-seru kepada Tuhan (ayat 4). Hasilnya? Tuhan mengirim air!

Kadang kita tak dapat mengubah situasi, tetapi kita dapat mengubah cara kita menghadapi situasi. Sikap menggerutu membuat situasi tambah runyam. Pimpinan Tuhan diragukan. Orang lain dikambinghitamkan. Bukankah lebih baik kita meniru Musa: berseru- seru pada Tuhan? Dengan mencurahkan isi hati kepada Tuhan, hati menjadi lega, Tuhan pun menawarkan solusi. Ingatlah, Tuhan bertindak bukan karena sungut-sungut umat, melainkan karena seruan Musa. Dengan berseru-seru, kita memiliki cara sehat dan kreatif ketika menghadapi jalan buntu –JTI

DENGAN BERSUNGUT-SUNGUT, MUNCUL PERSOALAN

DENGAN BERSERU-SERU PADA TUHAN, MUNCUL PENYELESAIAN

Sumber : www.sabda.org

JALAN YANG SEPI

Sabtu, 31 Oktober 2009

Bacaan : Markus 6:30-46

6:30. Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.

6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.

6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.

6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka.

6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

6:35 Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.

6:36 Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.”

JALAN YANG SEPI

Delapan puluh kilometer di sebelah barat Asheville, North Carolina, saya membawa mobil saya keluar dari jalan bebas hambatan yang padat dan melanjutkan perjalanan ke kota melalui jalur Blue Ridge Parkway yang berpemandangan indah. Pada sore hari di akhir bulan Oktober itu, saya mengemudi dengan lambat dan sering berhenti untuk menikmati pemandangan pegunungan serta dedaunan musim gugur yang berkilauan. Perjalanan itu memang tidak membawa saya sampai tujuan dengan cepat, tetapi perjalanan itu menyegarkan jiwa saya.

Pengalaman itu membuat saya bertanya, “Seberapa sering saya melewati jalan yang sepi bersama Yesus? Adakah saya keluar dari jalan bebas hambatan yang penuh tanggung jawab dan kesibukan untuk memusatkan perhatian kepada-Nya selama beberapa saat setiap hari?”

Setelah para murid Yesus menyelesaikan sebuah pelayanan yang penuh tantangan, Dia berkata kepada mereka, “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil, dan beristirahat sejenak” (Markus 6:31). Bukannya memperoleh liburan panjang, mereka justru hanya melakukan sebuah perjalanan singkat di atas perahu bersama Yesus sebelum kemudian mereka dikerumuni orang banyak. Para murid menyaksikan belas kasihan Tuhan dan berpartisipasi dengan-Nya dalam memenuhi kebutuhan orang banyak tersebut (ayat 33-43). Saat hari yang melelahkan itu berakhir, Yesus mencari penyegaran melalui doa kepada Bapa surgawi (ayat 46).

Yesus Tuhan kita selalu beserta kita, baik di tengah hiruk pikuk atau ketenangan. Namun demikian, kita perlu mengambil waktu setiap hari untuk melewati jalan yang sepi bersama-Nya –DCM

SANGATLAH BAIK UNTUK MELUANGKAN
WAKTU BERSAMA ALLAH

Sumber : www.sabda.org

KRISTEN SEJATI (3)

Shallom… Salam Miracle

 

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, hari ini kita melanjutkan pembahasan dalam warta jemaat minggu lalu, yaitu tentang Kristen Sejati.

 

Bagaimana supaya kita dapat bertumbuh kuat dan semangat dalam kehidupan rohani kita?

 

  1. JADILAH ORANG KRISTEN YANG MENJADIKAN ALKITAB SEBAGAI MAKANAN
  2.  JADILAH ORANG KRISTEN YANG SETIA BERDOA
  3. JADILAH PENYEMBAH YANG TERATUR DALAM PERSEKUTUAN
  4. JADILAH ORANG KRISTEN YANG DIBAPTIS

Baptisan dalam Perjanjian Baru selalu diterapkan kepada mereka yang sudah percaya (Markus 16:16), bertobat (Kisah 2:38), menerima Firman Allah (Kisah 2:41) dan taat kepada Firman Tuhan Yesus (Matius 28:19), “pergilah dan jadikanlah semua bangsa muridku, baptislah mereka dalam nama Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Oleh karena itu keputusan yang tepat adalah mentaati apa yang dikatakan oleh Alkitab.

 

Bagaimana caranya jemaat dalam masa perjanjian Baru dibaptis? Dengan satu cara yaitu ditenggelamkan di dalam air dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Roma 6:3-5 menunjukkan bahwa baptisan air adalah satu bentuk atau gambaran dari pengalaman rohani yaitu dikuburkan dan dibangkitkan bersama Kristus.

Kapan orang Kristen harus dibaptis? Segera setelah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

 

       5. JADILAH ORANG KRISTEN YANG DIPENUHI ROH KUDUS

Tidak seorangpun yang dapat hidup dengan menggunakan kekuataannya sendiri, sebab Allah tidak pernah merencanakan cara seperti itu, Allah yang membuat ketetapan supaya orang percaya dipenuhi Roh Kudus untuk menguatkannya, dipenuhi dalam hidup kekristenannya dan diberi kuasa supaya berbuah, serta efektif dalam melayani Kristus.

Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan bumi dan kembali ke Sorga, Dia menjanjikan seorang Penolong yang lain untuk mengambil alih kehadiran fisikNya. Roh Kudus akan datang dan menjadikan fisik orang percaya sebagai bait-Nya (1 korintus 6:19), “dipenuhi oleh ROH KUDUS” (Efesus 5:18), ini perintah yang sama untuk dilakukan seperti Baptisan Air.

Tuhan Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk dibaptis atau dipenuhi Roh Kudus sebelum mereka pergi melayani. Ini terjadi pada hari PENTAKOSTA, dalam Kisah Para Rasul 2. Saat Roh Kudus tercurah dan memenuhi jiwa-jiwa yang haus. Mereka mulai berbicara dalam bahasa lidah yang tidak pernah mereka pelajari, di bawah kuasa Roh Kudus. Siapakah yang membaptis dengan Roh Kudus? Adalah Tuhan Yesus sebagai Pembaptis. Seorang pendeta atau hamba Tuhan yang membaptis kita dengan air, tetapi hanya  Tuhan Yesus yang dapat memenuhi kita dengan Roh Kudus. Tuhan Yesus mengundang kita untuk datang kepadaNya dan oleh iman dipenuhi Roh Kudus (Yohanes 7:37-38).

Setiap orang percaya dapat menerima kepenuhan Roh Kudus atau menerima baptisan Roh Kudus dan kepenuhan Roh Kudus secara terus menerus. Kata “dipenuhi” merupakan bentuk waktu sekarang, menandakan satu peristiwa yang dipenuhi oleh Roh Kudus dari dalam sampai menutupi, membungkus kita.

 

     6. JADILAH ORANG KRISTEN YANG SUKA MEMBERI

Uang memegang peranan penting dalam segala macam aspek dan kegiatan dalam pekerjaan Tuhan, melalui Gereja Allah yang memberkati dan mendayagunakan orang-orangNya untuk memanfaatkan kebutuhan akan keuangan bagi pekerjaanNya. Memberi merupakan bagian yang pentng dalam penyembahan dan pelayanan kita, juga sebagai sarana untuk menerima berkatNya. Dalam 2 Korintus 9:7,”Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”.

Berapa banyak kita harus memberi?…. (BERSAMBUNG)

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien.

 

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA