DUA JALUR KERETA API

Kamis, 18 Agustus 2011

Bacaan : 1 Tesalonika 5:16-18

5:16. Bersukacitalah senantiasa.

5:17 Tetaplah berdoa.

5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

DUA JALUR KERETA API

Pada masa yang sama, Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life, mengalami dua hal yang bertolak belakang. Ia menuai kesuksesan besar karena bukunya tercetak hingga 15 juta eksemplar. Namun bersamaan dengan itu, hatinya merasa berat karena istrinya, Kay, diserang kanker.

Menyikapi hal bertentangan ini, Rick berkata, “Saya terbiasa berpikir bahwa hidup adalah deretan gunung dan lembah-kita berjalan melalui saat-saat gelap, mencapai puncak gunung, kemudian kembali lagi, begitu terus-menerus. Kini saya tidak percaya itu lagi. Hidup ini lebih seperti dua jalur kereta api yang menyatu di ujung, dan di sepanjang waktu Anda akan menjumpai hal baik dan juga hal buruk. Sebanyak apa pun hal baik yang Anda terima, Anda tetap akan menghadapi hal buruk yang mesti diatasi. Sebaliknya, seburuk apa pun hidup yang Anda jalani, selalu ada hal baik yang dapat disyukuri.”

Menyadari bahwa manusia tak dapat menghindar dari hidup yang berdinamika seperti dua “jalur kereta”, Paulus mengungkap tiga nasihat sederhana tetapi sangat penting untuk selalu dilakukan, da-lam segala keadaaan-baik dan buruk-yakni: bersukacita, berdoa, mengucap syukur. Agar ketika suka datang, manusia tak menjadi takabur. Atau, ketika duka menyapa, manusia tak menjadi habis asa. Sebab, sesungguhnya melalui jalan ini Tuhan menolong manusia untuk selalu melihat hidupnya secara seimbang. Bahwa hidupnya terselenggara bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi selalu ada Tuhan yang berdaulat. Dan, bahwa manusia hidup bukan hanya untuk menikmati dunia, tetapi bahwa ada urusan kekekalan yang harus dipersiapkan sekarang –AW

DUKA DAN BAHAGIA KADANG DATANG BERSAMAAN

AGAR KITA TAK LUPA DIRI DAN LUPA TUHAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

HARUS BERKATA APA

Sabtu, 17 Oktober 2009

HARUS BERKATA APA

Bacaan : Ayub 6:1-14

6:1. Lalu Ayub menjawab:

6:2 “Ah, hendaklah kiranya kekesalan hatiku ditimbang, dan kemalanganku ditaruh bersama-sama di atas neraca!

6:3 Maka beratnya akan melebihi pasir di laut; oleh sebab itu tergesa-gesalah perkataanku.

6:4 Karena anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap pada tubuhku, dan racunnya diisap oleh jiwaku; kedahsyatan Allah seperti pasukan melawan aku.

6:5 Meringkikkah keledai liar di tempat rumput muda, atau melenguhkah lembu dekat makanannya?

6:6 Dapatkah makanan tawar dimakan tanpa garam atau apakah putih telur ada rasanya?

6:7 Aku tidak sudi menjamahnya, semuanya itu makanan yang memualkan bagiku.

6:8. Ah, kiranya terkabul permintaanku dan Allah memberi apa yang kuharapkan!

6:9 Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!

6:10 Itulah yang masih merupakan hiburan bagiku, bahkan aku akan melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan, sebab aku tidak pernah menyangkal firman Yang Mahakudus.

6:11 Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar?

6:12 Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga?

6:13 Bukankah tidak ada lagi pertolongan bagiku, dan keselamatan jauh dari padaku?

6:14. Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa.

HARUS BERKATA APA

Roy Clark dan ayahnya duduk di dalam mobil di halaman parkir rumah duka selama beberapa menit. Sebagai seorang remaja, ia tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa ketika ayahnya menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil mengeluh, “Aku tak tahu harus berkata apa!”

Seorang teman gereja mereka mengalami kecelakaan mobil. Ia selamat, tetapi ketiga anak perempuannya meninggal saat sebuah truk menabrak mobil mereka. Apa yang dapat mereka katakan kepada teman mereka pada saat seperti ini?

Di Alkitab, kita membaca bahwa saat Ayub berduka, ketiga temannya datang untuk meratap bersamanya dan menghiburnya. Selama tujuh hari pertama mereka duduk dan menangis bersamanya karena Ayub sangat berdukacita (Ayub 2:11-13). “Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya” (ayat 13). Kehadiran mereka saja sudah cukup menjadi penghiburan baginya.

Akan tetapi, mereka kemudian mulai menguliahi. Mereka berkata bahwa Ayub pasti telah berbuat dosa dan Allah sedang menghukumnya (4:7-9).

Saat Ayub akhirnya dapat menjawab, ia memberi tahu teman-temannya tentang apa yang dibutuhkannya dari mereka. Ia meminta mereka memberinya alasan untuk dapat terus berharap (6:11), agar mereka berbuat kebaikan (ayat 14), dan memberikan kata-kata yang tidak berprasangka (ayat 29,30).

Dengan mengingat kisah Ayub dan teman-temannya, kita akan merasa terbantu saat kita tidak tahu harus berkata apa –AMC

SAAT SESEORANG SEDANG BERDUKA
DENGARKANLAH IA DAN JANGAN MENGULIAHINYA

Sumber : www.sabda.org

TAMAK MEMBAWA PETAKA

Selasa, 25 Agustus 2009

Bacaan : 1Timotius 6:6-10

6:6. Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.

6:7 Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.

6:8 Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.

6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

6:10 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

TAMAK MEMBAWA PETAKA

Ada sebuah cerita tentang seorang kaya raya bernama Brojo. Ia memiliki tanah pertanian sangat luas. Suatu hari seorang perantau bertamu ke rumahnya, dan bercerita tentang negeri penuh berlian di seberang lautan. Timbul sifat tamak Brojo. “Aku harus memiliki negeri itu,” katanya dalam hati. Ia kemudian menjual seluruh tanah pertaniannya, dan pergi ke seberang lautan mencari negeri berlian. Tetapi pencariannya itu ternyata sia-sia. Bertahun-tahun ia merantau dengan tangan hampa. Akhirnya, ia jatuh miskin.

Sementara itu orang yang membeli tanah pertaniannya suatu hari melihat cahaya berkilau dari sebuah batu. Ia mendekati untuk melihatnya lebih jelas. Dan apa yang dilihatnya? Tak dinyana tak diduga, ternyata batu itu sebuah berlian. Ia pun lalu menggali tanahnya, dan menemukan batu-batu berlian lainnya.

Hikmah dari cerita itu adalah, betapa pentingnya kita belajar tahu batas. Jangan tamak. Syukuri apa yang ada. Nikmati apa yang dipunya. Sebab kalau terus merasa kurang, tidak pernah puas dengan apa yang ada, selalu ingin lebih dan lebih lagi, salah-salah kita malah akan kehilangan segala-galanya.

Paulus mengingatkan Timotius untuk belajar mencukupkan diri. Lebih dari itu supaya Timotius juga bisa menjaga diri dari sifat tamak. Sebab “mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (ayat 9). Kiranya kita dijauhkan dari ketamakan -AYA

DENGAN MENJAUHKAN DIRI DARI KETAMAKAN

KITA TELAH MENJAGA DIRI DARI KEHANCURAN

Sumber : www.sabda.org