BERTOBAT DI KAYU SALIB

Jumat, 2 September 2011

Bacaan : Lukas 23:33-43 

23:33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.

23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.

23:35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.”

23:36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya

23:37 dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!”

23:38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi”.

23:39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

23:40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?

23:41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

23:42 Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

23:43 Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

BERTOBAT DI KAYU SALIB

Enak, ya, jadi penjahat yang disalib bersama dengan Yesus itu. Bertobat langsung masuk ke surga. Coba kalau kita bisa bersenang-senang sepuasnya dulu di dunia, lalu sebelum mati baru kita bertobat, ” kelakar seorang teman. Pertanyaannya, benarkah penjahat itu bertobat secara “enak”?

Kita lihat dulu dari sisi Tuhan Yesus. Penampilan-Nya saat itu betul-betul tak menjanjikan. Dia lebih mirip seorang pesakitan daripada seorang Juru Selamat. Selain kondisi fisik-Nya yang begitu buruk dan mengerikan, ejekan, olok-olok, dan hujatan pun menimpa-Nya secara bertubi-tubi.

Si penjahat sendiri juga sedang menanggung penyaliban. Penyaliban diakui sebagai bentuk hukuman mati yang paling keji dan paling menyiksa. Kesengsaraan yang diakibatkannya berlangsung secara pelan, tetapi pasti. Penderitaannya seakan tidak berujung. Seseorang menulis, “Dalam keadaan seperti itu, Anda cuma bisa berdoa atau mengutuk.”

Akan tetapi, si penjahat memilih untuk mengamati Si Terhukum di sebelahnya, mencerna pembicaraan orang tentang-Nya, dan membantah hujatan penjahat lain terhadap-Nya. Dan, akhirnya ia pun sampai pada pengakuan bahwa Si Terhukum ini sejatinya adalah Sang Raja! Apakah Anda akan mengatakan bahwa itu keputusan yang diambil secara gampang dan “enak”?

Pertobatan, dari sudut pandang manusia, tidak pernah enak. Itu berarti meninggalkan keinginan egois agar kita dapat menyambut kehendak Tuhan. Siapa yang melakukannya, tanpa harus mati dulu seperti si penjahat, maka ia akan menemukan Firdaus lambang sukacita yang paling dalam hari ini juga. Bersediakah Anda? –ARS

MENINGGALKAN KEINGINAN EGOIS DAN MENYAMBUT KEHENDAK TUHAN

ADALAH SATU-SATUNYA JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN SEJATI

Dikutip : www.sabda.org

Iklan