ALLAH YANG DISEBUT BAPA

Kamis, 15 November 2012

Bacaan : Matius 7:7-11

7:7. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

7:8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

7:9 Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,

7:10 atau memberi ular, jika ia meminta ikan?

7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

 

ALLAH YANG DISEBUT BAPA

Saya agak gemas ketika tawaran saya untuk membelikan sesuatu ditolak oleh anak teman saya. “Tanya papa dulu, ” katanya. Belakangan teman saya menjelaskan, “Memang aku ajarin anak-anakku supaya sekali-kali tidak minta sama orang lain. Kalau ada kebutuhan, mereka harus belajar minta sama aku. Memang tidak semua permintaan mereka langsung aku kabulkan, tetapi mereka tahu kalau tidak diberi itu pasti ada alasannya. Papa tahu yang terbaik buat mereka. Mereka harus minta sama papa, bukan orang lain.”

Kisah teman saya dengan anaknya mengingatkan saya pada suatu hal yang luar biasa tentang Allah. Yesus menyebut Allah sebagai Bapa kita di surga (ayat 11). Bapa yang senang mendengarkan permintaan anak-anak-Nya, memberikan apa yang baik bagi mereka. Meski para ayah di dunia terbatas, gambaran ini menolong kita mengenal Pribadi Allah. Berbeda dengan para ayah di dunia, Bapa kita di surga punya segala kemampuan untuk mengabulkan permintaan kita. Dia tahu apa yang terbaik dan kapan waktu terbaik untuk memberikannya. Seorang ayah tentu tidak akan memberikan sesuatu yang belum siap diterima anaknya, atau yang bisa membahayakan dirinya. Dan lebih dari para ayah di dunia, Bapa di surga ingin anak-anak- Nya menunjukkan kepercayaan dan pengharapan mereka dengan meminta kepada-Nya, bukan kepada yang lain.

Berapa sering kita sungguh-sungguh berharap dan bertekun dalam doa? Mungkin lebih sering kita berpikir, “Ah Tuhan sudah tahu, mengapa harus berdoa?” Kebenaran ini sederhana, tetapi sering terlupakan: Allah adalah Bapa yang senang mendengarkan dan memberikan yang baik bagi anak-anak-Nya. –ELS

BAPA SENANG KETIKA ANAK-ANAK-NYA BERGANTUNG KEPADA-NYA.

MEMBERIKAN YANG TERBAIK ADALAH KEAHLIAN-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

LEITOURGIA

Minggu, 11 November 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 13:1-3

13:1. Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus.

13:2 Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.”

13:3 Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi.

 

LEITOURGIA

Kebaktian doa malam itu kosong melompong. Di musim liburan seperti ini sebagian besar jemaat pergi ke luar kota. Matt, salah satu pemimpin kebaktian berkata, biasanya ia berbicara kepada jemaat tentang Tuhan. Namun, malam itu ia berbicara kepada Tuhan tentang jemaat. Ia mengaku, malam itu membuatnya banyak merenungkan kembali keutuhan makna sebuah leitourgia.

Leitourgia, kata Yunani yang kita serap menjadi kata liturgi, adalah kata yang digunakan untuk merujuk pada pelayanan para imam di Bait Allah. Kata ini dapat diterjemahkan sebagai ibadah atau penyembahan. Dalam bacaan hari ini sejumlah pengajar di Antiokhia sedang berkumpul menyembah Tuhan. Leitourgia. Apa yang mereka lakukan? Di satu sisi mereka berpuasa dan berdoa, menghadap Allah. Mungkin saja mereka memuji Tuhan yang secara ajaib membebaskan Petrus (pasal 12). Mungkin mereka bersyukur atas pertumbuhan rohani Saulus dan pelayanan Barnabas (pasal 11). Mungkin mereka membawa kondisi jemaat dan orang-orang yang rindu mereka jangkau di hadapan Tuhan. Di sisi lain mereka juga mendengarkan Tuhan berbicara kepada mereka (ayat 2), lalu meresponi dalam doa dan tindakan (ayat 3).

Penyembahan adalah suatu tugas keimaman orang percaya. Dalam terang Perjanjian Baru, kita semua yang telah ditebus Kristus adalah para imam yang melayani Sang Raja. Kita dipanggil bukan untuk memamerkan kemegahan sebuah ibadah di hadapan banyak “penonton”, melainkan untuk membawa tubuh Kristus dan dunia menghadap Tuhan dalam roh dan kebenaran, serta menerima karya anugerah-Nya. –JOE

LEITOURGIA=PENYEMBAHAN.

MENGHADAP TUHAN DAN MENANGGAPI KARUNIA-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

MENDOAKAN KERINDUAN-NYA

Selasa, 23 Oktober 2012

Bacaan : Yehezkiel 36:33-38

36:33 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Pada hari Aku mentahirkan kamu dari segala kesalahanmu, Aku akan membuat kota-kota didiami lagi dan reruntuhan-reruntuhan akan dibangun kembali.

36:34 Tanah yang sudah lama tinggal tandus akan dikerjakan kembali, supaya jangan lagi tetap tandus di hadapan semua orang yang lintas dari padamu.

36:35 Sebaliknya mereka akan berkata: Tanah ini yang sudah lama tinggal tandus menjadi seperti taman Eden dan kota-kota yang sudah runtuh, sunyi sepi dan musnah, sekarang didiami dan menjadi kubu.

36:36 Dan bangsa-bangsa yang tertinggal, yang ada di sekitarmu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang membangun kembali yang sudah musnah dan menanami kembali yang sudah tandus. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya.

36:37 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Dalam hal ini juga Aku menginginkan, supaya kaum Israel meminta dari pada-Ku apa yang hendak Kulakukan bagi mereka, yaitu membuat mereka banyak seperti lautan manusia.

36:38 Seperti domba-domba persembahan kudus, dan seumpama domba-domba Yerusalem pada waktu-waktu perayaannya, begitulah kota-kota yang sudah runtuh penuh dengan lautan manusia. Dengan begitu mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”

 

MENDOAKAN KERINDUAN-NYA

Menjelang akhir bulan Juli 2012, dunia dihebohkan oleh peristiwa berdarah di sebuah bioskop di Amerika. Tiga orang Indonesia ikut menjadi korban. Jaringan doa Hollywood mengirimkan pesan bagi segenap tubuh Kristus untuk berdoa:

“Tuhan terkasih, kami sangat berduka atas kejadian penembakan di Aurora, Colorado, saat pemutaran film The Dark Knight Rises. Kami mohon Tuhan menjamah para korban penembakan dan menyembuhkan mereka. Hiburkanlah segenap keluarga dan sahabat dari mereka yang meninggal dan terluka. Kami percaya Engkau bekerja dalam segala sesuatu, termasuk peristiwa ini, untuk mendatangkan kebaikan bagi semua yang terlibat. Engkau juga dapat menggantikan segala ketakutan dengan damai sejahtera dan kasih-Mu…. Kami berdoa untuk James Holmes, penembak berusia 24 tahun itu. Tuhan, kami tahu betapa besar pengaruh media, dan mohon Tuhan menolong agar masyarakat kami dapat berhikmat dalam memilih tontonan mereka. Kami berdoa agar film-film tidak akan lagi dipakai untuk memperluas pengaruh si jahat, tetapi akan digunakan sebagai sarana untuk membawa manusia mendekat pada-Mu, memberi inspirasi, menunjukkan hal-hal yang baik, indah, dan benar dalam dunia ini….”

Pernahkah kita merasa, untuk apa mendoakan hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan kita? Itu urusannya Tuhan dan orang-orang di sana. Alkitab memberitahu kita, seperti Tuhan ingin bangsa Israel “meminta” pembaruan yang sudah jelas akan dilakukan-Nya bagi negerinya serta bagi bangsa-bangsa lain, demikian juga Tuhan ingin kita terlibat dengan “kerinduan-kerinduan hati-Nya” digenapi dalam segala bidang kehidupan. –LAN

KERINDUAN TUHAN APA YANG MEWARNAI DOA KITA HARI INI?

ANDA BISA BERGABUNGs MENDOAKAN MEDIA-MEDIA YANG MEMENGARUHI DUNIA

BERSAMA JARINGAN DOA HOLLYWOOD DENGAN MENGUNJUNGI WEBSITE MEREKA:

HTTP://WWW.HOLLYWOODPRAYERNETWORK.ORG/

Dikutip : www.sabda.org

KE MANA MENCARI DAMAI?

Kamis, 18 Oktober 2012

Bacaan : Yohanes 16:25-33

16:25 Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu.

16:26 Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa,

16:27 sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah.

 

16:28. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”

16:29 Kata murid-murid-Nya: “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan.

16:30 Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.”

16:31 Jawab Yesus kepada mereka: “Percayakah kamu sekarang?

16:32 Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.

16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

 

KE MANA MENCARI DAMAI?

Anda tentu sependapat bahwa damai sejahtera adalah hal yang dirindukan semua orang di dunia. Segala cara ditempuh demi damai diperoleh dalam kehidupan pribadi, keluarga, bahkan antar negara. Sebab itu, konselor tak pernah sepi, diplomat selalu sibuk, dan pasukan perdamaian masih saja dibentuk. Sebagai orang kristiani, seberapa sering Anda mengalami damai sejahtera? Jika damai sejahtera adalah buah Roh Kudus yang diam di dalam kita (Galatia 5:22), bukankah seharusnya kita mengalaminya setiap hari?

Ternyata selain menjanjikan damai sejahtera, Tuhan Yesus juga memastikan bahwa masalah besar akan dialami oleh mereka yang menjadi murid-murid-Nya. Lebih tepatnya, mereka akan “menderita penganiayaan”. Hmm…. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa beroleh damai sejahtera? Kepastian berikut diberikan: “Aku [Yesus] telah mengalahkan dunia”. Yesus memegang kuasa tertinggi (Matius 28:18), segala sesuatu diletakkan di bawah kaki- Nya (lihat Efesus 1:22). Sebab itu, tidak ada masalah yang bisa luput dari perhatian-Nya atau terlalu sukar untuk ditangani-Nya

Yesus tidak mengajar murid-murid-Nya bagaimana cara menghindari atau melarikan diri dari masalah, tetapi bagaimana menghadapi masalah dengan memandang dan berharap kepada-Nya. Usaha manusia hanya dapat meredakan masalah dan memberi “damai” sesaat. Kehadiran Roh Kudus memungkinkan kita memiliki damai sejahtera yang melampaui segala akal, dengan mengarahkan kita kepada Pribadi yang memegang kendali atas segara situasi. Badai masalah takkan dibiarkan-Nya melampaui kekuatan kita, namun justru membentuk kita makin mencerminkan Dia. –ELS

DAMAI SEJAHTERA DAPAT KITA ALAMI DENGAN KEHADIRAN ROH KUDUS

DIA AKAN SELALU MEMBAWA KITA KEMBALI MEMANDANG KRISTUS

Dikutip : www.sabda.org

BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN

Selasa, 2 Oktober 2012

Bacaan : 1 Timotius 4:1-10

4:1. Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan

4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.

4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,

4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.

 

4:6. Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.

BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN

Mungkin kita pernah terkagum-kagum dengan pemain musik yang hebat. Saya punya beberapa rekan musisi yang luar biasa sejak muda. Mereka seolah dilahirkan dengan keahlian itu. Namun, semua orang yang pernah mencoba main musik pasti tahu bahwa kepiawaian mereka tidak muncul begitu saja. Ada ribuan jam latihan yang telah mereka lewati dengan penuh kedisiplinan sebelum akhirnya mereka “merdeka” memainkan nada-nada yang indah. Prinsip yang sama juga berlaku dalam pertumbuhan rohani. Elton Trueblood berkata, “Disiplin adalah harga yang harus dibayar untuk mengalami kemerdekaan.”

Disiplin berlatih juga menjadi nasihat rasul Paulus kepada Timotius muda. Paulus ingin agar anak rohaninya itu menjadi pelayan yang mumpuni dalam mengajarkan firman Tuhan (ayat 6, 13). Namun, hal itu tidak dapat terjadi begitu saja. Timotius harus melatih diri dalam membaca Kitab Suci dan menggunakan karunianya mengajar. Kata “latihlah” dalam bahasa Yunani adalah gumnazo, yang juga merupakan asal kata Inggris gymnasium, tempat para olahragawan berlatih fisik. Tidak ada jalan pintas. Tentu saja, menjadi pelayan yang disiplin bukan tujuan akhir. Latihan rohani hanyalah sarana yang menjadikan Timotius leluasa dipakai Allah membawa keselamatan dan pertumbuhan bagi banyak orang

Apa yang paling Anda rindukan dalam kehidupan kristiani Anda? Jika rencana Allah adalah membuat anak-anak-Nya menjadi serupa dengan Kristus (1 Yohanes 3:2b), tidakkah hal itu juga seharusnya menjadi kerinduan kita? Disiplin apa saja yang harus kita latihkan untuk mewujudkannya? –ELS

DISIPLIN ROHANI MENOLONG KITA

BERTUMBUH SERUPA KRISTUS DENGAN SUKACITA

Dikutip : www.sabda.org

KERINDUAN YUDAS

Kamis, 27 September 2012

Bacaan : Yudas 1:17-25

1:17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.

1:18 Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: “Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.”

1:19 Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.

1:20 Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.

1:21 Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.

1:22 Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu,

1:23 selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.

1:24 Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,

1:25 Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.

 

KERINDUAN YUDAS

Anda mungkin pernah membaca syair klasik ini: Jika kebutuhan terbesar manusia itu adalah pengetahuan, tentulah Allah mengutus seorang pendidik. Jika itu kesehatan jasmani, tentulah Allah mengutus seorang dokter. Jika itu uang, tentulah Allah mengutus seorang ahli ekonomi. Jika itu kesenangan, tentulah Allah mengutus seorang yang pintar menghibur. Akan tetapi, kebutuhan terbesar manusia adalah pengampunan, sebab itu Allah mengutus seorang Juru Selamat.

Syair ini kurang lebih menggambarkan keyakinan dan kerinduan Yudas – bukan Yudas Iskariot, tetapi Yudas saudara Yakobus. Kebutuhan akan Juru Selamat lebih dari segalanya. Tanpa hal itu manusia binasa. Sejak awal surat Yudas penuh berisi peringatan tentang penghakiman dan hukuman kekal bagi orang-orang yang menyangkal Yesus (ayat 4-5). Pada akhir suratnya, Yudas mendorong umat Tuhan bukan hanya untuk memperkuat iman, tetapi juga menolong orang yang ragu-ragu atau belum percaya untuk menerima anugerah keselamatan. “Merampas mereka dari api” adalah ungkapan yang sangat kuat. Bayangkan saja menyelamatkan orang dari kebakaran. Tentu tidak bisa dengan santai dan berlambat-lambat. Setiap detik begitu berharga. Tidak ada kesempatan kedua.

Jika kita benar meyakini bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus, tidakkah setiap hari adalah kesempatan berharga untuk mewartakan-Nya? Kecuali kita tidak betul-betul yakin api penghakiman tersedia. Kecuali kita merasa manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri di luar Kristus. Kecuali kita yakin bahwa yang terpenting manusia hidup senang sebelum maut menjemput. Apa yang kita yakini tentang kekekalan akan tercermin dalam doa-doa kita, perhatian kita pada sesama, kesaksian hidup kita. –ELS

BERTEMU JURU SELAMAT MEMBUAT HIDUP JADI BERMAKNA.

SUDAHKAH ANDA SENDIRI MENGALAMI-NYA?

Dikutip : www.sabda.org

PELAYANAN RUMAH

Kamis, 26 Juli 2012

Bacaan : Markus 1:29-34

1:29. Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas.

1:30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.

1:31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.

1:32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan.

1:33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu.

1:34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

 

PELAYANAN RUMAH

Ada beberapa peristiwa dalam kehidupan Yesus, termasuk beberapa pengajaran dan mukjizat penting, dilakukan saat Yesus berada di rumah-rumah atau dipicu oleh peristiwa-peristiwa dalam rumah. Ya, rumah, bukan sinagoge tempat orang Yahudi ramai berkumpul, atau gelanggang yang menjadi pusat perhatian publik. Bacaan hari ini merupakan sebuah contoh bahwa rumah merupakan tempat yang penting bagi berlangsungnya pelayanan.

Setelah melayani di rumah ibadah pada hari Sabat, Yesus pergi ke “rumah Simon dan Andreas” (ayat 29). Sekadar bersilaturahmikah kunjungan itu? Ada kemungkinan untuk itu. Menariknya, dari kunjungan itu, setidaknya ada dua peristiwa yang dicatat. Pertama, Yesus menyembuhkan ibu mertua Petrus (ayat 31); kedua, Yesus menyembuhkan banyak orang yang menderita berbagai penyakit dan mengusir banyak setan (ayat 34). Pelayanannya, selain menyentuh keluarga Simon dan Andreas, juga menyentuh kehidupan banyak orang yang datang. Selain tempat-tempat terbuka atau tempat ibadah orang Yahudi, Yesus juga melayani di rumah-rumah; dari berbagai kalangan. Beberapa kisah lain adalah saat Dia singgah di rumah pemungut cukai, kunjungannya ke rumah Maria dan Marta, juga saat bertamu di rumah Zakheus.

Banyak orang belum memiliki hubungan dengan gereja. Atau bahkan memendam kekecewaan tertentu kepada gereja, sehinga enggan melangkah ke sana. Mari memikirkan satu aspek pelayanan penting ini: pelayanan rumah. Dengan diiringi doa, kita bisa mulai memikirkan satu-dua orang yang akan kita kunjungi, supaya ada banyak orang juga yang dijangkau bagi Kristus lewat pelayanan semacam ini–keluarga kita, sahabat, kolega. Siapa pun. –ICW

SILATURAHMI ITU SEBUAH TRADISI,

TETAPI KUNJUNGAN MURID KRISTUS BERPOTENSI MENJADI SEBUAH MISI KRISTIANI.