PELAMAR PELAYANAN

Kamis, 22 Maret 2012

Bacaan : 2 Korintus 4:1-5

4:1. Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.

4:2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

4:3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,

4:4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.

4:5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.

 

PELAMAR PELAYANAN

Pernahkah Anda melihat atau setidaknya membayangkan kegembiraan seorang pelamar pekerjaan ketika ia dinyatakan diterima? Ia merasa sangat beruntung dan akan berterimakasih kepada mereka yang menetukan nasib baiknya tersebut. Ia pasti merasa berhutang budi kepada sang pemberi pekerjaan. Dalam pelayanan, pernahkah kita berpikir siapa bos dan siapa yang menjadi “pelamar pelayanan”?

Mengingat latar belakang hidup Paulus yang kelam, mendapatkan pengampunan atas segala dosanya saja sudah merupakan anugerah besar. Akan tetapi lebih dari itu, ia dipercaya menjadi rekan sekerja Allah untuk pekerjaan besar dan penting. Ia kemudian menjadi Rasul yang sangat giat dan militan karena ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia sadar, sebagai bekas seteru Allah, untuk melamar memohon pelayanan dan minta untuk dipercayai, ia sebenarnya tidak pantas. Kalau ia memperoleh lebih dari itu, bukankah itu sungguh karena belas kasihan dan kemurahan dari Allah Sang Pemilik pelayanan?

Sadarkah kita, seringkali kita bersikap seperti bos dan memperlakukan Allah seperti “pelamar pekerjaan”? Seringkali kita merasa “membantu” Allah dan menanam jasa ketika kita memutuskan untuk melayani. Mungkin kita merasa kalau kita berkata “ya” maka Allah akan sangat berterima kasih atas keputusan tersebut. Ini sebuah konsep yang tidak pantas terhadap Allah. Sadarlah, kalau kita diberi kesempatan melayani dalam bentuk apa pun, itu karena belas kasihan dan kemurahan Allah. Syukurilah dan manfaat kesempatan istimewa tersebut dengan bertanggung jawab atas anugerah-Nya. Hormatilah kepercayaan Allah! –PBS

DIAMPUNI DAN MELAYANI:

KEDUANYA ADALAH BELAS KASIHAN DAN KEMURAHAN.

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

HADIRAT TUHAN DALAM KELUARGA

Shalom, salam miracle

Jemaat Bethany yang diberkati Tuhan, dalam 2 Samuel 6:11-12  dinyatakan demikian “Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan Tuhan memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: “TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu.” Lalu Daud pergi mengangkat tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.

Keberadaan tabut Tuhan sangat menentukan kondisi bangsa Israel, ketika kehadiran tabut Tuhan dihargai oleh bangsa Israel maka bangsa itu mengalami ketentraman, keamanan, dan keberhasilan, hal sebaliknya terjadi apabila bangsa pilihan Allah itu tidak menghargai kehadiran tabut Allah. Hal demikian pernah terjadi ketika zaman Saul menjadi raja, maka kemerosotan moral terjadi, penyembahan berhala meningkat , terjadi kekerasan disana-sini, kekacauan semakin menghantui bangsa itu. Terlebih ketika tabut Tuhan direbut oleh bangsa lain, maka tidak ada perkenanan terhadap bangsa Israel.

Pada pemerintahan raja Daud, maka dia berusaha sekuat tenaga untuk kembali menghadirkan tabut Allah itu di pusat pemerintahannya, dengan kata lain dia mengerti betapa besarnya pengaruh Allah dalam menentukan kondisi bangsa yang dipimpinnya.

Dalam pembacaan 2 Samuel 6:11-12 di atas diceritakan sebelum sampai di Yerusalem, maka Daud menyimpannya terlebih dahulu pada keluarga Obed-Edom selama 3 bulan, dan keluaraga ini sangat diberkati Tuhan, bahkan dalam 2 Tawarikh 26 disana diceritakan bahwa anak-anak Obed-Edom menjadi orang-orang yang cakap dalam pekerjaannya masing-masing, juga disebut sebagai pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. Mengapa bisa demikian? Hal ini dikarenakan ada tabut Allah dalam keluarga Obed-Edom, dan juga keluarga ini sangat menghargai kehadiran tabut Allah di tengah-tengahnya. Memperlakukan kehadiran Allah dalam keluarga sangat menentukan kebahagiaan, keberhasilan keluarga itu. Demikian juga setiap keluarga kita, peranan kehadiran Allah dan tinggal dalam keluarga sangat penting.

Mengapa keluarga Obed-Edom yang dipilih untuk menyimpan Tabut Allah? Pertanyaan ini serupa dengan Mengapa Maria dipilih untuk mengandung bayi Yesus? Padahal seperti kita ketahui di bangsa Israel, banyak keluarga dari berbagai-bagai suku yang ada, keluarga para Imam, keluarga dari ahli Taurat atau keluarga raja. Hal yang sama juga perlu direnungkan ketika zaman Maria mengandung, banyak perempuan-perempuan cantik yang lain, atau istri pejabat seperti istri Herodes, atau dari salah satu keluarga dari para tokoh masyarakat ketika itu, mengapa yang dipilih Maria? Mengapa yang dipilih Obed-Edom?. Hal ini selain otoritas mutlak di tangan Tuhan, namun juga ditemukan bahwa dari kehidupan mereka ada sesuatu yang sangat luar biasa, yaitu hidup dalam aturan dan perintah Tuhan, bukan hanya mengerti kemauan Tuhan, lebih dari itu mereka menjadi pelaku Firman Tuhan. Sehingga Obed-Edom mendapat anugerah Tuhan dengan kehadiran Tabut Allah ketika itu. Anugrah Allah juga akan dinyatakan kepada kita yang mengerti dan melakukan Firman Allah dengan segenap hati. Setiap kali Allah memeilih dan menetapkan umat-Nya, maka pilihan Allah itu tepat. Ada pujian menyatakan, “…bila Kau yang membuka pintu, tak ada satupun dapat menutupnya, bila Kau yang mengangkat aku, tiada yang dapat merendahkanku…”

Di sisi lain, mari kita melihat ketika ada tabut Allah, atau ketika ada hadirat Allah, apa saja yang ada di dalamnya, antara lain:

ADA FIRMAN ALLAH

Setiap kali kita menikmati hadirat Allah, hendaknya kita menanti Firman Allah, sebab dengan Firman Allah itu, kita semakin dikuat teguhkan, terutama menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan keluarga/rumah tangga, Firman-Mu pelita bagi kakiku, terang bagi jalanku.

ADA PUJIAN PENYEMBAHAN

Dalam hadirat Tuhan, pasti kita akan senantiasa memuji dan bersyukur menyembah Tuhan. Dalam rumah tangga kita, seharusnya ada pujian penyembahan senantiasa kepada Tuhan.

ADA PERSEMBAHAN

Memberikan yang terbaik, segenap tubuh, jiwa, roh kita kepada Tuhan. Dalam Roma 12:1 dikatakan “Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai PERSEMBAHAN yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

ADA KASIH

Setiap kali kita menikmati hadirat Allah, maka akan sangat terasa kasih Allah kepada kita, dan itu akan mengalir dengan munculnya kasih kita kepada seluruh anggota keluarga dan saudara-saudara yang lain.

Saudara yang dikasihi Tuhan, berusahalah untuk menikmati kehadiran Allah dalam keluarga kita, maka Tuhan akan menyatakan kasih anugerahnya kepada kita semua.

Tuhan Yesus memberkati kita semua…amien!!

 

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

Gembala Sidang

ORANG SEDERHANA

Sabtu, 21 Mei 2011

Bacaan : 1 Korintus 1:18-31

1:18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.

1:19 Karena ada tertulis: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.”

1:20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?

1:21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.

1:22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,

1:23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,

1:24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.

1:25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.

1:26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.

1:27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

1:28 dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,

1:29 supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

1:30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.

1:31 Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

ORANG SEDERHANA

Seorang doktor dimenangkan bagi Kristus ketika mendengar khotbah Dwight L. Moody. Ketika ia ditanya bagaimana hal itu terjadi, begini jawabnya, “Aku mau mendengar khotbahnya dengan maksud menertawakannya. Sebab, aku mengenalnya sebagai orang sederhana yang tak pernah mengenyam pendidikan. Aku yakin khotbahnya tidak logis dan ngawur. Tetapi ketika aku datang dalam kebaktian yang ia pimpin, aku mendapati hal yang berbeda. Ia berdiri di belakang Alkitab, dibakar oleh kekuatan firman Allah. Dan, hatiku seperti ditembak oleh firman Allah. Aku pun bertobat.”

Kita kerap kali mudah diintimidasi oleh Iblis agar tidak melayani Tuhan karena kita adalah orang yang sederhana, yang tidak punya pengalaman, atau tidak punya embel-embel titel di belakang nama kita. Jangan pernah mau diintimidasi dan ditipu iblis. Pendidikan dan kepandaian memang penting dan perlu, tetapi itu bukan segalanya. Yang terpenting, kuasa Allah menyertai pelayanan kita. Hidup kita terbuka untuk dipakai oleh Allah. Apa gunanya menjadi orang yang berhikmat, tetapi tidak memiliki kuasa Allah? Dwight L. Moody, hamba Tuhan yang sangat sederhana itu, mampu “mengguncang” dunia. Bahkan lewat hidupnya, jutaan jiwa telah dibawa kepada Kristus.

Jika kita mau menyediakan diri untuk dipakai oleh Allah, maka apa pun latar belakang hidup kita, percayalah bahwa kita dapat Dia pakai untuk memengaruhi dunia. Itulah artinya “orang yang bodoh dari Allah akan mempermalukan orang yang berhikmat dari dunia ini”. Masihkah kita ragu melayani Tuhan hanya karena kita merasa sebagai orang sederhana dan tidak berpendidikan? –PK

ALLAH BISA MEMAKAI ORANG YANG BODOH DI MATA DUNIA

UNTUK MEMPERMALUKAN YANG PALING BERHIKMAT

DARI DUNIA

Dikutip : www.sabda.org

BERANI HIDUP

Selasa, 11 Januari 2011

Bacaan : Filipi 1:12-26

12Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,

13sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.

14Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

15Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.

16Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil,

17tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.

18Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita,

19karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.

20Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.

21Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

22Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

23Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik;

24tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.

25Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,

26sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.

BERANI HIDUP

Dalam pertandingan atau peperangan, kerap ada sebutan “pasukan berani mati”. Mereka punya semangat tinggi dan siap mempertaruhkan segala milik mereka, bahkan sampai mati, demi memperoleh apa yang mereka perjuangkan. Semangat berani mati bisa mendorong seseorang untuk sungguh-sungguh berjuang. Namun, semangat “berani mati” juga terkadang disalahgunakan orang yang ditekan persoalan hidup. Berani mati karena ia sudah menyerah. Lalu mengakhiri hidup dan berpikir kematian adalah jalan keluar terbaik untuk bebas dari masalah.

Dalam bacaan hari ini, kita membaca bahwa Paulus adalah orang yang berani mati. Ia menghadapi segala tantangan berat dalam upaya memberitakan Injil. Namun, ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan: Jika ia masih hidup, itu dihayatinya sebagai “hidup untuk Kristus” bukan untuk diri sendiri. Dan jika ia mati, ia menyebutnya “keuntungan”. Maka, ia berserah apakah Tuhan hendak memintanya mati atau hidup. Namun selama masih hidup, ia hidup dengan keberanian bersama Tuhan yang ia layani. Ia berani mati, tetapi ia juga berani hidup!

Dalam hidup ini, pernahkah Anda berhadapan dengan keraguan untuk melangkah? Kita diingatkan untuk memiliki semangat “berani mati” bagi Tuhan, yang berarti mau terus maju untuk melakukan segala sesuatu dalam situasi sesulit apa pun demi menaati firman-Nya. Bukankah semangat ini juga yang dimiliki oleh para martir? Akan tetapi, kita juga dipanggil untuk memiliki semangat “berani hidup”. Tidak memilih untuk melarikan diri atau mengelak saat persoalan menghadang, tetapi berani menghadapi dan menyelesaikannya bersama Dia yang memberi kita kekuatan –HA

SESUNGGUHNYA SETIAP DETIK YANG KITA JALANI

ADALAH HIDUP UNTUK KRISTUS BUKAN UNTUK DIRI SENDIRI

Sumber : www.sabda.org

KELUAR DARI BATAS

Kamis, 2 Desember 2010

Bacaan : Kisah Rasul 11:1-18

111Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.

2Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.

3Kata mereka: “Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.”

4Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya:

5″Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan aku melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku.

6Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung.

7Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!??

8Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku.

9Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!??

10Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit.

11Dan seketika itu juga tiga orang berdiri di depan rumah, di mana kami menumpang; mereka diutus kepadaku dari Kaisarea.

12Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu,

13dan ia menceriterakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus.

14Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.

15Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.

16Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.??

17Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?”

18Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”

KELUAR DARI BATAS

Bagi para remaja, ada kecenderungan untuk suka berkelompok atau memiliki geng-yang biasanya eksklusif. Pada umumnya, hal-hal mendasar yang membentuk adanya geng adalah kesamaan latar belakang sosial, daerah, sekolah, selera, dan sebagainya. Manfaatnya, menjadi sarana menyalurkan semangat. Dan, jika ada orang baru masuk, anggota geng cenderung menutup diri; menganggap orang lain penyusup, pengganggu kekompakan, dan sebagainya.

Sebagian besar orang percaya mula-mula di Yerusalem juga merupakan kelompok yang “eksklusif” pada saat itu. Mereka menerima dan menghidupi ajaran secara turun-temurun, termasuk soal pergaulan dengan bangsa-bangsa lain, di luar Yahudi. Secara khusus Petrus dituduh rekan-rekannya melanggar hukum Taurat tatkala ia melanggar kelaziman saat itu: datang, tinggal, dan makan dengan pihak luar, yakni Kornelius, seorang perwira Romawi. Namun, Petrus punya alasan yang kuat. Allah sendiri mengajarnya melalui suatu penglihatan tentang keterbukaan rahmat Allah pada bangsa-bangsa lain. Dari situ ia tahu bahwa Tuhan pun memberikan karunia yang sama bagi bangsa-bangsa lain (ayat 17).

Petrus belajar dan mengalami bahwa kasih Allah tak boleh dibatasi untuk kelompok tertentu saja. Kepada siapa pun Allah berkehendak menyatakan diri-Nya, ke sanalah para murid perlu membuka hati untuk menerima mereka. Dengan demikian, mereka menghapus batasan-batasan yang dibuat oleh nilai-nilai hidup yang lama. Kasih Allah dalam Kristus tak boleh dibatasi oleh ras, agama, warna kulit, dan situasi sosial apa pun yang orang miliki. Semua orang berhak mendapat; mengalami kasih Allah –DKL

KARENA SETIAP ORANG DAN BANGSA TUHAN KASIHI

KITA PUN MESTI MEMBERI BUKTI TENTANG KASIH YANG SEJATI

Sumber : www.sabda.org

BAN SEREP

Kamis, 16 September 2010

Bacaan : Efesus 6:10-20

6:10. Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

6:19. juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,

6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

BAN SEREP

Diana adalah wanita karier. Setiap hari hidupnya lekat dengan setir kemudi. Ia biasa menyetir sendiri mobil sedannya ke mana-mana. Suatu hari ban mobilnya bocor di jalan tol. Segera ia menelepon teman untuk minta bantuan. “Di mobilmu pasti ada ban serep, ” seru temannya, “Tahukah kamu cara memasangnya?” Diana menjawab: “Jangankan memasangnya, di mana letak ban serep itu saja aku tidak tahu!” Ban serep memang jarang diperhatikan. Ia baru diingat dan dicari saat kondisi sedang darurat.

Sama halnya dengan doa. Orang sering memandang doa sebagai ban serep. Mereka tekun berdoa saat hidup sudah terasa tidak karuan. Begitu jalan hidup kembali lapang, doa pun menghilang. Sikap ini bertentangan dengan pandangan Rasul Paulus. Ia memandang doa sebagai “senjata Allah”. Doa harus terus dikenakan agar orang beriman dapat bertahan dalam godaan. Ia harus dinaikkan “setiap waktu” (ayat 18). Kata “waktu” di sini memakai istilah kairos yang berarti kesempatan. Jadi, berdoalah pada setiap kesempatan yang muncul. Berdoa setiap waktu bukan berarti 24 jam kita harus melipat tangan dan menutup mata, melainkan terus hidup dalam kontak batin dengan Tuhan. Menyadari kehadiran-Nya. Doa harus dijadikan setir kemudi. Sesuatu yang utama, penting, dan mengendalikan sepak terjang kita. Dengan hidup dalam suasana doa, Tuhan bisa memimpin kita berkata dan bertindak sesuai kehendak-Nya. Kita bisa terus sehati sepikir dengan-Nya (ayat 19, 20).

Cobalah periksa kehidupan doa Anda akhir-akhir ini. Bagi Anda, apakah doa menjadi sekadar ban serep, atau menjadi setir kemudi yang mengendalikan arah hidup Anda? –JTI

BERDOA SETIAP WAKTU

MENGHINDARKAN KITA

DARI MASALAH YANG TIDAK PERLU

Sumber : www.sabda.org

PESONA YESUS

Rabu, 11 Agustus 2010

Bacaan : Lukas 5:1-11

5:1. Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.

5:2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.

5:3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

5:4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”

5:5 Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

5:6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

5:7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”

5:9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;

5:10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.”

5:11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

PESONA YESUS

Seorang aktris Hollywood menceritakan pengalamannya bertemu berbagai tokoh dunia. Bahkan ia pernah bertemu dengan beberapa dari kaum bangsawan, seperti Ratu Elisabet dan Putri Diana. Namun, menurutnya pribadi yang paling memesona adalah Nelson Mandela. Ketenangan batin dan kekuatan kepribadiannya memberikan kesan yang sangat mendalam bagi aktris tersebut. Pesona Nelson Mandela membekas lama setelah pertemuan mereka.

Firman Tuhan hari ini menggambarkan Yesus sebagai pribadi yang sangat memesona dan berwibawa. Orang-orang tertarik dan berkerumun untuk bertemu dengan-Nya. Simon sampai jatuh tersungkur di hadapan Yesus; pertemuan dengan Yesus membuatnya menyadari dosa dan ketidaklayakannya. Pesona Yesus mengubah hidup Simon, Yohanes, dan Yakobus. Mereka seketika meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus. Seolah-olah tidak masuk akal. Hal ini hanya dapat dimengerti apabila pesona Yesus melampaui daya tarik dari segala sesuatu yang ditinggalkan oleh Simon dan kawan-kawannya!

Yesus adalah pribadi yang menakjubkan. Mengikut Yesus dimulai dengan sebuah “pertemuan” rohani dengan-Nya. Pertemuan yang sedemikian memesona, yang membuat seseorang dapat meninggalkan segala sesuatu demi Dia. Pertemuan yang memanggil seseorang untuk berkomitmen mengikuti-Nya. Panggilan ini adalah panggilan Yesus sendiri. Panggilan untuk menjadikan Allah segala-galanya, lebih dari apa pun, sebagaimana Yesus menjadikan Allah segala-galanya. Pesona Nelson Mandela mungkin mengesankan, tetapi pesona Yesus mengubah hidup manusia –DBS

BIARLAH PESONA YESUS NYATA DALAM HIDUP KITA

HINGGA KITA SENANTIASA

MENJADIKAN-NYA YANG TERUTAMA

Sumber : www.sabda.org