LATIHAN BERTUMBUH

Sabtu, 26 Januari 2013

Bacaan: Ibrani 5:11-14

5:11 Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.

5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.

5:13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.

5:14 Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

 

LATIHAN BERTUMBUH

Bagi seorang bayi, makanan yang paling baik adalah air susu ibu. Pada saat itu ia belum mampu mencerna makanan yang keras. Ada beberapa bagian tubuhnya yang belum mampu mencerna makanan dengan sempurna. Bila tetap dipaksakan mengkonsumsi makanan yang keras, bayi itu dapat terkena penyakit sehingga proses pertumbuhannya terganggu. Ketika usianya semakin bertambah, secara bertahap diberi asupan makanan selain susu sampai akhirnya ia disapih. Seiring dengan pertumbuhannya, tubuhnya semakin siap dan mampu mencerna makanan keras denganbaik.

Dalam kehidupan rohani, kadang-kadang kita menemukan orang yang tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Ia masih terus melakukan tindakan kurang terpuji dalam hidupnya, bahkan melenceng jauh dari jalan Tuhan. Kondisi seperti ini menunjukkan keadaan seseorang yang terhambat pertumbuhan rohaninya. Pertumbuhan rohani memang tidak terjadi secara otomatis. Perlu latihan. Latihannya dengan belajar menerapkan dan menaati firman kebenaran sehingga secara bertahap kita semakin tajam mengenali perkara yang baik dan yang jahat. Sikap yang terbuka untuk belajar dan senantiasa siap diperbarui oleh Firman-Nya merupakan lahan yang subur bagi pertumbuhan rohani. Semakin kita bertumbuh, kita akan semakin menyerupai Kristus dan buah Roh-Nya semakin nyata dalam kehidupan kita.

Marilah kita menilik kondisi kita masing-masing dengan saksama. Adakah indra kita semakin peka dalam mengenali jalan Tuhan dan kita semakin sigap dalam menaatinya? –WB

SEMAKIN DEWASA KITA BERTUMBUH SECARA ROHANI

 SEMAKIN PEKA KITA DALAM MENGIKUTI JALAN KEBENARAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

PENYESALAN YANG BENAR

Rabu, 25 April 2012

Bacaan : Matius 27:1-10

27:1. Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus.

27:2 Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.

27:3 Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua,

27:4 dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka: “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!”

27:5 Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.

27:6 Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata: “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah.”

27:7 Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing.

27:8 Itulah sebabnya tanah itu sampai pada hari ini disebut Tanah Darah.

27:9 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,

27:10 dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku.”

 

 

PENYESALAN YANG BENAR

Pernahkah Anda merasa bersalah dan menyesal setengah mati setelah melakukan sesuatu? Saya cukup sering mengalaminya. Seringkali rasa sesal itu begitu kuat mencengkeram saya sehingga sepanjang hari saya tidak bisa melakukan hal lain. Saya malu dan marah pada diri sendiri dan biasanya tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Bahkan, pernah berpikir ingin lenyap dari dunia ini.

Saya pikir, itulah yang juga dirasakan Yudas setelah menjual Yesus (ayat 3). Menyesal. Akan tetapi, rupanya menyesal (Yunani: metamellomai) tidak menjamin adanya pertobatan. Tenggelam dalam penyesalannya, Yudas pergi menggantung diri (ayat 5). Mungkin ia terlalu malu untuk kembali dan mengakui kesalahannya kepada murid-murid yang lain. Ia kehilangan kesempatan menerima pengampunan Tuhan. Kontras dengan Petrus yang menangisi dosanya, tetapi kemudian kembali mengikut Tuhan (lihat pasal 26:75, Yohanes 21). Dalam bagian Alkitab yang lain dukacita Yudas disebut sebagai dukacita dari dunia (lihat 2 Korintus 7:10). Pusatnya adalah diri sendiri. Sementara, dukacita yang menurut kehendak Allah “menghasilkan pertobatan”. Kata pertobatan dalam bahasa Yunani adalah metanoia, yang artinya berubah pikiran atau berbalik dari dosa.

Sungguh baik jika kita menyadari kesalahan kita dan menyesal. Namun, jangan biarkan penyesalan membuat kita tidak bisa melanjutkan hidup seperti Yudas. Datanglah kepada Tuhan dalam pengakuan yang jujur. Carilah rekan yang dewasa rohani untuk mendampingi dalam proses tersebut. Metanoia. Tinggalkanlah dosa dan mulailah babak baru bersama Tuhan. –ELS

MENYESAL SAJA MEMBAWA DUKA.

MENYESAL DAN BERUBAH MEMBAWA KEMENANGAN.

Dikutip : www.sabda.org

TAK PERLU DIPIKIR?

Selasa, 03 Januari 2012

Bacaan : Efesus 4:11-16 

4:11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar,

4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

4:13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,

4:14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,

4:15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

4:16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

TAK PERLU DIPIKIR?

Pernah lihat kaki seribu? Bayang-kan kalau hewan berkaki banyak ini berjalan sambil sibuk mengamati kakinya satu demi satu, berusaha mempelajari mekanisme langkahnya. Jalannya bakal kacau. Daripada kacau, bukankah sebaiknya ia tak usah berpikir? Serupa dengan itu, banyak orang merasa iman tak perlu banyak dipikir. Makin sederhana, makin baik. Mempelajari teologi mengancam kesederhanaan iman. Bukankah kita dinasihatkan untuk menjadi seperti anak-anak (childlike)? Pemahaman pengajaran adalah bagian para “hamba Tuhan” dan “teolog”. Jemaat “awam” cukup belajar mengenai kerohanian yang praktis.

Kontras dengan itu, Alkitab menggambarkan bahwa pertumbuhan menuju kedewasaan yang menyeluruh (ayat 15) juga meliputi menjadi dewasa dalam “iman dan pengetahuan yang benar” akan Tuhan. Artinya, kita justru harus dengan sengaja memikirkan dan bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan (ayat 13, lihat juga 2 Petrus 3:18). Inilah sebenarnya arti kata teologi (teos=Tuhan+logos=pengetahuan, pemahaman). Orang dengan pemahaman yang benar akan Tuhan tidak akan mudah “diombang-ambingkan” (ayat 14). Menjadi seperti anak-anak dalam iman bukan berarti menjadi childish atau kekanak-kanakan (1 Korintus 14:20).

Seberapa banyak aspek pertumbuhan ini kita perhatikan? Kita tak mungkin mencintai, melayani, dan menyembah Pribadi yang tak kita kenal atau yang kita kenal secara samar. Di tahun yang baru ini, mari cari dan gunakan tiap sarana pertumbuhan yang ada untuk menolong kita makin dewasa dalam pengenalan akan Tuhan –JOO

KASIHILAH TUHAN DENGAN SEGENAP AKAL BUDIMU

Dikutip : www.sabda.org

SEMPURNA

Senin, 25 Januari 2010

Bacaan : Matius 5:43-48

5:43. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

SEMPURNA

Seorang teman saya dinasihati agar belajar untuk bersikap dewasa. Apa yang ia lakukan? Jika ditanyai berapa umurnya, ia menyebutkan angka yang membuat dirinya dua-tiga tahun lebih tua. Ia juga suka berlagak menasihati teman-teman lain yang sebaya atau malah sebenarnya lebih tua darinya.

Pengertian yang keliru menghasilkan tindakan yang keliru. Kita mungkin juga bingung ketika diperintahkan untuk menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Apakah itu berarti kita harus kebal terhadap kesalahan dan kegagalan?

Sempurna, atau bahasa Yunaninya teleios, berarti dewasa, matang, sudah mencapai tujuan, lengkap, utuh. Kathleen Norris dalam buku Amazing Grace menguraikan arti kesempurnaan secara menarik. Ia menulis, “Kesempurnaan, dalam pengertian kristiani, berarti menjadi cukup dewasa, sehingga kita mampu memberikan diri kita kepada orang lain. Apa pun yang kita miliki, tidak peduli betapa pun kecil tampaknya hal itu, adalah sesuatu yang dapat kita bagikan dengan mereka yang lebih miskin. Kesempurnaan semacam ini menuntut kita untuk menjadi diri kita sepenuhnya sebagaimana ditetapkan oleh Allah: dewasa, matang, utuh, siap menanggung apa saja yang menimpa hidup kita.”

Untuk menjadi sempurna, kita tidak perlu bertingkah aneh seperti teman saya tadi. Bapa kita di surga meneladankan kesempurnaan dengan memberkati orang yang baik dan juga orang yang jahat. Kita pun dapat menjadi sempurna dengan belajar mengasihi tanpa pandang bulu dan bersikap lebih sabar terhadap orang lain –ARS

KESEMPURNAAN BUKANLAH KEADAAN YANG TANPA CACAT CELA

MELAINKAN SIKAP HATI YANG RELA BERBAGI DENGAN SIAPA SAJA

Sumber : www.sabda.org

SIAP DILATIH!

Kamis, 8 Oktober 2009

Bacaan : Filipi 4:10-19

4:10. Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

4:14 Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.

4:15 Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu.

4:16 Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.

4:17 Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.

4:18 Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.

4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.

SIAP DILATIH!

Casey Seymour, pemain dan pelatih sepak bola yang sukses, memerhatikan bahwa setiap anggota timnya tidak menyukai latihan fisik 10-kali-100 di akhir latihan. Sebelum para pemain boleh meninggalkan lapangan, mereka harus berlari sejauh 100 yard [kira-kira 90 meter] sebanyak 10 kali dengan kecepatan penuh dan istirahat sesedikit mungkin. Jika gagal mengalahkan waktu yang telah ditetapkan, mereka harus mengulanginya lagi.

Para pemain membenci latihan itu — sampai tiba saatnya bertanding. Saat itu, mereka menyadari bahwa mereka dapat bermain dengan kekuatan penuh sepanjang pertandingan. Usaha mereka telah terbayar dengan menduduki posisi juara!

Rasul Paulus menggunakan perumpamaan tentang latihan dan pertandingan dalam surat-suratnya. Saat ia menjadi misionaris bagi orang-orang bukan Yahudi, ia tunduk kepada perintah dan latihan dari Allah di tengah penderitaan serta kesukaran yang besar. Dalam Filipi 4, ia berkata, “Aku telah belajar” (ayat 11). Baginya dan bagi kita masing-masing, mengikuti Yesus merupakan proses belajar seumur hidup. Kita belum dewasa secara rohani saat diselamatkan, sama seperti seorang atlet di sekolah yang belum siap bermain sepak bola secara profesional. Kita bertumbuh dalam iman saat mengizinkan Allah, melalui firman-Nya dan Roh Kudus, memberi kita kuasa untuk melayani-Nya.

Melalui kesulitan hidup, Paulus belajar untuk melayani Allah dengan baik. Demikian pula halnya dengan kita. Kesulitan memang tidak menyenangkan, tetapi itu semua patut dihargai! Semakin mudah kita diajar, maka semakin dewasalah kita. Sebagai anggota tim Kristus, mari kita menyiapkan diri untuk dilatih –DCE

KARYA ALLAH DALAM DIRI KITA BELUM BERAKHIR
MELAINKAN BARU SAJA DIMULAI SAAT KITA
MENERIMA KRISTUS

Sumber : www.sabda.org

TEOLOGIA ARSIK

Senin, 11 Mei 2009

Bacaan : Kejadian 50:15-21

50:15. Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”

50:16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:

50:17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.

50:18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.”

50:19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?

50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

50:21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga.” Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

TEOLOGIA ARSIK

Arsik adalah makanan tradisional Batak. Terbuat dari bahan dasar ikan mas, arsik diolah dengan beragam bumbu; cabe, bawang, kunyit, jahe, lengkuas, merica, dan banyak lagi bumbu lain yang membuatnya kaya cita rasa. Arsik akan sangat nikmat jika bumbunya telah bercampur dan meresap dalam ikan mas tersebut. Setiap bahan dari masakan ini tidak akan terasa enak jika dipisah-pisahkan. Ikan mas saja ditumis tanpa bumbu, pasti hambar. Memakan cabe saja, pasti pedas. Kunyit pun tak enak dan pahit. Lengkuas terasa panas. Merica, tak ada yang mau makan. Namun ketika dipadukan, jadilah arsik — ikan mas yang lezat.

Begitulah hidup dalam Tuhan. Jika dilihat sebagian bisa terasa pahit, pedas, dan tidak enak. Namun paduan yang pedas, pahit, dan hambar bisa menjadi nikmat. Yusuf bertumbuh bijaksana justru lewat pengalaman pahit dan pedas selama di Mesir. Dibenci saudara, dijual ke Mesir, menjadi budak Potifar, difitnah istri Potifar, dipenjara dan dilupakan, semuanya adalah pengalaman pahit di hidup Yusuf. Itu bisa saja menjadikannya pribadi yang penuh amarah, benci, dan dendam. Namun, Yusuf belajar melihat hal itu sebagai cara Tuhan memelihara Israel demi menggenapi janji-Nya kepada Abraham.

Inilah teologia arsik. Hidup kita ibarat arsik. Jangan hanya melihatnya sepenggal-sepenggal. Jangan terfokus pada sisi buruknya saja. Lihatlah secara keseluruhan. Pengalaman hidup yang pahit akan membuat iman dan karakter kita bertumbuh dewasa dan berbuah. Segala sesuatu yang awalnya tampak buruk adalah resep Tuhan meramu sebuah keindahan rohani dalam hidup kita. Tuhan, arsitek hidup manusia, akan menjadikan semua indah pada waktunya –DBS

HIDUP SEPERTI ADONAN KUE YANG TERDIRI DARI

BERBAGAI BAHAN
YANG TAK DAPAT DIRASA NIKMAT HINGGA

KUE ITU DISAJIKAN

Sumber : www.sabda.org