BIASA BERBOHONG

Selasa, 28 September 2010

Bacaan : Yohanes 1:19-28

1:19. Dan inilah kesaksian Yohanes ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia: “Siapakah engkau?”

1:20 Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya: “Aku bukan Mesias.”

1:21 Lalu mereka bertanya kepadanya: “Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?” Dan ia menjawab: “Bukan!” “Engkaukah nabi yang akan datang?” Dan ia menjawab: “Bukan!”

1:22 Maka kata mereka kepadanya: “Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?”

1:23 Jawabnya: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya.”

1:24 Dan di antara orang-orang yang diutus itu ada beberapa orang Farisi.

1:25 Mereka bertanya kepadanya, katanya: “Mengapakah engkau membaptis, jikalau engkau bukan Mesias, bukan Elia, dan bukan nabi yang akan datang?”

1:26 Yohanes menjawab mereka, katanya: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal,

1:27 yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.”

1:28 Hal itu terjadi di Betania yang di seberang sungai Yordan, di mana Yohanes membaptis.

BIASA BERBOHONG

Profesor Bella DePaulo pernah mengadakan penelitian tentang kebohongan. Selama seminggu, ratusan orang diminta mencatat berapa kali mereka berbohong, kepada siapa saja, dan apa alasannya. Hasilnya mengejutkan. Tingkat kebohongan yang mereka lakukan rata-rata empat puluh persen. Alasan utama berbohong adalah untuk menjaga citra diri. Supaya di hadapan orang lain, mereka tampak lebih baik daripada kenyataan yang ada.

Orang yang bisa menerima diri tidak akan merasa perlu berbohong. Yohanes Pembaptis pernah tampil sebagai tokoh spiritual yang sangat berkharisma. Beberapa pejabat tinggi agama Yahudi datang kepadanya dan bertanya, “Siapakah engkau?” Ini kesempatan emas bagi Yohanes untuk berbohong dan membesarkan diri sendiri. Namun, dengan jujur ia menjawab: “Aku bukan Mesias.” Ketika disetarakan dengan Nabi Elia-nabi yang dianggap paling hebat, ia pun berkata, “Bukan.” Bahkan, ia menolak ketika dijuluki sebagai “nabi yang akan datang”. Dengan rendah hati, Yohanes berkata bahwa dirinya hanyalah “suara”. Corong. Seorang pelayan yang sedang mempersiapkan kedatangan Yesus, Mesias yang sesungguhnya.

Apakah Anda masih sering berbohong? Akar masalahnya bisa jadi karena Anda tidak bisa menerima diri apa adanya. Dan Anda ingin terlihat hebat di mata orang. Padahal, hidup dalam kebohongan itu sangat melelahkan. Penuh beban, karena Anda harus terus mengenakan topeng. Lebih baik belajar jujur seperti yang dilakukan oleh Yohanes. Niscaya Anda akan merasa bebas lepas; dan bersukacita menjadi diri sendiri –JTI

KEBOHONGAN MENJERAT DAN MELELAHKAN JIWA

KEJUJURAN MEMBEBASKAN DAN MENYEGARKAN JIWA

Sumber : www.sabda.org

Iklan

MENIKAM DALAM GELAP

Jumat, 19 Februari 2010

Bacaan : Mazmur 50:16-22

50:16. Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: “Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu,

50:17 padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?

50:18 Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah.

50:19 Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya.

50:20 Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu.

50:21 Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu.

50:22 Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan.

MENIKAM DALAM GELAP

Winston Churchill bukan hanya perdana menteri yang hebat, tetapi juga pribadi yang berintegritas tinggi serta menjaga sikap hormat saat berhadapan dengan lawan politiknya. Menjelang akhir masa jabatannya, ia menghadiri sebuah upacara kenegaraan. Beberapa deret di belakangnya, dua pria mulai saling berbisik. “Itu Winston Churchill.” “Kata mereka ia sudah mulai uzur.” “Harusnya ia sudah turun dan menyerahkan urusan bangsa ini kepada orang yang lebih dinamis dan lebih cakap.” Ketika upacara usai, Churchill mendekati kedua pria itu dan berkata, “Bung, kata mereka, ia juga tuli!”

Desas-desus, kabar burung, atau cerita bohong tentang seseorang yang disebarkan dengan maksud menjelekkan atau mencederai reputasinya, termasuk dosa lidah yang dikecam dengan keras oleh Alkitab. Penyebaran kabar ini cenderung diwarnai oleh kebencian dan dendam pribadi. Menurut pemazmur, orang fasiklah yang gemar dengan aktivitas licik itu. Ia “duduk” — mengacu pada sikap malas, pasif, dan berpuas diri. Akan tetapi, mulutnya aktif — menyemburkan kejahatan. Dan, korbannya bisa bukan orang asing, melainkan saudara kandungnya sendiri. Seperti musuh dalam selimut, ia menikam dalam kegelapan.

Kita mungkin seperti Winston Churchill, yang mesti cerdik berkelit dalam menghadapi omongan yang tidak nyaman. Namun, tidak jarang kita berada pada posisi dua pria pembisik itu. Ketika tergoda untuk menyebarkan cerita buruk tentang orang lain, pertimbangkanlah: Apakah cerita itu benar? Apakah itu berguna? Apakah itu menggugah semangat? Apakah itu perlu? Apakah itu baik? Jika tidak, lebih arif apabila kita menutup mulut –ARS

APABILA ANDA TIDAK MENYEBARKAN FITNAH

ORANG LAIN TIDAK AKAN DAPAT MENERUSKANNYA –Charles Swindoll

Sumber : http://www.sabda.org