TERANG BAGI NEGERI

Selasa, 28 Agustus 2012

Bacaan : Matius 5:13-16

5:13. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

 

TERANG BAGI NEGERI

Kedua anak perempuan teman saya punya cita-cita istimewa. Yang sulung ingin menjadi hakim. Yang bungsu ingin menjadi jaksa. Mereka ingin menjadi para penegak kebenaran dan pembela yang lemah. Saya bertanya bagaimana mereka bisa punya cita-cita semulia itu. Dengan mimik serius layaknya orang dewasa salah satu menjawab, “Aku belajar dari Alkitab, Tuhan sangat menentang ketidakadilan dan kejahatan. Namun, itulah yang banyak terjadi sekarang.” Tiap mengingat mereka saya terharu. Kedua anak itu rindu menjadi terang di tempat yang dianggap banyak orang kotor, penuh kegelapan.

Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa untuk memenuhi fungsinya, terang harus berada di tempat yang tepat, yaitu di tempat yang bisa dilihat orang (ayat 16). Bukankah “dilihat orang” itu terkesan sombong? Dalam konteks ini tidak, karena tujuannya adalah orang dibawa memuji Tuhan, bukan kebaikan manusia. Berada di tempat yang tepat dimaksudkan agar fungsi terang itu maksimal (ayat 15). Di manakah terang paling berfungsi jika bukan di tempat yang gelap? Kapan orang membutuhkan cahaya untuk melihat kota di atas gunung atau beraktivitas di dalam rumah? Bukankah pada saat gelap meliputi?

Kerap kali pelita orang kristiani “tersembunyi” selama hari kerja, karena yang dianggap pelayanan hanyalah aktivitas hari Minggu di gereja. Padahal, dunia yang butuh diterangi itu mencakup semua bidang kehidupan -hukum dan pemerintahan, bisnis dan ekonomi, kesehatan dan pendidikan, media, bahkan seni, dan hiburan. Ketika menjumpai “kegelapan” di negeri ini, biarlah kita tidak putus harapan, tetapi justru bersemangat, karena di sanalah kesempatan yang sesungguhnya menjadi terang dunia. –LAN

DI MANAKAH ANDA DAN SAYA SEHARUSNYA BERADA

AGAR BANYAK ORANG MELIHAT KEBENARAN DAN MEMULIAKAN TUHAN?

Dikutip : www.sabda.org

Iklan

DOA PERTOBATAN

Minggu, 15 Januari 2012

Bacaan : Yohanes 17:14-26

17:14 Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

17:15 Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.

17:16 Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.

17:17. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.

17:18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;

17:19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran.

17:20. Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;

17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:

17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

17:24. Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

17:25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;

17:26 dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”

DOA PERTOBATAN

Martin Luther mengatakan bahwa tiap orang kristiani seharusnya mengalami dua pertobatan. Pertobatan pertama adalah menanggapi panggilan Tuhan untuk keluar dari dunia masuk ke dalam gereja. Yang kedua adalah diutus kembali ke dalam dunia untuk membawa pesan dan mewujudkan kerajaan Allah.

Perkataan Luther ini menggaungkan doa Yesus menjelang akhir hayat-Nya. Benar bahwa para pengikut Yesus memang dipanggil keluar dari kegelapan dunia menjadi warga kerajaan Allah. Mereka berbeda dari dunia (ayat 14, 16). Tetapi, orang-orang ini tidak langsung dibawa pergi dari dunia (ayat 15). Mereka justru diutus kembali ke dalam dunia, hidup di tengah-tengah masyarakat (ayat 18). Persekutuan orang percaya atau gereja, dalam bahasa Yunani disebut ekklesia, yang secara harfiah berarti “dipanggil keluar”. Orang percaya juga disebut sebagai garam dunia (lihat Matius 5). Dunia yang tidak sedap dan sedang membusuk memerlukan keasinan dan kehadiran garam, yaitu para pengikut Yesus yang memenuhi hakikat dan panggilan keberadaannya.

Ketika berbalik dari dosa dan memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kita telah mengalami pertobatan pertama. Namun, sudahkah kita juga mengalami pertobatan yang kedua? Bagaimanakah hubungan kita dengan dunia di mana Tuhan menempatkan kita: tempat kerja, lingkungan pergaulan, keluarga besar, bahkan orang-orang yang belum percaya? Apa yang dapat kita lakukan agar kehadiran kita sungguh menjadi utusan kabar baik kerajaan Allah dan mewujudkan “tubuh” kehadiran Kristus di sana? –JOO

BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA

SEBERAPA BESAR KASIH ANAK-ANAK-NYA?

Dikutip : www.sabda.org

Dalam Tujuan Allah

Shalom…salam miracle

Yesaya 49:15-16 “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” Sebelum dunia dan segalanya dijadikan, Tuhan sudah mempunyai rencana atas hidup kita. Bahkan sebelum dunia kita muncul di benak orang tua kita. Tuhan sudah mempunyai rencana atas hidup kita. Hal ini dinyatakan dalam keberadaan kita ada dalam tangan-Nya yang kuat. Tidak ada yang lahir di dunia ini karena ketidaksengajaan atau kebetulan, bahkan mereka yang lahir di luar nikah sekalipun, ada dalam kekuasaan Tuhan.

 

Yang perlu direnungkan bukan bagaimana proses dan kejadian kita dilahirkan, namun bagaimana kita dapat menyelesaikan kehidupan sekarang ini. Allah tidak menjadikan jemaat yang pasif dan tidak menghasilkan, tetapi untuk menjadi jemaat yang produktif yang mampu menghasilkan buah, tentunya dalam kehendak dan perkenanan Tuhan. Marilah kita menggunakan kesempatan kehidupan ini dengan sebaik mungkin sebagai orang-orang percaya kepada Tuhan, terlebih mampu menikmati kehidupan dalam kelimpahan yang dijanjikan Tuhan.

 

Dalam Yohanes 10:10 “…Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Dari hal itu maka bisa kita ketahui bahwa Allah mempunyai tujuan dalam kehidupan kita. Begitu pula dengan setan yang juga mempunyai tujuan selama di bumi ini? Kebanyakan anak-anak Tuhan datang ke Gereja karena kebiasaan, karena tugas dan kewajiban. Perlu diperhatikan bahwa Kekristenan bukan tugas, bukan hanya hari Minggu dengan ibadah-ibadah raya. Kekristenan adalah pola dan gaya hidup dalam keseharian kita, dan setiap saat berjalan bersama Kristus. Yesus datang ke dunia pun dengan tujuan, Dia datang tidak hanya sekedar melihat bumi, tetapi dengan suatu tujuan besar yang berkaitan dengan kehidupan kekal umat manusia.

 

Ada beberapa hal yang harus kita benahi ketika kita mengerti Yohanes 10:10 dan tidak menikmati kelimpahan sesuai dengan ayat yang dimaksud, yakni karena sikap kita yang kurang pas di hadapan Allah. Sebagai contoh, ketika kita tidak mendapatkan sesuatu tapi tidak seperti yang kita mau, maka kita sering mengomel, ngambek, kemudian marah-marah, dan selanjutnya. Kalau kita mau menikamti kehidupan dan melakukan yang terbaik, kita harus mengucap syukur kepada Tuhan. Sikap kita menentukan keberhasilan kita, atau seseorang bisa bahagia atau tidak tergantung dari sikap orang itu sendiri.

 

Efesus 2:10 “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalam-Nya.” Rasul Paulus mengajarkan bahwa ketika kita mengenal Kristus dan menjadi warga Kerajaan Allah, maka tujuan kita adalah untuk mencari tahu mengapa Allah menciptakan kita. Dalam 2 Timotius 1:9 berkata “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman.” Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa sebelum zaman dimulai, atau sebelum bumi dijadikan, Tuhan sudah mempunyai rencana yang besar atas kehidupan kita. Kita dipanggil, kita menjadi orang pilihan, karena kita berharga dan bernilai di mata Tuhan. Mungkin ada orang tua yang mengatakan kepada anaknya tidak berguna, tapi Tuhan sangat memperhatikan setiap kita. Dia sangat mencintai kita, dan kita sangat berharga di mata-Nya bahkan disebut menjadi biji mata-Nya. Selain itu kita aman dalam perlindungan-Nya. Lebih berharga lagi Dia menyebut kita bukan hamba tetapi SAHABAT.

 

Mulai sekarang ini kenakanlah manusia barumu, memakai pikiran baru siapa kita di dalam Kristus. Jangan melihat diri kita sebagai orang yang tertolak dan tidak bisa diterima, dari keluarga yang tidak berharga, atau tidak ada yang mengasihi, itu semua bukan identias kita sekarang, mungkin identitas yang lama sebelum bertobat, ketika masih menjadi milik kegelapan, tetapi sekarang kita adalah anak Allah, dan dengan demikian kita akan lebih sering mengatakan kepada Tuhan “…TERIMA KASIH TUHAN…” sehingga dalam beraktifitas, ketika pergi beribadah ke gereja dan sebagainya dengan penuh kepercayaan diri sebab bersama dengan Allah. Kita adalah umat yang telah dipanggil, maksudnya dipanggil adalah dipisahkan hanya untuk Dia, dan kemudian Allah menguduskan kita. Ketika kita menerima panggilan Allah, maka kita akan berkata “INILAH AKU TUHAN, UTUSLAH AKU..” dan kita menjadi terang dan garam bagi dunia ini.

 

Di bulan Maret ini kiranya kita semakin mengerti tujuan dan rencana Allah dalah kehidupan jemaat Tuhan di Bethany GTM, dan dukung doa senantiasa buat pembangunan Gereja kita.

 

 

Tuhan Yesus memberkati.

 

 

Gembala Sidang,

Pdt. Ir. Joko Susanto, MA

PRASANGKA BURUK

Jumat, 17 Desember 2010

Bacaan : Matius 5:13-16

13″Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

14Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

15Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

16Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

PRASANGKA BURUK

Ketika Pendeta Clark akan memasuki ruang kebaktian, seorang pengurus gereja melapor: “Pak, ada seorang pria aneh duduk di bangku tengah. Kostumnya mirip penyihir. Ia memakai anting-anting besar. Berwajah seram. Bagaimana jika ia mengacau ibadah? Apa yang harus kita lakukan?” Sang Pendeta berkata: “Sambutlah dia. Tunjukkan bahwa kita mengasihinya. Jangan berprasangka buruk. Belum tentu ia ingin mengacau.” Pagi itu Clark mengajak jemaat bersalaman dengannya. Bahkan seusai ibadah, ia mengajak si pria aneh minum kopi bersama. Ternyata ia banyak bertanya tentang Injil. Merasa diterima, ia terus datang lagi, sampai akhirnya dibaptiskan!

Kristus meminta kita menjadi orang yang membawa pengaruh dalam hidup sesama. Bagai garam yang memberi rasa. Bagai terang yang membuat orang bisa melihat seperti apa Yesus itu. Namun, terang dalam diri kita bisa pudar jika hati kita dipenuhi prasangka buruk. Prasangka menciptakan keta-kutan. Rasa takut membuat kita menutup diri. Membangun tembok. Itulah yang membuat terang kita tak dapat bercahaya di depan orang. Akibatnya, mereka tak bisa melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di surga.

Apakah Anda sering berprasangka buruk terhadap orang lain? Di sekitar kita banyak “orang aneh”: yakni mereka yang berbeda dengan kita. Belum tentu mereka seburuk yang Anda bayangkan. Justru sebenarnya banyak dari mereka membutuhkan sentuhan kasih dari kita. Jadi, belajarlah berpra-sangka baik! Bangunlah jembatan, bukan tembok. Anda akan mampu menjadi garam dan terang –JTI

PRASANGKA BAIK MEMAMPUKAN ANDA MENJANGKAU SESAMA

PRASANGKA BURUK MEMENJARAKAN ANDA DARI MEREKA

Sumber : www.sabda.org

GARAM TAWAR

Rabu, 10 Maret 2010

Bacaan : Matius 5:13-16

5:13. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

GARAM TAWAR

Ketika garam dikumpulkan dari wilayah Laut Mati, ada garam yang asin dan baik untuk bumbu dapur, ada pula garam yang tawar. Garam yang tawar ini tidak dibuang, tetapi disimpan di Bait Allah di Yerusalem. Pada musim dingin ketika hujan turun, ubin pelataran Bait Allah menjadi licin, dan garam tawar itu ditaburkan untuk mengurangi kelicinan. Begitulah, garam yang tawar itu diinjak-injak orang banyak.

Garam memiliki ciri-ciri yang menggambarkan bagaimana seharusnya pengaruh umat beriman terhadap kehidupan dunia sekitarnya. Garam biasanya digunakan sebagai penyedap rasa. Orang percaya seharusnya menegakkan kesadaran moral suatu bangsa, sehingga dalam setiap aspek kehidupan, baik sosial, politik, ekonomi, budaya maupun pendidikan, dapat dirasakan adanya pengaruh dari cara-cara Allah. Jika digunakan untuk menggarami buah anggur, garam membuat buah itu terasa manis. Orang percaya seharusnya dapat pula “memaniskan” kepahitan hati orang-orang yang merasa tertindas dan tersingkir.

Garam dapat digunakan untuk mematikan rumput-rumput liar yang tumbuh pada retakan jalan setapak. Pelanggaran moral yang terjadi di bangsa ini seharusnya dapat dilenyapkan oleh pengaruh jemaat Tuhan. Garam dapat melembutkan es. Kita seharusnya dapat “mencairkan” kebekuan hati orang yang mengeraskan diri dan menentang kebenaran Allah. Dan garam dapat mengawetkan makanan atau membuatnya tidak segera membusuk. Umat kristiani seharusnya juga mempunyai pengaruh yang melindungi bangsa ini dari kemerosotan moral.

Apakah kita “asin” dan memberi dampak bagi masyarakat sekitar? -ARS

Gereja yang hidup adalah satu-satunya harapan

bagi dunia yang sekarat-Andrew Murray

Sumber : http://www.sabda.org

MENYALAKAN LAMPU

Sabtu, 24 Oktober 2009

Bacaan : Matius 5:13-20

5:13. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

5:14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

5:15 Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

5:17. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

MENYALAKAN LAMPU

Orang-orang sering bertanya kepada saya tentang hal yang paling berkesan saat melayani sebagai pemimpin Moody Bible Institute. Jawabannya adalah, siswa-siswinya. Saya mengagumi semangat mereka bagi Yesus dan cara mereka menunjukkannya kepada dunia di sekitar mereka. Para pemimpin perusahaan yang nonkristiani sering mengatakan kepada saya mengenai etika kerja siswa-siswi Moody yang patut dicontoh. Kepala polisi Chicago pernah berkata, “Saat siswa-siswi Moody kembali ke kampus, daerah di sekitarnya menjadi lebih terang, seperti ada seseorang yang menyalakan lampu di sana.”

Itulah maksud Yesus saat Dia mengatakan, “Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:14). Itu adalah kata-kata yang ampuh dalam menggambarkan suatu perbedaan. Harus ada perbedaan yang jelas antara integritas yang dimiliki orang-orang kristiani dan kegelapan dunia yang merajalela.

Yang penting bukan berbicara tentang Yesus, melainkan bagaimana orang melihat kita. Walaupun mereka mungkin tidak ingin mendengar tentang Yesus, Anda boleh yakin bahwa mereka ingin melihat apakah Dia membuat perbedaan dalam hidup kita. Saat Yesus berkata, “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik” (ayat 16). Maksud-Nya adalah sebelum kita berbicara, kita harus dapat menunjukkan bukti dari apa yang kita katakan. Kemampuan kita untuk bersinar bagi Yesus diukur oleh perbuatan baik kita, yang memberikan kesaksian kuat dalam hidup kita. Mari kita menyalakan lampu-lampu kita –JMS

UNTUK DAPAT MEMIMPIN ORANG LAIN KELUAR DARI KEGELAPAN DOSA
TUNJUKKANLAH SINAR KRISTUS DALAM HIDUP ANDA

Sumber : www.sabda.org