TIDAKKAH KAMU BACA?

Rabu, 3 Oktober 2012

Bacaan : Matius 12:1-8

12:1. Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.

12:2 Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada-Nya: “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.”

12:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar,

12:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam?

12:5 Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?

12:6 Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah.

12:7 Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.

12:8 Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

 

TIDAKKAH KAMU BACA?

Tahukah Anda bahwa seluruh isi Alkitab dapat dibaca nonstop dalam waktu sekitar 76 jam? Jadi, jika Anda membacanya 15 menit saja setiap hari, Anda dapat menyelesaikan seluruh Alkitab kurang dari setahun! Jika sebagian besar orang kristiani belum pernah satu kali pun membaca Alkitab hingga selesai, masalahnya terletak pada disiplin dan motivasi

Menarik untuk memperhatikan pertanyaan Tuhan Yesus: Tidakkah kamu baca? Pertanyaan yang sama juga dilontarkan-Nya dalam Matius 19 dan 22. Tuhan Yesus seolah hendak menegaskan kepada para pendengar-Nya –baik murid-murid, orang Farisi, maupun orang banyak yang mengikuti-Nya–bahwa sebagai umat Allah, sudah seharusnya mereka membaca seluruh isi Kitab Suci. Kaum Farisi mencomot satu bagian tanpa melihat bagian lainnya, sehingga pemahaman mereka tak lengkap dan kesimpulan mereka keliru

Bisa jadi kita pun gelagapan jika pertanyaan yang sama diajukan pada kita. Sudah berapa kali kita selesai membaca Alkitab? Tanpa memahami garis besar keseluruhannya, kita bisa terjebak memandang Alkitab sebagai kumpulan cerita yang tidak saling berhubungan, dan membuat banyak pemaknaan yang keliru. Padahal, Alkitab merupakan satu buku dengan satu cerita tentang Pribadi dan karya Tuhan yang agung. Luangkanlah waktu untuk mulai berdisiplin membaca seluruh bagian Alkitab. Miliki daftar pembacaan Alkitab untuk menandai bagian mana saja yang sudah dan belum Anda baca (Bacaan Alkitab Setahun dalam Renungan Harian dapat menolong Anda). Disiplin membaca Alkitab akan menolong kita makin memahami maksud firman-Nya! –ELS

DISIPLIN MEMBACA ALKITAB MEMBERI GAMBARAN UTUH

 AGAR FIRMAN TUHAN DIPAHAMI LENGKAP, BUKAN SEBAGIAN SAJA

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN

Selasa, 2 Oktober 2012

Bacaan : 1 Timotius 4:1-10

4:1. Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan

4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.

4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,

4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.

 

4:6. Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.

BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN

Mungkin kita pernah terkagum-kagum dengan pemain musik yang hebat. Saya punya beberapa rekan musisi yang luar biasa sejak muda. Mereka seolah dilahirkan dengan keahlian itu. Namun, semua orang yang pernah mencoba main musik pasti tahu bahwa kepiawaian mereka tidak muncul begitu saja. Ada ribuan jam latihan yang telah mereka lewati dengan penuh kedisiplinan sebelum akhirnya mereka “merdeka” memainkan nada-nada yang indah. Prinsip yang sama juga berlaku dalam pertumbuhan rohani. Elton Trueblood berkata, “Disiplin adalah harga yang harus dibayar untuk mengalami kemerdekaan.”

Disiplin berlatih juga menjadi nasihat rasul Paulus kepada Timotius muda. Paulus ingin agar anak rohaninya itu menjadi pelayan yang mumpuni dalam mengajarkan firman Tuhan (ayat 6, 13). Namun, hal itu tidak dapat terjadi begitu saja. Timotius harus melatih diri dalam membaca Kitab Suci dan menggunakan karunianya mengajar. Kata “latihlah” dalam bahasa Yunani adalah gumnazo, yang juga merupakan asal kata Inggris gymnasium, tempat para olahragawan berlatih fisik. Tidak ada jalan pintas. Tentu saja, menjadi pelayan yang disiplin bukan tujuan akhir. Latihan rohani hanyalah sarana yang menjadikan Timotius leluasa dipakai Allah membawa keselamatan dan pertumbuhan bagi banyak orang

Apa yang paling Anda rindukan dalam kehidupan kristiani Anda? Jika rencana Allah adalah membuat anak-anak-Nya menjadi serupa dengan Kristus (1 Yohanes 3:2b), tidakkah hal itu juga seharusnya menjadi kerinduan kita? Disiplin apa saja yang harus kita latihkan untuk mewujudkannya? –ELS

DISIPLIN ROHANI MENOLONG KITA

BERTUMBUH SERUPA KRISTUS DENGAN SUKACITA

Dikutip : www.sabda.org

PELATIH IMAN

Jumat, 19 Agustus 2011

Bacaan : 1 Korintus 9:24-27

9:24. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!

9:25 Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

9:26 Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

PELATIH IMAN

Apakah kegiatan sehari-hari seorang atlet maraton? Ia akan menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk berlatih; berlari menempuh jarak yang jauh. Esoknya, rutinitas yang sama terulang kem-bali. Maka, sangat wajar jika para atlet merasa jenuh. Mereka kadang jadi malas berlatih, bahkan bisa merasa tidak ingin berlari. Namun apa yang dilakukan sang pelatih ketika melihat pelarinya merasa demikian?

Pelatih akan mendorong para atletnya untuk tetap mendisiplin diri dan terus berlatih. Itu sebabnya terkadang seorang pelatih bisa tampak begitu kejam; seakan-akan ia tak mau tahu keletihan pelarinya. Sampai-sampai si pelari mungkin bisa membenci pelatihnya. Namun, ketika kemenangan berhasil dicapai, maka pelari itu akan sangat berterima kasih kepada sang pelatih yang telah bersikap begitu tegas mendisiplin dirinya.

Hal yang sama juga Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Kita adalah para pelari yang harus menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir. Untuk mencapai kemenangan itu, Tuhan akan menjadi Pelatih kita dan mempersiapkan kita begitu rupa agar kita sampai ke garis akhir. Namun, saat kita menerima didikan dan disiplin dari Tuhan-Pelatih iman kita, sangat mungkin kita merasa tidak nyaman secara daging. Bukankah terkadang kita juga letih dan jenuh secara rohani? Namun, Tuhan tidak mau membiarkan itu. Dia rindu melihat kita menyelesaikan pertandingan dengan baik. Jadi, latihan dan pen-disiplinan Tuhan yang berat itu sebenarnya untuk kebaikan kita sendiri; agar kita dipersiapkan untuk menjadi orang-orang yang berkemenangan –PK

TERUSLAH BERTEKUN DALAM LATIHAN IMAN

SEBAB KITA SEDANG DIPERSIAPKAN

UNTUK MENJADI PEMENANG

Dikutip  : http://www.sabda.org

LATIHAN GANDA

Kamis, 16 Juni 2011

Bacaan : 1 Timotius 4:6-10

4:6. Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.

 

LATIHAN GANDA

Untuk menurunkan berat badan dan menjaga kebugaran, orang biasanya memadukan dua latihan. Latihan pasif: menahan diri dengan mengikuti pola makan tertentu. Latihan aktif: berolahraga untuk membakar kalori dan lemak yang berlebihan.

Begitu juga dengan ibadah atau disiplin rohani. Ada yang aktif, yaitu disiplin keterlibatan, sesuatu yang kita lakukan; dan ada yang pasif, yaitu disiplin berpantang, sesuatu yang kita hindari. Ini berkaitan dengan jenis dosa yang kita hadapi. Ada dosa pelanggaran, yaitu secara aktif melanggar perintah Tuhan (1 Yohanes 3:4). Ada dosa pengabaian, yaitu secara pasif melalaikan perbuatan baik yang semestinya kita lakukan (Yakobus 4:17).

Bagaimana disiplin rohani itu dapat bermanfaat bagi kita? Secara umum, menurut John Ortberg, ketika kita bergumul dengan suatu dosa pengabaian, kita akan tertolong melalui disiplin keterlibatan. Sebaliknya, ketika kita bergumul dengan suatu dosa perbuatan, kita akan tertolong melalui disiplin berpantang. Sebagai contoh, jika kita cenderung murung, kita akan tertolong dengan berlatih merayakan kehidupan ini. Apabila kita bergumul melawan keserakahan, kita akan tertolong dengan berlatih memberi. Sebaliknya, jika kita rentan bergosip, kita akan tertolong dengan berlatih menutup mulut. Apabila kita suka melebih-lebihkan sesuatu, kita akan tertolong dengan berlatih berbicara secara jujur.

Disiplin rohani tidak lain ialah sarana untuk mencapai tujuan. Tujuannya: kehidupan rohani yang sehat sehingga kita menjadi bugar; baik dalam hidup yang sekarang maupun dalam hidup yang akan datang –ARS

JANGAN MENCOBA MELAWAN KEGELAPAN

 TANPA MENYALAKAN TERANG

Dikutip : www.sabda.org

PENUNDAAN MAUT

Rabu, 13 April 2011

Bacaan : Yosua 18:1-6

1Maka berkumpullah segenap umat Israel di Silo, lalu mereka menempatkan Kemah Pertemuan di sana, karena negeri itu telah takluk kepada mereka.

2Pada waktu itu masih tinggal tujuh suku di antara orang Israel, yang belum mendapat bagian milik pusaka.

3Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?

4Ajukanlah tiga orang dari tiap-tiap suku; maka aku akan menyuruh mereka, supaya mereka bersiap untuk menjelajahi negeri itu, mencatat keadaannya, sekadar milik pusaka masing-masing, kemudian kembali kepadaku.

5Sesudah itu mereka akan membaginya di antara mereka menjadi tujuh bagian. Suku Yehuda akan tetap tinggal dalam daerahnya di sebelah selatan dan keturunan Yusuf akan tetap tinggal dalam daerahnya di sebelah utara.

6Kamu catat keadaan negeri itu dalam tujuh bagian dan kamu bawa ke mari kepadaku; lalu aku akan membuang undi di sini bagi kamu di hadapan TUHAN, Allah kita.

PENUNDAAN MAUT

Archis, hakim kota Thebes di Yunani Kuno, sedang menikmati anggur dengan para perwira setempat. Tiba-tiba, muncul seorang kurir yang membawa surat berisi pemberitahuan bahwa ada persengkongkolan yang hendak menghabisi nyawanya. Maka ia diperingatkan untuk melarikan diri. Archis menerima surat itu. Akan tetapi, alih-alih membukanya, ia memasukkannya ke dalam kantong dan berkata kepada kurir itu, “Urusan bisnis besok saja.” Keesokan harinya, ia tewas. Sebelum sempat membuka surat itu ia sudah ditangkap, dan ketika ia sempat membacanya semua sudah terlambat.

Yosua menegur tujuh suku bangsa Israel yang menunda pendudukan Tanah Kanaan. Mereka sudah memasuki Tanah Perjanjian. Sebagian suku sudah menempati daerah yang ditetapkan bagi mereka. Namun, ketujuh suku itu memilih beristirahat barang sejenak. Ah, tidak, tampaknya mereka bukan sekadar rehat untuk memulihkan tenaga; mereka sudah kelewat batas, sehingga Yosua menghardik mereka dengan kata-kata keras: “bermalas-malas”! Kalau dibiarkan terus berleha-leha, bisa-bisa mereka merusak rencana Allah atas bangsa itu.

Penundaan memang tidak selalu berakibat fatal seperti yang menimpa Archis. Namun, kecenderungan menunda tugas biasanya menunjukkan kurangnya disiplin pribadi, buruknya pengelolaan waktu, dan bisa jadi seperti dalam kasus Israel merupakan ketidaktaatan terhadap Allah. Bahwa suatu tugas terasa berat, membosankan, atau tak menyenangkan itu bukan alasan valid untuk menundanya. Kita justru perlu meminta Tuhan memberi kita kekuatan dan konsentrasi ekstra untuk menyelesaikannya pada waktunya –ARS

JANGAN MENUNDA BESOK APA YANG PATUT DILAKUKAN HARI INI

BESOK BELUM TENTU ANDA PUNYA WAKTU DAN MAMPU MELAKUKANNYA

Dikutip dari : www.sabda.org

TAHU (…) DIRI

Rabu, 2 Februari 2011

Bacaan : Amsal 30:24-28

24Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan:

25semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, 26pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu,

27belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur,

28cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.

TAHU (…) DIRI

Dunia perfilman cukup semarak dengan film-film animasi yang mengangkat tokoh binatang. Ada si singa Madagaskar dan si beruang Brother Bear. Begitu pun para semut Ants serta ikan mungil Nemo. Tak ketinggalan gajah purba dalam Ice Age serta kawan-kawannya. Juga si tikus jago memasak dalam film Ratatouille. Semua menyampaikan inspirasi sekaligus pesan berharga bagi hidup manusia. Serupa dengan sabda Tuhan melalui pesan-pesan hikmat dalam kitab Amsal.

Semut kecil menunjukkan kecakapan mengantisipasi dan kegigihan membekali diri guna menghadapi musim dingin (ayat 25). Ia tahu mempersiapkan, memperlengkapi diri. Pelanduk kecil me-meragakan kesanggupan mencari tempat berlindung sementara ia sadar tak punya pertahanan diri yang dapat diandalkan (ayat 26). Ia tahu menjaga diri. Belalang kecil menunjukkan kedisiplinan untuk “berbaris rapi” memimpin diri sendiri tanpa dikomando (ayat 27). Ia tahu mengendalikan diri. Cecak ke-cil memperlihatkan kelincahan “membawa diri”, bahkan untuk masuk ke tempat yang paling dijaga ketat (ayat 28). Ia lincah, tahu membawa diri.

Bukankah kita memerlukan semua kecakapan hidup seperti yang mereka tunjukkan? Guna menghadapi tantangan masa depan, kita harus tahu membekali diri. Untuk mengantisipasi bahaya, kita harus menempa kesanggupan berjaga-jaga, tahu menjaga diri. Agar mampu menghindari atau mengurangi dampak negatif ketidaktertiban dan keteledoran, kita harus berdisiplin memimpin diri sendiri, tahu mengendalikan diri. Demi menghadapi segala kondisi dan perubahan situasi, kita harus melatih kelincahan beradaptasi, tahu membawa diri –PAD

BANYAK HAL DALAM KEHIDUPAN DITENTUKAN

OLEH KEMAMPUAN KITA MENGELOLA POTENSI DIRI SENDIRI

Sumber : www.sabda.org

DISIPLIN

Sabtu, 9 Januari 2011

Bacaan : 2 Timotius 3:10-17

10Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku.

11Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia dan di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita dan Tuhan telah melepaskan aku dari padanya.

12Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, 13sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan. 14Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.

15Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.

16Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

17Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

DISIPLIN

Korea Selatan kini merupakan salah satu negara yang disegani di dunia, dan dipandang berhasil membangun bangsanya. Mereka berhasil mencapai prestasi demikian dengan menanamkan kultur bangsa yang amat positif, yakni kultur bangsa yang sangat disiplin, selalu bekerja keras, pantang menyerah, dan tidak mau kalah dari bangsa lain. Ya, disiplin menjadi kunci keberhasilan bangsa Korea.

Kata disiplin sendiri berasal dari bahasa Latin, disciplina, yang berarti petunjuk; pengajaran; pendidikan. Dalam Oxford Dictionary, kata discipline berarti pelatihan terutama atas akal budi dan kepribadian demi menghasilkan kemampuan menguasai diri, juga kebiasaan untuk taat. Intinya ada pada pembentukan akal budi yang mendarah daging, yang melahirkan karakter yang taat berdasarkan kemauan hati, bukan sekadar karena takut terhadap hukuman.

Demikian pula sosok muda Timotius yang mempunyai kepribadian positif. Kepribadiannya tersebut merupakan hasil latihan kedisiplinan yang dilakukan Paulus. Paulus telah banyak memberinya kesempatan juga petunjuk, mengajar dan mendidiknya, selagi Timotius masih muda. Timotius selalu diingatkan untuk tetap berpegang pada kebenaran yang telah ia terima dan yakini (ayat 14). Belajar dari Timotius, baiklah kita juga menertibkan dan membiasakan diri untuk melakukan disiplin-disiplin rohani dengan kesadaran dan kerelaan. Baik doa pribadi, persekutuan dengan saudara seiman, maupun pembacaan dan perenungan firman. Sehingga, kita dapat disebut disciple of Jesus (murid Yesus), yang selalu mendengarkan pengajaran-Nya dan meneladani-Nya –ENO

MENJADI MURID YANG DISIPLIN BAGI YESUS

ADALAH TUGAS YANG MESTI DIJALANI SEUMUR HIDUP

Sumber : www.sabda.org