BEDA PENILAIAN

Senin, 24 September 2012

Bacaan : Lukas 15:1-7

15:1. Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.

15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

15:4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,

15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

 

BEDA PENILAIAN

Ia baik dan pintar, ” cerita keponakan saya tentang teman favoritnya. Beberapa teman tidak ia sukai Alasannya antara lain: mereka nakal, suka mengganggu, pelit meminjamkan mainan. Celotehnya menyadarkan saya betapa sejak kecil kita sudah punya kecenderungan untuk menilai orang menurut tolok ukur tertentu, entah itu kebaikannya, reputasinya, atau kelakuannya terhadap kita. Dan, penilaian itu memengaruhi cara kita bersikap.

Sungut-sungut orang Farisi dan ahli Taurat adalah cermin penilaian mereka terhadap sekelompok orang. Tolok ukurnya adalah diri sendiri. Melabeli kelompok lain berdosa, menyiratkan mereka mengelompokkan diri sendiri sebagai orang-orang yang tidak berdosa. Keramahan Yesus pada kelompok “berdosa” membuat mereka tak nyaman (ayat 2). Yesus mengoreksi cara pandang ini, mengajak mereka untuk memakai tolok ukur Allah. Dalam sudut pandang-Nya juga ada dua macam kelompok orang, tetapi dua-duanya berdosa. Bedanya, yang satu sadar akan dosanya, yang lain tidak (ayat 7). Yang satu bertobat, yang satu tidak merasa butuh pertobatan. Dan surga bersukacita untuk orang berdosa yang bertobat.

Melihat orang lain dalam dosa, ingatlah bahwa kita tidak lebih baik. Kita tak dapat menyelamatkan diri sendiri, namun Allah dalam kasih-Nya telah mencari dan menemukan kita. Mari periksa lingkaran pergaulan kita. Apakah kita cenderung berteman dengan orang-orang tertentu dan menjauhi yang lain? Mengapa? Daftarkan hal-hal yang biasanya menjadi tolok ukur kita dalam mengasihi orang lain. Mintalah agar Allah memperbarui cara pandang kita dengan cara pandang-Nya. –JOE

PANDANGLAH SESAMA DARI SUDUT PANDANG ALLAH.

KASIHILAH MEREKA DENGAN KASIH DARI PADA-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

Keputusan yang Mengubahkan

PESAN GEMBALA

17 JANUARI 2010

EDISI 109 TAHUN 3

Shallom… Salam Miracle…

Jemaat Tuhan di Bethany yang diberkati…Kita telah menjalani tahun 2010 selama setengah tahun, kiranya berkat-berkat Allah senantiasa menyertai kita IMANUEL…!

Dalam Yosua 2:1-21 dikisahkan disana tentang 2 orang pengintai utusan Yosua dan seorang perempuan sundal yang bernama Rahab, kesempatan ini kita lebih menyoroti Rahab, dia adalah seorang penduduk suatu negeri yang dipenuhi dengan berbagai kejahatan, dan memang demikianlah cara hidup orang Kanaan.

Tetapi saat kaum Ibrani mengalahkan Yerikho, ia mendengar tentang Allah yang benar dan hidup yaitu YEHOVA. Rahab mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara allah-nya dengan Alah Israel. Allah Israel bukan hanya menjanjikan pertolongan tetapi juga Allah yang mampu membebaskan. Sehingga memahami bahwa ia telah diperhadapkan pada janji-janji palsu allahnya.

Allah yang didengarnya ini lebih kuat dan hebat daripada allah-allahnya. Rahab menanggapi bahwa 2 orang pengintai dari Israel itu menunjukkan adanya penyertaan Tuhan mereka, sehingga bertemu dengan dia satu-satunya penduduk Yerikho yang hatinya mau percaya.

Rahab berkata kepada kedua pengintai itu “AKU TAHU, BAHWA TUHAN TELAH MEMBERIKAN NEGERI INI KEPADA KAMU… SEBAB TUHAN ALLAHMU IALAH ALLAH DI LANGIT DI ATAS DAN DI BUMI DI BAWAH…”

Hal yang luar biasa terjadi yaitu seorang pelacur yang memiliki iman yang kuat. Kisahnya mengajarkan kita bahwa kita jangan pernah menghakimi kondisi rohani seseorang dengan pandangan yang sekilas saja. Hal ini tidak mengejutkan sebab ketika Yesus datang ke dunia ini, bukan orang-orang religius, bangsawan, atau tokoh hebat yang menerima Dia, bahkan mereka menolak Yesus, tetapi justru yang menerima adalah pemungut cukai, orang-orang sederhana bahkan orang-orang berdosa.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, masa lalu kita seringkali menentukan kemana kita akan menuju di masa yang akan datang, dan itu menolong kita untuk memutuskan apa yang harus kita kerjakan. Pengalaman kita membentuk nilai-nilai yang akan mempengaruhi keputusan kita.

Pengalaman-pengalaman itu dapat mengubah kehidupan kita dan mempersiapkan kita untuk menjalani kehidupan di masa mendatang. Rahab memiliki sebuah pilihan dari beberapa pilihan. Pilihannya yang pertama adalah pilihan yang mudah. Suara hatinya tentu mengatakan kepadanya “segalanya akan berjalan baik, hidupmu menyenangkan, maka serahkan saja kedua mata-mata itu dan kamu pasti menjadi pahlawan”. Namun kemudian Rahab berpikir kembali “apa untungnya menjadi pahlawan di kota yang jahat”.

Kita seringkali juga berpikir demikian, mungkin hidupku tidaklah berarti, mungkin aku tidak dapat berdiri dengan teguh dalam iman, tapi hidupku sudah menyenangkan, sehingga aku tidak mau melakukan sesuatu yang akan menghancurkan perahuku.

Kunci untuk menikmati kehidupan ini adalah tetap mencari keamanan bagi diri sendiri. Jadi saudara, setiap saat, menentukan/menguji kesetiaan kita. Oleh karena itu setiap kita akan diperhadapkan seperti seperti yang dialami oleh Rahab. Kepada siapakah kita akan setia? Kita dapat menjadi terkenal dan nyaman di Yerikho kita, atau kita akan maju menuju ke dalam kerajaan yang baru, suasana yang baru.

Rahab tidak melakukan dengan memilih keduanya. Dia harus memilih apakah orang Ibrani itu diserahkan dan kalah, atau Yerikho yang mengalami kehancuran, dia harus mengambil keputusan yang tepat, demikian juga kita. Ini bukanlah suatu keputusan yang mudah bagi Rahab, Yerikho adalah kota yang indah dengan pengairan yang baik, serta adanya taman-taman yang menarik, dan banyak sejarah baginya. Untuk mengambil keputusan bagi Allah, berarti ia harus bersiap menggantikan dunianya. Kemenangan orang Ibrani berarti bahwa ia harus kehilangan penghidupannya, rumahnya akan menjadi berantakan bahkan reruntuhan, walaupun ia dan keluarganya saja yang selamat.

Mengapa Rahab memilih keputusan itu dan berani melakukannya? Dimanakah ia menemukan keberanian untuk membuat lompatan iman kepada Allah yang belum dikenalnya? Surat Ibrani memberikan jawabannya kepada kita, “Dalam iman, mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikannya itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.” (Ibrani 11:13-16). “Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik.(Ibrani 11:31)..jadi dengan IMAN.

Keputusan yang menentukan dan akhirnya tidak tergoyahkan. Allah tidak pernah meninggalkan setiap kita yang datang kepada-Nya. Hal yang paling buruk dalam hidup bukanlah salah membuat keputusan, melainkan menolak untuk membuat keputusan. Semua orang percaya kepada Allah, masa lalunya telah dikuburkan di Yerikho dan telah dibangkitkan di dalam Kristus. Allah ingin menguburkan dosa-dosa dan menciptakan hidup baru dalam Kristus.

Tuhan Yesus memberkati kita semua..amien

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA