DUNIA GEMERLAP

Kamis, 7 Maret 2013

Bacaan: Matius 23:25-28

23:25 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.

23:26 Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

23:27 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

23:28 Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.

 

DUNIA GEMERLAP

Setelah setahunan bekerja di majalah gaya hidup, beberapa kali saya ditugaskan meliput acara sosial yang dihadiri kaum jetset Jakarta. Tamu acara ini biasanya tampil dengan baju dan aksesoris rancangan desainer ternama, menenteng tas merek terkenal, dan mengenakan sepatu berharga jutaan rupiah. Belakangan saya mendapatkan info, sebagian dari tamu tersebut bukanlah kaum sosialita betulan, dan mereka hanya meminjam perlengkapan mewah itu dari tempat persewaan. Obsesinya? Agar dianggap keren, dapat masuk ke lingkaran pergaulan jetset, difoto dan ditampilkan dalam majalah gaya hidup.

Obsesi manusia akan penampilan yang gemerlapan bukanlah barang baru. Kaum Farisi ribuan tahun lalu sudah dikenal sangat memperhatikan pernik-pernik penampilan ini. Saat berpuasa, mereka memastikan diri tampil dengan gaya yang menunjukkan kekhusyukan ibadah mereka. Dalam ritual pentahiran yang kerap mereka lakukan, berbagai cawan dan pinggan dibersihkan hingga berkilau.

Perikop ini menegaskan kecaman Kristus terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi. Cawan yang hanya dibersihkan bagian luarnya dan kuburan yang dilabur putih (pada zaman itu kuburan ditandai dengan warna putih agar tidak disentuh orang) adalah metafora untuk orang yang hanya memperhatikan perkara lahiriah, tetapi lupa bahwa Tuhan melihat hati. Penampilan luar tentu perlu dijaga, namun jangan untuk pamer atau menutupi kedangkalan rohani. Marilah kita mengutamakan perkara yang bermakna dan berharga di mata Allah. –OLV

MANUSIA KERAP MELIHAT KEMOLEKAN KULIT,
TETAPI TUHAN MENILAI KEELOKAN HATI

Dikutip : www.sabda.org

SENGAT YESUS

Minggu, 3 Maret 2013

Bacaan: Lukas 7:36-50 

7:36. Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. 

7:37 Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. 

7:38 Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. 

7:39 Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” 

7:40 Lalu Yesus berkata kepadanya: “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon: “Katakanlah, Guru.” 

7:41 “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. 

7:42 Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” 

7:43 Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” 

7:44 Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. 

7:45 Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. 

7:46 Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. 

7:47 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” 

7:48 Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni.” 

7:49 Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?” 

7:50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”

SENGAT YESUS

Pernah kena sengat lebah? Rasanya sakit luar biasa. Tetapi, ada sengat lain. Namanya sengat Yesus. Mau tahu? Namanya Simon, ia bukan orang sembarangan. Pertama, ia seorang Farisi. Kedua, ia mengundang Yesus makan di rumahnya. Artinya, ia terbuka terhadap Yesus dan berani menentang arus kelompoknya. Namun, Simon terkena “sengat” Yesus ketika ia diam-diam mempertanyakan kenabian Yesus, yang membiarkan seorang perempuan berdosa mengurapi kaki-Nya dengan minyak wangi. Yesus justru memuji perempuan berdosa itu dan menyatakan bahwa dosanya sudah diampuni. “Dosanya yang banyak itu sudah diampuni sebab ia banyak berbuat kasih… dan orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih, ” kata Yesus.

Yesus tidak bermaksud mengatakan bahwa supaya diampuni, orang harus berbuat banyak kasih atau beramal. Sebaliknya, berbuat kasih baru mungkin ketika orang menyadari bahwa dosanya yang banyak itu telah dihapuskan. Seperti orang yang haus, semakin haus ia, semakin ia mampu menikmati kesegaran air minumnya. Yesus “menyengat” Simon, yang tidak mampu melihat bahwa orang berdosa yang sadar diri bisa amat sangat mencintai Tuhan! Keberdosaan bukan alangan bagi cintanya kepada Tuhan, dan juga bukan alangan bagi rahmat Tuhan untuk merengkuhnya.

Apakah kita tidak seperti Simon? Bila kita memonopoli kasih Tuhan, bila kita mengotak-ngotakkan secara beku orang yang bersalah dan menganggapnya aneh bila ia mendekat kepada Tuhan, maka kitalah si Simon itu. Dan, Simon disengat oleh Yesus! –DKL

TUHAN SENGATLAH JIWAKU YANG BEKU, 
AGAR CAIR DAN LEMBUT OLEH KASIH-MU

Dikutip : www.sabda.org

RENOVASI TOTAL

Kamis, 11 Oktober 2012

Bacaan : Yohanes 3:1-8

3:1. Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.

3:2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”

3:3 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”

3:5 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.

3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.

3:8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”

 

RENOVASI TOTAL

“Kalau marah ia persis seperti saya, ” cerita sahabat saya tentang putranya. Cerita yang tentunya dialami tiap orangtua. Anak-anak tidak hanya mewarisi kemiripan secara bentuk fisik, tetapi juga sifat-sifat dan kecenderungan orangtuanya. Kalau saja boleh, mungkin para orangtua ingin membentuk anaknya dengan semua sifat yang baik saja, tetapi tentu saja itu tidak mudah

Kenyataan ini sedikit banyak menolong kita memahami pernyataan Tuhan Yesus tentang pentingnya kelahiran kembali (ayat 3). Jelas yang dimaksud Yesus bukanlah proses kelahiran jasmani yang diulang dua kali, karena hasilnya akan sama saja: manusia berdosa yang tidak dapat ambil bagian dalam Kerajaan Allah. Di sini Yesus sedang berbicara tentang pembentukan hidup yang sama sekali baru oleh karya Roh Kudus. Renovasi total yang tidak mungkin dilakukan manusia. Kelahiran pertama membentuk manusia secara jasmani (ayat 6). Ada kebutuhan untuk bertahan hidup, mengasihi dan dikasihi, dan sebagainya. Kelahiran kedua membentuk manusia secara rohani. Ada gairah akan hal-hal yang rohani, hasrat untuk mengenal Tuhan dan menyelaraskan hidup dengan kehendak-Nya

Hanya anugerah Roh Kudus yang memungkinkan kita menyadari ketidakberdayaan kita, memercayakan diri kepada Yesus sebagai Juruselamat, dan mengalami kelahiran kembali. Nikodemus, dengan segala pengetahuan rohaninya tidak dapat ambil bagian dalam Kerajaan Allah tanpa karya Roh Kudus ini. Demikian juga dengan kita, bukan? Status kristiani turun temurun atau keaktifan dalam kegiatan gerejawi bukan jaminan kita dilahirkan kembali. Sudahkah renovasi total oleh Roh Kudus kita alami? –HAN

HIDUP YANG DIBARUI TAK DAPAT DIHASILKAN SENDIRI,

HANYA ROH KUDUS YANG DAPAT MENJADIKAN KITA ANAK-ANAK ILAHI

Dikutip : www.sabda.org

LAHIR DARI HATI

Sabtu, 18 Februari 2012

Bacaan : Lukas 11:37-44

11:37. Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan.

11:38 Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan.

11:39 Tetapi Tuhan berkata kepadanya: “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.

11:40 Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?

11:41 Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.

11:42 Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

11:43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar.

11:44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.”

LAHIR DARI HATI

Seorang pemuda yang mengendarai motor diberhentikan oleh polisi karena melanggar lampu merah. Sang polisi bertanya, “Apa kah Saudara tidak melihat lampu sudah berganti merah?” Si pemuda dengan santai menjawab, “Saya melihat, Pak.” “Lalu kenapa Anda tetap menerobosnya?” tanya polisi dengan heran. Si pemuda menjawab ringan, “Masalahnya, saya tidak melihat Pak Polisi berdiri di situ.” Alamak! Si pemuda itu taat hanya jika ada petugas.

Kesalehan orang Farisi juga hanya di depan orang. Ibadah mereka lebih mengutamakan hal lahiriah, agar dilihat baik dan terpuji. Bagai membersihkan cawan dari luarnya saja sementara dalamnya tetap kotor (ayat 39). Yesus menegur mereka dengan keras, “Celakalah kamu!” kata-Nya seraya membeberkan kejahatan mereka (ayat 42-44). Bagi orang Farisi, manusia disucikan oleh perbuatannya, sementara bagi Yesus, kesucian lahir dari hati yang diubahkan, dan mewujud di dalam tindakan (ayat 41). Hati yang bersih akan melahirkan perbuatan yang bersih. Sebaliknya, perbuatan yang bersih belum tentu menjamin hati yang bersih.

Bahaya mengutamakan penampakan luar daripada perubahan hati bisa juga terjadi pada kita. Keinginan untuk dipandang baik dapat membuat kita bersikap baik di depan orang. Namun, bagaimana jika tak ada orang lain? Biarlah peringatan Yesus membuat kita tersungkur dalam kegentaran di hadapan Tuhan Yang Mahatahu. Ya, Dia mengenal isi hati tiap orang. Perilaku manis kita tak dapat mengelabuinya. Hanya dari hati yang murni dapat lahir perbuatan-perbuatan yang memperkenankan Tuhan. Selamat menjaga hati! –ENO

Berawal dari hati yang bersih

Lahir tindakan-tindakan yang memuliakan Tuhan

Dikutip : www.sabda.org

SIAPA TINGGI, SIAPA RENDAH?

Sabtu, 15 Januari 2011

Bacaan : Lukas 18:9-14

9Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:

10″Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.

11Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;

12aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

13Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.

14Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

SIAPA TINGGI, SIAPA RENDAH?

Kerajaan yang Sungsang, demikian judul buku Donald Kraybill. Buku ini hendak mengatakan betapa tata nilai yang diterapkan Yesus kerap kali berkebalikan dengan tata nilai yang dianggap wajar oleh dunia. Contohnya: orang Farisi yang taat beragama disalahkan, pemungut cukai yang menindas rakyat dibenarkan.

Orang Farisi membayar perpuluhan dengan tak bercacat. Mereka tidak merampok, tidak berzina. Bahkan, mereka berpuasa. Namun, Yesus mengkritik mereka karena mereka merasa sudah tidak butuh belas kasihan Allah. Ketepatan mereka dalam melaksanakan hukum memberi rasa puas begitu rupa, sehingga belas kasih Allah tak lagi dianggap penting. Mereka merasa sudah beres ketika telah mematuhi semua peraturan dan ketetapan. Ada rasa bangga, komplit, dan puas. Ini yang membedakan orang Farisi dengan si pemungut cukai yang sangat sadar bahwa ia berdosa dan butuh rahmat Tuhan. Orang Farisi bangga dengan kesuciannya, pemungut cukai sadar akan dosanya. Yesus menunjukkan bahwa yang menyadari dosanya akan dibenarkan, sedang yang puas dengan kesalehannya, tidak. Inilah “kerajaan yang sungsang” itu.

Sangat baik jika kita melakukan perintah-perintah-Nya. Sangat menyenangkan bagi Tuhan jika kita tidak melanggar peraturan-Nya. Itu memang kehendak Tuhan. Namun, apabila kita telah mencapai hal-hal itu, jangan sampai kita kemudian “merasa saleh” hingga tidak memerlukan belas kasih Allah lagi. Apabila kita jujur, sesungguhnya ketika berjuang untuk hidup seperti Yesus, kita terus bergumul dengan banyak kelemahan dan kesalahan. Maka, kita ini tak pernah dapat hidup tanpa belas kasihan Tuhan –DKL

JANGAN PUAS DENGAN KEBAIKAN DIRI SENDIRI

SEBAB YANG TERBAIK DARI KITA PUN TAK MENYELAMATKAN

Sumber : www.sabda.org