BOIM VS BONEK

Rabu, 10 April 2013

Bacaan   : Ibrani 11:32-40

11:32. Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi,

11:33 yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa,

11:34 memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.

11:35 Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik.

11:36 Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan.

11:37 Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan.

11:38 Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung.

11:39 Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.

11:40 Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.

 

BOIM VS BONEK

Ada pendukung tim sepak bola yang dikenal dengan sebutan bonek, kependekan dari bondo (modal) nekat. Julukan yang jitu. Demi mendukung kesebelasan kesayangan, tidak jarang mereka hanya bermodalkan semangat plus kenekatan, tanpa atau dengan sedikit uang di saku. Masalahnya, kenekatan tersebut kadang harus dibayar mahal sampai mempertaruhkan nyawa.

Bondo nekat jelas berbeda dari bondo iman. Bukan hanya pengertiannya yang berbeda, hasilnya juga berbeda. Deretan nama tokoh iman yang kita baca hari ini bukanlah orang-orang yang bermodalkan semangat atau kenekatan belaka. Mereka punya iman! Tindakan mereka bukan terdorong oleh euforia, melainkan lahir karena iman, keyakinan akan keberadaan Allah yang berperan aktif dalam kehidupan mereka (ay. 6). Uraian panjang lebar dalam ay. 33-35a memperlihatkan sebagian hal-hal mengagumkan yang mereka alami. Pada titik tertentu, mereka juga mempertaruhkan nyawa mereka. Semua itu mereka lakukan bukan karena tergerak oleh fanatisme buta, melainkan karena menyadari bahwa mereka sedang mengamalkan kebenaran yang mereka yakini.

Iman tidak mengesampingkan logika atau perhitungan “di atas kertas”. Tindakan iman bukan melawan logika, melainkan melampaui logika. Iman juga tidak dapat dipisahkan dari kebenaran firman Tuhan. Jika hari-hari ini kita sedang dihadapkan pada kondisi sulit atau perkara yang mustahil, ini waktunya untuk menghadapi semua itu dengan berbeda: dengan iman, dengan berpegang teguh pada kebenaran, bukan dengan sekadar nekat! –IDO

IMAN BERBEDA DARI KENEKATAN KARENA IMAN MELIBATKAN

 CAMPUR TANGAN ALLAH.

Dikutip : www.sabda.org

Anda diberkati melalui Renungan Harian?

Jadilah berkat dengan mendukung Pembangunan Gereja Bethany God The Miracle

(Jalan Slamet Riady Rt.26 No.119, Tarakan)

Rekening Bank BPD, No. 0052248302 a.n. Gereja Bethany GTM Tarakan

Rekening Bank Mandiri, No. 148-00-8080878-8 a.n Gereja Bethany Indonesia God The Miracle

Terima kasih. Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Iklan

MENDOBRAK ALASAN

Senin, 8 Agustus 2011

Bacaan : Hakim-hakim 6:11-16

 

6:11. Kemudian datanglah Malaikat TUHAN dan duduk di bawah pohon tarbantin di Ofra, kepunyaan Yoas, orang Abiezer itu, sedang Gideon, anaknya, mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur agar tersembunyi bagi orang Midian.

 

6:12 Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”

 

6:13 Jawab Gideon kepada-Nya: “Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? Di manakah segala perbuatan-perbuatan-yang ajaib yang diceritakan oleh nenek moyang kami kepada kami, ketika mereka berkata: Bukankah TUHAN telah menuntun kita keluar dari Mesir? Tetapi sekarang TUHAN membuang kami dan menyerahkan kami ke dalam cengkeraman orang Midian.”

 

6:14 Lalu berpalinglah TUHAN kepadanya dan berfirman: “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!”

 

6:15 Tetapi jawabnya kepada-Nya: “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.”

 

6:16 Berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.” 

 

 

 

MENDOBRAK ALASAN

Alkisah seekor kancil menyapa siput sambil menertawakannya, “Hei lamban, mau ke mana kamu? Kau ini apa bisa berguna, berjalan cepat saja kau tak bisa!” Kata-kata itu melukai hati siput, sehingga ia hanya diam. Karena olokannya tak dijawab, kancil terus mengulangnya. Dan, semakin sering siput mendengarnya, semakin sakit hatinya. Bahkan, ia menjadi yakin dirinya tak berguna!

Dianggap kecil dan tak berguna, bisa mengecilkan nyali. Itulah yang dirasakan Gideon, saat Tuhan mengutusnya berperang menyelamatkan Israel dari tangan orang Midian. Ia mengusung kemudaannya sebagai alasan, seolah-olah Tuhan tidak melihatnya. Faktanya, kaum keluarga Gideon memang yang paling kecil di antara suku Manasye. Ditambah lagi, dirinya adalah orang paling muda di keluarganya. Bagi Gideon, dua fakta ini menegaskan bahwa ia bukan siapa-siapa yang bisa berbuat banyak untuk Israel yang besar. Ah, lupakah Gideon, siapa yang memerintahkannya untuk maju?

Tuhan tentu tahu kemudaan Gideon. Ia tak mungkin lupa bahwa kaum Gideon adalah yang terkecil. Ia juga hafal orang-orang yang lebih pandai berperang dibanding Gideon. Tetapi Tuhan Tuhan memberi kemenangan kepada Gideon dan orang-orangnya, yang jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah orang Midian.

Seperti Gideon, pernahkah kita berhadapan dengan “ketetapan Ilahi” yang tampak tidak masuk akal? Mungkin di saat seperti itu kita ingin mengajukan berbagai alasan kepada Tuhan. Kita memaparkan ketidakmampuan dan kelelahan kita, bahkan merasa lebih kecil dibanding orang lain. Ingatlah, Tuhan lebih tahu semuanya tentang kita! Hanya, maukah kita menyerahkan diri di tangan-Nya? –HA

JIKA KITA MAU DIPAKAI OLEH-NYADIA DAPAT BEKERJA LUAR BIASA MELALUI KITA,

DENGAN KUASA-NYA

Dikutip : http://www.sabda.org

TERUS BERENANG

Jumat, 24 September 2010

Bacaan : Hakim-hakim 8:4-12

8:4. Ketika Gideon sampai ke sungai Yordan, menyeberanglah ia dan ketiga ratus orang yang bersama-sama dengan dia, meskipun masih lelah, namun mengejar juga.

8:5 Dan berkatalah ia kepada orang-orang Sukot: “Tolong berikan beberapa roti untuk rakyat yang mengikuti aku ini, sebab mereka telah lelah, dan aku sedang mengejar Zebah dan Salmuna, raja-raja Midian.”

8:6 Tetapi jawab para pemuka di Sukot itu: “Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada tentaramu?”

8:7 Lalu kata Gideon: “Kalau begitu, apabila TUHAN menyerahkan Zebah dan Salmuna ke dalam tanganku, aku akan menggaruk tubuhmu dengan duri padang gurun dan onak.”

8:8 Maka berjalanlah ia dari sana ke Pnuel, dan berkata demikian juga kepada orang-orang Pnuel, tetapi orang-orang inipun menjawabnya seperti orang-orang Sukot.

8:9 Lalu berkatalah ia juga kepada orang-orang Pnuel: “Apabila aku kembali dengan selamat, maka aku akan merobohkan menara ini.”

8:10 Sementara itu Zebah dan Salmuna ada di Karkor bersama-sama dengan tentara mereka, kira-kira lima belas ribu orang banyaknya, yakni semua orang yang masih tinggal hidup dari seluruh tentara orang-orang dari sebelah timur; banyaknya yang tewas ada seratus dua puluh ribu orang yang bersenjatakan pedang.

8:11 Gideon maju melalui jalan orang-orang yang diam di dalam kemah di sebelah timur Nobah dan Yogbeha, lalu memukul kalah tentara itu, ketika tentara itu menyangka dirinya aman.

8:12 Zebah dan Salmuna melarikan diri, tetapi Gideon mengejar mereka dan menawan kedua raja Midian itu, yakni Zebah dan Salmuna, sedang seluruh tentara itu diceraiberaikannya.

TERUS BERENANG

Dalam film animasi Finding Nemo, Marlin dibantu Dory mencari anaknya yang ditangkap penyelam, dengan berbekal masker selam bertulisan alamat si penyelam sebagai petunjuk. Namun, akibat serangan hiu dan meledaknya ladang ranjau, masker itu hilang ke palung laut. Marlin patah semangat. Dory menyemangatinya sambil bernyanyi riang, “Kala hidup ini mengecewakanmu, kau tahu apa yang perlu kaulakukan? Terus saja berenang, terus saja berenang, berenang, berenang, berenang. Apa yang akan kita laku-kan? Kita berenang, berenang.” Berkat Dory yang pantang menyerah, mereka berhasil menemukan masker itu dan melanjutkan pencarian.

Gideon diangkat Tuhan menjadi hakim untuk memimpin bangsa Israel melawan bangsa Midian. Dengan cara ajaib, Tuhan menyertai pasukan Israel mengalami kemenangan. Namun, kemenangan itu belum tuntas, masih ada raja Midian lain yang mesti ditaklukkan. Mereka bisa saja berleha-leha merayakan kemenangan awal ini, apalagi pasukan sudah kelelahan. Namun, Gideon memilih menyelesaikan pertempuran. Mun-cullah frasa menarik ini: bahwa mereka “masih lelah, namun mengejar juga” (ayat 4). Kalau mereka berhenti, bisa jadi musuh mengerahkan kekuatan yang tersisa dan berbalik menghantam mereka. Gideon pun melanjutkan pertempuran sampai merebut kemenangan penuh.

Keadaan sulit dapat menyurutkan langkah kita dalam menyelesaikan tugas. Mungkin kita perlu rehat dulu ketika lelah, tetapi jangan menyerah. Kita tak akan pernah mengecap sukses jika berhenti di tengah jalan. Diperlukan kegigihan, kesediaan untuk “terus bere-nang” agar dapat mengatasi tantangan dan mencapai tujuan –ARS

KEADAAN SULIT BUKAN UNTUK MEMBUAT

KITA ANGKAT TANGAN

MELAINKAN UNTUK MENINGKATKAN

KEKUATAN DAN DAYA TAHAN

Sumber : www.sabda.org

KUNCINYA MAU

Sabtu, 29 Agustus 2009

Bacaan : Roma 10:11-15

10:11 Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.”

 

10:12. Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.

10:14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

10:15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

 

KUNCINYA MAU

Salah satu panggilan kita sebagai orang yang sudah mengenal dan percaya kepada Kristus, adalah memberitakan Kristus kepada sebanyak mungkin orang. Sehingga semakin banyak pula orang yang mengenal dan percaya kepada Dia. Untuk itu, kita tidak mesti menjadi pendeta atau penginjil. Kita bisa melakukannya sesuai kemampuan dan kesempatan yang kita punya.

Seperti John Nicholson dan Samuel Hill, dua orang salesman keliling. Suatu malam di tahun 1989 mereka bertemu di sebuah hotel. Dari perbincangan mereka tebersit suatu gagasan, alangkah baiknya apabila ada Alkitab di dalam kamar hotelnya. Bersama seorang rekan lainnya, W.J. Knight, mereka kemudian membentuk sebuah yayasan untuk menyalurkan Alkitab ke hotel-hotel. Yayasan mereka diberi nama Gideon, salah seorang hakim dalam Kitab Hakim-hakim.

Kini hampir di seluruh hotel di Eropa dan Amerika Serikat, kita bisa menemukan Alkitab dari The Gideons di laci meja kamar hotel. Mereka juga menempatkan Alkitab di rumah-rumah sakit, penjara, dan gedung-gedung asrama. Saat ini, The Gideons telah menyalurkan Alkitab lebih dari satu juta buah per minggu ke mancanegara. Entah sudah berapa banyak orang yang mengenal dan percaya kepada Kristus karena pelayanan mereka ini.

Jadi, seperti dalam permainan sepak bola, tidak semua orang mesti jadi pemain. Ada peran-peran lain yang juga penting, seperti pelatih, asisten pelatih, dokter, atau bahkan tukang urut. Begitu juga dalam memberitakan Kristus. Kita bisa berpartisipasi dan berkontribusi dalam peran dan kapasitas kita masing-masing. Kuncinya mau -AYA

DI MANA PUN DAN KAPAN PUN KITA BISA BERPARTISIPASI

DALAM MEMBERITAKAN KRISTUS

Sumber : www.sabda.org

Taktik Leimena

Sabtu, 9 Mei 2009

TAKTIK LEIMENA

Bacaan : Hakim 7:23-8:3

7:23. Kemudian dikerahkanlah orang-orang Israel dari suku Naftali dan dari suku Asyer dan dari segenap suku Manasye, lalu mereka mengejar orang Midian itu.

7:24 Gideon menyuruh juga orang ke seluruh pegunungan Efraim dengan pesan: “Turunlah menghadapi orang Midian, dan dudukilah segala batang air sampai ke Bet-Bara, dan juga sungai Yordan.” Maka semua orang Efraim dikerahkan, lalu mereka menduduki segala batang air sampai ke Bet-Bara, juga sungai Yordan.

7:25 Mereka berhasil menawan dua raja Midian, yakni Oreb dan Zeeb. Oreb dibunuh di gunung batu Oreb dan Zeeb dibunuh dalam tempat pemerasan anggur Zeeb. Mereka mengejar orang Midian itu, lalu mereka membawa kepala Oreb dan kepala Zeeb kepada Gideon di seberang sungai Yordan.

8:3 Allah telah menyerahkan kedua raja Midian itu, yakni Oreb dan Zeeb, ke dalam tanganmu; apa yang telah dapat kucapai, jika dibandingkan dengan kamu?” Setelah ia berkata demikian, maka redalah marah mereka terhadap dia.

TAKTIK LEIMENA

Yohannes Leimena terkenal karena pendekatannya yang khas dalam menanggapi lawan bicara yang berbeda pendapat dengannya. Sebagai Ketua Komisi Militer dalam Konferensi Meja Bundar 1949, misalnya, ia berhadapan dengan Buurman van Vreeden, wakil pihak Belanda. Leimena mengawali perundingan dengan mengungkapkan kebaikan Buurman, antara lain bahwa nama Buurman berarti tetangga perdamaian. Setelah sanjungan yang bertubi-tubi, barulah ia menunjukkan bagian yang tidak disetujuinya dari pandangan Buurman. Lalu ia menutupnya dengan sejumlah usul yang menekan Belanda. Taktiknya berhasil.

Om Jo, begitu ia disapa, tampaknya mengikuti nasihat Salomo. Ia meredakan konflik dengan menggunakan perkataan yang lemah lembut. Sanjungannya bukan kata-kata manis yang menjilat, melainkan pujian yang tulus dan objektif. Ia bersikap seperti Gideon dalam menghadapi bani Efraim yang merasa tersinggung karena tidak dilibatkan sejak awal dalam pertempuran melawan bangsa Midian. Bukannya marah oleh kecaman mereka, Gideon berbicara dengan lemah lembut, dan menggarisbawahi perbuatan baik yang telah mereka lakukan. Sikapnya tersebut berhasil melunakkan hati bani Efraim.

Seperti Om Jo, kita perlu mengikuti nasihat Salomo dalam menangani konflik. Dengan memuji kebaikan orang lain secara tulus, kita dapat melunakkan hatinya dan membuatnya terbuka untuk menerima masukan. Dengan berbicara secara lembut, kita dapat menyampaikan argumentasi secara jernih dan tepat sasaran. Pendekatan ini tentu membuka jalan bagi penyelesaian konflik dan pemulihan hubungan –ARS

PERKATAAN LEMAH LEMBUT AKAN MENYELESAIKAN PERDEBATAN
TANPA MELUKAI HATI ATAU MENYINGGUNG PERASAAN

Sumber : http://www.sabda.org