NASIB KELELAWAR

Rabu, 6 April 2011

Bacaan : Galatia 5:16-26

16Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.

17Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.

18Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.

19Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,

20penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,

21kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

22Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

23kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

24Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

25Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,

26dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.

NASIB KELELAWAR

Dalam dongeng Aesop, suatu saat pasukan burung dan pasukan binatang buas berperang. Kelelawar mengamat-amati. Saat pasukan burung menang, si kelelawar mengaku-aku dirinya burung. Sebaliknya, saat pasukan binatang buas berjaya, ia mengaku-aku dirinya binatang buas. Sayang, muslihatnya ketahuan. Ia pun dibenci, baik oleh burung maupun oleh binatang buas. Sejak saat itu kelelawar suka menyembunyikan diri pada siang hari, dan baru keluar untuk mencari makan pada malam hari.

Dalam peperangan, tidak mungkin kita menjejakkan kaki sekaligus di atas dua kubu yang berlawanan. Begitu juga dalam mengikut Kristus Yesus. Mengikuti Kristus berarti meninggalkan segala sesuatu yang berlawanan dengan Dia. Kita tidak lagi mengejar pemuasan keinginan pribadi, tetapi memilih untuk menganut kehendak-Nya. Paulus menyebutnya sebagai “menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya” (ayat 24). Kita tidak dapat mengikuti jalan Tuhan sekaligus memuaskan hawa nafsu daging. Kristus menuntut pemisahan yang tegas.

Mengikut Kristus memberi kita kuasa atas dosa dan kedagingan. Bukan berarti kita tidak akan lagi mengalami pencobaan; sebaliknya, pencobaan terhadap kita malah akan semakin intensif. Namun, sekarang kita bukan lagi tanpa daya, melainkan dimampukan untuk menolak dan melawannya. Dalam Lukas 9:23, Yesus berkata bahwa pengikut-Nya harus “memikul salibnya setiap hari”. Setiap hari kita perlu menyerahkan kecenderungan untuk berdosa itu kepada Allah. Setiap hari menyalibkannya, dan dari waktu ke waktu meminta kuasa Roh Kudus memampukan kita mengatasinya –ARS

KARENA KRISTUS TELAH MEMENANGKAN PEPERANGAN

KITA DIMAMPUKAN UNTUK MENGATASI PENCOBAAN

Dikutip dari : www.sabda.org

Iklan

RAKUS

Selasa, 26 Oktober 2010

Bacaan : Bilangan 11:4-6; 31-35

11:4. Orang-orang bajingan yang ada di antara mereka kemasukan nafsu rakus; dan orang Israelpun menangislah pula serta berkata: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging?

11:5 Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih.

11:6 Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apapun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.”

11:31. Lalu bertiuplah angin yang dari TUHAN asalnya; dibawanyalah burung-burung puyuh dari sebelah laut, dan dihamburkannya ke atas tempat perkemahan dan di sekelilingnya, kira-kira sehari perjalanan jauhnya ke segala penjuru, dan kira-kira dua hasta tingginya dari atas muka bumi.

11:32 Lalu sepanjang hari dan sepanjang malam itu dan sepanjang hari esoknya bangkitlah bangsa itu mengumpulkan burung-burung puyuh itu–setiap orang sedikit-dikitnya mengumpulkan sepuluh homer–,kemudian mereka menyebarkannya lebar-lebar sekeliling tempat perkemahan.

11:33 Selagi daging itu ada di mulut mereka, sebelum dikunyah, maka bangkitlah murka TUHAN terhadap bangsa itu dan TUHAN memukul bangsa itu dengan suatu tulah yang sangat besar.

11:34 Sebab itu dinamailah tempat itu Kibrot-Taawa, karena di sanalah dikuburkan orang-orang yang bernafsu rakus.

11:35 Dari Kibrot-Taawa berangkatlah bangsa itu ke Hazerot dan mereka tinggal di situ.

RAKUS

Sepasang pengantin merayakan pesta pernikahan mereka di sebuah restoran mewah di Taipei. Sebagai bonus, keduanya boleh minum bir dan wine sepuasnya tanpa biaya tambahan. Mumpung gratis, Wu, si pengantin pria, menenggak minuman keras sebanyak-banyaknya. Sepulang dari pesta, wajahnya mendadak pucat. Segera Wu dilarikan ke rumah sakit. Jantungnya tidak tahan menerima asupan alkohol begitu banyak. Malam itu juga ia meninggal. Pada hari pernikahannya.

Kerakusan berbahaya. Nafsu rakus muncul saat orang merasa berhak memperoleh lebih. Umat Israel telah diberi Tuhan cukup makanan. Setiap pagi mereka menerima mukjizat. Manna tersedia di depan tenda. Tinggal dipungut dan dimasak. Namun, nafsu rakus membuat mereka tidak puas. Mereka menuntut lebih: minta diberi daging. Tuhan murka, lalu menghukum dengan menuruti kemauan mereka. Dikirimnya burung-burung puyuh. Banyak sekali. Setiap orang mengumpulkan minimal 10 homer. Setara dengan 50 ember besar berisi daging puyuh! Setelah diawetkan dengan cara dikeringkan, daging itu malah jadi makanan beracun yang mematikan.

Nafsu rakus muncul bukan cuma dalam soal makan-minum, melainkan juga dalam soal harta, kuasa, seks, pengetahuan, pengaruh, dan lain-lain. Gejalanya: kita merasa tidak puas terhadap berkat Tuhan, lalu menuntut lebih. Lalu segala cara pun kita tempuh. Hati kita berbisik: “Ayo, ambil lebih banyak lagi. Kamu bisa!” Jika nafsu rakus itu akhirnya bisa tersalurkan karena ada kesempatan, jangan buru-buru berkata: “Itu berkat Tuhan!” Bisa jadi itu sebuah hukuman! –JTI

HUKUMAN TUHAN PALING MENGERIKAN

IALAH SAAT DIA MEMBIARKAN

ANDA PUNYA SEMUA YANG ANDA INGINKAN

Sumber : www.sabda.org

SECUKUPNYA SAJA

Sabtu, 25 September 2010

Bacaan : Keluaran 16:11-20

16:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:

16:12 “Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu.”

16:13. Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu.

16:14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi.

16:15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: “Apakah ini?” Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.

16:16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa.”

16:17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit.

16:18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya.

16:19 Musa berkata kepada mereka: “Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi.”

16:20 Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka.

SECUKUPNYA SAJA

Mahatma Gandhi pernah berkata: “Dunia ini senantiasa dapat mencukupi kebutuhan setiap orang, tetapi tak akan bisa mencukupi keserakahan setiap orang.” Inilah peringatan Gandhi kepada rakyatnya supaya mereka mencukupkan diri sesuai kemampuan mereka dan tidak serakah.

Demikian pula yang terjadi dengan umat Israel dalam bacaan hari ini. Setelah satu setengah bulan dalam pengembaraan, tentu bekal makanan yang mereka bawa telah habis. Mereka kelaparan. Dalam situasi itu mereka bersungut-sungut kepada Musa (16:3). Sebagai jawaban atas keinginan mereka, Tuhan mengirim roti dari langit (ayat 4), dan juga burung puyuh (ayat 13). Namun, Tuhan bukanlah Allah yang memanjakan umat. Ketika roti manna diturunkan, Tuhan tetap menjadi Allah yang mendidik umat bagaimana mesti hidup di hadapan-Nya, yakni dengan berpesan: agar tiap-tiap orang memungut menurut keperluannya, agar tidak ada pihak yang kelebihan atau kekurangan. Hidup sesuai dengan keperluan, disebut sebagai hidup yang ugahari (hidup dengan rasa cukup). Pas, itu saja! Ini pun adalah pelajaran rohani. Tujuannya adalah agar tercipta keseimbangan yang adil bagi semua orang, suatu hal yang sering dirusak oleh nafsu serakah yang menguasai orang yang selalu merasa kurang.

Demikianlah pula ajaran Allah bagi umat Israel, pun bagi kita hari ini. Yakni dengan hidup diiringi dengan perasaan cukup; membebaskan diri dari sikap serakah. Serta, tetap menaruh kepercayaan pada Tuhan yang mengerti segala kebutuhan dan memelihara hidup kita –DKL

HIDUP DENGAN RASA CUKUP

MENOLONG KITA UNTUK SELALU PEDULI JUGA BERSYUKUR

Sumber : www.sabda.org

IRI HATI

PESAN GEMBALA

27 SEPTEMBER 2009

Edisi 93 Tahun 2

 

IRI HATI

 

Shallom… Salam Miracle

Jemaat yang dikasihi Tuhan, dalam 1 Korintus 3:3 dinyatakan “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” Dari ayat tersebut di atas, jelas bahwa iri hati dapat membawa kita ke hal-hal duniawi, bahkan dalam Galatia 5:20 dikatakan bahwa iri hati adalah perbuatan daging dan barangsiapa yang memilikinya tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

 

Mari kita belajar dari contoh tentang iri hati dalam Alkitab, yaitu seorang raja yang bernama Ahab. 1 Raja-raja 21:1-25 di sana menceritakan tentang seorang yang bernama Nabot, orang Yisreel, di samping istana raja Ahab. Suatu ketika berkatalah Ahab kepada Nabot: “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat dengan rumahku. Aku akan memberikan kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya dengan uang.”

 

Saudara, suatu ketika raja Ahab memikirkan tentang kekayaan dan harta benda, ternak, tanah yang dimilikinya, setelah dia hitung-hitung ternyata banyak sekali yang ia miliki, namun ia kurang puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Hal ini terlihat setiap kali ia membuka jendela istananya, maka matanya selalu tertuju dan memandang areal kebun yang sangat subur dengan tanaman anggurnya yang baik, terletak persis di samping istananya, walaupun kebun itu tidak terlalu luas. Kebun anggur itu begitu menarik hati setiap orang yang melihatnya, termasuk raja Ahab. Kebun anggur itu ternyata milik Nabot, seorang petani anggur. Raja Ahab mulai berkata kepada dirinya sendiri “betapa puas hatiku sekiranya kebun anggur yang subur ini menjadi milikku, betapa indahnya istanaku, pasti akan menambah hormat rakyat kepadaku.”

 

Maka mulailah pemikiran yang licik yang segera dilakukan “Ahh, aku akan menawarkan dia sebuah kebun yang lain untuk gantinya, atau menawarkan uang yang sebanyak dia inginkan supaya dia mau memberikan tanah itu kepadaku, aku kan raja, tentunya Nabot harus nurut kepadaku.”

 

Saudara, firman Allah yang tertulis dalam Kitab Keluaran 20:17 “Janganlah mengingini rumah sesamamu”. Ini adalah salah satu hukum dari 10 hukum/perintah Allah yang diberikan kepada setiap kita. Raja Ahab tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya, dan dia mengingini terus kebun anggur milik Nabot ini. Sebaliknya sang pemilik atau Nabot tidak mau menjual kebun itu disebabkan taat dengan Taurat yang sudah tertulis dalam hukum Tuhan yang diberikan kepada nenek moyangnya, Musa, di Kitab Imamat 25:23 bahwa setiap tanah tidak dijual secara mutlak, karena Tuhanlah pemiliknya dan kita hanya mengelolanya.

 

Sehingga Ahab menjadi gusar, muncul dalam hatinya sesuatu yang sangat buruk yaitu IRI HATI. Akibat dari iri hati tersebut menjadi berkembang dan bertumbuh menjadi benih yang jahat dan melukai orang lain. Raja Ahab iri kepada Nabot sehingga menjadi gusar dan kesal hati atau dengan kata lain menjadi bersungut-sungut (ayat 4), kemudian dia menelungkupkan muka dan tidak mau makan (ngambek) sebab mengalami kesusahan sendiri dan terpikirkan terus menerus (ayat 4b), dan yang pasti adalah dia tidak puas dengan apa yang ada pada dirinya. Izebel, istri Ahab mengerti suaminya mengalami kekecewaan yang dalam terhadap Nabot. Sehingga merancangkan kejahatan, melalui istrinya, Izebel, mereka mempersiapkan beberapa saksi dusta yang akan menjerat Nabot untuk dirajam dengan batu dan akhirnya mati. Setelah Nabot mati maka akan dengan mudah menguasai kebun anggur tersbut. Dari hal ini kita dapat mengerti bahwa iri hati sangat dekat dengan keserahan, dari tidak puas dengan yang dimilikinya menjadi iri hati, dan kemudian menjadi keserakahan.

 

Contoh lain orang yang memiliki iri hati adalah, Saul. Iri hati Saul muncul ketika rakyatnya mengatakan ungkapan bahkan nyanyian yang berbunyi “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, namun Daud Daud mengalahkan berlaksa-laksa”. Sehingga Saul dengan iri hati dan kebenciannya berusaha dengan berbagai kelicikannya untuk membunuh Daud, dengan maksud supaya kekuasaannya atau hormat rakyatnya tidak berkurang kepadanya. Namun rancangan pembunuhan Daud oleh Saul tidak dihendaki Tuhan. Dari hal di atas sangat membahayakan apabila sudah muncul iri hari sebab bisa melukai bahkan membunuh seseorang dan juga menjadi serakah.

 

Oleh karena itu jagalah hatimu ketika muncul iri dalam hatimu, walaupun itu masih sangat kecil, sebab bisa mengakibatkan dampak negatif yang besar dalam kehidupan Saudara bahkan dosa di hadapan Allah.

 

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua… Amien.

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA