LATIHAN BERTUMBUH

Sabtu, 26 Januari 2013

Bacaan: Ibrani 5:11-14

5:11 Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.

5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.

5:13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.

5:14 Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

 

LATIHAN BERTUMBUH

Bagi seorang bayi, makanan yang paling baik adalah air susu ibu. Pada saat itu ia belum mampu mencerna makanan yang keras. Ada beberapa bagian tubuhnya yang belum mampu mencerna makanan dengan sempurna. Bila tetap dipaksakan mengkonsumsi makanan yang keras, bayi itu dapat terkena penyakit sehingga proses pertumbuhannya terganggu. Ketika usianya semakin bertambah, secara bertahap diberi asupan makanan selain susu sampai akhirnya ia disapih. Seiring dengan pertumbuhannya, tubuhnya semakin siap dan mampu mencerna makanan keras denganbaik.

Dalam kehidupan rohani, kadang-kadang kita menemukan orang yang tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Ia masih terus melakukan tindakan kurang terpuji dalam hidupnya, bahkan melenceng jauh dari jalan Tuhan. Kondisi seperti ini menunjukkan keadaan seseorang yang terhambat pertumbuhan rohaninya. Pertumbuhan rohani memang tidak terjadi secara otomatis. Perlu latihan. Latihannya dengan belajar menerapkan dan menaati firman kebenaran sehingga secara bertahap kita semakin tajam mengenali perkara yang baik dan yang jahat. Sikap yang terbuka untuk belajar dan senantiasa siap diperbarui oleh Firman-Nya merupakan lahan yang subur bagi pertumbuhan rohani. Semakin kita bertumbuh, kita akan semakin menyerupai Kristus dan buah Roh-Nya semakin nyata dalam kehidupan kita.

Marilah kita menilik kondisi kita masing-masing dengan saksama. Adakah indra kita semakin peka dalam mengenali jalan Tuhan dan kita semakin sigap dalam menaatinya? –WB

SEMAKIN DEWASA KITA BERTUMBUH SECARA ROHANI

 SEMAKIN PEKA KITA DALAM MENGIKUTI JALAN KEBENARAN

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

BIBIT

Minggu, 20 Januari 2013

Bacaan: 1 Samuel 2:12-25

2:12 Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,

2:13 ataupun batas hak para imam terhadap bangsa itu. Setiap kali seseorang mempersembahkan korban sembelihan, sementara daging itu dimasak, datanglah bujang imam membawa garpu bergigi tiga di tangannya

2:14 dan dicucukkannya ke dalam bejana atau ke dalam kuali atau ke dalam belanga atau ke dalam periuk. Segala yang ditarik dengan garpu itu ke atas, diambil imam itu untuk dirinya sendiri. Demikianlah mereka memperlakukan semua orang Israel yang datang ke sana, ke Silo.

2:15 Bahkan sebelum lemaknya dibakar, bujang imam itu datang, lalu berkata kepada orang yang mempersembahkan korban itu: “Berikanlah daging kepada imam untuk dipanggang, sebab ia tidak mau menerima dari padamu daging yang dimasak, hanya yang mentah saja.”

2:16 Apabila orang itu menjawabnya: “Bukankah lemak itu harus dibakar dahulu, kemudian barulah ambil bagimu sesuka hatimu,” maka berkatalah ia kepada orang itu: “Sekarang juga harus kauberikan, kalau tidak, aku akan mengambilnya dengan kekerasan.”

2:17 Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan TUHAN, sebab mereka memandang rendah korban untuk TUHAN.

2:18 Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan.

2:19 Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban sembelihan tahunan.

2:20 Lalu Eli memberkati Elkana dan isterinya, katanya: “TUHAN kiranya memberikan keturunan kepadamu dari perempuan ini pengganti yang telah diserahkannya kepada TUHAN.” Sesudah itu pulanglah mereka ke tempat kediamannya.

2:21 Dan TUHAN mengindahkan Hana, sehingga dia mengandung dan melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi. Sementara itu makin besarlah Samuel yang muda itu di hadapan TUHAN.

2:22 Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan,

2:23 berkatalah ia kepada mereka: “Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu?

2:24 Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran.

2:25 Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?” Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.

 

BIBIT

Dalam budaya beberapa masyarakat di Indonesia, ada kepercayaan tentang pentingnya kualitas bibit seseorang. Bibit di sini berarti orangtua sang anak. Menurut kepercayaan ini, orangtua yang baik akan menghasilkan anak yang baik pula, dan sebaliknya. Sebagai contoh, anak seorang raja dipercayai lebih berkualitas daripada anak rakyat jelata. Sebaliknya, anak seorang penjahat dipercayai pasti tidak akan menjadi anak yang baik.

Memang normal kalau seorang anak yang dibesarkan di tengah keluarga yang baik akan cenderung bertumbuh dengan baik, dan sebaliknya. Tetapi, di sisi lain, kualitas orangtua bukanlah sesuatu yang diturunkan secara genetik. Bimbingan dan didikan orangtua turut berperan dalam menentukan pembentukan kualitas karakter anak-anak.

Perhatikanlah pengalaman keluarga Imam Eli. Meskipun ia seorang imam besar, anak-anaknya memiliki karakter yang buruk. Hal ini tampaknya terjadi karena sikap Imam Eli sendiri yang cenderung kurang tegas dalam mendidik mereka. Hal ini nampak dari caranya dalam menegur mereka meskipun kesalahan mereka sangat besar (ay. 23-25).

Fakta ini memberikan harapan bagi kita yang memiliki orangtua yang kurang baik. Ya, kita tidak harus menjadi sama dengan orangtua kita. Pengenalan akan Tuhan dan kebenaran-Nya memampukan kita untuk mengembangkan karakter yang baik, karakter Kristus. Di sisi lain, bagi para orangtua, fakta ini menantang kita untuk mendidik anak-anak selaras dengan firman-Nya, agar karakter mereka terbentuk sejak dini. –ALS

KUALITAS KARAKTER SEORANG ANAK TIDAK DITURUNKAN,

TETAPI DIBENTUK MELALUI PENDIDIKAN DARI ORANG TUA

Dikutip : www.sabda.org

BANGGA AKAN TUHAN

Senin, 12 November 2012

Bacaan : Yeremia 9:23-26

9:23. Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya,

9:24 tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.”

9:25 “Lihat, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku menghukum orang-orang yang telah bersunat kulit khatannya:

9:26 orang Mesir, orang Yehuda, orang Edom, bani Amon, orang Moab dan semua orang yang berpotong tepi rambutnya berkeliling, orang-orang yang diam di padang gurun, sebab segala bangsa tidak bersunat dan segenap kaum Israel tidak bersunat hatinya.”

 

BANGGA AKAN TUHAN

Seorang pemuda yang saya kenal punya banyak tindikan, dua di masing-masing telinga, satu di dagu, dan dua di lidah. “Dulu lebih banyak lagi, ” katanya bangga. Saya bertanya bagaimana awalnya ia punya banyak tindikan, tidakkah itu terasa menyakitkan? Ia mengaku bahwa ia terpancing dengan ucapan seorang gadis bertindik yang meremehkan keberaniannya melakukan hal serupa. Dengan bertindik ia bisa membanggakan diri bahwa dirinya adalah seorang lelaki pemberani.

Anda dan saya mungkin tidak bertindik, tetapi kita tentu sama-sama punya sesuatu yang dibanggakan, atau setidaknya ingin kita banggakan, karena kita tahu itu sesuatu yang istimewa. Namun, ternyata apa yang di mata manusia istimewa, tidaklah berarti di mata Tuhan (ayat 23). Kegiatan rohani pun tidak: tanda sunat yang dimiliki bangsa Israel bukan sesuatu yang layak dimegahkan, demikian pula potongan rambut tertentu dari bangsa-bangsa lain sebagai salah satu tanda ibadah mereka (ayat 25-26). Hukuman justru sudah menanti karena hati mereka tidak tertuju pada Tuhan (ayat 26). Lalu apa yang boleh dibanggakan? Tuhan sendiri! (ayat 24). Sang Pencipta ingin agar umat-Nya bangga karena diberi kehormatan yang istimewa untuk mengenal Dia, dan menghargai kasih karunia itu dengan sungguh-sungguh berusaha memahami isi hati-Nya.

Seberapa istimewa pengenalan akan Tuhan di mata Anda? Seberapa penting itu bagi Anda? Mengenal Tuhan berbicara tentang sebuah relasi yang intim. Dimulai dari sikap hati yang penuh syukur menanggapi kasih karunia-Nya, kemauan untuk memperhatikan firman-Nya, dan ketaatan untuk melakukan apa yang disukai- Nya. –LIT

TAK KENAL TUHAN, MAKA TAK SAYANG, APALAGI BANGGA.

MAKIN KENAL, MAKIN SAYANG, MAKIN KITA BISA BERBANGGA AKAN DIA.

Dikutip : www.sabda.org

SATU IOTA PUN PENTING

Rabu, 16 Mei 2012

Bacaan : Matius 5:17-20

5:17. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

 

SATU IOTA PUN PENTING

Bagaimana perasaan Anda jika orang menyebarluaskan berita yang keliru tentang Anda? Tentu Anda marah, jengkel, tidak terima, karena akibat pemberitaan itu, orang banyak akan memiliki gambaran yang salah tentang Anda, dan mungkin memperlakukan Anda dengan tidak seharusnya.

Tuhan juga tidak menginginkan pemberitaan yang menyesatkan tentang diri-Nya. Yesus berkata bahwa “satu iota atau satu titik” pun tidak boleh ditiadakan dari firman-Nya (ayat 18). Iota (yod) adalah huruf terkecil dalam abjad Ibrani. Titik (keraia) atau goresan kecil dalam abjad Ibrani adalah unsur yang membedakan arti dari huruf-huruf yang serupa. Seluruh firman Tuhan harus dilakukan dan diajarkan dengan benar, tidak ada pengecualian. Tinggi-rendahnya tempat seseorang di dalam Kerajaan sorga tergantung pada hal ini (ayat 19). Keseriusan yang sama ditegaskan ketika kanon Alkitab diakhiri (Wahyu 22:18-19). Menurut Yesus, mereka yang menyesatkan orang lain lebih baik dibinasakan (Matius 18:6). Tuhan tidak menginginkan pemberitaan yang keliru tentang diri-Nya.

Kebenaran ini mendorong kami yang menyeleksi dan menyunting naskah Renungan Harian berhati-hati dalam mengerjakan tugas kami. Anda mungkin memiliki kesempatan-kesempatan yang berbeda untuk mengajarkan firman Tuhan kepada orang lain. Mari bersama melakukannya dengan kerinduan agar mereka mengenal Tuhan sebagaimana Dia ingin dikenal, agar mereka tidak salah bersikap terhadap-Nya. Itu artinya, kita makin teliti belajar Alkitab dan makin berhati-hati dalam mengajarkannya. –ELS

PEMBERITAAN YANG KELIRU AKAN TUHAN

AKAN MEMBAWA PENGENALAN YANG KELIRU TENTANG DIA.

Dikutip : www.sabda.org

SAYA BERIMAN …

Minggu, 11 Maret 2012

Bacaan : Kejadian 6:9-22

6:9 Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

6:10 Nuh memperanakkan tiga orang laki-laki: Sem, Ham dan Yafet.

 

6:11. Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.

6:12 Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.

 

6:13. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.

6:14 Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam.

6:15 Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.

6:16 Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.

6:17 Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa.

6:18 Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimu dan isteri anak-anakmu.

6:19 Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa.

6:20 Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya.

6:21 Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.”

 

6:22. Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.

 

SAYA BERIMAN …

Kata “iman” sangat kerap disebut dalam percakapan sesehari tanpa lagi dipikirkan kebenarannya. Pasti kita pernah mendengar kalimat seperti: “Mari kita beriman bahwa hari ini tidak akan hujan” atau “Kita beriman bahwa Tuhan akan mencukupi pendanaan retret ini, ” dan sebagainya. Namun, inikah yang dimaksud dengan iman.

Ketika Allah meminta Nuh untuk membuat bahtera karena Allah akan menghukum manusia dengan air bah, dengan segera ia melakukannya (ayat 22). Secara manusiawi ia sebenarnya tidak memiliki cukup dasar untuk memercayai perintah dan janji semacam itu. Namun, ia tidak menuntut Allah untuk memberikan gerimis sepanjang tahun atau banjir selutut terlebih dahulu untuk sekadar menopang keyakinannya. Baginya, Allah sendirilah jaminan dari penggenapan janji tersebut. Kepercayaannya bertumpu kepada Pribadi Allah dan Firman-Nya. Ia percaya bahwa apa yang dikatakan Allah senantiasa benar dan bahwa Dia sanggup menepati perkataan-Nya. Itulah respons dari hidup yang bergaul dengan Allah (ayat 9). Itulah iman! Iman adalah wujud penghormatan kepada Allah yang kita percayai kesempurnaan-Nya. Iman yang semacam ini akan ditindaklanjuti dalam ketaatan yang tanpa syarat.

Bagaimana selama ini kita melatih iman kita? Apakah kita berupaya memahami setiap perintah dan janji Allah dengan benar? Apakah kita gemar menaati apa yang jelas-jelas Allah nyatakan atau kita lebih suka mengklaim apa yang belum tentu Allah maksudkan? Hati-hati kalau ternyata selama ini kita justru banyak meyakini hal-hal yang tidak pernah Allah perintahkan atau janjikan. –PBS

IMAN YANG BENAR PASTI MEMILIKI DASAR.

IMAN YANG KUAT PASTI BERBUAH TAAT.

Dikutip : www.sabda.org

ORANG FASIK, ORANG BENAR

Senin, 12 Desember 2011

Bacaan : Mazmur 1:1-6

1:1. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

1:4. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

ORANG FASIK, ORANG BENAR

Kitab Mazmur mengisahkan hubungan antara orang beriman dan Tuhan. Maka, tak salah jika pengumpul kitab Mazmur meletakkan Mazmur 1 ini menjadi bagian pertama dari kumpulan mazmur. Dengan tegas, pemazmur menasihati agar orang beriman jangan hidup sembrono. Sekalipun “cuma” duduk di lingkungan pencemooh dan berdiri di lingkungan orang berdosa, itu bisa membuatnya terjerumus. Sebab, dosa akan melahirkan dosa. Maka, kita dinasihati supaya mengenali siapa orang fasik, siapa orang benar, dan menjaga hati kita saat bergaul dengan banyak orang.

Orang fasik ialah orang yang mengetahui kebenaran, tetapi mengabaikannya. Malah, hidupnya begitu banyak diisi dengan keinginan guna menyenangkan orang lain. Ia tak memiliki prinsip, hidupnya menjadi seperti sekam yang diterbangkan kian kemari oleh badai hidup. Walau bisa tampak hebat, tetapi dengan mudah ia bisa lenyap hingga tak berbekas.

Orang benar ialah orang yang bergaul dekat dengan Tuhan lewat firman-Nya. Hidupnya terus “bertumbuh seperti pohon yang ditanam di tepi sungai”. Maka, sekalipun badai mengguncang dan panas terik melanda, ia tetap kokoh, bahkan terus berbuah. Inilah tandanya orang yang bergaul dengan Tuhan: hidupnya banyak memberkati orang lain dengan kebaikan dan kebenaran. Selain itu, secara pribadi ia diberkati dengan kebahagiaan dan kepuasan, sebab hidupnya melekat kepada Sang Sumber hidup.

Jaga hati kita dalam pergaulan dengan penuh kewaspadaan. Jadilah orang benar yang mengalami kepuasan dan kebahagiaan, serta menjadi berkat bagi orang lain. Yakni, dengan bergaul karib dengan Tuhan, melalui firman-Nya –SST

RAHASIA HIDUP YANG BERHASIL ADA PADA KETERLEKATAN KITA KEPADA SANG PENCIPTA

Dikutip : www.sabda.org

YEREMIA DAN HANANYA

Minggu, 16 Oktober 2011

Bacaan : Yeremia 28 

28:1. Dalam tahun itu juga, pada permulaan pemerintahan Zedekia, raja Yehuda, dalam bulan yang kelima tahun yang keempat, berkatalah nabi Hananya bin Azur yang berasal dari Gibeon itu kepadaku di rumah TUHAN, di depan mata imam-imam dan seluruh rakyat:

28:2 “Beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Aku telah mematahkan kuk raja Babel itu.

28:3 Dalam dua tahun ini Aku akan mengembalikan ke tempat ini segala perkakas rumah TUHAN yang telah diambil dari tempat ini oleh Nebukadnezar, raja Babel, dan yang diangkutnya ke Babel.

28:4 Juga Yekhonya bin Yoyakim, raja Yehuda, beserta semua orang buangan dari Yehuda yang dibawa ke Babel akan Kukembalikan ke tempat ini, demikianlah firman TUHAN! Sungguh, Aku akan mematahkan kuk raja Babel itu!”

28:5 Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya di depan mata imam-imam dan di depan mata seluruh rakyat yang berdiri di rumah TUHAN itu,

28:6 kata nabi Yeremia: “Amin! Moga-moga TUHAN berbuat demikian! Moga-moga TUHAN menepati perkataan-perkataan yang kaunubuatkan itu dengan dikembalikannya perkakas-perkakas rumah TUHAN dan semua orang buangan itu dari Babel ke tempat ini.

28:7 Hanya, dengarkanlah hendaknya perkataan yang akan kukatakan ke telingamu dan ke telinga seluruh rakyat ini:

28:8 Nabi-nabi yang ada sebelum aku dan sebelum engkau dari dahulu kala telah bernubuat kepada banyak negeri dan terhadap kerajaan-kerajaan yang besar tentang perang dan malapetaka dan penyakit sampar.

28:9 Tetapi mengenai seorang nabi yang bernubuat tentang damai sejahtera, jika nubuat nabi itu digenapi, maka barulah ketahuan, bahwa nabi itu benar-benar diutus oleh TUHAN.”

28:10. Kemudian nabi Hananya mengambil gandar itu dari pada tengkuk nabi Yeremia, lalu mematahkannya.

28:11 Berkatalah Hananya di depan mata seluruh rakyat itu: “Beginilah firman TUHAN: Dalam dua tahun ini begitu jugalah Aku akan mematahkan kuk Nebukadnezar, raja Babel itu, dari pada tengkuk segala bangsa!” Tetapi pergilah nabi Yeremia dari sana.

28:12 Maka sesudah nabi Hananya mematahkan gandar dari pada tengkuk nabi Yeremia, datanglah firman TUHAN kepada Yeremia:

28:13 “Pergilah mengatakan kepada Hananya: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah mematahkan gandar kayu, tetapi Aku akan membuat gandar besi sebagai gantinya!

28:14 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, Allah Israel: Kuk besi akan Kutaruh ke atas tengkuk segala bangsa ini, sehingga mereka takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel; sungguh, mereka akan takluk kepadanya! Malahan binatang-binatang di padang telah Kuserahkan kepadanya.”

28:15 Lalu berkatalah nabi Yeremia kepada nabi Hananya: “Dengarkanlah, hai Hananya! TUHAN tidak mengutus engkau, tetapi engkau telah membuat bangsa ini percaya kepada dusta.

28:16 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku menyuruh engkau pergi dari muka bumi. Tahun ini juga engkau akan mati, sebab engkau telah mengajak murtad terhadap TUHAN.”

28:17 Maka matilah nabi Hananya dalam tahun itu juga, pada bulan yang ketujuh.

YEREMIA DAN HANANYA

Apa yang kita harapkan saat menghadiri ibadah atau saat mengundang seorang hamba Tuhan untuk berbicara di acara kita? Mungkin kita berharap mendengar hal-hal menyenangkan seperti bahwa kita dikasihi Tuhan, bahwa penyakit kita segera sembuh, masalah kita segera teratasi, keluarga pasti rukun, serta berkat Tuhan senantiasa melimpah bagi kita.

Tentu semua harapan baik itu tidak salah. Namun hendaklah kita ingat, maksud Tuhan tak selalu disampaikan dengan cara yang kita sukai. Firman-Nya tidak untuk menyenangkan telinga kita semata, tetapi untuk membawa kita semakin dekat kepada-Nya dan memahami maksud-Nya. Pada zaman Zedekia menjadi raja Yehuda, Yeremia dan Hananya sama-sama menjadi nabi yang menyampaikan firman Tuhan. Yeremia dan nabi-nabi pendahulu menubuatkan tentang pembuangan umat ke Babel, sementara Nabi Hananya menyampaikan hal sebaliknya, yakni tentang berakhirnya pembuangan. Tentu perkataan ini lebih suka didengarkan. Sayangnya, itu tidak berasal dari Tuhan. Nabi Hananya pun dihukum.

Kata-kata manis memang menyenangkan untuk didengar, sedangkan teguran atau peringatan sering membuat telinga menjadi panas. Tetapi adakalanya hal yang tak enak didengar pun perlu untuk kebaikan kita. Jadi, jika kita adalah orang yang dipercaya untuk menyampaikan firman Tuhan, sampaikanlah pesan bukan untuk menyenangkan pendengar, tetapi menyenangkan Tuhan. Jika kita adalah pendengar, kita perlu belajar mendengar dengan baik apa yang Tuhan sukai dan bukan hanya memilih apa yang menyukakan hati kita –SL

TUHAN BERBICARA DENGAN BANYAK CARA

DENGARKANLAH DENGAN AKAL BUDI DAN HATI

Dikutip : www.sabda.org