TAK JADI MEMBUNUH

Selasa, 30 April 2013

Bacaan   : 1 Samuel 24

24:1. (24-2) Ketika Saul pulang sesudah memburu orang Filistin itu, diberitahukanlah kepadanya, demikian: “Ketahuilah, Daud ada di padang gurun En-Gedi.”

24:2 (24-3) Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan.

24:3 (24-4) Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu.

24:4 (24-5) Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam.

24:5 (24-6) Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul;

24:6 (24-7) lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.”

24:7 (24-8) Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkan gua itu hendak melanjutkan perjalanannya.

24:8 (24-9) Kemudian bangunlah Daud, ia keluar dari dalam gua itu dan berseru kepada Saul dari belakang, katanya: “Tuanku raja!” Saul menoleh ke belakang, lalu Daud berlutut dengan mukanya ke tanah dan sujud menyembah.

 

24:9. (24-10) Lalu berkatalah Daud kepada Saul: “Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu?

24:10 (24-11) Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.

24:11 (24-12) Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku.

24:12 (24-13) TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau;

24:13 (24-14) seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau.

24:14 (24-15) Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kaukejar? Anjing mati! Seekor kutu saja!

24:15 (24-16) Sebab itu TUHAN kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu.”

 

24:16. (24-17) Setelah Daud selesai menyampaikan perkataan itu kepada Saul, berkatalah Saul: “Suaramukah itu, ya anakku Daud?” Sesudah itu dengan suara nyaring menangislah Saul.

24:17 (24-18) Katanya kepada Daud: “Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu.

24:18 (24-19) Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku.

24:19 (24-20) Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat? TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini.

24:20 (24-21) Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu.

24:21 (24-22) Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku demi TUHAN, bahwa engkau tidak akan melenyapkan keturunanku dan tidak akan menghapuskan namaku dari kaum keluargaku.”

24:22 (24-23) Lalu bersumpahlah Daud kepada Saul. Kemudian pulanglah Saul ke rumahnya, sedang Daud dan orang-orangnya pergi ke kubu gunung.

 

TAK JADI MEMBUNUH

Perasaannya sudah tumpul, hati nuraninya sudah mati. Begitu mungkin komentar kita terhadap pelaku pembunuhan yang memutilasi kurbannya. Mengapa pelaku tega melakukannya dengan cara yang begitu sadis? Kebencian dan rasa dendam dapat membuat seseorang bisa berbuat keji di luar batas perikemanusiaan.

Tidak demikian halnya dengan Daud ketika dikejar-kejar Saul. Pada saat Saul lengah, orang lain memandangnya sebagai kesempatan untuk menyingkirkan musuhnya itu. Bisa saja ia membunuh Saul untuk mempercepat jalannya menduduki tahkta sebagai raja. Tetapi, ia tidak mau melakukannya (ay. 5a, 8). Ia hanya memotong bagian pinggir jubah Saul (ay. 5b). Meskipun tidak sampai membunuh Saul, ia dihinggapi perasaan bersalah (ay. 6). Tindakannya merupakan penghinaan kepada seorang raja. Bagi Daud, ini kesalahan yang membuat hatinya tidak damai sejahtera. Bagaimanapun juga Saul adalah orang yang diurapi Tuhan sehingga ia menaruh hormat (ay. 7). Di pihak Saul, kejadian itu membukakan matanya: bahwa dirinya yang bersalah. Ia pun mengurungkan niat untuk membunuh Daud (ay. 18-19, 23).

Seberapa pekakah hati kita terhadap dosa? Apakah masih ada perasaan bersalah ketika melakukan dosa, termasuk dosa yang dianggap sepele? Kepekaan dapat dilatih ketika kita berani berkata tidak terhadap dosa sekecil apa pun. Tuhan telah memberi “alarm” dalam hati dengan perasaan bersalah ketika berdosa. Sadar dan bertobat menghindarkan kita dari bahaya dosa yang lebih besar lagi. –YBP

KETIKA TIDAK ADA DAMAI SEJAHTERA DI DALAM HATI,

 INILAH SAAT YANG TEPAT UNTUK MENGOREKSI DIRI.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

SUKA DI BALIK DUKA

Rabu, 20 Maret 2013

Bacaan: Yohanes 16:16-24 

16:16. “Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.”

16:17 Mendengar itu beberapa dari murid-Nya berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya Ia berkata kepada kita: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa?”

16:18 Maka kata mereka: “Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksud-Nya.”

16:19 Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepada-Nya, lalu Ia berkata kepada mereka: “Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku?

16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

16:21 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.

16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.

 

16:23. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

 

SUKA DI BALIK DUKA

Sewaktu istri saya melahirkan anak sulung kami, ia menanggung kesakitan yang luar biasa, hampir tak tertahankan. “Mau mati rasanya, ” katanya. Anehnya, begitu ia mendengar suara tangis perdana bayinya, rasa sakit bersalin itu seakan-akan lenyap tertelan oleh sukacita yang tak terkatakan. Ia merasa menjadi seorang perempuan yang sempurna karena telah melahirkan seorang bayi.

Ketika mempersiapkan para murid menjelang penyaliban-Nya, Tuhan Yesus mengingatkan bahwa mereka juga akan mengalami pengalaman dramatis. Mirip dengan pengalaman seorang ibu yang melahirkan: kesakitan disusul dengan sukacita. Murid-murid juga akan menanggung dukacita yang mendalam karena kematian Guru mereka. Namun, dukacita mereka tidak akan berlangsung selamanya. Tuhan mereka tidak akan seterusnya berada di dalam kubur, tetapi akan bangkit dari antara orang mati. Dukacita mereka digantikan oleh sukacita yang mengubahkan hidup secara radikal: dari murid-murid yang ketakutan menjadi pemberita kabar baik yang tak takut pada ancaman hukuman mati. Kematian bukan lagi ancaman bagi mereka karena Tuhan mereka telah mengalahkan dosa dan maut.

Sebagai orang Kristen, kita bukan bersukacita karena segala keinginan kita terpenuhi. Kita bersukacita karena kita telah diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Itulah sukacita yang kekal, sukacita yang tidak dapat dirampas oleh penderitaan atau penganiayaan, dan tidak binasa oleh sengat maut sekalipun. Bersukacitalah! –ENO

DUKACITA YANG MENDALAM TIDAK JARANG
MERUPAKAN PINTU MENUJU SUKACITA TAK TERKIRA

Dikutip : www.sabda.org

BAU DAN KOTOR

Selasa, 19 Februari 2013

Bacaan: Lukas 15:11-24

15:11. Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.

15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.

15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.

15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.

15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.

15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.

15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.

15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

BAU DAN KOTOR

Salah satu pengalaman yang tidak mengenakkan saat naik kendaraan umum adalah jika ada orang yang berbau dan kotor duduk di sebelah kita. Orang itu memang berhak untuk naik kendaraan itu dan duduk di bangku mana pun yang tersedia. Tetapi, karena keadaannya, kita merasa tidak nyaman sehingga akhirnya memilih untuk pindah tempat, menjauh dari orang tersebut.

Itulah reaksi normal orang yang bersih badannya terhadap orang yang berbau dan kotor. Karena itu, reaksi sang ayah dalam perumpamaan Yesus kali ini sangatlah tidak normal. Sangat luar biasa. Kita dapat membayangkan bagaimana keadaan si anak bungsu saat itu. Sebagai penjaga babi yang miskin, ia pasti kotor dan berbau binatang jorok itu. Sebaliknya, sang ayah adalah orang yang bersih dan terhormat. Tetapi, ketika sang ayah melihat si anak bungsu nun di kejauhan, ia berlari untuk menyambutnya. Bukan itu saja, sang ayah kemudian merangkul, mencium, dan menggelar pesta baginya (ay. 20, 23)! Apakah yang mendorong ayah tersebut untuk berbuat demikian? Tidak lain adalah karena cinta dan kerinduannya yang begitu besar kepada anaknya yang sudah lama hilang dan sekarang kembali (ay. 24).

Demikianlah juga keadaan kita di hadapan Allah. Dosa membuat kita berbau, kotor, menjijikkan, dan tidak layak datang mendekat kepada-Nya. Tetapi, kita tidak perlu takut akan ditolak jika kita datang kepada-Nya dan meminta ampun. Kasih-Nya begitu besar kepada kita sehingga selama kita mau bertobat dan kembali kepada-Nya, Dia akan menyambut kita dengan penuh sukacita. –ALS

DOSA MENJADIKAN KITA KOTOR, NAJIS, DAN BERBAU

 KASIH ALLAH MEMELUK DAN MENGUDUSKAN KITA

Dikutip : www.sabda.org

KASIH YANG BENING

Sabtu, 9 Februari 2013

Bacaan: Yohanes 8:2–11

8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.

8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.

8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.

8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”

8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.

8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.

8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”

8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

 

KASIH YANG BENING

Kadang muncul berita, masyarakat menangkap pasangan yang “kumpul kebo”. Sebagai hukuman, kedua orang ini ditelanjangi dan diarak keliling kampung, lalu dikawinkan secara paksa. Wah! Begitu juga dengan perempuan dalam perikop hari ini. Ia tertangkap basah sedang berzinah. Anehnya, hanya dirinya -si perempuan -yang ditangkap. Mana si lakilaki? Ah, tidak adil.

Ini kisah perjuangan melawan ketidakadilan dan penerapan hukum Taurat secara beku. Orang Farisi dan ahli Taurat menggunakan kasus itu untuk menjebak Yesus. Mereka mencobai-Nya dengan mengutip hukum Taurat, yang isinya mempertaruhkan nyawa perempuan berdosa itu. Yesus, sebaliknya, dengan tenang mengajak orang untuk menghayati kebeningan hati dalam menilai keberdosaan orang lain. Dia mengundang kita berintrospeksi sehingga tidak berlaku gegabah, tetapi bersikap adil.

Dalam pernyataan-Nya kepada orang banyak (ay. 7), Yesus bukan menyetujui perzinahan. Buktinya, Dia juga berpesan kepada perempuan itu, “Jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (ay. 11). Dengan pernyataan tadi, Yesus menggugah orang yang suka menghakimi sesama agar berkaca baik-baik sehingga dapat menimbang perkara dengan bening. Dan, dengan sikap-Nya, Dia menunjukkan betapa rahmat dan belas kasihan itu lebih luhur daripada hukum yang kaku.

Apakah kita belajar berlaku adil dengan bersedia melakukan koreksi batin sebelum sibuk menuding orang lain? Ataukah kita bersikeras mengukuhi hukum yang kaku, bukannya belajar mengulurkan rahmat dan belas kasihan? –DKL

PEMIKIRAN HATI YANG BENING MEMBUKA PINTU

 UNTUK MEMPERJUANGKAN KEADILAN DAN MENGULURKAN BELAS KASIHAN

Dikutip : www.sabda.org

BUKAN KANKER PERAMPASNYA

Rabu, 17 Oktober 2012

Bacaan : Mazmur 51

51:1. Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, (51-2) ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba. (51-3) Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!

51:2 (51-4) Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!

51:3 (51-5) Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

51:4 (51-6) Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

51:5 (51-7) Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

51:6 (51-8) Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

 

51:7. (51-9) Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

51:8 (51-10) Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!

51:9 (51-11) Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku!

51:10 (51-12) Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

51:11 (51-13) Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

51:12 (51-14) Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

51:13 (51-15) Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

 

51:14. (51-16) Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu!

51:15 (51-17) Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku memberitakan puji-pujian kepada-Mu!

51:16 (51-18) Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya.

51:17 (51-19) Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

51:18 (51-20) Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem!

51:19 (51-21) Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya; maka orang akan mengorbankan lembu jantan di atas mezbah-Mu.

 

BUKAN KANKER PERAMPASNYA

Saya hampir tidak percaya apa yang saya lihat. Wajah yang bersinar penuh sukacita di depan saya adalah seorang pasien kemoterapi karena kanker getah bening stadium empat yang dideritanya. Terakhir kami bertemu wajahnya suram bukan main, dan napasnya sesak karena 80 persen paru-parunya penuh sel kanker. Kini, dengan leluasa ia bertutur bagaimana Tuhan memakai kondisi sulit itu untuk membongkar banyak kepahitan, kebencian, dan masalah-masalah yang tertimbun di hatinya. Ketika semua itu dibereskan, sukacita mengalir deras, dan ajaibnya, kondisi fisiknya ikut mengalami kemajuan. Perebut sukacita yang sesungguhnya sudah disingkirkan

Kisahnya mengingatkan saya pada Daud yang kehilangan sukacita ketika ia berbuat dosa. Dalam Mazmur pengakuannya, ia melukiskan bagaimana dosa yang dipendam membuat batinnya bergumul, dan tulangnya remuk (ayat 5, 10). Ketika dosa dibereskan, Daud kembali menjadi orang yang berbahagia (bandingkan Mazmur 32:1-2), dan kebaikan-kebaikan Allah spontan mengalir dari bibirnya (ayat 15-16). Daud sadar bahwa sukacita itu sangat erat kaitannya dengan Roh Tuhan yang berdiam dalam dirinya (ayat 13). Kerelaan untuk taat juga merupakan karya Roh Tuhan (ayat 14)

Apakah hari ini Anda sedang kehilangan sukacita? Salah satu perampas sukacita adalah dosa. Periksalah apakah ada kebencian, kepahitan, ketidakmauan mengampuni, atau dosa lain yang belum dibereskan di hadapan Tuhan. Akui dan tinggalkan dosa. Biarkan Tuhan memerdekakan Anda, dan memberikan buah-buah sukacita melalui kehadiran Roh-Nya. –ELS

DALAM HUBUNGAN YANG HARMONIS DENGAN TUHAN,

SITUASI SULIT TAK BERKUASA MERAMPAS SUKACITA KITA

Dikutip : www.sabda.org

BEDA PENILAIAN

Senin, 24 September 2012

Bacaan : Lukas 15:1-7

15:1. Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.

15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.”

15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:

15:4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,

15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

 

BEDA PENILAIAN

Ia baik dan pintar, ” cerita keponakan saya tentang teman favoritnya. Beberapa teman tidak ia sukai Alasannya antara lain: mereka nakal, suka mengganggu, pelit meminjamkan mainan. Celotehnya menyadarkan saya betapa sejak kecil kita sudah punya kecenderungan untuk menilai orang menurut tolok ukur tertentu, entah itu kebaikannya, reputasinya, atau kelakuannya terhadap kita. Dan, penilaian itu memengaruhi cara kita bersikap.

Sungut-sungut orang Farisi dan ahli Taurat adalah cermin penilaian mereka terhadap sekelompok orang. Tolok ukurnya adalah diri sendiri. Melabeli kelompok lain berdosa, menyiratkan mereka mengelompokkan diri sendiri sebagai orang-orang yang tidak berdosa. Keramahan Yesus pada kelompok “berdosa” membuat mereka tak nyaman (ayat 2). Yesus mengoreksi cara pandang ini, mengajak mereka untuk memakai tolok ukur Allah. Dalam sudut pandang-Nya juga ada dua macam kelompok orang, tetapi dua-duanya berdosa. Bedanya, yang satu sadar akan dosanya, yang lain tidak (ayat 7). Yang satu bertobat, yang satu tidak merasa butuh pertobatan. Dan surga bersukacita untuk orang berdosa yang bertobat.

Melihat orang lain dalam dosa, ingatlah bahwa kita tidak lebih baik. Kita tak dapat menyelamatkan diri sendiri, namun Allah dalam kasih-Nya telah mencari dan menemukan kita. Mari periksa lingkaran pergaulan kita. Apakah kita cenderung berteman dengan orang-orang tertentu dan menjauhi yang lain? Mengapa? Daftarkan hal-hal yang biasanya menjadi tolok ukur kita dalam mengasihi orang lain. Mintalah agar Allah memperbarui cara pandang kita dengan cara pandang-Nya. –JOE

PANDANGLAH SESAMA DARI SUDUT PANDANG ALLAH.

KASIHILAH MEREKA DENGAN KASIH DARI PADA-NYA.

Dikutip : www.sabda.org

CERMIN TELESKOP HUBBLE

Minggu, 15 Juli 2012

Bacaan : 1 Raja-Raja 11:1-13

11:1. Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,

11:2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta.

11:3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN.

11:4 Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya.

11:5 Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon,

11:6 dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya.

11:7 Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon.

11:8 Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka.

 

11:9. Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya,

11:10 dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN.

11:11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: “Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu.

11:12 Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya.

11:13 Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih.”

 

CERMIN TELESKOP HUBBLE

Sejak peluncurannya pada 1990, teleskop antariksa Hubble telah menghasilkan foto-foto alam semesta yang menakjubkan dan membantu manusia lebih mengerti jagad raya. Namun, di minggu-minggu pertamanya beroperasi, foto-foto yang dihasilkan sempat berkualitas sangat buruk. Jauh lebih buruk dari yang diharapkan. Selidik punya selidik, ternyata penyebabnya adalah cermin teleskop tersebut tidak sehalus yang seharusnya. Ada kesalahan kecil dalam proses pembuatannya. Perbaikannya membutuhkan waktu tiga tahun. Kesalahan yang tampaknya sepele itu telah merusak performa teleskop Hubble dan membuang banyak waktu dan uang.

Demikian pula pengaruh dosa-dosa yang kerap kali dianggap “sepele”. Salomo memang tidak membunuh; tak merampok; tidak korupsi. Ia “hanya” mencintai dan mengawini perempuan-perampuan Moab, Amin, Edom, Sidon, dan Het (ayat 1). Benarkah itu sekadar “hanya”? Tidak! Perbuatannya mendukakan hati Tuhan, sebab Dia sudah bertitah: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka” (ayat 2). Ia gagal setia kepada Tuhan, sebab istri dan gundiknya itu membuatnya tak lagi sepenuh hati berpaut kepada Tuhan (ayat 4). Penghukuman pun dijatuhkan (ayat 11-13).

Adakah kita masih memilah-milah, ada dosa besar dan dosa sepele — yang tampaknya tak merugikan dan berakibat buruk pada orang lain? Berhati-hatilah. Dosa, apa pun itu, adalah pemberontakan kepada Tuhan. Sesuatu yang membuat kita tak lagi berpaut kepada-Nya. –ALS

DOSA ADALAH PEMBERONTAKAN TERHADAP TUHAN.

TIDAK ADA PEMBERONTAKAN TERHADAP TUHAN YANG SEPELE.