BUKAN SEKADAR LEWAT

Selasa, 5 Juni 2012

Bacaan : Mazmur 1:1-6

1:1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

 

1:4. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

 

BUKAN SEKADAR LEWAT

Donald S. Whitney mengamati bahwa “banyak jiwa yang merana adalah para pembaca Alkitab yang tekun.” Mengapa? Karena mereka hanya membaca saja, dan tidak merenungkannya. Ia menulis, “Jika kita tidak hati-hati, perkataan Alkitab hanya akan menjadi aliran kumpulan kata yang melewati pikiran kita. Segera setelah kata-kata itu lewat dalam pikiran kita … kita harus segera mengalihkan perhatian pada hal yang sekarang ada di hadapan kita. Ada begitu banyak hal yang harus kita olah dalam otak kita; jika kita tidak menyerap beberapa di antaranya, tidak ada yang akan memengaruhi diri kita.”

Yang disebut pemazmur “berbahagia” juga bukan orang yang sekadar membaca firman Tuhan, tetapi yang merenungkannya siang dan malam. Merenungkan firman Tuhan berarti menyerapnya masuk dalam sistem berpikir kita. Pikiran yang dipengaruhi firman Tuhan inilah yang membuat orang tidak lagi suka berdekatan dengan dosa (ayat 1). Orang yang suka merenungkan firman Tuhan diibaratkan seperti pohon di tepi aliran air. Agar tidak layu, air haruslah diserap dan mengaliri semua bagian di dalam pohon itu, bukan sekadar lewat.

Seberapa banyak Anda “merenungkan” firman Tuhan selama ini? Pakailah 25-50% waktu pembacaan Alkitab untuk merenungkan satu ayat, frasa, atau kata. Lontarkan pertanyaan. Berdoalah. Buatlah catatan tentang hal itu. Pikirkan sedikitnya satu cara untuk menerapkannya. Jangan buru-buru. Benamkan diri Anda dalam firman. Jangan lagi biarkan jiwa Anda merana karena tak sempat menyerap apa-apa. Biarkan firman itu mengaliri dan menyegarkan Anda, memengaruhi hidup Anda dan membuat Anda berbuah-buah pada musimnya. –ELS

MAKIN BANYAK MEMBACA FIRMAN, MAKIN KITA AKAN MENGUASAINYA.

MAKIN BANYAK MERENUNGKAN FIRMAN, MAKIN KITA AKAN DIKUASAINYA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BERBAGI KARUNIA ROHANI

Kamis, 29 Maret 2012

Bacaan : Roma 1:8-15

1:8. Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia.

1:9 Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu:

1:10 Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.

1:11 Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu,

1:12 yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.

1:13 Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu–tetapi hingga kini selalu aku terhalang–agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain.

1:14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar.

1:15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.

BERBAGI KARUNIA ROHANI

Apakah karunia rohani Anda? Cukup banyak metode yang tersedia bagi kita untuk mengenali karunia-karunia rohani. Namun, hati-hati jangan sampai terlalu sibuk “mencari tahu” apa karunia yang dimiliki dan tidak sibuk “mencari kesempatan” menggunakan karunia itu sebagaimana mestinya.

Meski dalam suratnya Paulus mendaftarkan beberapa contoh karunia rohani, ia selalu mengingatkan bahwa karunia-karunia itu diberikan agar jemaat Tuhan dapat saling melayani (lihat 1 Korintus 12, 14). Dalam bacaan hari ini kita melihat kerinduannya untuk menguatkan iman jemaat di Roma dengan karunia rohaninya (ayat 11). Alkitab Terjemahan Baru Edisi 2 menerjemahkan bagian ini: “untuk berbagi karunia rohani”, bukan “untuk memberikan karunia rohani”. Paulus tidak bermaksud datang untuk memberikan karunia-karunia rohani, melainkan untuk menggunakan karunia rohaninya bagi pertumbuhan iman orang-orang percaya di Roma.

Dalam salah satu khotbah, John Piper mengingatkan jemaatnya: “Apa pun kemampuan yang dimiliki, jika dalam menggunakannya kita tidak bergantung pada Tuhan dan tidak bertujuan untuk menolong orang lain bergantung pada Tuhan, maka kemampuan itu bukanlah ‘karunia rohani’. Tidak ‘rohani’ karena tidak ada pekerjaan Roh Kudus yang mengalir dari iman kita kepada iman orang lain.” Mari tidak berfokus untuk sekadar “menemukan” karunia rohani. Lihatlah ke sekitar Anda. Adakah orang yang butuh dikuatkan imannya? Bawalah orang itu dalam doa dan mohon Roh Kudus memampukan Anda menolong orang itu. Anda akan menemukan bahwa Tuhan sungguh memberikan karunia-karunia rohani yang diperlukan anak-anak-Nya untuk melayani Dia! –ELS

KARUNIA ROHANI BUKAN KEMAMPUAN YANG DIKENALI UNTUK DISIMPAN,

NAMUN UNTUK DIGUNAKAN BAGI KEPENTINGAN PEMBERINYA.

Dikutip : www.sabda.org

TONGKAT HARUN

Senin, 5 September 2011

Bacaan : Bilangan 17 

17:1. TUHAN berfirman kepada Musa:

17:2 “Katakanlah kepada orang Israel dan suruhlah mereka memberikan kepadamu satu tongkat untuk setiap suku. Semua pemimpin mereka harus memberikannya, suku demi suku, seluruhnya dua belas tongkat. Lalu tuliskanlah nama setiap pemimpin pada tongkatnya.

17:3 Pada tongkat Lewi harus kautuliskan nama Harun. Bagi setiap kepala suku harus ada satu tongkat.

17:4 Kemudian haruslah kauletakkan semuanya itu di dalam Kemah Pertemuan di hadapan tabut hukum, tempat Aku biasa bertemu dengan kamu.

17:5 Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi.”

17:6 Setelah Musa berbicara kepada orang Israel, maka semua pemimpin mereka memberikan kepadanya satu tongkat dari setiap pemimpin, menurut suku-suku mereka, dua belas tongkat, dan tongkat Harun ada di antara tongkat-tongkat itu.

17:7 Musa meletakkan tongkat-tongkat itu di hadapan TUHAN dalam kemah hukum Allah.

17:8. Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam.

17:9 Kemudian Musa membawa semua tongkat itu keluar dari hadapan TUHAN kepada seluruh orang Israel; mereka melihatnya lalu mengambil tongkatnya masing-masing.

17:10 TUHAN berfirman kepada Musa: “Kembalikanlah tongkat Harun ke hadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehingga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati.”

17:11 Dan Musa berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, demikianlah diperbuatnya.

17:12 Tetapi orang Israel berkata kepada Musa: “Sesungguhnya kami akan mati, kami akan binasa, kami semuanya akan binasa.

17:13 Siapapun juga yang mendekat ke Kemah Suci TUHAN, niscayalah ia akan mati. Haruskah kami habis binasa?”

TONGKAT HARUN

Pada 2009, seseorang dengan nama pena Chaos@Work menulis sebuah buku berjudul My Stupid Boss. Buku ini bercerita tentang “kegilaan” bos si penulis; dari meminta barang supplier secara cuma-cuma sampai menyalahkan anak buah ketika kapal lautnya terhambat cuaca buruk. Ternyata kisah bos yang “bodoh” ini menarik perhatian masyarakat luas. Bahkan setelah terbit jilid keduanya, muncul juga My Stupid Boss edisi Fans’ Stories, yang berisi curahan hati para pembaca mengenai para bos mereka sendiri.

Kesuksesan serial My Stupid Boss yang telah berulangkali dicetak ulang ini menguak sebuah realitas bahwa di dunia atau minimal di Indonesia banyak orang menjalankan kepemimpinannya dengan kurang bijak. Lalu, seperti apa sebaiknya sikap kita dalam menjalankan tugas kepemimpinan?

Pertama, kita harus ingat bahwa Tuhan tak menuntut bahwa hanya manusia “sempurna” yang dapat mengisi posisi pemimpin. Bahkan, Harun pernah mengizinkan bangsa Israel menyembah lembu emas dan bersekongkol dengan Miryam untuk melawan Musa (Bilangan 12). Namun, terpujilah Tuhan, ia masih dipercaya dan diberi kesempatan untuk memimpin. Kedua, sebagaimana tongkat yang kering menjadi hidup, kepemimpinan kita harus menghasilkan buah bagi sesama, serta mengubah lingkungan menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, tongkat Harun yang bertunas itu disimpan bersama Tabut Perjanjian. Setinggi apa pun posisi kita, seperti Harun yang diangkat menjadi imam besar Israel, ingatlah bahwa semuanya berasal dari Tuhan. Maka, kita harus mempertanggungjawabkannya kembali kepada-Nya –OLV

KEPEMIMPINAN SEJATI ADALAH KEPEMIMPINAN

YANG BERBUAH DAN BERTANGGUNG JAWAB KEPADA TUHAN

Dikutip : www.sabda.org

HARI INI

Minggu, 10 Juli 2011

Bacaan : Matius 25:1-13

25:1. “Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.

25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.

25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,

25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

25:5 Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.

25:6 Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!

25:7 Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.

25:8 Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam.

25:9 Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.

25:10 Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.

25:11 Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!

25:12 Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.

25:13 Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

 

HARI INI

Di tepi Danau Como, Italia, ada sebuah vila tua yang sangat bagus. Bertahun-tahun, vila itu dirawat begitu baik oleh seorang tukang kebun tua yang tepercaya. Seorang wisatawan yang berkunjung bertanya kepada sang tukang kebun, “Tentu pemilik vila ini kerap kemari untuk mengawasi pekerjaan Anda.” Si tukang kebun menjawab, “Tidak, Tuan. Pemilik vila ini baru sekali datang kemari, lima belas tahun yang lalu. Sejak itu saya belum berjumpa lagi dengannya.” Wisatawan itu memuji tukang kebun itu. “Ini benar-benar mengagumkan. Tak seorang pun mengawasi Anda bekerja, tetapi Anda melakukannya dengan baik seolah-olah Anda berharap pemiliknya akan datang esok pagi.” Si tukang kebun menyahut cepat, “Bukan esok pagi, tetapi hari ini!”

Sebagai orang kristiani, semestinya kita belajar dari tukang kebun yang setia itu. Semestinya kita menjalani hidup seolah-olah Tuhan Yesus segera datang kembali. Bukan tahun yang akan datang, bukan bulan depan, bukan minggu depan, bukan juga besok pagi, tetapi hari ini! Andaikata kita menjalani kehidupan seolah-olah Tuhan Yesus datang hari ini, kita pasti akan bertanggung jawab atas hidup kita. Tak ada lagi kompromi dengan dosa. Tak ada lagi hidup yang suam. Tak ada lagi waktu terbuang sia-sia. Kita akan menata waktu untuk menghasilkan lebih banyak lagi buah bagi kemuliaan-Nya.

Tak seorang pun tahu kapan Tuhan Yesus datang kedua kali. Bisa jadi tahun depan, bulan depan, minggu depan, esok, atau bahkan hari ini. Karena kita tidak tahu kapan Dia akan datang, alangkah bijaksana jika kita berjaga-jaga dan menjalani hidup seolah-olah hari ini Sang Mempelai akan menjemput pasangan-Nya –PK

JALANILAH HIDUP

SEOLAH-OLAH TUHAN YESUS AKAN DATANG HARI INI

Dikutip : www.sabda.org

TEORI ATAU PRAKTIK?

Senin, 18 April 2011

Bacaan : Yakobus 1:19-27

19Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;

20sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

21Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

22Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

23Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.

24Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.

25Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

26Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.

27Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

TEORI ATAU PRAKTIK?

Sebuah humor menceritakan tentang seseorang yang ke surga. Di sana ia melihat sebuah rak berisi benda-benda yang tampak aneh. “Apa itu?” tanyanya kepada malaikat. Jawab malaikat, “Itu telinga dari orang-orang yang ketika hidup di dunia mendengarkan hal-hal yang harus mereka lakukan, tetapi tidak melakukannya. Jadi waktu meninggal, telinga mereka saja yang masuk ke surga sementara bagian tubuh yang lain tidak.” Lalu ada rak yang lain, dan malaikat menjelaskan, “Ini lidah orang-orang yang ketika hidup di dunia memberi tahu orang lain untuk berbuat baik dan hidup baik, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya. Maka ketika meninggal, lidah-lidah mereka saja yang masuk ke surga dan bagian tubuh yang lain tidak.”

Humor ini mengingatkan kita untuk berhenti menjadi orang kristiani yang hanya suka mendengarkan khotbah atau seminar yang berbobot, tetapi tak pernah melakukan firman Tuhanyang didengar. Berhenti menjadi orang kristiani yang fasih berbicara tentang hal rohani, tetapi tak ada tindakan nyata. Berhenti menjadi orang kristiani yang pandai berteori, tetapi tak pernah mempraktikkannya.

Ada orang kristiani yang bangga dengan pengetahuannya tentang Allah dan hal-hal rohani. Namun, jika tidak dibarengi perbuatan nyata, semuanya sia-sia. Sebab, di surga nanti kita tidak akan ditanya sejauh mana kita memahami Alkitab atau sejauh mana pengetahuan kita tentang kekristenan. Kita tidak sekadar mempertanggungjawabkan apa yang kita ketahui, tetapi apa yang kita perbuat. Tuhan menuntut buah-buah yang nyata yang bisa dirasakan, dinikmati, dan memberkati orang lain –PK

SERIBU PERKATAAN DAN PENGETAHUAN TIDAK BERARTI

TANPA ADA SATU TINDAKAN YANG NYATA

Dikutip dari : www.sabda.org

PERTUMBUHAN YANG TERIMPIT

Selasa, 23 Februari 2010

Bacaan : Lukas 8:4-15

8:4. Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan:

8:5 “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.

8:6 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.

8:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.

8:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

8:9 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.

8:10 Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.

8:11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.

8:12 Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.

8:13 Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

8:14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.

8:15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

PERTUMBUHAN YANG TERIMPIT

Saya punya seorang teman yang gemar membaca buku rohani, mengikuti kegiatan pembinaan iman, dan bersemangat sekali ketika berbicara tentang teologia. Ia juga aktif melayani. Banyak orang menghormatinya sebagai orang kristiani yang baik. Namun, alangkah terkejutnya saya ketika suatu hari ia mengaku telah meninggalkan iman kristiani. Ternyata dari pengakuan teman-teman dekatnya, ia sesungguhnya belum melepaskan gaya hidup foya-foya. Itu sebabnya dalam keseharian pun ia sangat labil. Bisa tiba-tiba kehilangan antusiasme dalam pelayanan atau susah bekerja sama dengan rekan lain.

Yesus berbicara tentang hal seperti ini ketika membicarakan firman yang jatuh di tanah bersemak duri. Firman itu memang bertumbuh. Memang menghasilkan buah. Namun, pertumbuhannya terimpit, sehingga buahnya tidak matang. Ada pengaruh lain yang mengimpit pertumbuhan firman. Kekhawatiran, kekayaan, dan kenikmatan hidup adalah tiga pengimpit yang disebut Yesus di sini. Dan pada masa modern sekarang ini, kenikmatan hidup merupakan salah satu tantangan berat yang kita hadapi. Ia meracuni pikiran kita, sehingga firman yang kita terima tak dapat bertumbuh.

Dalam dunia yang semakin menekan kita untuk mengejar kenikmatan hidup, sangatlah penting bagi kita untuk lebih banyak membaca firman Allah. Dengan menyerap sebanyak mungkin kebenaran firman, kita akan memiliki hikmat untuk menjaga hati. Dunia ini terus menaburkan “semak kenikmatan hidup” — melalui apa yang kita baca, tonton, dan nikmati — yang bisa berakar di hati kita. Maka, kita perlu memilih aktivitas yang mendukung kerohanian. Agar firman-Nya leluasa membarui hidup kita –DBS

CEGAHLAH KEDUNIAWIAN

MENGIMPIT PERTUMBUHAN FIRMAN TUHAN DI HATI KITA

Sumber : www.sabda.org

LEBIH BAIK LAGI

Jumat, 6 November 2009

Bacaan : Filipi 1:19-26

1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.

1:21. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

1:22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

1:23 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik;

1:24 tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

1:25 Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,

1:26 sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

LEBIH BAIK LAGI

Sir Francis Bacon mengatakan, “Saya tidak percaya bahwa ada orang yang takut mati, mereka hanya takut pada serangan kematian.” Woody Allen berkata, “Saya tidak takut mati. Saya hanya tidak ingin berada di sana ketika hal itu terjadi.”

Yang sangat menakutkan bukanlah kematian, melainkan detik-detik menghadapi kematian. Ketika Paulus dalam tahanan dan ada kemungkinan ia akan mati di sel penjara, ia membagikan pandangannya mengenai kehidupan dan kematian, “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Benar-benar cara pandang yang luar biasa!

Kematian adalah musuh kita (1 Korintus 15:25-28), tetapi kematian bukanlah suatu akhir yang mesti ditakuti sedemikian banyak orang. Bagi orang percaya, ada sesuatu yang menunggu mereka di luar kehidupan ini, yaitu sesuatu yang lebih baik.

Seseorang pernah berkata, “Bagi kepompong, sesuatu yang sepertinya adalah akhir kehidupan, bagi kupu-kupu, hal itu barulah awal kehidupan.” George MacDonald menulis, “Alangkah anehnya ketakutan akan kematian! Kita tidak pernah takut saat melihat matahari terbenam.”

Saya menyukai ungkapan dari Filipi 1:21, “Bagi saya, hidup berarti kesempatan melayani Kristus, dan mati — ya, berarti lebih baik lagi!” (FAYH). Selama menjalani kehidupan jasmani, kita berkesempatan untuk melayani Yesus. Namun suatu hari, kita akan benar-benar berada dalam hadirat-Nya. Ketakutan kita akan luntur ketika kita melihat-Nya muka dengan muka.

Itulah “sesuatu yang lebih baik lagi” yang dimaksudkan Rasul Paulus! –CHK

BAGI ORANG KRISTIANI, KETAKUTAN AKAN KEMATIAN
JUSTRU MENUNTUN PADA KEHIDUPAN YANG PENUH KRISTUS

Sumber : http://www.sabda.org