BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN

Selasa, 2 Oktober 2012

Bacaan : 1 Timotius 4:1-10

4:1. Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan

4:2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.

4:3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.

4:4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,

4:5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.

 

4:6. Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.

4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.

4:9 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya.

4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.

BERDISIPLIN DENGAN TUJUAN

Mungkin kita pernah terkagum-kagum dengan pemain musik yang hebat. Saya punya beberapa rekan musisi yang luar biasa sejak muda. Mereka seolah dilahirkan dengan keahlian itu. Namun, semua orang yang pernah mencoba main musik pasti tahu bahwa kepiawaian mereka tidak muncul begitu saja. Ada ribuan jam latihan yang telah mereka lewati dengan penuh kedisiplinan sebelum akhirnya mereka “merdeka” memainkan nada-nada yang indah. Prinsip yang sama juga berlaku dalam pertumbuhan rohani. Elton Trueblood berkata, “Disiplin adalah harga yang harus dibayar untuk mengalami kemerdekaan.”

Disiplin berlatih juga menjadi nasihat rasul Paulus kepada Timotius muda. Paulus ingin agar anak rohaninya itu menjadi pelayan yang mumpuni dalam mengajarkan firman Tuhan (ayat 6, 13). Namun, hal itu tidak dapat terjadi begitu saja. Timotius harus melatih diri dalam membaca Kitab Suci dan menggunakan karunianya mengajar. Kata “latihlah” dalam bahasa Yunani adalah gumnazo, yang juga merupakan asal kata Inggris gymnasium, tempat para olahragawan berlatih fisik. Tidak ada jalan pintas. Tentu saja, menjadi pelayan yang disiplin bukan tujuan akhir. Latihan rohani hanyalah sarana yang menjadikan Timotius leluasa dipakai Allah membawa keselamatan dan pertumbuhan bagi banyak orang

Apa yang paling Anda rindukan dalam kehidupan kristiani Anda? Jika rencana Allah adalah membuat anak-anak-Nya menjadi serupa dengan Kristus (1 Yohanes 3:2b), tidakkah hal itu juga seharusnya menjadi kerinduan kita? Disiplin apa saja yang harus kita latihkan untuk mewujudkannya? –ELS

DISIPLIN ROHANI MENOLONG KITA

BERTUMBUH SERUPA KRISTUS DENGAN SUKACITA

Dikutip : www.sabda.org

BERDOALAH … BERDOALAH …

Jumat, 28 September 2012

Bacaan : Efesus 6:10-20

6:10. Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

 

6:19. juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,

6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

 

BERDOALAH … BERDOALAH …

Setelah bertahun-tahun melayani suku Lisu tanpa hasil, misionaris J.O. Fraser merasa sangat depresi. Dalam kondisi putus asa ia berdoa dan menggerakkan sekitar 8-10 orang kristiani di negara asalnya untuk mendukungnya dalam doa terus-menerus. Tahun-tahun berikutnya, puluhan ribu orang Lisu menerima Kristus. Mencengangkan. Fraser bersaksi, “Tak ada gunanya mengajar atau berkhotbah kepada suku Lisu jika mereka masih dibelenggu oleh kuasa-kuasa yang tak kelihatan…. Anda berperang melawan masalah mendasar dari suku Lisu ini ketika Anda berdoa ….”

Fraser mengalami kebenaran yang disampaikan rasul Paulus berabad-abad sebelumnya kepada jemaat Efesus. Pemberitaan Injil bagi Paulus bukan sekadar sebuah metode bercerita tentang Juru Selamat, tetapi merupakan sebuah pertempuran rohani melawan kuasa-kuasa yang menentang Allah (ayat 12). Kepiawaian berbicara tidaklah cukup. Paulus sadar hanya kuasa Tuhan yang dapat memampukannya menyampaikan kebenaran dengan berani. Sebab itulah ia berdoa, dan juga mendorong jemaat Efesus untuk mendoakannya (ayat 18-20).

Kerap doa dipandang sebagai pelayanan yang kecil dan kurang berarti. Padahal doa justru menghubungkan kita dengan kuasa Allah yang tidak terbatas. Dalam kerinduan membawa orang kepada Tuhan, sudahkah doa kita prioritaskan? Pikirkanlah satu nama orang yang rindu Anda bawa mengenal Kristus, atau satu nama orang yang sedang memberitakan Injil, dan ambillah komitmen mendoakannya secara terus-menerus selama bulan ini. –ELS

DOA BUKANLAH UPAYA MENGATASI KEENGGANAN TUHAN,

TETAPI MENANGKAP APA YANG SIAP DIKERJAKAN-NYA. -MARTIN LUTHER

Dikutip : www.sabda.org

SUDAH TAHU AKHIRNYA

Senin, 30 April 2012

Bacaan : Wahyu 19:1-21

19:1. Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: “Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita,

19:2 sebab benar dan adil segala penghakiman-Nya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hamba-Nya atas pelacur itu.”

19:3 Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: “Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya.”

19:4 Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: “Amin, Haleluya.”

 

19:5. Maka kedengaranlah suatu suara dari takhta itu: “Pujilah Allah kita, hai kamu semua hamba-Nya, kamu yang takut akan Dia, baik kecil maupun besar!”

19:6 Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja.

19:7 Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.

19:8 Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” (Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.)

19:9 Lalu ia berkata kepadaku: “Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.” Katanya lagi kepadaku: “Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah.”

19:10 Maka tersungkurlah aku di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: “Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudaramu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah! Karena kesaksian Yesus adalah roh nubuat.”

 

19:11. Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil.

19:12 Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorangpun, kecuali Ia sendiri.

19:13 Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: “Firman Allah.”

19:14 Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih.

19:15 Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa.

19:16 Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.”

19:17 Lalu aku melihat seorang malaikat berdiri di dalam matahari dan ia berseru dengan suara nyaring kepada semua burung yang terbang di tengah langit, katanya: “Marilah ke sini dan berkumpullah untuk turut dalam perjamuan Allah, perjamuan yang besar,

19:18 supaya kamu makan daging semua raja dan daging semua panglima dan daging semua pahlawan dan daging semua kuda dan daging semua penunggangnya dan daging semua orang, baik yang merdeka maupun hamba, baik yang kecil maupun yang besar.”

19:19 Dan aku melihat binatang itu dan raja-raja di bumi serta tentara-tentara mereka telah berkumpul untuk melakukan peperangan melawan Penunggang kuda itu dan tentara-Nya.

19:20 Maka tertangkaplah binatang itu dan bersama-sama dengan dia nabi palsu, yang telah mengadakan tanda-tanda di depan matanya, dan dengan demikian ia menyesatkan mereka yang telah menerima tanda dari binatang itu dan yang telah menyembah patungnya. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang.

19:21 Dan semua orang lain dibunuh dengan pedang, yang keluar dari mulut Penunggang kuda itu; dan semua burung kenyang oleh daging mereka.

 

 

SUDAH TAHU AKHIRNYA

Saya tak pernah melewatkan satu pun tayangan X-Men. Namun, saat film terbaru tayang dan mengisahkan asal-usul salah satu tokohnya, Wolverine, saya merasa tidak terlalu antusias. Alasannya, saya sudah tahu seperti apa akhir ceritanya: Wolverine pasti tetap hidup. Kalau ia mati, kisah X-Men akan berantakan. Lalu saya sadar bahwa meski saya sudah tahu akhir ceritanya, saya belum tahu bagaimana cerita itu berkembang hingga selesai. Inilah yang membuat X-Men menarik.

Demikian juga dengan akhir dunia. Kitab Wahyu membeberkan akhir ceritanya: Tuhan pasti mengalahkan Si Jahat, menyempurnakan kembali Kerajaan-Nya, dan memulihkan kembali seluruh ciptaan. “Binatang itu pun tertangkap dan bersama-sama dengan dia nabi palsu …. Keduanya dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala dengan belerang” (ayat 20). Namun begitu, tahu bagaimana cerita berakhir tak boleh membuat kita berdiam diri. Kebenaran ini memberi kita hak istimewa untuk ambil bagian dalam jalan cerita serta mengalami bagaimana akhir ceritanya; menjadi bagian dari orang-orang yang berseru: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! …” (ayat 6-7).

Mari ambil bagian dalam cerita tersebut; terlibat dalam karya pelayanan-Nya. Tak terbatas pada pelayanan gerejawi, tetapi juga pekerjaan, keluarga, masyarakat, bahkan dunia. Diiringi keyakinan pengharapan bahwa apa yang kita lakukan tidak sia-sia; kita tahu bahwa pada akhirnya Dia yang kita layani akan bertakhta sampai selama-lamanya. –ALS

PENGETAHUAN AKAN AKHIR CERITA DUNIA SEHARUSNYA MENDORONG KITA

ANTUSIAS MELAYANI TUHAN DALAM HIDUP DI DUNIA.

Dikutip : www.sabda.org

MANUSIA TANPA DOSA

Sabtu, 14 April 2012

Bacaan : Yohanes 8:42-47

8:42 Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.

8:43 Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.

8:44 Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

8:45 Tetapi karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku.

 

8:46. Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?

8:47 Barangsiapa berasal dari Allah, ia mendengarkan firman Allah; itulah sebabnya kamu tidak mendengarkannya, karena kamu tidak berasal dari Allah.”

MANUSIA TANPA DOSA

Seorang guru sekolah minggu bertanya di kelasnya, “Siapa di antara kalian yang belum pernah ber-bohong?” Seorang anak dengan cepat mengacungkan tangannya. Ketika semua mata memandangnya dengan kagum, perlahan ia menurunkan tangannya sambil berbisik lirih, “Maaf, saya telah berbohong.”

Ketika Tuhan Yesus menantang orang untuk menunjukkan adanya dosa yang pernah Dia perbuat (ayat 46), tak seorang pun yang bergegas bisa menyebutnya. Tantangan ini diberikan Yesus bukan di tempat yang asing atau di tempat yang baru ditinggali-Nya. Dia telah lama bersama-sama de-ngan orang-orang itu. Kalau selama bertahun-tahun tidak ada seorang pun yang dapat merekam satu kesalahan pun dari diri-Nya, ini sungguh membuktikan kesempurnaan hidup-Nya. Keberanian-Nya untuk mengajukan tantangan ini juga menunjukkan keyakinannya akan ketidak-berdosaan-Nya. Ini sekaligus klaim kuat bahwa Yesus adalah Allah, karena hanya Allah-lah yang sempurna dan tidak berdosa. Dengan demikian, setiap perkataan yang keluar dari mulut-Nya adalah kebenaran. Kekudusan hidup-Nya ditopang utuh oleh perkataan, pikiran, dan perbuatan-Nya yang tanpa cela.

Sebagai pribadi yang tidak berdosa, Tuhan Yesus tidak memerlukan penebus bagi diri-Nya dan sekaligus Dia memenuhi syarat untuk menjadi penebus. Kita bersyukur mengalami karya sempurna dari Tuhan Yesus. Biarlah kecemerlangan dan kesempurnaan Tuhan Yesus menjadi inspirasi dan pendorong bagi kita untuk hidup kudus. Mari tingkatkan rasa hormat akan kekudusan Allah dengan mengupayakan hidup yang murni dan bersih dari hari ke hari. –PBS

MARI HORMATI KEKUDUSAN TUHAN DENGAN HIDUP SEBAGAIMANA YESUS HIDUP.

Dikutip : www.sabda.org

 

REFORMASI KEDUA

Senin, 26 Maret 2012

Bacaan : 1 Petrus 4:7-11

4:7. Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

4:9 Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.

4:10 Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.

4:11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

 

REFORMASI KEDUA

Berapa banyak orang-orang percaya yang “menganggur” di kerajaan Allah? Hasil survei nasional yang dilakukan Gallup di A.S. mendapati bahwa 10% anggota gereja yang aktif melayani secara pribadi, 50% tidak tertarik untuk melayani, dan 40% tertarik untuk melayani, tetapi tidak pernah diminta atau tidak tahu bagaimana. Kira-kira bagaimana hasilnya jika penelitian yang sama juga dilakukan di gereja atau persekutuan kita?

Pesan Alkitab sangat jelas. Alkitab memerintahkan setiap orang untuk melayani (ayat 10). Itu berarti 100% orang percaya, tanpa kecuali. Penggeraknya? Kasih yang sungguh-sungguh (ayat 8). Perlengkapannya? karunia yang sudah diberikan pada setiap orang percaya (ayat 10). Tanggung jawabnya? Memakai dan mengelola karunia yang sudah dianugerahkan Tuhan, baik itu karunia dalam perkataan maupun tindakan praktis (ayat 10-11). Tujuannya akhirnya? Supaya Allah dimuliakan (ayat 11).

Tuhan dimuliakan melalui komunitas orang percaya ketika anggota-anggotanya saling melayani satu sama lain dengan kasih. Namun, dalam praktiknya bukankah di berbagai tempat kita mendapati hanya segelintir orang tertentu yang sibuk melayani dan kebanyakan jemaat sibuk mengkritik sebagai penonton? Elton Trueblood berkata: “Jika reformasi yang pertama telah mengembalikan Firman Allah kepada umat Allah, kita sekarang memerlukan reformasi kedua untuk mengembalikan pekerjaan Allah kepada umat Allah.” Elton benar. Pekerjaan Allah adalah pelayanan dari seluruh orang percaya, bukan hanya orang-orang tertentu. Mari memulai reformasi kedua ini. Dari diri sendiri. Dari komunitas terdekat kita. –JOO

RANCANGAN ALLAH:

PEKERJAAN ALLAH DIKERJAKAN

BAGI KEMULIAAN ALLAH

OLEH SELURUH UMAT ALLAH.

Dikutip : www.sabda.org

 

DIAKONIA

Minggu, 25 Maret 2012

Bacaan : Kisah Para Rasul 6:1-7

6:1. Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.

6:2 Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.

6:3 Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,

6:4 dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.”

6:5 Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.

6:6 Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.

6:7 Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

DIAKONIA

Teladan jemaat mula-mula terus menantang kita hingga kini. Suatu komunitas orang percaya yang “sehati dan sejiwa” (Kisah Para Rasul 4:32) dan di antara mereka “tidak ada seorang pun yang berkekurangan” (Kisah Para Rasul 4:32). Namun, sebagaimana semua komunitas di dunia ini, masalah cepat atau lambat akan muncul. Ada keluhan yang berkaitan dengan pelayanan yang dirasakan kurang adil (ayat 1). Jika tidak diatasi dengan bijak, bisa berbuntut pada krisis perpecahan dalam jemaat.

Penyebab awalnya adalah karena jumlah murid-murid bertambah (ayat 1). Meningkatnya jumlah ini juga diikuti dengan meningkatnya “pelayanan meja” yang perlu diperhatikan, yaitu kebutuhan sehari-hari dari jemaat yang berkekurangan (ayat 2). Para rasul segera bertindak dengan mengangkat tujuh orang untuk menanganinya (ayat 3). Meskipun penulis kitab ini tidak menggunakan kata diaken, tetapi peristiwa ini meletakkan fondasi bagi pengaturan pelayanan diakonia yang kita kenal sekarang, yaitu membantu orang-orang yang membutuhkan. Hasilnya? Firman Tuhan semakin tersebar dan jumlah murid semakin bertambah (ayat 7)!

Pemberitaan Firman dan diakonia tidak dapat dipisahkan. Diakonia merupakan buah dari pemberitaan Firman sekaligus jembatan bagi pemberitaan Firman. Jemaat Tuhan tidak bisa hanya memperkatakan kasih Tuhan dalam Alkitab tanpa menerapkannya dalam tindakan nyata. Supaya berjalan maksimal, pengelolaan diakonia perlu ditugaskan pada orang-orang tertentu, namun tanggung jawab diakonia ada pada seluruh jemaat Tuhan yang rindu membuat nama Kristus dikenal. Satu diakonia apakah yang dapat Anda lakukan hari ini? –JOO

ORANG TAK HANYA MENDENGAR TAPI JUGA MELIHAT JEMAAT TUHAN.

APAKAH YANG MEREKA LIHAT SELARAS DENGAN YANG MEREKA DENGAR?

Dikutip : www.sabda.org

GEMA FIRMAN TUHAN

Jumat, 23 Maret 2012

Bacaan : 1 Tesalonika 1:2-10

1:2. Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami.

1:3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

1:4 Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu.

1:5 Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu.

 

1:6. Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus,

1:7 sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.

1:8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu.

1:9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar,

1:10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

 

GEMA FIRMAN TUHAN

Gordon Maxwell, penginjil di India, meminta seorang pelajar Hindu untuk mengajarkan bahasa India kepadanya. Di luar dugaan si pelajar menjawab: “Tidak, Sahib (artinya Tuan), saya tak bersedia mengajarkan bahasa saya kepada Anda. Anda akan menjadikan saya Kristen. Tak seorangpun tahan tinggal bersama Anda dan tetap tidak menjadi Kristen.” Begitu kuatnya kesaksian hidup Gordon hingga orang-orang yang berinteraksi dengannya tidak bisa tidak diubahkan hidupnya.

Kesaksian yang kuat juga ditunjukkan oleh jemaat di Tesalonika. Firman Tuhan bergema melalui hidup mereka, bukan hanya bagi saudara-saudara seiman di Makedonia dan Akhaya, melainkan juga di berbagai tempat lain (ayat 8). Gema itu memberitahukan tentang Allah yang benar, yang tak dapat disandingkan dengan berhala-berhala manusia (ayat 9), yang memberikan keselamatan dan pengharapan di dalam Yesus Kristus (ayat 10), yang mengubahkan hidup mereka melalui karya Roh Kudus (ayat 6). Allah yang hidup dan benar inilah yang kini mereka layani dengan segenap hati, bahkan di tengah-tengah situasi sulit.

Jika kita bertanya kepada orang di sekitar kita, apa yang kira-kira akan mereka katakan tentang Allah yang kita sembah dan layani? Di hari Nyepi ini, kita mengingat masih ada banyak sahabat yang belum mengenal Dia. Mari kita senantiasa berdoa untuk mereka dan biarlah Firman Allah terus bergema melalui perkataan dan perilaku kita. –ROS

PERKATAAN DAN PERILAKU HIDUP YANG SESUAI FIRMAN TUHAN

ADALAH PENUNJUK JALAN BAGI ORANG UNTUK MENGENAL TUHAN.

Dikutip : www.sabda.org

PELAMAR PELAYANAN

Kamis, 22 Maret 2012

Bacaan : 2 Korintus 4:1-5

4:1. Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.

4:2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

4:3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,

4:4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

4:5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.

 

PELAMAR PELAYANAN

Pernahkah Anda melihat atau setidaknya membayangkan kegembiraan seorang pelamar pekerjaan ketika ia dinyatakan diterima? Ia merasa sangat beruntung dan akan berterimakasih kepada mereka yang menetukan nasib baiknya tersebut. Ia pasti merasa berhutang budi kepada sang pemberi pekerjaan. Dalam pelayanan, pernahkah kita berpikir siapa bos dan siapa yang menjadi “pelamar pelayanan”?

Mengingat latar belakang hidup Paulus yang kelam, mendapatkan pengampunan atas segala dosanya saja sudah merupakan anugerah besar. Akan tetapi lebih dari itu, ia dipercaya menjadi rekan sekerja Allah untuk pekerjaan besar dan penting. Ia kemudian menjadi Rasul yang sangat giat dan militan karena ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia sadar, sebagai bekas seteru Allah, untuk melamar memohon pelayanan dan minta untuk dipercayai, ia sebenarnya tidak pantas. Kalau ia memperoleh lebih dari itu, bukankah itu sungguh karena belas kasihan dan kemurahan dari Allah Sang Pemilik pelayanan?

Sadarkah kita, seringkali kita bersikap seperti bos dan memperlakukan Allah seperti “pelamar pekerjaan”? Seringkali kita merasa “membantu” Allah dan menanam jasa ketika kita memutuskan untuk melayani. Mungkin kita merasa kalau kita berkata “ya” maka Allah akan sangat berterima kasih atas keputusan tersebut. Ini sebuah konsep yang tidak pantas terhadap Allah. Sadarlah, kalau kita diberi kesempatan melayani dalam bentuk apa pun, itu karena belas kasihan dan kemurahan Allah. Syukurilah dan manfaat kesempatan istimewa tersebut dengan bertanggung jawab atas anugerah-Nya. Hormatilah kepercayaan Allah! –PBS

DIAMPUNI DAN MELAYANI:

KEDUANYA ADALAH BELAS KASIHAN DAN KEMURAHAN.

Dikutip : www.sabda.org

HADIRAT TUHAN DALAM KELUARGA

Shalom, salam miracle

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, dalam 2 Samuel 6:11-12  dinyatakan demikian “Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan Tuhan memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: “TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu.” Lalu Daud pergi mengangkat tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.

Keberadaan tabut Tuhan sangat menentukan kondisi bangsa Israel, ketika kehadiran tabut Tuhan dihargai oleh bangsa Israel maka bangsa itu mengalami ketentraman, keamanan, dan keberhasilan, hal sebaliknya terjadi apabila bangsa pilihan Allah itu tidak menghargai kehadiran tabut Allah. Hal demikian pernah terjadi ketika zaman Saul menjadi raja, maka kemerosotan moral terjadi, penyembahan berhala meningkat , terjadi kekerasan disana-sini, kekacauan semakin menghantui bangsa itu. Terlebih ketika tabut Tuhan direbut oleh bangsa lain, maka tidak ada perkenanan terhadap bangsa Israel.

Pada pemerintahan raja Daud, maka dia berusaha sekuat tenaga untuk kembali menghadirkan tabut Allah itu di pusat pemerintahannya, dengan kata lain dia mengerti betapa besarnya pengaruh Allah dalam menentukan kondisi bangsa yang dipimpinnya.

Dalam pembacaan 2 Samuel 6:11-12 di atas diceritakan sebelum sampai di Yerusalem, maka Daud menyimpannya terlebih dahulu pada keluarga Obed-Edom selama 3 bulan, dan keluaraga ini sangat diberkati Tuhan, bahkan dalam 2 Tawarikh 26 disana diceritakan bahwa anak-anak Obed-Edom menjadi orang-orang yang cakap dalam pekerjaannya masing-masing, juga disebut sebagai pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. Mengapa bisa demikian? Hal ini dikarenakan ada tabut Allah dalam keluarga Obed-Edom, dan juga keluarga ini sangat menghargai kehadiran tabut Allah di tengah-tengahnya. Memperlakukan kehadiran Allah dalam keluarga sangat menentukan kebahagiaan, keberhasilan keluarga itu. Demikian juga setiap keluarga kita, peranan kehadiran Allah dan tinggal dalam keluarga sangat penting.

Mengapa keluarga Obed-Edom yang dipilih untuk menyimpan Tabut Allah? Pertanyaan ini serupa dengan Mengapa Maria dipilih untuk mengandung bayi Yesus? Padahal seperti kita ketahui di bangsa Israel, banyak keluarga dari berbagai-bagai suku yang ada, keluarga para Imam, keluarga dari ahli Taurat atau keluarga raja. Hal yang sama juga perlu direnungkan ketika zaman Maria mengandung, banyak perempuan-perempuan cantik yang lain, atau istri pejabat seperti istri Herodes, atau dari salah satu keluarga dari para tokoh masyarakat ketika itu, mengapa yang dipilih Maria? Mengapa yang dipilih Obed-Edom?. Hal ini selain otoritas mutlak di tangan Tuhan, namun juga ditemukan bahwa dari kehidupan mereka ada sesuatu yang sangat luar biasa, yaitu hidup dalam aturan dan perintah Tuhan, bukan hanya mengerti kemauan Tuhan, lebih dari itu mereka menjadi pelaku Firman Tuhan. Sehingga Obed-Edom mendapat anugerah Tuhan dengan kehadiran Tabut Allah ketika itu. Anugrah Allah juga akan dinyatakan kepada kita yang mengerti dan melakukan Firman Allah dengan segenap hati. Setiap kali Allah memeilih dan menetapkan umat-Nya, maka pilihan Allah itu tepat. Ada pujian menyatakan, “…bila Kau yang membuka pintu, tak ada satupun dapat menutupnya, bila Kau yang mengangkat aku, tiada yang dapat merendahkanku…”

Di sisi lain, mari kita melihat ketika ada tabut Allah, atau ketika ada hadirat Allah, apa saja yang ada di dalamnya, antara lain:

ADA FIRMAN ALLAH

Setiap kali kita menikmati hadirat Allah, hendaknya kita menanti Firman Allah, sebab dengan Firman Allah itu, kita semakin dikuat teguhkan, terutama menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan keluarga/rumah tangga, Firman-Mu pelita bagi kakiku, terang bagi jalanku.

ADA PUJIAN PENYEMBAHAN

Dalam hadirat Tuhan, pasti kita akan senantiasa memuji dan bersyukur menyembah Tuhan. Dalam rumah tangga kita, seharusnya ada pujian penyembahan senantiasa kepada Tuhan.

ADA PERSEMBAHAN

Memberikan yang terbaik, segenap tubuh, jiwa, roh kita kepada Tuhan. Dalam Roma 12:1 dikatakan “Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai PERSEMBAHAN yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

ADA KASIH

Setiap kali kita menikmati hadirat Allah, maka akan sangat terasa kasih Allah kepada kita, dan itu akan mengalir dengan munculnya kasih kita kepada seluruh anggota keluarga dan saudara-saudara yang lain.

Saudara yang dikasihi Tuhan, berusahalah untuk menikmati kehadiran Allah dalam keluarga kita, maka Tuhan akan menyatakan kasih anugerahnya kepada kita semua.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien!!

 

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Gembala Sidang

ORANG SEDERHANA

Sabtu, 21 Mei 2011

Bacaan : 1 Korintus 1:18-31

1:18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

1:19 Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.”

1:20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?

1:21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

1:22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,

1:23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,

1:24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

1:25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

1:26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.

1:27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

1:28 dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,

1:29 supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

1:30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.

1:31 Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

ORANG SEDERHANA

Seorang doktor dimenangkan bagi Kristus ketika mendengar khotbah Dwight L. Moody. Ketika ia ditanya bagaimana hal itu terjadi, begini jawabnya, “Aku mau mendengar khotbahnya dengan maksud menertawakannya. Sebab, aku mengenalnya sebagai orang sederhana yang tak pernah mengenyam pendidikan. Aku yakin khotbahnya tidak logis dan ngawur. Tetapi ketika aku datang dalam kebaktian yang ia pimpin, aku mendapati hal yang berbeda. Ia berdiri di belakang Alkitab, dibakar oleh kekuatan firman Allah. Dan, hatiku seperti ditembak oleh firman Allah. Aku pun bertobat.”

Kita kerap kali mudah diintimidasi oleh Iblis agar tidak melayani Tuhan karena kita adalah orang yang sederhana, yang tidak punya pengalaman, atau tidak punya embel-embel titel di belakang nama kita. Jangan pernah mau diintimidasi dan ditipu iblis. Pendidikan dan kepandaian memang penting dan perlu, tetapi itu bukan segalanya. Yang terpenting, kuasa Allah menyertai pelayanan kita. Hidup kita terbuka untuk dipakai oleh Allah. Apa gunanya menjadi orang yang berhikmat, tetapi tidak memiliki kuasa Allah? Dwight L. Moody, hamba Tuhan yang sangat sederhana itu, mampu “mengguncang” dunia. Bahkan lewat hidupnya, jutaan jiwa telah dibawa kepada Kristus.

Jika kita mau menyediakan diri untuk dipakai oleh Allah, maka apa pun latar belakang hidup kita, percayalah bahwa kita dapat Dia pakai untuk memengaruhi dunia. Itulah artinya “orang yang bodoh dari Allah akan mempermalukan orang yang berhikmat dari dunia ini”. Masihkah kita ragu melayani Tuhan hanya karena kita merasa sebagai orang sederhana dan tidak berpendidikan? –PK

ALLAH BISA MEMAKAI ORANG YANG BODOH DI MATA DUNIA

UNTUK MEMPERMALUKAN YANG PALING BERHIKMAT

DARI DUNIA

Dikutip : www.sabda.org